Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Ketenangan hati

leave a comment »

Sudah saya jalani, selama dua minggu terakhir ini. Sepanjang senin hingga jumat, tidak ada lagi waktu untuk beristirahat atau mengerjakan hal lain selain bekerja. Saya bangun jam 5 pagi, dilanjutkan menyiapkan sarapan, kemudian melepas anak pada jam 6:15 dan 6:45. Diperlukan kesabaran ekstra untuk melakukan hal ini, menjalaninya dengan baik, dan melepasnya dengan baik sebelum berangkat sekolah. Kalau perjalanan lancar saya bisa sampai di kantor sebelum jam 8 pagi. Kalau mau sejenak santai saya bisa berada dikantor efektif pada pukul 9 pagi. Selama bekerja dikantor, nyaris tidak ada jeda yang bisa saya lakukan. Untuk bisa duduk hingga tengah hari saja tidak mungkin dilakukan, saya harus menemui klien, saya harus menelpon orang. Nyaris semua pekerjaan, khususnya rapat, baru bisa terselesaikan pada pukul 6 sore. Pekerjaan baru bisa terhenti setelah adzan magrib. Saya baru bisa pulang sekitar pukul 18:30. Dengan kecepatan transportasi yang paling baik yang bisa saya dapatkan, saya baru bisa sampai ke rumah beberapa saat sebelum jam 8 malam. Ini mungkin waktu terbaik, karena jam 8 malam adalah waktu untuk si bungsu beristirahat.

Kinerja saya selama seminggu ini sangat tertolong oleh istri saya. Ia bisa memastikan ada di rumah sebelum magrib. Sebelum pukul 6 malam. Ini hampir 2 jam lebih cepat dari apa yang bisa saya lakukan. Pada titik tertentu saya bisa menyamainya, semisal jika saya meninggalkan kantor pada pukul 5 sore, saya bisa sampai ke rumah pada pukul 6:30 malam, selisih hampir 30 menit, mengingat lokasi kantor saya yang lebih jauh dari pada lokasi kantornya.

Kalau potret 2 minggu ini menggambarkan apa yang akan terjadi hingga 1 tahun kedepan. Saya sudah punya sedikit gambaran. Idealisme saya adalah bisa bekerja dengan baik sesuai kontrak pekerjaan professional dimanapun, jam 8-5. Saya bisa datang ke kantor jam 8 pagi, maka saya bisa meninggalkan kantor jam 5 sore. Saya tidak bisa melakukan lebih dari itu, dan sebaliknya saya tidak bisa kurang dari itu.

Dengan segala beban pekerjaan yang saya hadapi, saya merasakan ada ketenangan hati. Pertama, “I got nothing to prove”. Saya tidak perlu membuktikan apapun. Saya tidak perlu membuktikan bahwa saya adalah consultant yang berkompetensi -asaya sudah punya cukup banyak proyek, cukup banyak kompetensi, dan cukup banyak pengalaman hidup, untuk melihat dinamika politik kantor, termasuk untuk melihat bagaimana orang berjuang untuk menjaga keseimbangan work-life balance. Keseimbangan work saja, saya lihat tidak semua orang mampu menjaganya. Banyak sekali kondisi dimana perusahaan tidak efektif menjalankan fungsi kerjanya. Saya bisa melihat itu, sedikit banyak. Padahal sebenarnya yang dibutuhkan adalah bagaimana idealisme diri sendiri dihadapkan dengan realita yang ada dilapangan.

Lalu mengapa orang seringkali tidak mampu menjaga keseimbangan kerja. Pertama yang saya lihat, bisa jadi orang tersebut kurang pengalaman. Pengalaman hidupnya kurang banyak untuk bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi. Orang tersebut bisa jadi sesederhana tidak pernah merasakan, atau meski berada sangat dekat tapi tidak bisa merasakan apa yang sebenarnya terjadi. Secara psikologis, mungkin fungsi neurotransmitter di kepalanya, tidak berfungsi dengan baik. Entah orang tersebut menjadi mellow, selalu bersedih. Atau orang tersebut menjadi, arogan, selalu percaya diri.

Saya, kembali ke ritme yang sudah 5 tahun terakhir ini saya jalani. Berdisiplin, setiap hari adalah sama. Hari ke satu dan hari ke 1,825 adalah hari yang sama. Apapun yang terjadi, apapun yang saya lalui hanya menambah pengalaman hidup, memperkaya pengalaman hidup yang ujungnya akan membantu saya untuk menjaga keseimbangan hidup yang saya jalani.

Minggu pagi 550 kata

Written by Anjar Priandoyo

September 15, 2019 at 12:19 am

Ditulis dalam Life

Ketenangan hidup

leave a comment »

Apa yang kita cari di dunia ini? kebahagiaan. Sumbernya dari keluarga, kesuksesan (pengetahuan, pengalaman, keuangan, hobi dan kesenangan), persahabatan dan kesehatan. Apa yang kita dapatkan? bisa jadi justru sebaliknya, penderitaan seperti keluarga yang membebani, kerugian, pertengkaran dan kondisi kesehatan yang buruk. Mengharapkan kebahagiaan sejati tidaklah mudah. Kenyataan dilapangan, semakin tua justru hidup semakin sulit. Anak-anak semakin besar, membutuhkan biaya yang semakin banyak. Anak tidak bisa direm, begitu kurang lebih kata bapak saya.

Kalau begitu, apa yang seharusnya kita cari didunia ini. Apa yang bisa kita cari, yang apapun yang kita dapatkan kita tetap bisa tetap hidup dengan baik. Di usia menjelang 40 tahun ini, saya menyimpulkan bahwa apa yang saya seharusnya cari adalah ketenangan. Sebagai contoh, ketika bekerja, saya mencari pekerjaan yang santai dengan gaji yang besar. Pengalaman saya menunjukkan bahwa bekerja di industri tertentu memenuhi kriteria tersebut. Nyatanya begitu bergabung pada industri tersebut, prediksi saya salah. Akhirnya dengan prinsip ketenangan itu saya putuskan untuk pindah. Orang lain mungkin melihat saya ambisius, tapi orang yang melihat saya lebih detail, mengenal saya lebih dalam seharusnya bisa melihat bahwa keputusan yang saya ambil ini bukan keputusan karena ambisi, tapi keputusan karena mencari ketenangan tadi.

Orang yang memutuskan untuk pergi ke kantor menggunakan motor, bisa jadi punya alasan yang sama dengan orang yang menggunakan KRL. Sama-sama mencari ketenangan. Ketenangan didapatkan dengan cara yang berbeda-beda. Kita tidak bisa menjudge bahwa seseorang mendengarkan musik heavy metal tidak punya ketenangan hati. Bisa jadi ia mendapatkannya dalam musik hingar bingar tadi.

Ketenangan tidak bisa semata dilihat secara fisik, apa yang dilakukan orang tersebut. Orang yang pekerjaanya duduk diam menjadi tiket parkir, bisa jadi tiba-tiba tidak tenang, kalau ia punya janji bertemu temannya 30 menit sebelum jam kerja berakhir. Orang tersebut harus bisa mengendalikan dirinya untuk tetap tenang. Kalau segala solusi untuk menukar jam kerja tidak membawa hasil, orang tersebut harus ikhlas membatalkan pertemuannya. Kalau perasaannya begitu besar untuk bertemu dengan temannya itu tidak tertahankan lagi, ia bisa meninggalkan pekerjaannya. Buat saya ini tidak mengapa, bukankah ia sudah berpuluh tahun bekerja di perusahaan tersebut. Apa yang dilakukannya bisa dimengerti.

Ketenangan ini unik. Bisa jadi ada ditempat yang gaduh. Bisa jadi ada pada saat sunyi ketika tidak melakukan apapun, pasrah. Bisa jadi dilakukan atas dasar perasaan diluar logika pada umumnya. Orang yang mengorbankan karirnya untuk bertemu seseorang dengan cara pergi 30 menit lebih awal bisa jadi tindakan konyol, tapi bisa jadi itu adalah ketenangan sejati yang ia dapatkan. Puncak ketenangan adalah ketika seseorang bisa berkorban, perasaannya, mengorbankan kebahagiaannya untuk sesuatu yang bisa jadi tidak seharusnya ia lakukan.

Seminggu sudah saya bekerja. Saya melihat bahwa pada dasarnya apa yang kita rencanakan adalah baik. Manusia merencanakan, Tuhan memutuskan. Tidak ada yang memutuskan untuk hidup susah. Namun Tuhan berkata lain, Takdir berkata lain, realita berkata lain. Kalau sudah begini, maka bagaimana kualitas seseorang tidak ada yang berhak menghakiminya. Selalu ada kesempatan untuk berbuat baik, tapi selalu ada penjelasan untuk setiap orang yang membuat keputusan yang berbeda.

Minggu pagi 490 kata

Written by Anjar Priandoyo

September 8, 2019 at 12:19 am

Ditulis dalam Life

Ketenangan dan kebahagiaan

with one comment

Kalau saya punya banyak waktu dalam minggu yang sangat singkat ini saya ingin menulis. Dan ini yang saya lakukan pada jumat pagi, hari terakhir sebelum segalanya berakhir. Beberapa hari ini terakhir, saya merasakan ritme hidup saya mulai terbentuk dengan baik. Bangun pagi, hal pertama kali yang saya lakukan adalah segera mengambil sapu, saya membersihkan lantai rumah yang berdebu. Meski agak aneh, karena hanya ditinggal kurang dari 8 jam, lantai bawah sudah sangat berdebu. Setelah itu, tanpa henti saya memastikan rumah dalam keadaan rapih, menyiapkan sarapan pagi, dan memastikan seluruh anggota keluarga bisa berangkat sebelum pukul 06:45.

Hidup ini dipagi itu hanya saya dedikasikan untuk itu saja. Tidak ada lagi agenda untuk sholat subuh jamaah di masjid, tidak ada lagi agenda untuk lari pagi. Seluruh rangkaian dari jam 5 hingga jam 7 pagi, sepenuhnya untuk keluarga. Tidak ada lagi waktu tersisa untuk saya beraktualisasi. Jamaah di masjid adalah aktualisasi, lari pagi adalah aktualisasi, tulisan pertama di pagi hari adalah aktualisasi. Aktualisasi mungkin memberikan kebahagiaan, tapi aktualisasi sulit untuk memberikan ketenangan.

Saya merasa dengan pola seperti ini, saya lebih mendapatkan ketenangan. Mungkin kebahagiaan tidak didapatkan, tapi ketenangan pasti bisa saya rasakan. Kebahagiaan hanya bisa didapatkan jika ego ini terpenuhi. Dulu saya pernah menulis bahwa sumber kebahagiaan hanya empat: sukses, teman, keluarga, dan hobi. Orang akan merasa bahagia jika dirinya sukses berprestasi. Orang akan merasa bahagia jika anak istrinya sukses, jika hobinya sukses, jika temannya sukses. Orang bahagia jika apa yang diinginkannya tercapai. Kebahagiaan adalah tercapainya apa yang diinginkannya sementara penderitaan adalah tidak tercapainya apa yang diinginkannya.

Lalu apa itu ketenangan? menurut saya ketenangan adalah menerima takdir dengan baik. Klise? mungkin. Tapi kira-kira begini. Satu-satunya hal yang saya inginkan didunia ini adalah hal-hal yang sederhana. Saya ingin bisa berlari setiap pagi, sebelum semua aktivitas itu dilakukan. Masalahnya berlari setiap pagi saat ini tidak bisa saya lakukan. Jangankan setiap pagi, berlari seminggu sekali, disiang atau sore hari pun sepertinya tidak lagi bisa saya lakukan. Selama bertahun-tahun, saya melatih diri saya bahwa satu-satunya kebahagiaan sejati adalah dari berlari. Ketika menemukan bahwa hal yang paling sederhana yang saya biasa lakukan ini tidak bisa saya lakukan, maka kekecewaan besar saya rasakan. Saya tidak lagi bahagia. Makanan seenak apapun yang disajikan tidak bisa saya nikmati.

Mengganti dari lari menjadi kuliner tentunya sangat berbeda jauh, tapi mengganti dari lari menjadi membersihkan tanaman mungkin tidak terlalu jauh, tapi tetap saja tidak mudah. Saya menemukan bahwa lebih mudah waktu itu saya pergunakan untuk mencuci piring secara serius, sama seriusnya seperti berlari. Saya menemukan bahwa apapun yang saya dedikasikan lama kelamaan bisa memberikan ketenangan. Saya sekilas berpikir, mungkin bukan adrenaline atau endorphin yang saya dapatkan dari berlari. Ketenangan yang saya rasakan adalah ketika saya melakukan sebuah proses yang saya lakukan secara berulang-ulang.

Semoga semua orang mendapatkan apa yang diinginkannya, karena itu adalah kebahagiaan yang sesungguhnya. Namun semoga semua orang juga memahami bahwa untuk mendapatkan apa yang diinginkannya biayanya tidak murah. Saya sering menyampaikan bahwa untuk memetik bunga edelweis di puncak gunung, biayanya tidaklah murah, nyawa bahkan bisa melayang, tapi tidak ada gunanya saya menyampaikan hal tersebut bagi orang yang sedang jatuh cinta dengan gunung.

Mencari ketenangan mungkin juga bukan sesuatu yang baik, sama seperti orang yang mencari kebahagiaan. Di dunia ini apa yang kita cari adalah apa yang tidak kita miliki. Semoga kita mendapatkan kemudahan, mendapatkan pencerahan dan mendapatkan apa yang selama ini kita cari.

Jumat pagi, 560 kata

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 30, 2019 at 1:58 am

Ditulis dalam Life

Lari untuk beristirahat

leave a comment »

Bertahun-tahun lamanya saya dilatih untuk nge-gas. Bangun pagi yang saya cari adalah terburu-buru untuk segera mengambil ember gayung menyiram tanaman. Segera, mengejar waktu saya berlari mengelilingi lapangan didekat rumah. Suatu pagi, disekolah dasar, saya berusaha mengerjakan segala sesuatu dengan cepat. Saya berusaha memenuhi permintaan orang tua saya untuk rajin dipagi hari. Selesai, saya bisa kerjakan. Sore hari demikian, saya tergesa-gesa, terburu-buru menonton acara TV di sore hari, tergesa-gesa pergi ke tempat permainan atau tergesa-gesa pergi ke lapangan basket. Pergi ke lapangan basket bukan karena saya senang basket, bukan juga karena saya berbakat basket, tapi berharap agar kelak suatu saat nanti kalau saya terbiasa untuk berlatih basket setiap hari, saya akan menjadi anak yang jago basket.

Hal ini bertahun-tahun saya lakukan. Saya seringkali melakukan sesuatu, mengejar sesuatu yang saya rasa baik meski sebenarnya manfaatnya tidak ada. Contoh padanannya sekarang adalah lari. Saya berlari setiap hari, walaupun tahu, kecepatan berlari saya tidak jauh berbeda dengan mereka yang tidak pernah berlari. Saya membaca, menonton, menulis dan berlari dengan kesadaran bahwa hal ini seringkali merupakan kesia-siaan belaka.

Hari ini saya putuskan untuk menge-rem semua ini. Pulang ke rumah, dengan kondisi rumah yang berantakan, yang terbayang dikelapa saya adalah segera merapihkan rumah. Segera menyiram atap kaca, mencuci mobil dan merapihkan barang-barang dirumah. Beruntung semuanya bisa saya selesaikan pada pukul sembilan pagi. Kalau saya tidak menahan diri, mungkin entah sampai siang saya masih mengerjakan pekerjaan rumah tersebut. Akhirnya saya putuskan untuk berhenti sejenak, untuk merenungkan apa yang sebaiknya saya lakukan. Pilihannya sebenarnya jelas, beristirahat. Duduk sejenak, menulis pun sebenarnya untuk beristirahat. Mungkin saya akan melakukan hal yang sama seperti yang saya lakukan selama tiga puluhan tahun lamanya. Namun sepuluh tahun pertama dahulu yang saya lakukan tujuannya untuk mencapai cita-cita tertentu, sepuluh tahun kedua untuk mengisi waktu dan sepuluh tahun ketiga untuk beristirahat.

Kalau lari dan segala aktivitas harian lainnnya tujuannya adalah beristirahat. Lalu apa tujuan dari saya bekerja setiap hari? tujuannya adalah sama, beristirahat. Saya ingin punya waktu beristirahat lebih banyak lagi. Waktu beristirahat, memungkinkan saya untuk membersihkan rumah, memungkinkan saya untuk berbicara dengan orang-orang dekat, memungkinkan saya untuk bisa membantu orang lain. Setiap keputusan keuangan saya juga sama, tujuannya adalah membahagiakan orang-orang terdekat saya, tujuannya akhirnya adalah agar saya bisa beristirahat. Istirahat itu apa sih sebenarnya? ketenangan. Ketenangan hanya bisa didapatkan oleh orang yang beristirahat dari kerja yang berat.

Jumat pagi, 400 kata

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 23, 2019 at 2:42 am

Ditulis dalam Life

Dompet Elektronik

leave a comment »

Saya sebenarnya bingung, kenapa diberi nama E-wallet (Dompet Elektronik). Sebenarnya lebih tepat diberi nama E-money (Uang Elektronik) server based (seperti Tcash sekarang Linkaja). Mungkin untuk membedakannnya dengan E-money card based (seperti Flazz). E-wallet secara fitur memang lebih banyak daripada E-money.

Kebingungan yang lain adalah mengenai kegunaannya. Dulu, sekitar tahun 2010-an ketika Busway baru beroperasi, muncul pertanyaan besar mengapa sistem Busway tidak berbasis ticket, seperti halnya London, Amsterdam, Paris dan kota-kota besar didunia lainnya. Kenapa Indonesia memutuskan satu tingkat lebih maju dengan menggunakan basis emoney. Jawaban yang paling gampang pada waktu itu adalah karena aspek pendanaan yang kurang, yang memaksa perusahaan transportasi untuk bekerja sama dengan perbankan untuk mendanai sistem ticketingnya. Bank mau, asalkan ticketingnya berbasis emoney.

ref

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 19, 2019 at 3:50 am

Ditulis dalam Management

Tagged with

Esensi kesempurnaan hidup

leave a comment »

Saya menyimpulkan, sejak kecil bahwa inti hidup adalah memperoleh kekayaan duniawi. Dengan memiliki kekayaan dunia hidup saya akan bahagia. Mungkin, pemikiran ini muncul karena saya merasa diri saya hidupnya susah. Saya tidak mendapatkan mainan yang saya inginkan, saya tidak mendapatkan kotak pinsil yang saya idam-idamkan. Sambil berjalannya waktu saya melihat ada beberapa aspek yang mendesak saya mengubah pola pikir tersebut.

Pertama mengenai harta, kekayaan, kemakmuran. Saya melihat bahwa hal ini sangat sulit untuk dicapai. Sangat sulit karena meski semua orang tahu bahwa ini sangat penting, berusaha sekuat tenaga, tapi kebanyakan tidak bisa mencapainya. Makanya, alternatif yang saya lihat pada waktu itu adalah kebahagiaan yang bersumber dari aspek lain seperti pertemanan (sosial) ataupun aspek individu lain yang sifatnya non materi (kesehatan, pengetahuan). Semenjak menikah, mempunyai anak, maka aspek sosial ini bertambah luas, tidak hanya teman dan saudara, tapi juga pasangan dan keturunan.

Menariknya, dalam konsep spiritual manapun, konsep ini berlaku universal. Jawa: Harta Tahta Wanita, tidak lebih dari materi (individu), sosial, non materi (individu). Termasuk dalam konsep Islam (Ali Imran 14: Perempuan, anak-anak, harta, kuda, ternak, ladang). Dari berbagai konsep ini, menurut saya esensi kesempurnaan hidup sederhana saja. Kebutuhan materialis individualis (harta, jabatan, pengaruh). Ini yang paling utama, kedua adalah kebutuhan sosialis (respek, tahta, popularitas, teman) dan yang ketiga adalah kebutuhan non-materialis individualis (pengetahuan, kebijaksanaan, pengalaman, kesehatan, ketenangan)

Ali Imran 14 ref, Fu Luk Shou ref (Keberuntungan, Kemakmuran, Umur Panjang)

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 17, 2019 at 11:53 pm

Ditulis dalam Life

Kejatuhan Net TV

leave a comment »

Memberikan analisa yang tajam terhadap sebuah masalah tidaklah mudah. Contoh Seven Eleven, mengapa Sevel jatuh? jawabannya beragam mulai dari 1) regulasi/external (larangan minuman beralkohol, regulasi retail vs restaurant (ownership, product) 2) business issues/internal (rapid expansion, high operating cost, lower purchasing power, business model convenience vs minimarket, rent cost ending period).

Sekarang bagaimana dengan net TV? sama sepertinya business issues (business model premium tv vs digital netflix tv, decline ads revenue). Net TV sendiri berdiri Mei 2013 – Agustus 2019. Bisnis baru seperti ini memang sangat riskan, untuk bisa terus bertahan melewati 5 tahun pertama tidaklah mudah. Asumsi bahwa selama 5 tahun tidak terjadi perubahan merupakan asumsi yang sangat naif.

Lalu bagaimana sebuah bisnis bisa bertahan hingga sepuluh dua puluh tahun? ada banyak faktor, bisa dikatakan hebat, bisa juga karena faktor keberuntungan. Makanya, lesson from this story, ya biasa saja menyikapi sebuah fenomena bernama bisnis.

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 15, 2019 at 3:45 am

Ditulis dalam Management

Tagged with