Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Memahami Pattern, Trend dan Drivers

leave a comment »

Untuk memahami suatu kata, kita harus tahu dalam konteks pada kata tersebut digunakan. Sebuah kata bisa jadi artinya sama sekali berbeda bila digunakan oleh lembaga yang berbeda atau untuk kepentingan report yang berbeda. Contoh kata trend dan drivers, kalau konteksnya scenario planning, OECD dan UNEP punya definisi mereka sendiri:

  • Driving forces: Increasing electricity demand, increasing transport demand, bigger vehicle stock, increasing industrial activity, increasing housing stock.
  • (Macro) trends: Population growth, urbanization, changing lifestyle, awareness

Dalam konteks scenario planning, sifatnya adalah explanatory jadi tidak ada “prediksi” sehingga trend semacam mobil listrik, advanced battery atau teknologi baru pada sektor transportasi yang revolusioner tidak dimasukkan.

Dalam konteks yang lain misal Food (ref Food consumption trends and drivers), karena gunanya adalah prediktif, maka dikenal kosakata lain seperti pattern yang menggambarkan pola secara statistikal, trend yang lebih non statistikal. Dalam beberapa artikel yang lain, pattern ini sama dengan trends.

  • Trends: organic food, functional food, genetically modified food
  • Driver: income, urbanization, trade liberalization

Ini sama dengan istilah – istilah lain seperti scenario dan storylines. Ini tergantung konteksnya dan lembaga mana yang terkait.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 20, 2017 at 5:37 pm

Ditulis dalam Management

Memahami Rasionalitas

leave a comment »

“Merendahkan orang itu tidak akan pernah menyelesaikan persoalan” saya setuju, dan pernyataan ini juga yang selalu saya sampaikan kepada kedua anak saya bila mereka bertengkar. Persoalan tidak akan pernah bisa diselesaikan dengan mengolok-olok lawan seterunya.

Kalau kedua anak saya bertengkar, senjata yang paling sering digunakan hanya dua macam saja “ini salah dia” atau “dia yang memulai”. Dua pernyataan ini merupakan dasar berpikir yang digunakan kedua anak saya untuk masuk ke tahap berikutnya. Entah berhenti karena salah satu menangis, atau keduanya terlibat pertengkaran tanpa henti.

Buat orang dewasa, senjata yang digunakan dalam bertengkar tidak jauh berbeda “saya lebih rasional dari kamu”

Contoh dalam pilkada, pemilih yang memilih berdasarkan pertimbangan kompetensi atau track record dianggap rasional. Padahal lawan politiknya bisa berasumsi lain, kompetensi atau track record masa lalu tidak mencerminkan kinerja masa depan -sebagaimana pernyataan lembaga investasi manapun.

Contoh lain masih dalam pilkada, pemilih yang memilih berdasarkan pertimbangan SARA dianggap irrasional. Padahal lawan politiknya juga bisa berasumsi bahwa SARA adalah given, sesuatu yang tidak bisa dirubah -toh saya tidak bisa memilih untuk dilahirkan dalam kondisi seperti ini.

Artinya preferensi pemilih tidak ada hubungannya dengan rasionalitas. Rasionalitas dalam politik hanya permainan opini yang dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan, dalam hal ini adalah politisi. Expertise dari politisi adalah mengolah sebuah ide, sebuah pemikiran menjadi sebuah opini, yang selanjutnya menjadi sebuah kekuatan yang bisa dipergunakan untuk banyak hal, baik positif maupun negatif.

Seorang politisi yang berjuang mati-matian untuk mempertahankan citra sebagai pejabat publik yang berkompeten, tentunya harus bekerja ekstra keras misalnya dengan mengikuti pendidikan tingkat lanjut. Disini opini yang dibangun adalah tingginya tingkat pendidikan berbanding lurus dengan kinerjanya nanti sebagai pejabat publik. Rasionalitasnya adalah pendidikan tinggi sejalan dengan kompetensi.

Usaha keras si politisi ini bisa menjadi sia-sia ketika masyarakat ternyata memiliki perubahan dalam hal persepsi akan pendidikan tingkat lanjut. Kasus kebohongan yang dilakukan oleh peneliti akan mempengaruhi opini masyarakat akan relevansi pendidikan tinggi dan kompetensi. Masyakarat bisa saja akhirnya menilai bahwa pendidikan tinggi tidak ada hubungannya dengan kinerja.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 19, 2017 at 11:21 am

Ditulis dalam Management

Memahami Manusia

leave a comment »

Manusia merupakan mahluk yang unik. Dari sudut pandang biologi, manusia adalah mahluk yang memiliki tingkat kecerdasan (cognitive skill) tinggi (complex). Namun diluar dari sudut pandang ilmu alam, kompleksitas manusia itu sulit untuk bisa dijelaskan (dimodelkan) dengan baik. Setiap fenomena yang ada pada suatu titik bisa dijelaskan (plausible) namun dalam konteks yang sangat terbatas.

Setiap model, selalu ada lawan (opposite) model yang bisa menjelaskan secara lebih baik kenapa model A lebih baik dari model B dan sebaliknya. Contoh ide Kapitalisme bisa dilawan dengan ide Marksisme, ide Rational Economy bisa dilawan dengan Behavior Economics (Irrational), Deterministic bisa dilawan Stochastic (Probability).

Contoh dalam dunia keuangan, investasi bodong yang menawarkan bunga sebesar 5% per bulan, jumlah ini tidak rasional dibandingkan dengan bunga spesial Depositio Bank/BPR yang hanya 0.5%. Tapi, seorang A ditawari investasi ini, ketika sudah ada testimoni yang diberikan oleh keluarga sendiri misalnya bibi atau paman yang telah membuktikan bahwa investasi tersebut kembali maka otomatis bunga sebesar 5% itu menjadi rasional. Ketika si investor berhitung bahwa dia akan berinvestasi sebesar 10 juta, yang kemudian berasumsi akan berhenti pada bulan ke 2 dengan membawa uang lebih sebesar 2 juta, maka investasi tersebut menjadi sangat rasional. Tapi ini tidak terjadi pada seorang B, yang dulu pernah tertipu hal yang sama sehingga memutuskan untuk tidak mau mengikuti segala bentuk investasi diluar bank.

Contoh dalam dunia politik, partai politik yang menawarkan artis caleg dianggap tidak rasional, karena latar belakang artis yang dianggap tidak memahami mengenai kebijakan publik, namun kenyataannya pilihan masyarakat atas artis tidaklah sepenuhnya irrasional, buktinya konon politisi artis yang korupsi relatif sedikit.

Lalu apa gunanya konsep “rasionalitas”
Dalam dunia keuangan jelas, investasi yang “too good to be true” sudah jelas penipuan. Dalam dunia kesehatan, segala obat herbal untuk segala sakit kanker, jantung hingga diet sudah jelas penipuan. Dalam dunia pendidikan, ilmuwan yang berkampanye secara berlebihan sudah jelas penipuan. Namun batas antara penipuan atau tidak sangatlah tipis, terlebih didunia yang full bergantung sepenuhnya pada “opini development” aka politik. Ilmu pengetahuan yang terkait dengan policy beda-beda tipis dengan politik.

Ini dicontohkan dalam Pilkada Banten Feb 2017, preferensi artis, incumbent dibandingkan dengan preferensi keluarga tidak mengindikasikan apapun. Rasionalitas hanyalah jargon yang digunakan oleh kubu pro incumbent yang mengatakan lawan politiknya tidak rasional karena memilih preferensi keluarga, sementara sebaliknya kubuh pro keluarga mengatakan bahwa lawan politiknya tidak rasional karena memilih preferensi artis.

Kesimpulan: “Kalah menangnya politisi tidak ada sangkut pautnya dengan rasionalitas” ini merupakan kecenderungan manusia yang tidak bisa diprediksi.

Catatan: Jargon rasionalitas seringkali disalahgunakan, contoh menganggap bahwa pemilih Indonesia tidak rasional karena memilih berdasarkan faktor emosional seperti kesamaan SARA, popularitas bukan faktor teknis seperti program kerja atau track record integritas/kompetensi. Fakta ini mudah didebat dengan fakta yang lain bahwa pemilih di Indonesia rasional, yang bisa ditunjukkan dari data bahwa 50% incumbent tidak terpilih kembali pada pilkada periode kedua ref. Program kerja tidak bisa diadu, karena pemenang pilkada bisa saja mengadopsi program kerja saingannya sepanjang itu baik. Track record juga tidak bisa diadu karena kinerja masa lalu tidak menggambarkan kinerja masa depan.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 19, 2017 at 10:05 am

Ditulis dalam Management

Memahami Bisnis Energi dan Kompleksitas Publik

leave a comment »

Bisnis pada dasarnya adalah spekulasi, kita tidak akan pernah tahu apakah sebuah rencana bisnis akan berhasil atau gagal sampai rencana itu dijalankan. Kalau menurut buku teks, maka keberhasilan sebuah bisnis bisa dilihat dari banyak dimensi: kapital (modal), brand (marketing). Namun kenyataan banyak bisnis yang juga gagal meski secara perhitungan diatas kertas berhasil (yang artinya kemampuan CEO/Manager yang baik adalah mengeksekusi, bukan dalam dataran strategis, sayangnya strategy overrated). Bisnis SPBU misalnya, punya kapital besar (petronas), punya brand bagus (shell, total), tapi tidak ada yang berhasil.

Ini juga berlaku untuk bisnis corporate yang sekilas tidak ada sangkut pautnya dengan brand. Contoh, cadangan lapangan Kepodang yang hanya sekitar 30%-40% dari estimasi awalnya, yang kemudian dituduh terjadi korupsi -namun selanjutnya isu ini tidak berkembang. Bagi perusahaan ongkos CSR nilainya sangat murah, seperti program inkubasi Fintech Mandiri yang sudah berpengalaman menangani program program kampanye seperti ini.

Dalam sektor energi, kompleksitas ini juga sama. Isu yang sebenarnya tidak relevan untuk konsumsi publik seperti keterlambatan pembangunan kilang bisa mempengaruhi kinerja induk bisnis yang lebih besar, seperti kinerja pemerintahan. Namun isu ini seperti ini tidak akan berdampak banyak, selain menjadi komoditas bagi industri yang lain -semisal media.

Catatan:

1.Bisnis itu kompleks, “seharusnya” itu tidak relevant
Membaca beberapa website berita, saya melihat kecenderungan trend website berita membuat layanan premiumnya pada bagian opini. Contoh yang pertama membuat layanan opininya menjadi premium adalah Kompas, dulu saya bisa membaca opini gratisan sekarang tidak lagi. Saya lihat di Bisnis Indonesia, kolom spektrumnya juga berbayar (Bisnis didirikan Sahid, Salim dan Ciputra 1985, seiring bursa efek berkembang). Namun trend ini tidak terlihat pada website non berita seperti Detik. Kalau bicara seharusnya, maka seharusnya Detik juga punya konten berbayar layaknya website berita “sungguhan” dan kalau bicara seharusnya maka seharusnya Detik juga punya media cetak.

Secara teori, seharusnya Detik ini punya media cetak, punya layanan berbayar. Seharusnya, pada layanan berbayar, Detik bisa menjual produk opini atau produk analisa. Kenapa Detik tidak melakukannya? jawabannya adalah Detik melakukannya tapi gagal. Bermain di cetak seharusnya menguntungkan karena sudah mempunyai tim redaksi, tinggal merubah formatnya saja, logic-nya perusahaan harus mencoba, untuk menguji seberapa berhasil, faktanya kita bisa lihat sendiri susah. Multi-channel ini juga dilakukan oleh Sindo dari TV ke koran.

Konsep “Seharusnya tapi gagal” ini memang banyak faktor. Contoh untuk produk analisa, persaingan dari Tirto atau Katadata rasanya cukup berat karena dua website ini menjual produk analisa yang lebih baik. Sementara produk opini juga punya saingan yang jauh lebih banyak dari sekedar status facebook hingga website opini lainnya.

2.Kompleksitas bisnis seringkali menyesatkan
Setiap bisnis itu unik, tidak ada satu bisnis pun yang sama persis. Contoh, NPL bisnis leasing hanya sekitar 3,45% sangat kecil dibandingkan bank, dan sangat tidak beresiko dibandingkan debitur bank.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 18, 2017 at 1:24 pm

Ditulis dalam Management

Memahami Kebijakan Pemerintah

leave a comment »

Di sebuah bisnis (perusahaan), kalau CEO ditanya bagaimana memajukan perusahaannya, maka jawabannya sederhana, “coba segala peluang sekeras mungkin”. Tapi, kalau ditanya pada CFO, maka CFO paling tidak punya beberapa instrumen yang bisa dilakukan seperti menaikkan gaji manager (fiscal policy: expenditure), menaikkan target sales manager (fiscal policy: revenue) atau menaikkan rate harga produk (monetary policy). Diluar itu? tidak ada, kebijakan CFO hanya seputar men-“tuning” masalah pemasukan (fiscus) dan masalah uang. Bisnis perusahaan yang sesungguhnya? ada pada tingkat direktorat (business unit), seperti unit business panas bumi-nya pertamina, atau kantor wilayah bank Indonesia. Business unit ini adalah unit strategis, bukan pada unit kebijakan fiskal atau unit kebijakan moneter.

Namun apa yang membuat sebuah bisnis dapat berjalan lebih kompleks dari kelihatannya. Sebuah universitas di Inggris yang sangat kaya (punya endowment sangat besar, punya ratio dosen dan mahasiswa ideal, ratio dosen dan penelitian ideal) tidak semata karena pengelolaannya lebih baik, tapi sesederhana berada dalam sebuah sistem besar yang lebih baik. Sistemnya Inggris. Sebuah universitas di Indonesia, kenyataannya dalam size yang sama, dosennya bisa lebih interaktif dalam menjelaskan materi, dan bisa lebih inovatif dalam interaksi, namun overall tetap kalah. Dikalahkan semudah dengan membangun fasilitas yang lebih baik, atau menjual aspek budaya berada di negara subtropis.

Maka kebijakan pemerintah tidak lebih dari cerminan kondisi negara tersebut. Apa yang sebuah ekonomi negara bisa jalankan maka intervensi sebuah pemerintahan yang bisa dilakukan terbatas pada fungsi ekonomi negara tersebut. Di permukaan, sebuah instansi pemerintah fungsinya adalah mengeluarkan sebuah aturan, dari didalamnya ada dinamika yang lebih kompleks. Sebagai contoh, divisi IT mungkin hanya punya kepentingan mengatur “jumlah karakter password” atau “mengatur website yang boleh diakses”, namun fungsi “strategic” tersebut bisa jadi merupakan prioritas kesekian dari divisi IT -yang lebih dianggap signifikan, semisal migrasi sistem atau instalasi sebuah sistem baru.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 17, 2017 at 6:33 pm

Ditulis dalam Management

Memahami Bisnis Transportasi Online

leave a comment »

Tahun 1980-an waktu bapak saya menjual rumah, cara menjual rumahnya adalah lewat iklan mulut ke mulut, kebetulan tetangga beberapa RT mengetahui rumah itu dijual dan akhirnya rumah itu dibeli. Tahun 1990-an waktu bapak saya membeli mobil, mobil dibeli di showroom dan kemudian saat menjual mobil, bapak saya menjualnya lewat iklan baris di koran. Tahun 2000-an, saya menjual mobil dengan berkonsultasi pada showroom mobil (ditawar harga 100 juta), dipasang tulisan dijual (belum mendapat respon), diiklankan di whatsapp akhirnya setelah beberapa kali calon pembeli datang mobil dijual dengan harga sekitar 105 juta. Buat beberapa orang, menjual lewat showroom lebih menarik, uangnya lebih cepat, prosesnya mudah. Sementara buat orang yang lain selisih 5 juta untuk 4-5 kali mengangkat telepon dan menemui calon pelanggannya mungkin lebih menarik.

Iklan baris adalah bisnis virtual marketplace yang pertama, namun iklan baris tidak akan pernah membunuh physical marketplace semacam showroom. Saat mencari mobil pun di tahun 2010-an, saya mencarinya lewat showroom, lewat mobil88. Ada segment tertentu yang tidak mungkin dibunuh oleh virtual marketplace. Apalagi showroom umumnya berafiliasi dengan dealer mobil dan bengkel. Contoh Mobil88 yang menyebabkan bisnis showroom ini tetap eksis. Pelaku bisnis jual beli motor tidak mati karena persaingan dengan virtual marketplace, toh pelaku jual beli motor bisa juga memasang iklannya di website. Jual beli motor umumnya mengeluhkan produksi motor baru yang relatif lebih murah, termasuk daya beli masyarakat.

Showroom tidak pernah protes dengan iklan baris, meski jelas iklan baris memakan pasar showroom. Bisa jadi karena showroom hanya sekedar “sampingan” dari bisnis bengkel atau bisnis transportasi dan iklan baris hanya “sampingan” dari bisnis media. Bisnis showroom dan iklan baris merupakan bagian dari bisnis besar yang lebih kompleks, sehingga relasi keduanya tidak saling mempengaruhi. Ini seperti warteg tidak akan protes dengan tukang nasi goreng keliling.

Dalam suatu waktu, ada kalanya showroom bangkrut karena tidak ada lagi yang bertransaksi lewat showroom. Ini sama dengan bangkrutnya pedagang sayur dipasar karena masyarakat tidak lagi membeli bahan sayur mentah, tapi membeli lewat pedagang sayur matang atau membeli lewat pedagang sayur mentah keliling -dengan variasinya (di Cirebon ada sayur mentah keliling, sayur matang keliling, sayur mentah tetap, sayur matang tetap). Ini murni kompetisi.

Lalu bagaimana dengan transportasi online?
Transportasi online adalah model bisnis yang memungkinkan mereka yang memiliki modal untuk mengeksploitasi mereka yang tidak memiliki modal. Supir ojek online yang mempunyai sepeda motor tentunya bisa mengalahkan tukang becak yang tanpa modal (becak disewa 5-9ribu perhari). Supir ojek online tentunya juga bisa mengalahkan supir angkot yang merupakan model bisnis transportasi publik pemerintah. Di negara maju saja bisnis transportasi online dikritik, apalagi dengan di negara dengan tingkat kesenjangan tinggi (masih banyak becak dan angkot), negara dengan transportasi publik yang belum baik.

Transportasi online ini pada dasarnya adalah berbahaya (berpotensi negatif besar), karena berupaya “pribadisasi” layanan publik yang regulated. Untuk itu perlu pembatasan yang ketat. Dan ini sudah dicontohkan secara logis dan rasional oleh banyak pimpinan daerah yang memutuskan untuk melarang transportasi online.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 17, 2017 at 10:32 am

Ditulis dalam Management

Memahami Bisnis Internet

leave a comment »

Bisnis internet (e-commerce) adalah bisnis paling spekulatif yang pernah ada. Bisnis internet ini memiliki tingkat kegagalan (failure rate) paling tinggi sementara tingkat pengembalian keuntungan tidak jelas. Bisnis dengan tingkat kegagalan paling rendah? adalah bisnis yang terjadi sehari-hari seperti bisnis makanan atau bisnis jasa. Semakin besar skala bisnisnya maka kemungkinan untuk ruginya akan semakin besar. Semakin rumitnya sebuah bisnis, maka kemungkinan gagalnya akan semakin besar. Semakin abstrak bisnisnya, maka kemungkinan gagal juga akan semakin tinggi.

Ambil contoh disektor bisnis marketplace rumah. Rumah123 dibeli oleh iproperty pada Mei 2011 dengan harga $1.6 juta (iproperty juga membeli thinkofliving thailand seharga $ 6 juta). Rumah123 merupakan market leader untuk marketplace rumah di Indonesia. Namun dari sisi trafik, Rumah123 kalah dengan RumahdiJual (milik dan satu group dengan Emtek/PropertyGuru/Rumah.com), kekalahan yang menyakitkan karena pure trafic battle. Nilai transaksi Rumah123 mencapai 220 trilyun di tahun 2014. Namun laporan keuangan iProperty menunjukkan kecenderungan merugi. Di tahun 2013, Rumah123 berinvest $2 juta, dengan total sudah mencapai $10 juta. Namun pendapatan ini tidak signifikan, kontribusi Rumah123 sendiri hanya sekitar 10% ke group.

Ini mengingatkan kepada groupon

Kesalahan situs pembanding produk keuangan (price comparison website)
Kalau induknya (situs pembanding rumah) saja sudah salah konsep, maka situs pembanding produk keuangan (dalam hal ini KPR) juga salah konsep. Contoh Cekaja.com, Cermati.com, Sikatabis.com atau model seperti Duwitmu yang lebih ke review. Situs-situs ini melupakan faktor paling penting dalam memilih produk KPR, bahwa “attractiveness produk KPR bukan dari besarnya bunga yang diberikan, karena dari 200 bank besar bunga relatif sama, attraktiveness itu lebih pada gimmick”. Ini sama seperti bagaimana bank-bank kecil di Indonesia bisa menang bersaing dengan bank besar karena memberikan special service seperti “cash collection” (yang mana high risk), atau prosedur KYC yang tutup mata, atau penggunaan personal guarantee atas nama owner. Orang Indonesia tidak akan membeli layanan KPR dari website pembanding produk keuangan.

Produk pembanding keuangan memang terlihat menguntungkan, contoh di UK adalah Comparethemarket dengan meerkatnya atau Moneysupermarket dengan tweerkingnya. Tapi, price comparison website ini di UK sukses karena memang produk yang dijual relatif “murah” seperti asuransi mobil atau asuransi travel. Itu pun dengan iklan yang sangat masif di televisi. Resep ini tidak akan berlaku di Indonesia. Sama seperti gagalnya price comparison yang lain semodel shopping.com yang diakuisisi ebay, atau model diskon seperti groupon/disdus yang dibeli amazon. Price comparison ini ternyata gagal.

Kenapa orang tidak belajar ya?

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 16, 2017 at 8:37 pm

Ditulis dalam Management