Arsip untuk kategori ‘Kehidupan’
Menekuni hobi dan konsisten
Beberapa hari ini saya punya cukup banyak waktu luang untuk bersantai-santai, berpikir sejenak bagaimana seharusnya menjalani hidup ini dengan baik. Dan bahwa jawaban atas semua pertanyaan hanya bisa kita dapatkan dalam kondisi tenang dan berpikir adalah benar adanya.
Saya mencoba menarik balik, ternyata satu-satunya hal yang bisa saya konsisten lakukan dalam segala kondisi perkembangan jaman adalah menulis. Dari gundah gulana menjelang pernikahan, hingga bagaimana menjadi kepala keluarga kecil di kepala tiga sekarang.
Sepertinya saya sudah menemukan jawaban.
Berani, Sederhana, Tabah
Hati-hati diumur 30 tahun keatas
Semalam, saya ‘hanya’ makan malam dengan mpek-mpek saja setelah beraktivitas sehari penuh. Hanya, karena biasanya saya makan sepiring penuh nasi. Tapi bangun pagi ini, badan terasa segar. Aneh. Biasanya jangankan bangun pagi, jam 22:00 atau jam 01:00 saya bisa terbangun karena lapar. Entah karena metabolisme melambat atau kebutuhan kalori saya berkurang. Yang pasti berat badan bertambah dan yang pasti ini episode baru dikepala 3.
Kalau kita melihat referensi kehidupan, maka referensi terbanyak adalah pada periode-periode 20-an tahun. Berbagai hal mengenai setup keluarga, keuangan, karir dibahas dengan detail disini. Namun, referensi mengenai periode 30-an seperti bagaimana menjaga kesehatan, bagaimana membina keluarga, sepertinya tidak terlalu banyak disinggung.
Sebenarnya dari 1000-an tulisan terakhir saya, selalu menekankan bahwa jangan melandaskan hidupmu berdasarkan keputusan yang kamu buat pada usia 18 tahun -waktu dimana kita memutuskan untuk kuliah. Selanjutnya setelah itu ‘rasanya’ tidak perlu ada lagi keputusan yang dibuat. Tidak membuat keputusan sebenarnya juga keputusan juga.
Beristirahat
Kapan waktu yang tepat minum vitamin?
Kalau ingat
Kapan waktu yang tepat untuk istirahat?
Segera, kalau ingat
Hari ini libur (cuti dari kantor tepatnya), dan hari ini pula saya mendeklarasikan bahwa saya tidak akan melakukan apa-apa. Leyeh-leyeh, tidur-tiduran. Thats it, just like that.
Hari ini, libur. Dan apa yang paling menyenangkan di hari libur? tidur. Leyeh-leyeh, stop email/hp. Dan rasanya sebuah kemewahan melebihi liburan yang melelahkan. Memang rasanya menyenangkan sekali. Bisa menyetir, ngebut dengan jalanan yang terasa begitu longgar. Benar orang bilang bahwa hal-hal terbaik didunia ini adalah yang bisa kita dapatkan dengan gratis, dengan murah dan berlimpah. Asalkan kita mau sejenak mengambilnya. Apapun yang hilang bisa kita dapatkan kembali, asalkan kita tidak membuangnya. Begitu juga impian, sepanjang kita tidak membuangnya pasti kita akan mendapatkannya kembali.
Belakangan ini saya mengalami kesulitan dalam hal menangani tekanan, mulai dari kompetisi tender, hingga menghadapi klien yang luar biasa sulit. Menghadapi perubahan organisasi baru dikantor, hingga menghadapi urusan bocor rumah dan perabot yang perlu diperbaiki. Repot ya, tapi apapun kita harus pelan-pelan menatanya. Rasanya semua buku-buku pelajaran selfhelp dan teori pengelolaan stress yang sudah saya pelajari kok mentah semua ya.
Obatnya? kembali ke hal mendasar yang paling bisa saya lakukan. Menulis. Menulis mengingatkan saya bahwa saya harus melalui semua perjalanan panjang dari rumah ke kantor yang -damn macetnya Jakarta- membuat saya seringkali berpikir ulang -haruskah saya menghabiskan waktu dengan seperti ini-.
Ayah dan mertua saya berkepala enam, orang yang menurut saya beliau-beliau yang hidupnya paling damai pun, ternyata hingga diusianya terlihat masih menanggung beban yang berat. Waktu, atau entah kapan usia kita nanti, kita pasti akan menghadapinya, sekaya apapun, sesehat apapun, sebaik apapun kita. Jadi, beristirahatlah kawan. Walau sejenak, demi masa depan, demi dirimu.
Selamat beristirahat
Tenang tenang tenang
Dikantor hiruk pikuk, dijalan hiruk pikuk, dirumah hiruk pikuk.
Menepi, menepi, menepi.
Ketika semua terasa begitu berat, begitu padat, begitu sesak.
Maka, menepi menepi menepi.
Matikan handphone, hapus semua inbox-nya
Delete semua email, mark as read, move.
Satu-satunya cara berpikir dengan tenang adalah mengosongkan laci dan kemudian mengisinya lagi dari awal. Bukan, bukan dengan menata isi laci tersebut. Laci ada batasannya, sebagaimana kita yang pun memiliki keterbatasan. Mulai dari mana? dari selembar kertas putih. Bahwa hari kita masih tersisa banyak sekali, bahwa lembaran-lembaran putih itu pun perlu perencanaan. Untuk apa? untuk hari yang lebih baik.
Mulai dari sekarang, sederhanakan.
Berubah
Dulu, sewaktu masih Sekolah Dasar (SD), saya sering menertawakan kakek dan nenek saya yang berfikir dengan cara yang masih tradisional -dan masih sedikit kagum dengan cara berpikir bapak dan ibu saya. Kemudian menginjak bangku SMA dan Kuliah, saya merasa bahwa cara berpikir saya tentang dunia mulai lebih baik dibandingkan cara berpikir bapak dan ibu saya. Jaman berubah, dan yang bertahan adalah yang paling bisa beradaptasi, paling bisa berubah sesuai dengan tuntutan jaman.
Sekarang, di umur kepala 3 ini. Saya mulai merasa mulai tertinggal dengan orang-orang yang hanya berbeda 10 tahun dengan saya. Perbedaan 1 dekade ini saja sudah cukup untuk membuat jurang perbedaan cara berpikir yang sangat dalam. Saya dan keponakan-keponakan, saya dan konsultan-konsultan muda, saya dan orang-orang baru.
Pekerjaan ambil contoh, dulu ketika awal bekerja, saya dengan bangganya datang dengan membawa approach bekerja baru yang lebih efisien, lebih proven, lebih profitable. Tapi, selang dalam waktu 5 tahun saja, ternyata approach tersebut sudah mulai ketinggalan. Prediksi-prediksi tentang bagaimana pasar didefinisikan, bagaimana kita memenangkan persaingan juga dengan sangat cepat harus ditafsirkan ulang.
Capacity Planning, Time Management, Stress Management
Mau dilihat dari kacamata manapun jawabannya sebenarnya sama. Orang, organisasi, pekerjaan apapun akan menjumpai stress, jika beban yang diterimanya terlalu banyak. Hal ini tidak perlu dikaji dari sudut pandang psikologi, engineering, marketing atau apapun. Hal sederhana ini adalah biologi, keterbatasan manusia. Kalau ada sebuah teori yang menyatakan bisa menghilangkan atau mengelola stress, kok rasanya saya kurang percaya ya. Saya lebih percaya bahwa satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah mengurangi penyebab stress ini sendiri.
Dalam sebuah workshop, salah satu cara yang dapat dilakukan adalah menyusun prioritas, yang dalam istilah canggihnya Prioritization Framework. Dengan hitungan yang terlihat rumit maka keputusan dalam penyusunan prioritas menjadi lebih mudah. Kok buat saya ini sepertinya kontradiktif ya. Orang ingin menghilangkan suatu masalah malah menambahkan masalah baru.
Contoh, rumah saya berantakan pada hari sabtu, anak-anak berebut mainan, bertengkar, belum lagi ada pekerjaan-pekerjaan rumah yang harus dilakukan, belum lagi keinginan untuk mengembangkan diri, keinginan untuk hobi. Rumit kan, sudah punya 8 list todo masih ditambah 1 list lagi untuk menyusun prioritas.
Saya sebenarnya tidak anti dengan istilah-istilah tersebut diatas, Capacity Management lah, Time Management lah, Stress Management lah. Menurut saya, daripada menambah daftar 1 list lagi yang harus dikerjakan, kenapa kita tidak mengerjakan sebaliknya, mengurangi jumlah list tadi. Mengurangi ya, bukan mengerjakan dari yang paling mudah.
Sebagai penutup, mengutip hasil penelitian dari Gartner
“…Roughly 40% of every knowledge worker’s day is spent on something he or she needs to do without distraction; assigning people to too many tasks destroys their ability to do anything well…”
Gartner, A Practical Five-Step Approach to Project Resource Management, 2 September 2009
Adakah worklife balance itu
Adakah worklife balance itu? kalau itu ditanyakan keseorang teman yang menjadi kasat reskrim, lulusan terbaik Akademi Kepolisian, rasanya jawabannya tidak ada.
“Setiap hari pulang diatas jam 12 malam, tidak ada hari libur, polisi siap bekerja 24/7″
Kalau pertanyaan itu ditanyakan kepada teman yang lain, banker terbaik lulusan ODP bank BUMN, jawabannya pun akan serupa.
“Hampir setiap hari diatas jam 10 malam, belum kalau ada event tertentu sering pulang pagi. Dirumah pun HP standby”.
Semua memang ada harganya, dengan fasilitas mewah, kekuasaan yang luas, karir cemerlang. Menjadi Kapolda atau Direktur Bank Mandiri merupakan title yang menjanjikan kan.
Suatu hari saya berdiskusi dengan seorang yang 25 tahun lebih tinggal di Amerika, seorang investment banker. WNI, kira-kira umurnya 30-an sekarang, yang kemudian memilih untuk pulang ke Indonesia. Jabatan sebelumnya luar biasa, di top invesment bank di US. Dan memutuskan untuk pulang, dan banting setir bekerja di perusahaan ‘jasa’ – perusaahaan saya bergerak di bidang jasa.
Beliau ini dengan segala kompetensinya memilih untuk bekerja -dibidang baru. Dengan alasan: worklife balance.
“Saya tahu pekerjaan di investment banking seperti apa, baik di US maupun di Indonesia, saya ada banyak kawan” diucapkan dalam dialek bahasa Indonesia yang ‘unik’. Tapi saya memilih ini.
Worklife balance menurut saya bergantung bagaimana cara memaknainya, kalau dilihat dari 2 contoh rekan saya diatas ‘yang terbaik’ itu maka worklife balance adalah pilihan untuk jangka panjang, sementara ada juga yang memaknainya untuk jangka pendek. Mana yang benar seringkali tidak penting. Yang jelas kita harus sadar betul apa dan konsekuensi ‘worklife’ balance yang kita ambil
Dewasa dan Matang
Ternyata dewasa dan matang itu 2 hal yang berbeda. Paling tidak itu kesimpulan yang didapat paska berdialog panjang lebar dengan beberapa teman baik selepas kantor. Dewasa itu kurang lebih bertanggungjawab atas keputusan yang kita buat sementara Matang itu ikhlas. Dan kalau dewasa itu pilihan, maka matang itu bergantung sangat kepada waktu. Waktu tidak bisa dibohongi dalam bicara mengenai kematangan.
Kalau Kepala 2 itu mungkin era kebebasan, maka Kepala 3 mungkin era – era kemenangan ketika apapun bisa didapat, dan artinya Kepala 4 adalah waktu kematangan penuh. Dimana orang lebih ikhlas, lebih bisa bersikap -bagaimana menghadapi orang lain. Mungkin lebih banyak yang tidak siap. Tapi apapun itu kita harus lebih banyak belajar.
Kembung, Diare dan Stress
“…Tiga puluh tahun makan teratur, dihajar maag (stress) sehari…”
Sebagai anak taat nasihat orang tua untuk selalu makan pagi secara teratur (bahkan dalam porsi cukup banyak), selalu rutin makan, dan tidak pernah terlambat makan hingga 30 tahun terakhir. Akhirnya, saya menjadi konsumen Promag juga. Ternyata dan ternyata, stress dan segala bentuk pengerogotan dari pikiran mengancam kesehatan jauh dari apa yang bisa kita bayangkan.
Dan betul, ternyata gangguan lambung yang bentuknya berupa kembung dan maag itu menghantui saya dengan suksesnya. Obat-obatan macam Diatab, Diapet dan Promag menjadi sahabat sejati belakangan ini, meningggalkan Tolak Angin dan jauh meninggalkan Decolgen terdahulu.
Dengan semakin banyaknya stakeholder di rumah dan kantor sejatinya perlu cara mengelola hidup yang lebih baik. Mari berbenah, mari.
Hemat dan Rajin Menabung
Bapak saya menanamkan pentingnya hidup hemat dengan memberikan contoh-contoh sederhana. Mulai dari memilih tempat parkir yang agak jauh tapi gratis daripada tempat parkir dekat yang berbayar. Ataupun memilih untuk membangun antena sendiri daripada membeli antena jadi. Bapak saya tipikal pekerja yang rajin dan menjadikan hidup hemat sebagai prinsip hidupnya.
Mertua saya prinsipnya sedikit berbeda, beliau lebih menanamkan pentingnya menabung. Menabung itu artinya mengumpulkan pada saat berlebih untuk digunakan pada saat berkekurangan. Jadi meski hidupnya kadang naik turun tapi berkat tabungan hidupnya relatif lebih stabil. Mertua tipikal pengusaha yang menjadi tabungan sebagai sesuatu yang mutlak dimiliki untuk menghadapi masa sulit. Bisnis tidak selamanya untung kan.
Buat saya, dua prinsip yang kelihatannya sama ini ternyata memang tidak akan pernah sama. Ada perbedaan besar antara orang yang visinya berhemat dibandingkan visinya untuk menabung, walau hasil akhirnya mungkin sama -jadi tidak bisa dibilang mana yang lebih baik.
Jadi nasihat untuk para kaum pekerja adalah perbanyak tabungan anda saat ini, mungkin tidak mesti dalam bentuk uang, tapi juga relasi, nama baik dan kepercayaan. Untuk para pengusaha perbanyak menabung dari sekarang, bukan hanya nominal tapi juga client, referensi pekerjaan dan pengalaman. Selamat menabung.
