Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Bersyukur secara proporsional

leave a comment »

Hari ini saya terbangun pukul lima pagi. Ini adalah sebuah prestasi besar. Saya hanya satu kali terbangun, sekitar pukul tiga dan bisa melanjutkan tidur kembali dengan nyenyak. Dari catatan harian saya, saya tidak bersin, termasuk tidak mengkonsumsi obat, anak-anak sehat, tidur dan bangun pada waktunya. Dalam satu hari saja ada banyak kenikmatan yang saya rasakan. Harapan saya sederhana saja, kesehatan dan ketenangan. Dua-duanya saya dapatkan pagi ini.

Saya mulai meyakini bahwa hukum negara, ajaran kebajikan bisa jadi tidak cukup untuk memandu saya menjalani hidup dengan baik. Seorang teman misalnya, memutuskan untuk menikahi pasangan yang kelasnya tidak setara, namun bisa menjalaninya dengan kesetiaan sepenuhnya. Sementara teman yang lain dengan kondisi yang serupa, justru menjalaninya dengan kesenjangan. Tidak ada hukum negara atau ajaran kebajikan yang dilanggar, namun saya merasakan bahwa ketenangan tidak didapati dari orang yang tidak berusaha menjadi orang baik.

Menjadi orang baik menurut saya sederhana saja, tidak takut capai. Orang baik biasanya mau melakukan hal-hal yang melelahkan. Membersihkan kamar mandi, membersihkan dapur, merapihkan kamar, dan kegiatan fisik lain yang melelahkan. Orang yang baik, menurut saya tidak takut mengambil risiko. Orang baik biasanya mau melakukan sesuatu yang orang lain tidak suka. Pergi ke sekolah yang jauh lokasinya, mengambil pekerjaan yang berat. Orang yang lebih baik lagi, mampu melihat sisi positif dari setiap orang secara proporsional. Melihat sisi positif orang tua, pasangan dan anak tanpa syarat. Melihat sisi positif pimpinan, anak buah dan orang lain secara berimbang.

Daftar cara menjadi orang baik mungkin tidak akan pernah berakhir. Orang tersebut harus mampu menahan rasa marah, yang mungkin mudah bagi orang yang penakut. Orang tersebut harus mampu menahan rasa takut, yang mungkin mudah bagi orang yang pemberani. Orang tersebut harus mampu menahan rasa senang gembira, yang mungkin mudah bagi orang yang penduka. Orang tersebut harus mampu menahan rasa sedih, yang mungkin mudah bagi orang yang penggembira.

Written by Anjar Priandoyo

Juni 10, 2019 at 6:24 am

Ditulis dalam Life

Bersabar

leave a comment »

Beberapa hari ini, saya mengeluarkan kemampuan terbaik saya berorganisasi dalam hal membereskan rumah. Membereskan rumah itu tidak mudah. Orang harus bisa membereskan lima buah furniture berukuran besar, hanya dua buah yang mau diambil oleh charity shop, sisanya harus dibongkar ulang dengan susah payah, sebelum kemudian dengan susah payah pula membuangnya ke waste recycle. Orang harus bisa membuang sampah kering, sampah basah untuk kemudian harus memilah lagi mana yang bisa dibawa pulang.

Membereskan rumah adalah sebuah kelebihan yang saya rasa tidak semua orang memilikinya. Beberapa orang yang saya kenal memutuskan untuk menggunakan mobil untuk membuang sampah. Orang yang lain memutuskan untuk menggunakan bantuan dari teman-teman terdekatnya untuk membereskan rumah. Saya, menggunakan sepeda dan mengerjakan sendiri. Saya sebelumnya pernah menggunakan mobil dan pernah menggunakan bantuan dari teman-teman. Ini adalah sebuah kelebihan yang berharga bagi saya kedepannya, tapi tentunya dengan biaya.

Obsesive compulsive personality mungkin merupakan kekurangan saya, dalam hal membereskan rumah seperti sekarang hal ini sangat bermanfaat, namun dalam hal menyikapi matematika kehidupan, karakteristik seperti ini banyak negatifnya. Mengatakan bahwa kehidupan saya lebih baik dari kehidupan si A misalnya dari sisi ekonomi tidaklah tepat. Orang yang ekonominya tidak lebih baik, tentunya karena tidak memiliki rasa takut (obsessions), sementara orang yang ekonominya mapan, karena didorong oleh rasa takut, tidak berarti lebih baik.

Begitu juga dengan narcissistic personality, disatu sisi bermanfaat dengan keinginan untuk terus berprestasi yang begitu besar. Sementara disisi lain justru merugikan orang-orang terdekatnya. Seimbang, hidup pada titik ini sangat adil. Orang yang miskin hidupnya bahagia, sementara orang yang kaya hidupnya gelisah.

Sayangnya orang seringkali tidak bisa melihat dalam perspective yang lebih luas. Sebagai contoh, ada dua orang sahabat yang sama-sama ingin masuk sekolah favorit. Si A, punya kans paling besar dibandingkan yang lain. A punya kakak yang sebelumnya sudah masuk sekolah favorit, A punya nilai akademis yang paling bagus. Namun akhirnya justru A yang gagal masuk sekolah favorit tersebut. Melihat hidup A, tanpa melihat aspek masuk sekolah favorit sangat bisa dijelaskan. A sebagai anak bungsu tentunya terobsesi lebih baik dari kakak-kakaknya. Ini dibuktikan juga dimana A kemudian mengambil kuliah di luar negeri, pertama kali dibandingkan saudara-saudaranya. A juga paling tidak hingga 20 tahun setelahnya tidak pulang. A hidupnya terobsesi dan tidak tenang.

Episode kegagalan A masuk sekolah favorit tidak relevan. Orang mungkin menggunakan ceritanya sebagai ilustrasi bahwa manusia merencanakan tuhan berkehendak. Tapi adalah salah, jika manusia menggunakan ilustrasi tersebut untuk mengatakan bahwa tuhan lebih mencintai dirinya, atau mengatakan A lebih baik dari B. Betapapun tergodanya orang untuk bisa mengambil kesimpulan ini, sebenarnya tidak lebih sebagai katarsis untuk menyalurkan beban emosional yang dihadapinya. Kalau ini terpaksa terjadi sekalipun, orang seharusnya tidak perlu menyampaikan isi pikirannya terhadap orang lain. Orang akan menerimanya sebagai pernyataan kebencian atau pernyataaan sosial yang bisa berdampak tidak baik.

Written by Anjar Priandoyo

Juni 9, 2019 at 6:39 am

Ditulis dalam Life

Cerita dari ia si pejabat dan pengusaha

leave a comment »

Kenyataan seringkali begitu pahit. Seorang pensiunan pejabat misalnya, hidupnya relatif susah. Tinggal disebuah rumah yang relatif kecil untuk ukuran seorang pejabat, bahkan tergolong lebih buruk dibandingkan dengan rumah seorang karyawan rendahan biasa. Buat si pejabat ini, tentunya tidak mudah baginya untuk melihat kenyataan seorang karyawan rendahan punya hidup yang jauh lebih baik. Tapi, seandainya si pejabat ini bersyukur atas apa yang dimilikinya tentunya hidupnya akan terasa lebih mudah.

Si pejabat ini tidak perlu membandingkan dengan pensiunan pejabat lainnya yang sampai sekarang hidupnya relatif lebih mewah, rumah jauh lebih besar, harta lebih banyak, keturunan yang banyak. Si pejabat ini juga tidak perlu menganalisa dengan detail di titik mana ia mengalami kejatuhan, apa yang menyebabkan dia jatuh dan bagaimana memperbaikinya kembali.

Bagi saya, yang perlu si pejabat ini lakukan adalah sesederhana bersyukur. Mengunjungi kembali sanak saudara yang masih setia menjenguknya di hari-hari tuanya. Kalau ada keluarga A yang datang ia menyambutnya dengan gembira. Kalau ada keluarga B yang datang ia menyambutnya dengan gembira.

Kenyataan seringkali begitu pahit. Seorang pengusaha misalnya, hidupnya juga relatif susah. Tinggal dirumah kecil, tanpa dikelilingi sanak saudara. Si pengusaha ini, bisa saja memutuskan untuk tidak menemui orang lain. Memutuskan untuk hidup menyendiri. Si pengusaha ini tidak lagi tersenyum, hingga menjalani akhir hidupnya dalam sepi, menyendiri.

Mana yang lebih baik? si pejabat atau pengusaha. Kalau dulu, saya pernah menuliskan cerita yang mirip, tentang si pengusaha kaya yang selalu sial dan karyawan miskin yang berumur panjang, dimana kesimpulan akhir dari cerita itu adalah hidup ini penuh misteri -apalagi dengan contoh yang ekstrim. Sayangnya, itu mungkin hanya terjadi dalam ilustrasi. Dalam dunia nyata yang saya lihat hari ini, si pejabat bagi saya, menurut posisi saya memandang, hidupnya lebih baik dari pada si pengusaha.

Si pejabat, paling tidak bisa memberikan kebahagiaan kepada saya secara langsung. Sementara si pengusaha tidak. Contoh ekstrimnya, si pejabat ini lebih bermakna bagi saya dibandingkan misalnya direktur BUMN sekalipun misalnya. Si pejabat, bagi saya adalah orang-orang yang akan selalu saya doakan, semoga mendapatkan kebahagiaan dalam sisa perjalanan hidupnya. Saya sendiri, selalu berdoa, agar kelak, bila giliran saya tiba, saya menjadi seorang pensiunan yang terjatuh, saya berdoa agar kelak ada orang lain, ada anak muda yang datang dan mendoakan saya. Intinya, saya ingin hidup saya bermanfaat bagi orang lain, terutama bagi orang yang terdekat dengan saya.

Written by Anjar Priandoyo

Juni 7, 2019 at 7:17 pm

Ditulis dalam Life

Bersyukur

leave a comment »

Mendapatkan momen itu tidak mudah. Hari ini, ada beberapa momen berkesan yang didapatkan. Momen pertama adalah ketika melakukan video call dengan keluarga. Orang-orang yang sama lebih dari 30 tahun yang lalu. Sepanjang saya bisa mengingat di usia seperti sekarang, waktu rasanya berhenti berputar. Saya sudah seusia bapak, diusia yang sama seperti bapak mempunyai saya sebagai anaknya. Ada paman, bibi dan orang-orang yang paling dekat dalam hidup saya.

Momen kedua adalah perpisahan. Ini adalah momen yang paling berkesan dalam sepanjang sebuah perjalanan. Setiap perjumpaan diawal sekolah, selalu ada perpisahan diakhirnya, entah 6 tahun di Kebon baru, entah 5 tahun di Osbaldwick, 4 tahun di Sekip. Ini adalah siklus kehidupan, selalu ada awal dan selalu ada akhir.

Meskipun dengan banyaknya dan berkesannya momen yang didapatkan dalam suatu hari. Menuangkannya juga tidak mudah. Seperti saat ini misalnya, momen pendukung lingkungan begitu pas. Hujan rintik-rintik mengguyur dengan suasana anak bermain laptop yang begitu tenangnya. Tapi untuk menuangkannya dalam sederet tulisan tidaklah mudah, dan mungkin tidak akan pernah bisa dilakukan. Apalagi kalau tujuannya adalah untuk keperluan komersil. Yang bisa dilakukan saat ini adalah menarik nafas dalam-dalam dan mengucapkan rasa syukur yang begitu besar atas segala kemudahan yang sudah dilalui hari ini.

Mungkin ini pentingnya untuk mempunyai waktu sendiri. Waktu untuk menuliskan apa yang terjadi hari ini. Waktu untuk megingat kembali bahwa berdamai selalu dapat dilakukan tanpa perlu menutup mata. Saya ingin sekali berjanji, nanti jika waktunya telah tiba, kelak nanti, saya akan kembali ke fitrahnya. Kembali ke masa dimana perjalanan baru akan dimulai.

Written by Anjar Priandoyo

Juni 7, 2019 at 6:32 pm

Ditulis dalam Life

Berdamai tanpa menutup mata – 2

leave a comment »

Pagi ini seorang anak datang kepada saya. “Ini hadiah”, ucapnya. Reaksi saya pertama kali adalah meneteskan air mata. Saya ingin sekali memeluknya. Apa yang dilaluinya selama 5 tahun terakhir ini sama seperti apa yang saya lalui. “Thank you for everything, it is not your fault, I understand it very well”, mungkin kira-kira saya akan berkata demikian. Tapi, pagi itu saya tidak meneteskan air mata, tidak juga memeluknya dan tidak juga mengucapkan kata-kata selain terimakasih.

Buat beberapa orang hidup itu sangat berat. Prihatin. Kehidupan yang tidak pernah diinginkannya. Anak itu menjumpai hidup yang berat, ekonomi yang prihatin, keluarga yang tidak utuh, kelas yang dibawah. Sepanjang hari, saya memikirkan anak itu. Anak yang punya kesan sangat mendalam. Anak yang sebenarnya sangat baik, namun terpaksa melalui kehidupan yang berat.

Sedikit lebih siang, saya menelpon orang tua saya. Suasana masih idul fitri. Dan saya tahu, bahwa orang-orang tahu, bahwa yang saya hadapi kali ini adalah keprihatinan. Prihatin akan hidup yang susah, prihatin akan hidup yang berat. Setiap langkah yang saya ambil sama seperti setiap langkah yang anak itu tempuh. Saya yakin, anak yang saya temui pagi tadi akan menjadi anak yang berhasil nantinya. Saya mendoakan, sebagaimana saya mendoakan diri saya sendiri. Seperti cermin yang berada dihadapan saya.

Buat saya hari ini, pilihan yang bisa saya ambil hanya satu. Menjadi bahagia. Buat saya kebahagiaan dari hidup prihatin yang saya rasakan adalah dengan membantu orang lain. Dengan mengunjungi orang tua, dengan membantu keluarga, dengan menjalani hidup yang berat, mungkin jauh lebih berat, tapi dengan sebuah keyakinan bahwa pada akhirnya semua akan baik-baik saja.

Ini move on, saya memilih meratapi, saya memilih hidup yang sulit, tapi ini move on. Saya memilih membuka mata, saya memilih menerima kenyataan, tapi ini move on. Sejenak saya pejamkan mata saya. Jantung saya berdegup cepat. Berdamai tanpa menutup mata.

Written by Anjar Priandoyo

Juni 7, 2019 at 12:39 pm

Ditulis dalam Life

Berdamai tanpa menutup mata

leave a comment »

Hari ini banyak pelajaran baru yang didapatkan. Sangat banyak. Mulai dari satu persatu. “Kamu tidak bisa membahagiakan orang lain jika tidak bahagia terlebih dahulu”. Ini nasihat yang sangat baik, betul bahwa tidak mungkin orang bisa menyenangkan orang tua misalnya, jika sebenarnya orang tersebut punya masalah dengan atasannya dikantor. Yang terjadi adalah ribut dengan atasannya pasti disalurkan menjadi ribut dengan orang tuanya. Artinya masalah seperti apapun harus bisa diselesaikan terlebih dahulu.

Nasihat yang lain, “Marah itu artinya bila orang tidak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapinya”. Ini bener banget. Saya kembali tersadar, jika saya menghadapi suatu masalah, misalnya memperbaiki ban sepeda yang bocor. Karena ban ini tidak bisa diperbaiki saya menjadi marah. Apalagi jika sudah berulang-ulang terjadi, sudah berhari-hari terjadi. Artinya untuk menyelesaikan suatu kondisi marah sebenarnya sederhana saja. Tinggalkan faktor yang membuat marah. Kalau kondisinya menambal ban, ya sudah, tinggalkan saja. Tidak perlu menambal ban, cukup membeli ban baru. Masalah, meski tetap ada, relatif mudah diselesaikan. Memasang ban baru jauh lebih kecil risikonya dibandingkan dengan memasang ban tambalan.

Pentingnya menganalisa suatu masalah dengan baik, dengan kepala dingin. Mungkin orang kira-kira bilang bahwa “Hanya orang tersebut yang bisa menyelesaikan masalahnya sendiri”. Artinya, kalau saya, saya mempersiapkan paper pada tahun 2004, bukanlah sesuatu yang harus dianalisa. Bukan berarti karena saya mempersiapkan paper pada tahun 2004, saya bisa haqul yakin untuk menempuh pendidikan paska sarjana sepuluh tahun berikutnya. Prinsip, “In case kalau ada apa-apa” ini tidak bisa serta merta dipakai. Sama seperti, kalau saya mempersiapkan sertifikasi, mempersiapkan conference, bukanlah hal yang sia-sia belaka. Persiapan tidak pernah salah. Hanya saja, mempersiapkan diri dengan baik, selalu punya dampak negatif. Salah satunya dampak negatif adalah “Semakin dipersiapkan, semakin sakit bila terjatuh”.

Nasihat lain yang tidak kalah pentingnya adalah pentingnya untuk tidak menutup mata. Ada beberapa orang yang mungkin berbeda. Ada orang yang punya masa lalu berbeda, punya trauma yang berbeda. Ada orang yang mungkin “selective laziness”, dengan kerjaan kantor sangat rajin, tapi dengan domestik things malah oppositenya. Ada orang yang “selective arrogance”, dengan orang lain tidak sombong, tapi orang dekat justru sebaliknya.

Dari prinsip-prinsip ini, kalau diaplikasikan pada diri saya, rasanya banyak benarnya. Pertama, masalah usia, semakin saya melihat cermin, semakin saya tersadar bahwa usia saya sudah semakin tua. Masuk kepala tiga sebenarnya orang sudah terhitung tua, sementara saya sudah menjelang kepala empat. Bukannya makin stabil, justru makin menumpuk kekecewaan. Dulunya timeline hanya 2-5 tahun kedepan, sekarang penyesalan bisa 15-20 tahun kebelakang. Artinya, saya memang harus berubah.

Berdamai tidak hanya pada orang lain, tapi juga pada diri sendiri. Membahagiakan orang lain harus dimulai dengan membahagiakan diri sendiri, sebagai contoh melakukan sesuatu tidak hanya karena saya bisa melakukannya, atau harus melakukannya, tapi karena saya bahagia melakukannya. Proses untuk menjadi bijaksana ini sulit, karena sangat berat. Sebagai contoh, ukurannya adalah reaksi orang yang terdekat dengan saya, orang tua, bapak ibu, istri anak dan seterusnya. Tapi ini bukan berarti hal yang mustahil. Semua bisa dikerjakan.

487 kata

Written by Anjar Priandoyo

Juni 4, 2019 at 11:55 am

Ditulis dalam Life

Ketenangan hati yang saya dapatkan

leave a comment »

Dalam hidup, apa yang sebenarnya orang inginkan? kalau saya, mungkin juga banyak orang, yang diinginkan adalah ketenangan hati. Persisnya seperti apa mungkin juga sulit dijelaskan. Saya pernah punya banyak uang, sangat banyak, tapi hati tidak tenang. Tidak tenang karena uang ini suatu saat akan habis. Saya pernah punya posisi sangat bagus, tapi hati ini tidak tenang, karena suatu saat posisi saya akan jatuh. Tapi, disaat yang bersamaan juga, dengan uang saya merasa senang dan tenang, karena paling tidak untuk satu dua bulan kedepan saya punya cukup uang, saya bisa menyumbang orang tua saya. Disaat yang bersamaan juga, dengan posisi yang bagus, saya bisa membantu orang lain untuk berprestasi, untuk berbuat baik kepada orang lain.

Jadi ketenangan apa yang sebenarnya saya inginkan? ini sekali lagi mungkin pertanyaan yang sulit. Kalau melihat perjalanan saya lima tahun terakhir ini, mungkin ditahun terakhir ini saya merasa amat sangat tidak tenang. Dilihat dari seberapa seringnya saya sakit, dilihat dari seberapa seringnya saya bertengkar, dilihat dari seberapa seringnya saya kecewa, sakit hati, marah dan merasa tidak puas atas satu dan lain hal.

Sumber kemarahan saya kalau mau disederhanakan mungkin adalah kekecewaan saya akan hal-hal yang berjalan tidak seharusnya. Tidak seperti apa yang saya inginkan. Contoh paling mudah adalah anak. Seharusnya dalam kondisi seperti ini, kedua anak saya, seharusnya belajar dengan giat. Saya jauh-jauh kesini adalah untuk belajar, maka seharusnya kedua anak saya selama disini giat belajar. Kenyataannya, saya baru tersadar, bukan saya saja yang mengeluh bahwa anak-anaknya justru sebaliknya, malas belajar, dan menghabiskan waktunya lebih banyak dengan bermain game. Ini tidak hanya dikeluhkan oleh saya, tapi mungkin hampir seluruh orang tua yang saya temui.

Masih tentang anak, saya rasa ada orang tua yang mengeluh karena nilai akademik anaknya buruk, tapi sebaliknya mengagumi kemampuan sosialisasi anak yang sangat baik. Sementara ada orang tua lain yang justru sebaliknya, mengagumi kemampuan akademik yang baik, tapi mengeluh karena kemampuan sosialisasi anak yang buruk. Kedua orang tua ini kecewa, karena apa yang diharap-harapkannya justru terjadi sebaliknya. Berlawanan dengan apa yang selalu diinginkannya. “You had one job”, kalau kata meme.

Hari ini, saya bicara banyak dengan seorang teman. Teman yang pertama ini ternyata tidak begitu mengerti permasalahan yang saya hadapi. Ia mampu mendeskripsikan dengan jelas apa yang saya hadapi, bahwasanya, semisal anak adalah ibarat anak panah, yang lepas dari busurnya. Anak berubah dan tidak dapat dikendalikan, secepat apapun busur panah, angin dan hujan bisa menggoyahkan arah tujuannya. Kalau mau ditarik lebih lanjut, saya pun sama seperti anak panah tadi. Secepat dan seakurat apapun target yang ingin saya raih, angin dan hujan bisa mengubah arah dan tujuan saya.

Teman kedua, sebenarnya juga sama, mampu mendeskripsikan apa yang saya hadapi, namun ia memberikan analogi dari sisinya. Karena teman kedua ini lebih berpengalaman secara usia paling tidak, saya mendapatkan pelajaran yang lebih banyak dari teman kedua ini. Contoh-contoh yang ia berikan benar adanya. Kenapa orang bekerja keras untuk keluarganya, bukan untuk mendapatkan imbal balik dari keluarganya, bukan pula untuk suatu hari meminta tanggung jawab, balasan dari apa yang sudah diperbuatnya. Kenapa ia melakukannya adalah karena ia merasa harus melakukannya. Bayangan saya mirip seperti mengapa saya berusaha lari setiap pagi. Tidak ada alasan yang kuat, tidak pernah ada alasan yang kuat. Lari tidak baik untuk jantung, lari juga tidak berarti tubuh semakin fit hari itu, lari juga tidak selalu membuat perasaan saya menjadi lebih baik. Tapi, saya tahu, lari adalah keharusan yang saya harus lakukan, tanpa pernah tahu persis mengapa saya harus melakukannya setiap hari.

Entah mengapa, penjelasan dari teman kedua ini bisa saya terima dengan baik. Saya TIDAK lagi menghitung dengan detail rencana apa yang harus saya lakukan sepulang dari sini, saya tidak khawatir lagi. Apa yang menunggu saya didepan nantinya adalah apa yang harus saya kerjakan. Saya TIDAK lagi mempermasalahkan apa yang saya terima, betapapun tidak adilnya, betapapun sakitnya, saya bisa menerimanya. Kalau ini yang saya inginkan, kalau kondisi ini yang saya harapkan, maka sebenarnya ketenangan hati, per detik ini, per sore hari ini sudah saya dapatkan. Masa lalu, masa kini dan masa depan tidaklah perlu dikhawatirkan.

Senin sore 663 kata

Written by Anjar Priandoyo

Juni 3, 2019 at 3:26 pm

Ditulis dalam Life