Mencintai itu bukan kejahatan

“Oh jadi yang jahat si A ya”
“Bukan Mas, si A itu pacarnya si B (tokoh utama cowok yang kaya raya) dari kuliah”
“Lho terus kok kaya gitu, padahal si C (tokoh utama cewek yang miskin) kan baru kenal si B ya?”
“Si B kan kemarin hilang ingatan, terus ditolong si C, si B jadi suka sama si C”
“Terus si D ngapain itu?”
“Si D itu bosnya si C dikantor, si D itu temennya si B”
“Jadi yang jahat si C ya?”
“Bukan mas, si A dan si C tuh ga jahat”

Beberapa hari mengambil cuti, saya berkesempatan menemani Dinda nonton sinetron-sinetron Korea di JakTV. Lucu-lucu juga ternyata, Sinetron yang tayang pagi hari ini punya genre yang berbeda dibandingkan dengan sinetron produksi tanah air. Selain tidak ada adegan teriak-teriak, karakter antagonis yang berlebihan sampai, konflik yang menurut saya jauh lebih sederhana daripada sinetron Indonesia.

Biasanya, kalau di sinetron Indonesia, kita bisa menebak dengan mudah tokoh mana yang antagonis -digambarkan kejamnya luar biasa, ataupun tokoh protagonis yang cantik, lembut dan sebagainya dengan hanya satu kali nonton. Tapi kalau di sinetron korea, tidak demikian.

Sebenarnya yang lebih dekat di dunia nyata yang mana ya?

Mengapa lelaki berbohong dan perempuan menangis

“..Jika kelemahan lelaki dan wanita begitu diambil kira, pastilah kedua-duanya tidak hidup berpasangan. Namun, sudah menjadi fitrah serta tuntutan hidup bahawa lelaki dan wanita saling memerlukan. Justeru, wujudlah percintaan dan perkahwinan…”
Raja Yusoff Ariffin

*Ada yang mau berbagi pengalaman?

Kenapa selingkuh?

Saya baru ketemu dengan teman lama, dia bercerita sekarang punya side job sebagai tarot reader dan kabarnya cukup ramai. Beberapa kali masuk media massa. Kebetulan kliennya sebagian besar dari kalangan artis.

Yang menarik dari ceritanya adalah sebagian besar masalah yg dihadapi kliennya (80%-90%) adalah selingkuh, baik oleh mereka sendiri atau oleh pasangannya. Ada yang karena cinta platonik, karena balas dendam, juga ada yang tidak tau kenapa.

Gimana Mas Jar klo buat topik sendiri tentang perselingkuhan, karena dengan membahas hal ini kita bisa tau lebih luas dan bisa belajar cara menghadapinya/menghindarnya. Apalagi udah ada permintaan di atas tuh yang sebenarnya terkait.
CakHan

Mengapa mencari jodoh itu sulit?

Alasan mencari jodoh itu sulit
1. Tidak bisa memilih (khusus bagi lelaki)
2. Tidak yakin dengan calonnya (khususnya bagi perempuan)
3. Ketakutan yang tidak perlu
4. …
5. ..
Lima alasan mencari jodoh itu sulit (32 comments)

“Dari ribuan SMS yang masuk ke HP saya, SMS terbanyak itu konsultasi masalah mencari jodoh, sisanya masalah hutang, masalah rumah tangga baru kesehatan dan lain-lain”
Reza M Syarief, 27 Sept 07 di Majlis Ta’lim Lt 52 Wisma Mulia

Kenapa ya?

Lifeauditor mencari jodoh edition

Rezeki, Hidup, Mati dan Jodoh adalah empat misteri kehidupan terbesar. Point yang terakhir: jodoh, bisa jadi merupakan topik yang paling seru dibicarakan. Topik diskusi manapun biasanya ujung-ujungnya akan berakhir pada pembicaraan ini. Sekedar penghangat, berikut topik tips mencari jodoh yang paling ramai didiskusikan disini:

Ada saran, komentar dan masukan? oh ya, dengan ini ‘biro jodoh’ dinyatakan berhenti sementara -ternyata menjodoh-jodohkan orang itu luar biasa sulit-

Percaya diri

Dari hasil ngobrol dengan teman-teman cowok ada statement menarik yang bisa diriset: Rasa percaya diri cowok bertambah ketika bisa punya pacar dan akan makin bertambah ketika udah punya istri
Mba Titi, Psikolog UI

Ada pendapat lain? rasa-rasanya sih…

Mau dicari kemana lagi?

Biasanya setiap pindah kantor baru -saya bisa setiap 2 minggu sekali pindah kantor kalau musim sibuk audit- selain dispenser air minum, yang auditor cari adalah cewek cantik dikantor tersebut. Tapi gak mesti auditor pastinya, temen-temen yang kerjaannya mobile, mulai dari vendor sampe konsultan HR pastinya punya kelebihan untuk bisa lebih banyak lirik kanan kiri. Pengalaman saya sih, lebih banyak teman yang punya jodoh dari kerjaan mobile ini daripada teman yang kerjanya ga mobile.

Contoh, teman saya kerja di semacam hospital product supplier, kerjaannya muter-muter dari RSPI sampe RSPP. Akhirnya istrinya dari perawat disalah satu rumah sakit. Ga jauh-jauh dari itu. Masih terkait dengan rumah sakit, teman saya yang lain istrinya ternyata bekerja dalam ruangan yang bersebrangan dengan ruang si teman. Tetep ga jauh-jauh.

Nah kalau secara empiris, pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa jodoh itu ga jauh-jauh dari lingkungan kita. Dan secara teoritis, calon jodoh itu kebanyakan fans kita, maka sebenarnya metode seleksi bisa dilaksanakan lebih mudah.

Saya ga perlu ngajarin kan gimana proses PDKT-nya, setiap orang punya gaya sendiri dan setiap orang pun punya sense tersendiri mengenai PDKT yang dilakukan orang lain pada kita. Jadi? lirik sedikitlah, ga usah jauh-jauh.

Got get ‘em tiger!

Adakah tips mencari jodoh untuk lelaki?

Mba Titi, seorang teman baik saya menghubungi saya untuk menjadi penulis dalam buku non fiksinya. Tema yang Mba Titi akan angkat adalah seputar tips mencari jodoh. Kira-kira berlangsung dialog sebagai berikut:

Mba Titi: Gimana mas, kita join nulis bareng aja, mas yang nulis dari sisi cowok, saya yang nulis dari sisi cewe
Read the rest of this entry »

100% lelaki

Menurut saya, lelaki adalah mahluk yang ajaib. Lelaki dilahirkan untuk punya kecenderungan menguasai, punya kecenderungan untuk berperang, berkompetisi dan menjadi pemenang. Lelaki punya hormon, kromosom yang memungkinkan untuk melakukan sesuatu yang hebat, yang punya nama tengah penaklukan didalamnya.

Kalau sekelompok lelaki berkumpul, maka kemungkinannya tinggal dua:
1. Lelaki berkelahi, memperebutkan satu hal yang kadang sepele. Mulai perhatian cewek, atau pengakuan bahwa lelaki tersebut paling jagoan.

2. Lelaki bekerjasama menaklukan sesuatu yang sulit, misal memutuskan mendaki gunung Ciremai, touring Jakarta Jogja, memancing di Makassar atau menyelam pantai Amai di Papua.

Tapi pernahkah anda berpikir bagaimana jadinya bila si lelaki berkeluarga? akankah semua stereotype diatas hilang? Read the rest of this entry »

Membangun rumah (tangga)

Lelaki tuh harus bisa membangun rumah Jar
Sumitro, bapak tiga anak, bapaknya si Anjar

Tahun 70an awal, bapak saya mendarat di Jakarta untuk pertama kalinya. Waktu itu si bapak yang lulusan STM dari Purwokerto, sebagaimana anak muda pada jamannya berusaha mencari pekerjaan di Jakarta. Bapak waktu itu bekerja serabutan, mulai dari kuli cat gardu listrik PLN di Sunter, hingga mengerjakan proyek ala kadarnya di Senayan, Pancoran, Jatinegara dan seputaran Jakarta lainnya.

4-5 tahun lamanya bapak bekerja serabutan sebagai kuli, sempat juga bekerja serabutan di Bandung, Semarang, sampai akhirnya memutuskan untuk menetap dan bekerja di pabrik rokok di Cirebon. Walhasil bapak punya kemampuan tukang bangunan yang proven, mulai dari adukan semen yang sempurna, -ingat membuat capucino yang enak pun ada tekniknya- sampai dengan bagaimana mengecat tembok dengan baik, yang semoga bisa diturunkan pada anaknya.

Saya ingat betul waktu saya masih kecil, waktu bapak membangun rumah di Cirebon, waktu itu kakek datang jauh-jauh dari Purwokerto untuk membantu bapak membangun rumah. Maklum rumah dikerjakan secara bertahap dengan kuli apa adanya. Jadilah kakek merangkap antara tukang ngaduk semen, gali pondasi sampai menyiapkan kopi untuk para tukang. Sebuah tradisi bapak dan anak yang bekerja sama membangun rumah.

Tradisi dan kerjasama membangun rumah ini pun ternyata diturunkan dari generasi ke generasi. Minggu ini bapak pun mengulang langkah kakek dengan membantu saya mengecat rumah. Ya, meskipun rumah ini dibeli dalam keadaan jadi, bapak tidak mau anaknya kehilangan semangat membangun rumah, sama seperti yang bapak dan kakek lakukan puluhan tahun silam.

Memang didunia ini ada banyak hal-hal kecil yang tidak mungkin bisa hilang, fitrah seorang lelaki untuk menjadi suami, fitrah seorang lelaki menjadi seorang bapak, fitrah seorang lelaki untuk menjadi seorang kakek, fitrah seorang lelaki untuk mati, fitrah seorang lelaki untuk terus mencoba memberi bagi keluarga, bagi orang-orang terdekatnya, bagi orang lain.

* Makasih ya Pak