Kuliah, Kerja Plus Nikah

Mo minta masukan-masukan gimana supaya mantap “kuliah, kerja plus nikah”
Rei

Karena saya bukan pakar dalam bidang ini, mungkin ada teman-teman yang bersedia menjawab

Selamat ulang tahun Dinda

Hari ini setahun yang lalu, rasanya hampir tidak percaya saya memutuskan menikah dengan Dinda. Simple, waktu itu segalanya belum stabil. H-2 hari pernikahan saya masih di Purwakarta dan H+2 setelah menikah agenda saya seharusnya berangkat ke Medan -dimana keluar kota sudah jadi rangkaian full dalam 5-6 bulan terakhir tahun itu dan itu busy season. Itu dari sisi pekerjaan, dari sisi persiapan mental apalagi. Saya merasa masih terlalu kanak-kanak menyikapi hidup ini, masih cengeng.

Ternyata, pada akhirnya pasti baik. Sekarang kondisi saya jauh lebih baik daripada satu tahun yang lalu sebelum menikah. Dan rasanya tidak percaya kalau harus mengingat kondisi satu tahun yang lalu. Ah rasanya indahnya pernikahan sangat sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata

Tahun depan ceritanya pasti lebih hebat lagi!
Ayo menikah

Cerita pasangan muda yang gagal berumah tangga

Jujur tidak mudah untuk melangkah mendekat dimana harus terlebih dulu mengelola ketidakcukupan (ini yang berbeda dg kalian), mungkin bisa jadi bahan tulisan sampeyan, agar kami bisa tahu mengelola ketidakcukupan dari orang-orang yg cukup :)
Mas Arif, di Tolong beri saya nasihat tentang pernikahan

Saya selalu berusaha menyajikan informasi yang seimbang mengenai suatu proses. Ambil contoh tentang proses enterpreneurship yang punya jargon ‘ngapain sih jadi orang kantoran’. Sedapat mungkin saya berusaha menyajikan sharing dari mereka yang tidak hanya sukses baik bekerja maupun wirausaha, tapi juga mereka yang gagal. Bukankah kita bisa belajar jauh lebih banyak dari kegagalan. Read the rest of this entry »

Ayo belajar jadi orang tua asuh

anak.jpg

Hanafi (5.5th) tahun depan akan masuk sekolah dasar. Hanafi saat ini tinggal di Tumpang, Malang Jawatimur bersama neneknya. Ibunya bekerja sebagai assisten rumah tangga di Jakarta. Hanafi kecil mungkin hanyalah sebagian kecil dari jutaan anak usia sekolah yang mungkin akan mengalami kesulitan dalam mendapatkan pendidikan dasar yang layak. Dan hidup Hanafi akan banyak berubah bilamana ada orang-orang yang mau membantunya dengan menjadikan Hanafi anak asuh.

Buat kami -pasangan muda yang sedang belajar menjadi orang tua- kami memutuskan untuk menjadi orang tua asuh bagi Hanafi. Bagi kami, Hanafi tidak sekedar anak SD biasa di pelosok kecil nun jauh disana, tapi Hanafi diharapkan bisa sebagai sarana pembelajaran bagi kami untuk membangun keluarga yang lebih baik dengan semangat berbagi sebagai landasan keluarga.

Menjadi orang tua asuh sebenarnya bukan hanya suatu kewajiban sosial tapi juga merupakan kebanggaan bagi si orang tua asuh terlebih bila anak asuhnya berhasil. Ummi-nya Dinda contohnya, si Ummi yang punya banyak anak asuh -beberapa berhasil beberapa menghilang- mungkin merupakan contoh sederhana bagaimana si mampu mendistribusikan kelebihannya kepada orang lain.

Ada banyak cara untuk menjadi orang tua asuh, dari nominal terkecil hingga kontribusi terbesar, antara lain Read the rest of this entry »

Tolong beri saya nasihat tentang pernikahan

Hari ini seorang sahabat baik mengatakan bahwa dalam selang 2 minggu lagi dia akan menikah. Seperti yang saya alami menjelang hari pernikahan tiba, yang sang sahabat lakukan adalah meminta nasihat dari yang ‘terlihat’ lebih berpengalaman seputar pernikahan. Karena saya tahu betul bahwa sebagian besar lelaki semakin ragu menjelang detik-detik terakhir kesempatan menyempurnakan agamanya.

‘Jar, masukan dong, 2 minggu lagi nih, gimana pengalamanmu’
‘Nggg, gimana ya pastinya nikah itu fitrah, setengah agama, suatu hal yang membanggakan bagi seorang lelaki, suatu kepuasan bagi orang tua’
‘Terus proses menjalaninya bagaimana’
‘Pastinya sabar, nikah mungkin ada hal yang ga enaknya, tapi percayalah hal-hal yang pahit dan ga enak itu justru bikin kita makin hebat, ibarat kelas intensiflah, cape tapi hasilnya pasti bagus’

Terus terang buat saya sulit untuk menuliskan apa nasihat sebuah pernikahan. Seperti banyak orang bijak pun menasihati pernikahan hanya dengan saran
‘Pokoknya jalanin aja mas’
Tapi kok rasanya ga puas ya mendengar nasihat seperti itu. Seperti kata si sahabat, Pak Jono yang pengurus Majlis Ta’lim di kantornya pun seringkali memberikan nasihat sederhana tentang sesuatu yang tidak perlu diungkapkan.

Ah, serumit itukah pernikahan? Ataukah pernikahan itu sebenarnya terlalu mudah? atau justru kita -yang sudah menikah- terkadang tidak menyadari dimana posisi barunya.

Mungkin yang sudah menikah punya cerita

Mengapa ragu untuk menikah?

‘Jangankan orang yang belum dapet jodoh, pasangan yang akan menikah, semakin dekat dengan hari H semakin ragulah si calon suami, semakin ragulah si calon istri dengan calon pasangannya. Bagaimana tidak? sekali seumur hidup’

Cerita tentang permintaan untuk membantu mencarikan jodoh merupakan cerita umum yang seringkali kita dengar dalam obrolan santai di cafe, di kubikel kantor saat istirahat atau di pelataran masjid. Entah serius atau tidak, tapi saya yakin kebanyakan bukanlah permintaan ’sesungguhnya’ untuk mencarikan jodoh.

Kalau ragu, bukankah kita semua ragu?

Memahami komitmen pernikahan

Saya dan istri setelah menikah punya komitmen sederhana: Saya tidak boleh memboncengi (apa ya bahasa yang lebih tepat) perempuan lain dalam mobil saya berdua saja. Suatu ketika ada teman kantor yang sedang hamil tua, saya berusaha menolak, tapi karena kasihan akhirnya saya telpon istri saya izin mengantar dia pulang.
Pak Andri, suatu ketika memberi nasihat tentang pernikahan.

Suami itu harus membukakan pintu bagi istrinya, baik pintu rumah ataupun pintu mobil. Jaman Rosulullah SAW dulu karena belum ada mobil, Rosulullah SAW selalu membantu Khodijah (istrinya) naik ke atas unta dengan cara menjadikan paha Rosulullah SAW sebagai pijakan bagi Khodijah
Pak Syafii Antonio, suatu ketika di Lt 52 Wisma Mulia.

“Selalu berusaha pulang tempat waktu!”
Jimmy, saat ngobrol santai di pelataran kantor

“Mengadakan momen special berdua, hanya dengan si dia, lepas dari gangguan si kecil atau pekerjaan rumah lainnya”
Nasihat standar entah diradio mana.

Karena setiap manusia unik, tentunya setiap pernikahan juga unik bukan. Komitmen anda pastinya berbeda dengan komitmen teman sebelah kubikal anda. Kebutuhan pasangan anda tentunya juga berbeda dengan kebutuhan pasangan lain pada umumnya.

Jadi, kata siapa cinta itu tanpa pengorbanan?

Apa dibalik kesuksesan seorang lelaki

Konon dibalik kesuksesan seorang lelaki, pasti ada seorang perempuan tangguh dibelakangnya. Begitupun sebaliknya, dibalik kesuksesan seorang istri pasti ada seorang suami yang memback-upnya siang dan malam. Begitulah, hal ini merupakan suratan takdir bahwa lelaki dan perempuan sudah dipasang-pasangkan layaknya siang dan malam. Akan selalu ada masa susah begitupun akan selalu ada masa senang, akan ada yang kaya dan akan selalu ada yang miskin.

Hidup berumah tangga, adalah suatu mekanisme paling sederhana untuk menggambarkan betapa Tuhan mendesign bentuk kehidupan ini sedemikian rupa untuk ciptaannya. Dengan berpasang-pasangan kita akan lebih mudah memahami bahwa design pasang surut kehidupan sebagaimana design gas dan rem sudah merupakan suatu yang fitrah. C’est la vie, begitulah kehidupan dan akan selalu begitu. Read the rest of this entry »

Etika kerja bagi suami siaga - part 1

-pending, tulisan ini sedang dalam tahap review-

“Jar, besok berangkat ya ke Sangatta, Kaltim. Tiket semua udah diurus”
“Hah, besok?”
“Iya besok, kliennya minta besok siang”
“Huff, jadi berapa orang yang berangkat? berapa lama?”
“Tiga orang, ga tau sampai kapan, tergantung progress disana”
“Kalau diundur gimana?”
“Masalahnya, pesawat ke Sangatta ga tiap saat ada”
“Ganti orang?”
“Susah, dah mulai busy season kan”

Seputar problem tempat tinggal (KPR) di Batam

Sebetulnya saya mau memasukkan thread ini di bicararumah, sebagaimana thread tentang rumah KPR dan sejenisnya disana. Tapi, setelah saya pelajari lagi, topik ini bisa diangkat lebih luas untuk anak-anak yang bekerja di Batam pada umumnya.

Ceritanya juga mirip pengalaman seorang teman yang sudah bekerja di Batam hingga 3 tahun kemudian memutuskan pindah ke Jakarta. Ga ada masalah, karena belum telanjur beli rumah disana. Tapi bagi yang sudah telanjur mungkin urusannya bisa panjang.

Batamers mungkin ada pendapat? seputar housing strategi disana. Atau selamanya mau jadi orang Batam? atau ada pendapat lain?

Berikut email detail dari Mba Lia, sebagai tambahan referensi. Read the rest of this entry »