Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Net Calorific Value: Coal

leave a comment »

Value from coal is vary between one place to another places. One of the value measurement that can be used is Net Calorific Value (NCV) that used by IEA. Other measurement is Gross Caloric Value (GCV). For trading purpose, other measurement is ARB (As Received Basis) vs Air-Dried Basis (ADB), or Gross as Received (GAR) vs Net as Received (NAR).

Refering to MEMR regulation 515.K/32/DJB/2011, the HPB component are:
– Calorific Value
– Moisture Content
– Suplhur Content
– Ash Content

The economic evaluation of research-based Indonesian Coal Utilization (Soelistijo & Suganal, 2013)

Written by Anjar Priandoyo

Juni 23, 2017 at 1:16 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Mengenang rasa sakit

leave a comment »

Bener juga, periode lari terberat saya selama full bulan April 2017, ditambah TAP meeting pada 18 April baru dirasakan akibatnya sekitar 2 minggu kegiatan tersebut berakhir. Jadi,

  1. Istirahat bisa jadi tidak ada gunanya, karena virus infection baru masuk 2 mingguan, atau sekitar 20 May 2017.
  2. Ketika kondisi tubuh sudah mulai membaik diawal Juni, mulai terkena Hay Fever, yang prosesnya sudah masuk 2 mingguan juga.

Intinya hidup sehat dimulai dengan lari secara rutin, mengurangi stress. Istirahat relatif tidak berguna. Karena kondisi imun yang menurun tidak bisa ditingkatkan dengan istirahat.

Written by Anjar Priandoyo

Juni 22, 2017 at 3:32 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Ngotot

leave a comment »

Quantitative vs Qualitative
Survey itu lebih bagus daripada Interview. Contoh kalau sebuah kelas berjumlah 200 orang menentukan warna jaket angkatan, kalau ditanya satu-satu suka yang mana tidak akan efektif.

Interview itu lebih bagus daripada Survey. Kalau direktur di bank ada sekitar 5 orang maka lebih baik mereka ditanya satu-satu. Biasanya ada insight yang hanya datang dari direktur tertentu.

MLP (Multi-actor/Sociological) vs TIS (Innovation)
Sociological approach itu lebih berguna, jadi kita bisa tahu lapisan mana saja yang terlibat.

Innovation approach itu lebih berguna. Jadi kita bisa tahu, teknologi apa yang akan dipakai.

Intinya, dalam ilmu sosial (menulis) yang diperlukan adalah lebih ngotot. Inilah yang pada tingkat fundamental tidak bisa saya lakukan. Saya bukan orang yang ngotot memaksakan satu konsep.

Jawaban paling bener adalah pilih dua-duanya, dan masalahnya cuman satu: effort yang lebih berat.

Written by Anjar Priandoyo

Juni 18, 2017 at 2:28 pm

Ditulis dalam Life

Mengapa ilmu sosiologi tidak berguna?

leave a comment »

1.Jawab pertanyaan ini

1.Apa penyebab dan akibat modernisasi?
Ini pertanyaan yang tidak bisa dijawab sosiolog. Penyebab modernisasi adalah ilmu pengetahuan, akibatnya juga ilmu pengetahuan. Penyebab modernisasi adalah urbanisasi, akibatnya juga urbanisasi. Ini hanya bisa diselesaikan dengan ngotot-ngototan.

2.Mana yang lebih penting demokratisasi atau pembangunan?
Ini pertanyaan yang juga tidak bisa dijawab sosiolog. Demokratisasi dan pembangunan sama-sama penting.

2.Jadi kenapa sosiologi tidak berguna?

1.Sosiologi tidak bisa menjelaskan causal relationship. Causal relationship tidak bisa dijelaskan yang bisa adalah diceritakan (sejarah).

“History is the past Sociology and Sociology is the present History”
Professor G.E. Howard

2.Sosiologi tidak bisa dipisahkan dari framing berpikir. Ini artinya yang penting ngotot-ngototan.

3.Kalau sosiologi berguna, maka tidak perlu ada hakim.

3.Lalu apakah ilmu mesin (motor) lebih berguna dari ilmu sosiologi?
Ilmu mesin (motor) pastinya lebih berguna dari ilmu sosiologi. Tapi, bisa bisa mengendarai motor lebih berguna daripada punya ilmu motor. Dalam kerangka modernisasi, bekerja itu lebih berguna daripada mengajar, dan mengajar itu lebih berguna daripada meneliti.

Bekerja itu menghasilkan capital (prasyarat pembangunan), mengajar itu menghasilkan tenaga kerja (pendukung pembangunan), meneliti itu menghasilkan pengetahuan (inovasi pendukung pembangunan)

Sociology of energy development
Kita ambil contoh dalam bidang pengembangan energi di Indonesia. Apa faktor yang mempengaruhi perkembangan energi di Indonesia? kita pasti akan melihat ke masa lampau (sejarah) e.g krisis minyak, investor asing masuk. Padahal ketika melihat masa lalu ada berbagai framing yang dibuat, misalnya, teori modernisasi jadi asing pasti masuk, atau teori konflik, dimana kepentingan asing membuat ketergantungan.

Saat melihat faktor yang mempengaruhi, kita bisa melihat sejarah (masa lalu) dan kita bisa melihat paper untuk analisanya (penjelasan/masa depan).

Framing (teori/perspectives) apa dalam energy policy
Framing transisi energi (renewable energy), disamping framing lainnya seperti energy access atau energy justice. Driver dari framing energy access bisa sama persis dengan driver dari framing energy terbarukan (parah ya sosiologi itu, ampun tidak reliable).

Written by Anjar Priandoyo

Juni 18, 2017 at 1:40 pm

Ditulis dalam Society

Apa yang mempengaruhi perkembangan energi di Indonesia?

leave a comment »

Apa yang mempengaruhi pertumbuhan energi di Indonesia?
Sebelum menjawab ini ada 3 perspective pertumbuhan energi. Balanced growth (seimbang antara produksi dan konsumsi, antara rural/urban), Sustainable growth (tidak membahayakan lingkungan), Inclusive Growth (mengentaskan kemiskinan)

Yang mempengaruhi hanya 4I (Investment, Institutional, Innovation & Initial condition) dalam format yang lain Capital (Economy, enterpreneurship) Technology Institution (sosial), dan tentunya Productivity (paling basic)

Sebab akibat
Disinilah letak kesalahan sosiologi (dimana fundamental error adalah pada imajinasi framing), kesalahan fundamental berikutnya adalah pada imajinasi causalitas. Tidak seperti pada natural science, pada ilmu sosiology, causalitas lebih pada belief (keyakinan/imajinasi).

Makanya kenapa kalau membaca teori sosiologi/ekonomi jadi mbulet. Contoh apa penyebab modernisasi? urbanisasi, terus kalau ditanya apa akibat modernisasi? jawabannya juga urbanisasi. Siapa yang lebih dulu? urbanisasi atau modernisasi? tidak bisa dijawab.

Causation (sociology), the belief that events occur in predictable ways and that one event leads to another

Written by Anjar Priandoyo

Juni 18, 2017 at 1:00 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Pertumbuhan Ekonomi vs Pengembangan Ekonomi

leave a comment »

Dimedia orang biasanya menjadikan economic growth dan economic development sebagai hal yang sama. Growth sebenarnya lebih quantitative dan Development lebih ke qualitative (aspek seperti pendidikan, kesehatan yang meski metricnya terlihat quantitative). Growth itu satu aspek saja dari seluruh pengembangan.

Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan, sesederhana produktivitas (lebih banyak hasilnya) atau intensitas (lebih lama kerjanya). Lebih lanjut ada banyak faktor lain yang mempengaruhinya, contohnya Capital (paling dominan) hingga Institusi, Budaya dkk.

Written by Anjar Priandoyo

Juni 18, 2017 at 11:29 am

Ditulis dalam Life

Masalah kemasyarakatan (society problem)

leave a comment »

Masalah di masyarakat (society problem / masalah sosial kemasyarakatan) itu bisa dibagi dua besar, masalah ekonomi dan masalah sosial-politik. Masalah ekonomi adalah pengangguran, kesenjangan dan pajak. Sementara masalah sosial itu dari urbanisasi(ID)/imigrasi(US), konflik religious(ID)/racism(US). Gallup, media nytimes, the atlantic, seringkali merating issues mana yang paling populer dimata masyarakat.

Namun, penyelesaian masalah sosial ini tidak semudah kelihatannya. Contoh, untuk menyelesaikan konflik kekerasan, ini terkait langsung dengan ekonomi pendatang (transmigrasi/urbanisasi), kesenjangan hingga masalah pendidikan yang tidak efektif. Dalam konteks seperti ini, ilmu sosial mustahil untuk menyelesaikan. Jangankan menyelesaikan, mem-framing saja susah sekali.

Social context of energy development
Memasukkan konteks sosial dalam pengembangan energi itu susah. Energy development tidak terpisahkan dari modernisasi-industrialisasi-urbanisasi.

Written by Anjar Priandoyo

Juni 18, 2017 at 10:29 am

Ditulis dalam Life