Anjar Priandoyo's Shortcut

Simple Advice for Everyone

Synthesis Writing – Energi Indonesia

leave a comment »

Masalah terbesar di Indonesia adalah tingginya konsumsi energi. Tingginya konsumsi ini berbahaya karena selain membebani APBN juga berpotensi menimbulkan masalah sosial politik dibelakangnya (REF). Data menunjukkan bahwa konsumsi energi tumbuh lebih besar daripada produksi energi (REF).

Masalah tingginya konsumsi energi ini bisa dilihat dari dua sisi. Sisi pertama adalah pengelolaan supply energy yang tidak optimal, sedangkan sisi kedua adalah pengelolaan demand energy yang tidak optimal.

Dari sisi pengelolaan supply energy misalnya. Produksi energi di Indonesia itu rendah dan tidak optimal. Energy di Indonesia itu tidak optimal karena infrastructure-nya buruk, ditandai dengan pipeline yang buruk, kilang (REF), mekanisme pasarnya juga tidak sehat, ditandai dengan lambatnya liberalisasi energi (REF). Padahal Indonesia punya potensi energi yang besar.

Dari sisi energy demand juga tidak optimal. Indonesia telah mengkampanyekan konservasi energi, tapi tidak berjalan dengan baik. Banyak kendaraan boros energi (menggunakan kendaraan yang tidak optimal), rendahnya infrastruktur transportasi, dan konsumsi BBM yang tidak efisien.

Kalau dilihat dari kacamata supply energy lebih jauh lagi, tingginya konsumsi energi ini lebih tepatnya adalah tingginya konsumsi fossil fuel. Ini berbahaya, karena fossil fuel akan habis. Solusi yang bisa diambil adalah menggunakan renewable energi yang jumlahnya tersedia banyak di Indonesia (REF).

Kenyataannya, sumber renewable yang tinggi ini tidak optimal digunakan. Padahal sudah jauh-jauh energi renewable dikembangkan, namun utilisasi renewable hanya 5% dari seluruh seluruh energi mix. Penyebab utama dari rendahnya utilisasi adalah karena policy yang tidak efektif (REF). Policy yang tidak efektif ini karena implementasinya tidak efektif juga karena design policynya yang tidak efektif. Ditandai dari policy yang saling bertentangan, misalnya policy industri vs energi vs lingkungan (REF). Dengan kondisi policy yang tidak efektif ini, maka perlu disusun sebuah energy policy yang dari designnya bagus, tapi juga dari sisi implementasinya bagus.

Untuk membuat policy yang bagus, paling tidak ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan. Dari aspek teknologi, ekonomi, lingkungan maupun aspek sosial. Aspek aspek ini penting karena Indonesia bukanlah negara yang punya teknologi (REF), aspek ekonomi juga penting karena kebijakan yang diambil harus sejalan dengan kebijakan ekonomi, aspek sosial juga penting karena kebijakan harus disesuaikan dengan kondisi sosial masyarakat, dimana banyak masyarakat yang belum terdidik (REF), aspek lingkungan juga penting karena banyak kebijakan yang bertentangan (REF).

Synthesis writing is NOT a summary, a comparison or a review, rather a result of an integration of what you read to support a key argument.

Written by Anjar Priandoyo

Februari 16, 2017 at 1:56 pm

Ditulis dalam Science

Literature Review – Part 1

leave a comment »

Issues: Increased energy consumption

  1. Why issues is important: population grow, fossil fuel will be depleted, political will be unstable
  2. How currently being addressed: policy energy diversification [2], intesification, conservation
  3. Why we should not be satisfied: the progress is slow, policy is not effective, the target is unrealistics, most likely will not be achieved
  4. What caused the issues? ineffective energy policy
  5. What theory can help understand? Energy scenario analysis
  6. Where we might be look for better answer? energy policy based on effective scenario analysis
  7. How address? design the new energy policy (need to convince reader)

http://uq.edu.au/student-services/pdf/learning/lit-review-generic-focus-Qs-mind-map-v2.pdf

[2] The government of Indonesia prioritizes on energy supply securities by diversification of energy resources. (Hasan et al 2012)

Literature review is to form an argument, supaya argument kuat maka perlu “convincing” (meyakinkan orang) dan “promising” (menjanjikan orang) bahwa ini sesuatu yang original.

  • Convince the reader that the thesis will make an original contribution to the area being investigated

Written by Anjar Priandoyo

Februari 16, 2017 at 1:19 pm

Ditulis dalam Science

Fakta vs Opini Biofuel: Karena masalah tidak melulu politik

leave a comment »

Fakta: Perkembangan biofuel 2006 tidak pesat
Opini 1: Penyebabnya adalah policy implementation yang tidak efektif (faktor top down command di daerah) diuji dengan contoh di desa (Amir et al 2008)
Opini 2: Penyebabnya adalah strategi yang tidak efektif, diuji dengan india/indonesia. India (biomass for households, biomass power, biofuels) vs Indonesia (biofuels, biomasspower, households), India Biogas dan secara umum transisi di India lebih cepat > (Singh and Setiawan 2013)

Written by Anjar Priandoyo

Februari 16, 2017 at 12:25 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Fakta vs Opini Impor Beras Indonesia: Karena masalah tidak melulu politik

leave a comment »

data-impor-beras

Fakta: Indonesia mengimpor beras dengan jumlah yang bervariasi
Opini 1: Variasi disebabkan oleh politik, presiden harus mengimpor beras, presiden harus mendorong biofuel. (diuji dengan case study desa di Indonesia, Sulfikar Amir 2008)
Opini 2: Variasi disebabkan oleh cuaca (el nino) yang mempengaruhi panen (diuji dengan El NiƱo/Southern Oscillation climate data (Naylor et al, 2001)

Written by Anjar Priandoyo

Februari 16, 2017 at 12:04 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Science Statement vs Fact Statement (Newspaper)

leave a comment »

Baru paham bedanya. Yang dibutuhkan adalah scientific statement, bukan data factual semodel koran atau laporan lembaga IEA/ESDM. Scientific statement ini bukan kejar target, satu kalimat pun tidak apa, karena tujuannya adalah menyampaikan ide/opini ilmiah.

Scientific Statement
The energy development in Indonesia is characterised by a high dependency on coal (Othman et al. 2009) and low renewable utilization (Hasan, Mahlia, and Nur 2012). As a developing country, Indonesia has features such as a large gap between rich and poor, big urban-rural differences in energy use/demand and use of traditional biomass fuel that must all be reflected in any energy modelling (Bhattacharyya and Timilsina 2010) for example on specific requirement of energy supply, energy potential, and environment issues (Hasan, Mahlia, and Nur 2012).

Factual Statement
Indonesia producing 400+ Mton of coal, where around 60+ Mton use domestically, which around 40+ Mton is for power plant (IEA). Geothermal in Indonesia is around 7% of energy mix estimated of 1000+MW (IEA). In Indonesia, Biomass accounted for more than 20% of energy mix, where mainly used in rural area (IEA/ESDM).

Written by Anjar Priandoyo

Februari 15, 2017 at 2:58 pm

Ditulis dalam Science

In IEA we trust

leave a comment »

Akhirnya, saya haqul yakin untuk menggunakan data kalkulasi murni dari IEA. Setelah melihat (lagi) beberapa hal dari bagaimana IEA mendesign databasenya:

  1. Bagaimana IEA mendata cooking coal, berapa yang diexport dan berapa yang digunakan domestik.
    Termasuk bagaimana IEA mendata Gas diesel oil/(distillate fuel oil), termasuk produk turunan crude oil lainnya. Ini mengingatkan saya tentang Denso/Bosch/Delphi yang merupakan first tier supplier, yang mungkin jarang kita dengar, tapi sangat signifikan perannya dalam GVN/GPN.

  2. Bagaimana IEA membuat satuan datanya TOE (on net calorific value basis)
    Contoh di tahun 2012, jumlah batubara untuk domestik adalah 61 juta ton, tapi ketika melihat angka TOE adalah sekitar 27 juta TOE. Ini sedikit membingungkan karena rumus konversinya adalah 1 Ton Coal = 0.7 Ton Oil Equivalent. Namun karena batubara jenis subbituminous yang digunakan lebih rendah kalori, masih dikalikan lagi dengan Net Calorific Valuenya sekitar 0.65 sehingga menjadi 27 juta TOE.

https://en.wikipedia.org/wiki/Heat_of_combustion
https://en.wikipedia.org/wiki/Fuel_oil
https://en.wikipedia.org/wiki/Petroleum_refining_processes
http://www.autonews.com/assets/PDF/CA41440317.PDF
https://en.wikipedia.org/wiki/Global_value_chain
https://en.wikipedia.org/wiki/Global_production_network

Written by Anjar Priandoyo

Februari 15, 2017 at 1:55 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Negara Perencana

leave a comment »

Dilihat dari sudut pandang perencanaan, negara Indonesia ini super baik-baik saja. Contoh, sejak tahun 2004, presiden baru terpilih. Tentunya presiden menyusun RPJPN (2005-2025) yang diturunkan menjadi RPJMN (2004-2009), setelah itu diturunkan menjadi KIN (Kebijakan Industri Nasional) PerPres 28 tahun 2008. Visinya adalah tahun 2020 menjadi New Industrial Developed Country. Di sektor energi termasuk diluncurkannya Kebijakan Energi Nasional (KEN) tahun 2006. Organ UKP3R (Unit Kerja Presiden Pengelolaan Program dan Reformasi) terbentuk pada tahun 2006.

Selanjutnya, di presiden baru di tahun 2009. Disusun UKP4 (Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan) tahun 2009, Komite Ekonomi Nasional (KEN) dibentuk tahun 2010, selanjutnya MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) pada tahun 2011. Selanjutnya, UU Perindustrian diluncurkan tahun 2014.

Setiap pemimpin, tentunya sangat concern dengan kesejahteraan anggota keluarganya. Pemimpin harus memastikan anggotanya mendapatkan makan, minum, pendidikan. Namun yang paling penting adalah anggota keluarganya ini bisa produktif, bisa mandiri. Dan kalau bicara dalam konteks negara, maka yang paling penting adalah tradeable sector (agri, manufactur, energi) yang bisa dilihat dari konsep GVN/GPN (Global Value Chain/GLobal Production Network)

Sayangnya dunia tidak dilihat dari sudut pandang perencanaan (sudut pandang teori) tapi dilihat dari sudut pandang results, hasil, eksekusi.

Industrialisation after a Deep Economic Crisis: Indonesia. Haryo Aswicahyono , Hal Hill & Dionisius Narjoko
Dawn of Industrialisation? The Indonesian Automotive Industry. Kaoru Natsuda, Kozo Otsuka & John Thoburn

Written by Anjar Priandoyo

Februari 15, 2017 at 12:23 pm

Ditulis dalam Science