Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Sejarah Ilmu Lingkungan

leave a comment »

UNEP berdiri tahun 1972 (Stockholm Conference 1972), kemudian IPCC berdiri tahun 1988, lalu UNFCCC berdiri tahun 1994 (Rio Earth Summit 1992).

Yang punya kekuatan hukum adalah UNFCCC yaitu mewajibkan submission dari:
– their national communications every 4 years
– their national GHG inventory every year (indonesia is developing countries, only submit biennal if possible).

Artinya, segala rujukan larinya ke IPCC karena UNFCCC bukan lembaga riset. Tapi meski demikian IPCC juga bukan lembaga riset karena basis researchnya literature review. Namun, IPCC bisa dijadikan rujukan utama untuk standar e.g emission factor. Namun, IPCC tidak punya emission factor yang lengkap, ini harus merujuk ke acuan lain misalnya EMEP/EEA atau penelitian khusus dalam bidang tertentu e.g biomass waste.

Karena organisasi ini punya ketentuan yang mengikat, maka harus ada aturan yang seragam. Maka dibuatlah Accounting system, dimana komponennya adalah Emission Inventory (e.g GHG Inventory, Air Pollution Inventory secara lebih luas ada water emission inventory).

Namun, tidak semua negara punya luxury untuk punya sistem yang bagus. Indonesia belum punya National Carbon Accounting System yang integrated.

Dan tidak semua punya metode yang lengkap e.g tier 1 atau tier 2. simple calculation (by fuel consumption) atau complex (by distance, road condition).

Emission Factors ini beragam:
– SO2: IPCC
– CO: IPCC
– CH4: IPCC
– NOX: EMEP/EEA
– NMVOC: EMEP/EEA
– PM: EMEP/EEA – CORINAIR
– CO2: EMEP/EEA – CORINAIR

https://www.quora.com/What-are-the-differences-between-UNEP-UNFCCC-and-IPCC

Written by Anjar Priandoyo

April 28, 2017 at 11:34 am

Ditulis dalam Science

Jangan anggap remeh faktor lingkungan

leave a comment »

Jarak Madagascar ke Afrika kurang dari 1000 miles, sementara jarak Madagascar ke Indonesia lebih dari 5000 miles. Namun yang menghuni Madagascar adalah orang keturunan Indonesia (Austronesian), konon alasan terkuat adalah arus laut dan arus perdagangan.

Artinya faktor lingkungan (arus laut) merupakan faktor yang paling signifikan. Sama-sama jalur laut, jalur yang mengikuti arus laut meski jaraknya 5x lebih jauh bisa lebih cepat ditempuh. Sama seperti Mediterania dulu, meski jaraknya 5x lebih jauh, jalur laut lebih cepat daripada jalur darat.

Termasuk menjelaskan colonisation of africa (errr, ini lebih complex)

“…The problems in that paper reflect a more general issue in social science: There is an incentive to make strong and dramatic claims to get published in a top journal….”

https://www.quora.com/Why-didnt-Africans-settle-Madagascar
http://ask.metafilter.com/226497/Whyd-it-take-us-so-long-to-find-Madagascar
https://en.wikipedia.org/wiki/Austronesian_peoples
https://www.washingtonpost.com/news/monkey-cage/wp/2016/04/24/why-is-africa-so-poor-while-europe-and-north-america-are-so-wealthy/?utm_term=.480e511dc210

Written by Anjar Priandoyo

April 28, 2017 at 10:53 am

Ditulis dalam Life

Analogi

leave a comment »

Dulu sekitar tahun 2004, ada komik mengenai profesi consulting yang sangat populer. Sekarang saya menemukan padanannya dalam bidang ekonomi.

  • The Consulting Swingset Analogy (How Projects Really Work)
  • Teach a man to fish (Fundamental Principle of Political Economy)

http://www.projectcartoon.com/
http://www.smbc-comics.com/comic/teach-a-man-to-fish

Written by Anjar Priandoyo

April 28, 2017 at 10:32 am

Ditulis dalam Life

Filsafat Lingkungan

leave a comment »

Dari berbagai bidang keilmuan yang ada saya memutuskan untuk mengambil ilmu lingkungan (environment science), lebih tepatnya filsafat lingkungan. Kesan yang saya tangkap mengenai ilmu lingkungan adalah petualangan, kegiatan dilapangan dan segala aktivitas diluar sana yang penuh tantangan. Bayangan saya mirip dengan pencinta alam yang gemar mendaki gunung.

Kesan ini semakin kuat saya dapatkan setelah melihat bahwa kegiatan perkuliahan yang dilakukan oleh mahasiswa ilmu lingkungan adalah berkunjung ke kutub utara (arctic) untuk mengambil sampel di lautan es (sea ice) untuk melihat bagaimana kandungan oksigen di langit jutaan tahun yang lalu. Kegiatan resmi perkuliahan yang lain dilakukan dengan mengambil sample tanah ditepi pantai untuk melihat bagaimana muka bumi ratusan juta tahun yang lalu.

Kalau berpetualang kurang populer, maka image David Attenborough yang hingga usia 90 tahun tetap berpetualang, dengan foto dan video yang mengcengankan mengenai planet bumi dari sudut paling dalam, mengenai potret bumi dari satelit NASA memberikan gambaran betapa menariknya bidang ilmu lingkungan ini.

Namun melihat ilmu lingkungan layaknya Indiana Jones, sama halnya melihat ilmu komputer dari kacamata Bill Gates. Petualang lingkungan sama seperti Hacker komputer, adalah kesan yang sama-sama populer yang didapatkan dari sebuah bidang ilmu pengetahuan.

Kenyatannya?

Kenyataannya, Ilmu Komputer sendiri harus dibagi antara SI (IS, Aplikasi, AI) dan TI (OS, DB, Jaringan). Sama seperti Lingkungan yang harus dibagi antara dimensi obyeknya (Air, Water, Solid Waste) atau dari dimensi prosesnya (Rekayasa, Sanitasi). Ini sama dengan Komputer yang membagi antara dimensi obyek (Apps, OS, BD) atau dimensi prosesnya (Rekayasa, Design)

Perbedaannya?
Perbedaan antara ilmu lingkungan dengan ilmu komputer, yang paling mendasar adalah perbedaan tujuan. Ini terlihat dari faktor institutional pendukungnya. Komputer relatif tidak diatur oleh pemerintah, sementara Lingkungan yang sama dengan Ekonomi, Hukum atau Ilmu Sosial diatur oleh pemerintah, lewat lembaga dan standarisasi. Jadi, di Lingkungan ada konsep Emission Inventory. Yang diatur oleh pemerintah (e.g IPCC, KLH), yang disusun dengan tujuan tertentu (e.g EMEP/EEA, GAP Forum, Atmospheric Brown Cloud)

http://envirodiary.com/id/modul-ajar/inventarisasi-emisi
http://www.menlh.go.id/DATA/csr_pi_2012/download/DRAFT%20FINAL%20PEDOMAN%20TEKNIS%20PENYUSUNAN%20INVENTARISASI%20EMISI%20(1).pdf
http://www.rrcap.ait.asia/Publications/ABC%20Emission%20Inventory%20Manual.pdf

Written by Anjar Priandoyo

April 28, 2017 at 10:07 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Manajemen Lari Streak

leave a comment »

Bulan April merupakan bulan yang spesial, karena selama 30 hari dibulan ini dilaksanakan streak challenge, berlari sejauh-jauhnya dalam waktu 30 hari. Top distance untuk streak challenge ini adalah sekitar 25km/hari (15.625 miles) dengan total sekitar 750km (468.72 miles) ditempuh dalam satu bulan penuh.

Awalnya menurut kalkulasi saya, dengan pace 11:30 miles/min, top distance challenge ini hanya bisa diraih dengan meluangkan waktu selama 3 jam setiap harinya. Feasiblekah? menurut perhitungan awal saya, jarak ini tidak feasible. Pegangan saya adalah jarak optimal lari yang hitungannya adalah:
– satu minggu total 70 miles, lebih dari 70 miles harus double
– waktu maksimal yang bisa ditempuh adalah 13 miles, sekitar 2.5 jam. Bangun jam 04:00, lari 04:30-07:00

Ternyata, menghitung target harian ini terbukti tidak efektif. Yang jauh lebih efektif adalah menghitung target mingguan atau target 10 harian. Intinya harus ada break. Dalam waktu 30 hari misalnya, paling tidak disiapkan break selama 3-4 hari. Dan break ini sebenarnya harus diganti pada hari berikutnya.

Namun apakah strategi distribusi merata ini efektif? Sebagai perbandingan bila konsisten berlari di 21km/hari selama 30 hari bisa mencapai jarak 630km (390 miles). Namun yang saya lihat, dengan kemungkinan break, maka hasil yang bisa didapatkan adalah 26+80+80+67 = 253 (W1,W2,W3) dan sisa yang dihabiskan sebanyak 140 (7*20). Padahal, kalau mau lebih santai bisa ditempuh dengan distribusi yang lebih normal, tanpa menambahkan beban di minggu terakhir. Atau dengan kata lain, hutang lari yang bolong sebenarnya diselesaikan di minggu terakhir, yang mana bukan solusi yang baik.

http://running.competitor.com/2014/08/training/running-101-how-often-should-you-run_12188
http://www.letsrun.com/forum/flat_read.php?thread=4639689

Written by Anjar Priandoyo

April 27, 2017 at 6:31 pm

Ditulis dalam Life

Pupuk

leave a comment »

Menurut catatan FAO 2015, konsumsi pupuk dunia sekitar 186 MT. Indonesia, konsumsinya sekitar 10 MT, rendah, karena Indonesia bukan negara pertanian. Pupuk konon berkontribusi hingga 20% keberhasilan/tingkat produksi. Pupuk pada dasarnya adalah industri Nitrogen atau lebih tepatnya industri NH3 (Ammonia). Industri yang mengikat (fixation) Nitrogen dari udara (N2, Udara 80%-nya N2) dengan dengan Methane (CH4, 60% raw material). Jadi, pada dasarnya industri pertanian, industri pupuk adalah industri energi.

Fertilizer Subsidy Policy in Indonesia: Impacts and Future Perspectives: Tahlim Sudaryanto – Senior Agricultural Economist

http://www.setneg.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=3369
http://www.essentialchemicalindustry.org/chemicals/ammonia.html
http://www.bbc.co.uk/schools/gcsebitesize/science/add_aqa_pre_2011/chemreac/energychangesrev3.shtml
http://www.appi.or.id

Written by Anjar Priandoyo

April 26, 2017 at 11:33 am

Ditulis dalam Science

Kontribusi: klaim sepihak yang menyesatkan

leave a comment »

Saya tidak membayangkan betapa sering saya akan menulis catatan mengenai “kontribusi” yang menyesatkan. Contoh berita di CNN Indonesia (Nov 2016), mengatakan bahwa:
– kontribusi UKM 60% dari GDP
– kontribusi UKM 97% dari tenaga kerja

UKM sendiri merupakan jargon yang menyesatkan, yang menurut UU 20/2008 mengatakan bahwa Mikro omset 300jt/tahun, Kecil omset 2.5m/tahun dan Menengah omset 50m/tahun. Artinya tukang pecel lele 1 tenda itu masuk Mikro, yang jualannya sekitar 1jt/malam (Rp 20,000 x 50 orang, beroperasi selama 5 jam sehari, atau 10 orang per jam (6 menit per orang)). Kalau juragan ikan di pasar yang omsetnya per malam sekitar 10jt itu masuk ke usaha kecil.

Owner usaha mikro misalnya, pendapatannya sekelas dengan orang kantoran kelas staff. Bisa bersih mendapatkan 5-10jt/bulan. Sementara, orang pengusaha menengah, bisa punya gaya hidup yang sama dengan orang kantoran kelas manager/professional.

Kalau dilihat dari kacamata income inequality, sebenarnya menjadi pengusaha UKM dengan menjadi manager professional tidak ada bedanya. Kelas antara kasta pekerja-pengusaha ukm tidak ada bedanya. Yang berbeda, hanyalah kelas elit yang posisinya mungkin hanya 0.001% dari keseluruhan populasi. Inilah yang mengumpulkan wealth paling banyak.

Masalah dengan UKM adalah:
1.UKM sangat sulit diklasifikasi, apakah berdasarkan size atau sektor. Sifatnya lebih banyak pada underground ekonomi yang sulit diatur. Contoh untuk menertibkan pedagang pecel lele, paling tidak harus menagih iuran pada pedagang tersebut, namun akibatnya pedagang harus membebankan iuran tersebut pada pelanggan. Karena kompetisi yang tidak sehat, bersaing dalam harga, maka pedagang tidak mau membayar iuran. UKM ada karena survivalitas dari masyarakat.

2.UKM itu chaos. UKM merupakan sebuah jargon untuk menyebut sebuah entitas yang sporadis namun bisa diklasifikasikan dalam satu kategori yang sebenarnya bukan kategori yang tepat. Ini ibarat mengatakan, kita punya banyak atlit yang bisa memenangkan lomba catur, padahal atlit yang ada atlit lari, renang dan sepeda.

Kesimpulan:
1. Punya kategori yang sama, bukan berarti mudah untuk membuat policy. Berada dalam kelas klasifikasi yang sama bukan berarti bisa dibuat aturan yang sama. Sama seperti ukuran berat badan atlit, buat tinju atau angkat berat mungkin efektif, tapi buat lari misalnya, tidak efektif.
2. Ada 2 approach untuk UKM, bisa berdasarkan government classification (e.g France) atau berdasarkan government certification (e.g UK). Sama seperti selalu ada 2 approach untuk menyelesaikan sebuah masalah. Dua aproach yang berada dalam sebuah polar yang berbeda.

Catatan: Ini juga berlaku pada klaim menyesatkan lainnya semacam sektor pariwisata

http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20161121122525-92-174080/kontribusi-umkm-terhadap-pdb-tembus-lebih-dari-60-persen/
http://www.kemenkeu.go.id/en/node/47721

Written by Anjar Priandoyo

April 26, 2017 at 11:22 am

Ditulis dalam Science

Tagged with ,