Penyakit favorit orang kantor

Oh bukan, bukan Jantung, Kanker ataupun Stroke.

Belum lama ini seorang sahabat baik, sebut sana Jono 35 tahun harus cuti dari kantor karena mengidap HTD (Herniated Thoracic Disc). Penyakit -yang saya baru dengar- ini berhubungan dengan gangguan syaraf dan tulang belakang. Ga jelas penyakitnya, tapi ketika kami menjenguk, mendapatkan penjelasan -yang semakin bingung- dan melihat dia butuh cuti panjang, kami sadar bahwa penyakitnya berat.

Dan masih dalam hitungan hari, juga seorang sahabat baik, sebut saja Titi, 27 tahun juga harus cuti dari kantor karena Bell’s palsy sindrom atau juga dikenal penyakit saraf ketujuh. Masih juga berhubungan dengan syaraf tapi kali ini dengan syaraf wajah. Sindrom ini menyebabkan otot muka tidak bisa digerakkan. Artinya bicara akan melengos (apa ya bahasa mudahnya), tidak bisa berekspresi, hingga muka kebal. Iya lah, lha syaraf mukanya rusak, gila. Konon gara-gara AC? ah tapi bukankah kalau syaraf itu artinya ga jauh-jauh dari stress?

Sebenarnya mitos orang kantoran penyakitan, mulai dari tiga penyakit pembunuh paling top diatas, ataupun penyakit kejiwaan seperti stress, post power sindrom hingga yang sifatnya abstrak seperti korupsi atau workaholic sudah cukup sering saya dengar. Tapi ah, untuk mempercayainya sulit. Sampai beberapa teman saya, satu kantor pula mengidap penyakit tersebut. Artinya lampu merah! bukan lagi mitos atau katanya. Saya lihat sendiri

Bagaimana menurut pendapat anda? semakin banyak penyakit, semakin muda usia penderitanya, siapa yang salah? gaya hidup? stress? long working hours? pressure?

Baca juga
Sinar Harapan: Hari penyakit jantung dunia, Jantung, Kanker, Stroke
Ten Leading Causes of Death in the U.S: Jantung, Kanker, Stroke
BBC: top 10 cause of death: men vs women: Jantung, Kanker, Stroke
Top Deadly Diseases of the Developing World: ISPA, AIDS, Malaria
Google: Bahaya Semburan AC & Kipas Angin

Medicare vs RS Jakarta


Dokter adalah pekerjaan yang sangat kental unsur subyektif-nya. Sama-sama dokter spesialis pun seringkali memberikan penilaian yang berbeda terhadap suatu kasus. Kejadian ini kami alami ketika Dinda menderita demam tinggi > 38′C kadang sampai 39.5′C selama 4 hari sepanjang 24jam. Kemudian kami berinisiatif memeriksakan ke Klinik Medicare di Menara Kadin, Kuningan. Disana sang dokter kemudian memberikan instruksi cek darah hingga belasan item yang totalnya mencapai 750 ribu + 140 biaya dokter. Diantara belasan item tersebut, yang termahal adalah pembiakan kultur: 200ribu dan Dengue 250ribu. Bengong… Meskipun dicover kantor, tapi kan asuransi ada limitnya bos.

Mengingat subyektivitas ini saya selalu mencari second opinion setiap kali berobat. Tentunya paling gampang dari kakak saya yang juga seorang dokter. Dan benar, ternyata kakak saya pun protes dan sangat keberatan dengan tindakan dokter medicare tersebut. Beberapa item pemeriksaan tidak perlu dilakukan, malah ada beberapa item yang mubazir dilakukan. Semisal pengambilan sampel yang hanya bisa dilakukan saat demam menggigil.

Jelas, kami kapok berobat di Medicare. Dan ketika seminggu kemudian saya pun terserang demam tinggi. Saya memeriksakan darah di RS Jakarta, dan ketika saya ceritakan perilaku dokter Medicare tersebut, sang dokter RS Jakarta hanya geleng-geleng kepala.
“Mas pemeriksaan seperti itu sebenarnya tidak perlu kok”
dan benar dokter RS Jakarta ini pun akhirnya hanya menginstruksikan cek darah rutin dan widal yang totalnya 100 ribu. Efektif.

Tapi tidak ada dokter yang sempurna, saat memberikan resep Dokter RS Jakarta memberikan satu obat yang katanya menghilangkan mual yang memang saya butuh
“Narfoznya untuk mual pak”
Sekali lagi saya tanyakan pada kakak saya tentang Narfoz ini
“Walah, aneh juga tuh dokter. Narfoz itu obat mual abis kemoterapi, obat mahal itu”
Hiya, 150ribu untuk Narfoz, sementara obat utama saya, parasetamol itu hanya 3500″

Hidup sehat dalam perjalanan dinas

Perjalanan dinas bisa menjadi menyenangkan namun bisa juga menjadi malapetaka seiring dengan pola hidup yang tidak sehat, makanan yang berlebih, stress dan kurangnya berolahraga. Sedikit tips yang bisa saya bagi.

1 Kendalikan pola makan
Kendalikan makanan pagi
Hotel selalu menyediakan buffet breakfast, yang artinya kita bisa dengan ‘mengamuk’ bisa mengkonsumsi deretan daging, kue dan makanan berat lainnya. Usahakan makan pagi yang sederhana seperti telur, nasi dan buah-buahan. Ya, itupun tergolong sederhana.

Makan siang seperti biasa
Biasanya makan siang akan disediakan client, hal ini juga dengan pertimbangan efisiensi. Karena akan sangat repot jika waktu makan siang kita harus keluar kantor, belum lagi cuaca yang terik yang tidak nyaman untuk makan diluar. Makan siang diluar biasanya sesuai kick off meeting dengan client atau saat kunjungan pertama. Kita tidak perlu khawatir dengan makan siang ini. Read the rest of this entry »