Mengapa pelayanan publik kita buruk

Selama ini mengamati pelayanan publik yang diberikan oleh pemerintah, saya menyimpulkan bahwa pelayanan publik kita belum maksimal -kalau tidak mau dibilang buruk. Alasan klasik yang sering terlihat adalah tidak efektifnya proses birokrasi, pungutan liar hingga sikap dan pelayanan yang tidak menjunjung prinsip customer excellence.

Mencoba melihat dari sisi yang berbeda, menurut saya alasan mengapa pelayanan kita belum maksimal adalah:
1. Rutinitas yang menjebak
Pelayanan kita buruk karena aparatnya setiap hari melakukan hal yang sama dan monoton. Kemarin ketika mengurus Mutasi STNK misalnya, yang saya lihat aparat yang bekerja cenderung tidak semangat bekerja, cenderung bosan. Menurut saya ini wajar, karena sejak pagi hingga petang pekerjaan yang ia lakukan adalah pekerjaan yang sama. Mengecek nomor rangka mesin dikomputer misalnya, dan ini ia lakukan terus menerus sepanjang tahun.

Saran saya, perlu dilakukan rotasi terjadwal diseluruh lini aparatur pemerintahan. Supaya semangat bekerja lebih terjaga. Alasan rutinitas saya rasa merupakan alasan terbesar kenapa hampir semua pekerjaan yang berupa shared service buruk kinerjanya, -termasuk disektor swasta untuk pekerjaan rutinitas lainnya.

2. Semangat korps yang mulai menurun
Sebenarnya hal yang membanggakan dari aparatur Read the rest of this entry »

Lifeauditor women’s corner

Beberapa data yang mungkin menarik untuk rekan-rekan sekalian:

  1. Mayoritas pembaca blog ini lelaki (70-30) dengan latar belakang engineering.
  2. Mayoritas perempuan lebih banyak membaca bagian: tips membeli rumah yang seharusnya adalah porsi lelaki. Sementara tips mencari jodoh lebih banyak dibaca lelaki. Sisanya perempuan lebih menyukai topik pernikahan dan keluarga
  3. Mayoritas perempuan lebih sering mengirim email, sementara lelaki lebih sering blak-blakan di comments.
  4. Mayoritas perempuan tahu betul berapa standar gaji suaminya, bahkan komposisinya dibandingkan suaminya sendiri.

Untuk mengapresiasi atensi dari rekan perempuan -sang mahluk misterius di mata lelaki. Lifeauditor berupaya menampung semua saran dan masukan mengenai konten dan topik yang menarik untuk didiskusikan dan di share lebih lanjut.

Ingat, khusus untuk perempuan.

Mengapa teori motivasi seringkali tidak berhasil?

‘Kenapa ya efek mendengarkan motivasi dari motivator semacam Tung Desem ataupun dari penceramah religius tidak bertahan lama. Biasanya hanya bertahan 1-2 jam setelah acara berlangsung. Padahal tadi nda, si penceramah bisa buat jamaah terharu biru, menangis. Disebelahku ada security, gagah besar pake safari dia terisak-isak saat sang penceramah meminta kita mengingat wajah ayah dan ibu’

‘Hehehe, iyalah, makanya membership ESQ tidak terbatas, sekali join kita bisa ngikut sesi ESQ berikutnya’
Dinda ‘penggemar’ ESQ, sebagaimana teman-temannya di BI, Telkom dan perusahaan lain yang sering mengirimkan karyawannya untuk training-training motivasi diluar.

Ada yang tahu kenapa teori-teori dan pelajaran tentang dahsyat, luarbiasa, sedekah baik dalam konteks religi ataupun sekuler tidak efektif bertahan lama. Dan lewat satu hari biasanya kita sudah lupa. Apa yang salah?

Coba seandainya dibalik, kita diposisi motivator, entah sebagai bos ataupun manager. Kita memotivasi anak buah kita, ternyata hasil motivasi kita hanya bertahan 1-2 jam saja. Siapa yang salah?

Jumlah penduduk miskin dan revenue telco di Indonesia

Baca juga:
Persaingan pada industri seluler, Antara.co.id
Bagaimana berbohong dengan statistik, Darrel Huff
There are three kinds of lies: lies, damned lies, and statistics, Mark Twain

Bisnis tanpa preman

Konon faktor penting dalam bisnis adalah lokasi. Saya sih percaya, apalagi kalau bisnis ini skala kecil dan menengah. Faktor lokasi ini bisa jadi maha penting dalam kesuksesan bisnis. Ambil contoh, saya punya rencana membuat terminal bayangan di seputaran Jakarta ini. Terminal bayangan ini penting, karena berdasarkan pengalaman saya dari Bintaro, sangatlah sulit untuk mencari bis ke arah timur (Tegal, Semarang, Cirebon) karena mau tidak mau saya harus menuju terminal Pulogadung, Lebak Bulus, ataupun Stasiun Gambir jika harus mengambil kereta.

Beruntunglah, sudah banyak armada bis yang menyadari pentingnya mengejar bola ini. Belakangan cukup banyak ditemukan terminal bayangan di Kebayoran baru, Dewi Sri di Ciledug, dan beberapa lokasi lain yang saya tidak hafal. Konon menurut supir taksi yang rajin pulang ke arah timur. Bisnis seperti ini sangatlah menguntungkan. Tinggal punya lokasi cukup strategis untuk parkir 2-3 bis, membuat ticketing sederhana dan beres. Bisnis ini bisa dijalankan dengan modal sangat kecil, biaya operasional rendah dan keuntungan pasti. Read the rest of this entry »

Obat flu paling mujarab

Sudah dua hari ini saya tergeletak dirumah, sakit flu tepatnya. Hari Senin kemarin, kondisi tubuh saya sudah tidak enak, beberapa kali bersin dikantor membuat saya harus meminum Panadol, sekedar menghilangkan nyeri dan demam. Merasa kondisi makin tidak enak saya putuskan minum Decolgen, dan mengambil izin sakit di kantor.

Selang dua hari dengan obat warung, ternyata flu juga tidak kunjung sembuh. Flu kali ini memang menyiksa, walau tidak separah sebelumnya, mengingat saya sudah tanggap dengan izin sakit dan segera beristirahat. Tapi, karena desakan Dinda untuk berobat akhirnya saya putuskan untuk berobat pada dokter. Read the rest of this entry »

Memberi

Mungkin berlebihan, tapi kalau pulang, hal yang paling membanggakan adalah: bisa memberi sejumlah uang pada saudara atau kerabat. Tradisi memberi ini semakin dikuatkan bila harus pulang saat lebaran. Dahulu sebelum bekerja, bapak selalu memberi sejumlah uang pada nenek dan keluarga dirumah. Sekarang setelah bekerja, tugas memberi ’sangu’ ini diserahkan pada anak-anaknya.

Nominal uang ini memang tidak besar, mulai dari 20 ribu hingga bilangan tertentu tergantung kebutuhan. Kebanyakan ‘customer’ saya adalah orang-orang tua, sedangkan kebanyakan customer Dinda adalah keponakannya yang kecil-kecil. Kalau customernya lebih mampu, biasanya yang diberi adalah berwujud benda, pakaian atau sekedar aksesoris. Read the rest of this entry »

Marlboro kretek harusnya dilarang beredar

Apa-apaan nih, Marlboro bikin rokok kretek?

Kaget, pagi ini berangkat kekantor melihat Marlboro memasang baliho dan spanduk dimana-mana tentang peluncuran produk kreteknya. Saya protes, Marlboro harusnya tidak main di kretek atau kita ganti aturan mainnya.

Industri rokok harus diakui merupakan industri yang paling eksis di negeri tembakau tumbuh subur ini. Pemerintah memang melakukan proteksi terhadap rokok lokal sebangsa GG, Djarum, Sampoerna yang memang raja kretek. Aturannya: Rokok asing ga boleh bikin rokok kretek, bikin blend pun bakal digantung.

Jadi ceritanya lengkapnya begini, bapak saya bekerja di BAT, di Cirebon, kompetitornya Philip Morris, pabrik bapak bikin Lucky Strike, Triple 5, Pall Mall, Ardath Read the rest of this entry »

Kucing Garong dan apresiasi seni masyarakat Pantura

Sira kuh bli bisa ngegendang tah? priben jeh, dudu wong Cerbon kuen
(Kamu tidak bisa bermain gendang? bagaimana sih, bukan orang Cirebon artinya)

Meledaknya lagu Kucing Garong, SMS dan Bang Thoyib kembali mengingatkan kita semua akan keniscayaan lokalitas seni (local genius) di kancah nasional. Tiga lagu bergenre dangdut pantura diatas yang baru-baru ini digemari masyarakat kita lewat vcd-vcd bajakan, konser-konser pernikahan ternyata sudah jauh jauh hari diakrabi masyarakat Pantura (pantai utara jawa) dalam kesehariannya.

Masyarakat Pantura adalah stereotype masyarakat yang tersebar mulai Indramayu, Cirebon, Brebes, Tegal, Pekalongan, Jepara, Demak, Kudus hingga Gresik. Sebuah budaya yang terbentang dalam jalur akulturasi sepanjang 1000 km buatan Herman Willem Daendels yang mengalami proses pembentukan budaya yang sangat panjang dari penyebaran islam wali sanga, hingga mendaratnya Jepang pada 1942 di Pantai Eretan Indramayu. Read the rest of this entry »

Dapatkah ‘fanatisme’ itu dihapuskan?

Topik ‘berat’: skip aja kalau males

Sejak kecil saya cukup terbiasa hidup dalam lingkungan yang heterogen, Cirebon -pada kenyataannya- hampir tidak punya bahasa daerah, diapit budaya pasundan dan budaya jawa membuat saya hanya bisa menguasai bahasa Indonesia. Dari ibu Palembang-Surabaya-Cirebon dan bapak yang bisa ‘ngapak-ngapak’ Banyumas-an saya pun tidak mewarisi ketrampilan linguistik mereka berdua. Read the rest of this entry »