Anjar Priandoyo

40 jadi manajer, 50 jadi direktur

leave a comment »

 

Kalau dilihat dari kacamata nasional, menargetkan diri menjadi seorang manager pada usia 40 tahun dan menjadi direktur pada usia 50 tahun adalah sesuatu yang wajar. Padanannya bisa dilihat pada organisasi TNI/Polri, dimana jabatan Dandim/Kapolres bisa diraih pada usia 40 tahun dengan pangkat Letkol (Melati dua/Pamen), juga selanjutnya jabatan Pangdam/Kapolda bisa diraih pada usia 50 tahun dengan pangkat Brigjen (Bintang Satu).

Jenjang karir ini juga berlaku pada BUMN berskala besar seperti Pertamina, BRI ataupun Telkom. Dimana meraih posisi Kantor Cabang Utama bisa diraih pada usia 40 tahun, dan Pimpinan Regional atau Direktur dalam usia 50 tahun.

Patokan ini tentunya tidak berlaku bagi Kantor Asing, anak perusahaan dari perusahaan MNC misalnya, atau perusahaan keluarga. Jenjang karir ini adalah jenjang karir yang paling ideal dan berlaku disemua institusi besar di Indonesia.

Artinya, buat anak muda harus senantiasa menargetkan diri untuk menjadi Direktur pada tingkat nasional, yang artinya memelihara konsistensi yang sangat panjang minimal selama 30 tahun berkarya.

Written by Anjar Priandoyo

September 26, 2016 at 1:52 pm

Posted in Karir

Mengubah budaya 5K (kagum kaget kecewa kasus keluar)

leave a comment »

Saat baru masuk ke dunia kerja, adalah sebuah istilah yang umum digunakan oleh karyawan senior ketika membriefing karyawan yang baru masuk dengan istilah 5K. Istilah ini menggambarkan siklus karyawan saat memasuki tempat kerja yang baru.

Karyawan yang baru masuk umumnya merasa kagum dengan nama besar perusahaan, termasuk kagum dengan kemampuan dirinya yang bisa bergabung diperusahaan tersebut.

Seiring berjalannya waktu, rasa kagum itu kemudian berubah menjadi kaget. Misalnya kaget mengisi form yang begitu banyaknya, kaget dengan budaya perusahaan yang penuh persaingan, hingga kaget melihat beban kerja dan gaji yang diterima.

Setelah kaget yang berlarut-larut, kemudian berubah menjadi kecewa. Karyawan biasanya akan kecewa dengan manajemen perusahaan, dengan atasannya langsung, dengan pihak HRD dan seterusnya.

Kekecewaan yang tidak segera diatasi ini dapat berubah menjadi kasus. Karyawan yang semula baik-baik saja bisa saja berbuat kasus, baik yang sederhana seperti mulai terlambat masuk kantor, kehilangan motivasi hingga kasus berat seperti pencurian atau pelecehan.

Diakhir siklus biasanya karyawan tersebut akhirnya memilih untuk keluar. Ada yang bisa bertahan 3-4 tahun, ada yang hanya bertahan dalam hitungan bulan ataupun hari.

Siklus 5K yang tidak sehat ini terjadi dimana-mana. Sebenarnya ada banyak cara untuk mengatasinya. Diantaranya mengubah siklus ini menjadi siklus yang lebih positif. Misalnya

1. Mengubah kagum menjadi kenali
Daripada terkagum-kagum dengan perusahaan lebih baik berusaha mengenali perusahaan dengan baik. Kenal artinya melihat secara obyektif perusahaan. Kagum bukanlah hal yang baik, karena hanya mengenali dari satu sisi saja. Tidak melihat secara obyektif

2. Mengubah kaget menjadi kerjasama
Kaget adalah hal yang wajar, ketika seorang karyawan baru merasa kaget, maka dia tidak sendirian, karyawan lain pun merasa kaget. Artinya ditahap ini kita harus mengubah kaget menjadi kerjasama. Kerjasama antara karyawan yang baru begitu juga kerjasama dengan karyawan yang lebih senior

3. Mengubah kecewa menjadi konflik
Karena kecewa dengan kondisi, orang cenderung tidak bertindak apa-apa. Orang cenderung pasif. Pada tahap ini maka orang harus bisa mengubah kekecewaan menjadi sesuatu yang lebih produktif. Sesuatu yang harus bisa dibenturkan, dicari persoalannya. Dalam tahap ini berkonflik adalah sesuatu yang wajar. Tahap ini biasanya karyawan baru takut mencari solusi, padahal untuk mendapatkan solusi berkonflik adalah hal yang wajar.

4. Mengubah kasus menjadi koordinasi
Perusahaan pada dasarnya adalah organisasi. Oleh karena itu, masalah hanya bisa diselesaikan melalui sistem organisasi, salah satunya dengan koordinasi. Koordinasi antara atasan dan bawahan, antara sesama karyawan.

5. Mengubah keluar menjadi kendali
Keluar merupakan opsi paling akhir yang bisa diambil oleh karyawan. Keluar artinya meninggalkan semua persoalan dibelakang. Sebelum memutuskan untuk keluar langkah yang harus dipertimbangkan adalah mendapatkan kendali sebesar-besarnya atas lingkungan kerja.

Selamat bekerja

Written by Anjar Priandoyo

September 23, 2016 at 9:42 am

Posted in Karir

Lima sertifikasi paling penting diawal karir

leave a comment »

Awal karir diusia 22-27 tahun, merupakan sebuah periode paling krusial adalam perkembangan karir seseorang. Setelah lulus kuliah, perusahaan melihat lulusan universitas bagai kertas putih yang siap dibentuk untuk menjadi pimpinan perusahaan dimasa depan.

Sayangnya tidak semua orang beruntung periode awal karir tersebut. Ada lulusan biologi yang kemudian diterima di bank mendalami bidang manajemen risiko. Sementara, disisi lain ada seorang lulusan akuntansi yang justru menjadi seorang call center diperusahaan telekomunikasi.

Bagi yang tidak beruntung, bukan tidak mungkin masa 5 tahun yang buruk ini berlanjut hingga 10 atau 20 tahun berikutnya. Bekerja bertahun-tahun pada bidang yang tidak sesuai dengan keahliannya atau bidang yang kurang memiliki prospek dimasa depannya.

Maka dari itu mengambil sertifikasi atau pendidikan lanjut merupakan langkah strategis yang bisa diambil seseorang dalam membangun karir dimasa awal berkarirnya. Berikut sertifikasi yang bisa diambil:

1. Sertifikasi Teknis
Sertifikasi teknis ini merupakan sertifikasi yang berhubungan dengan bidang kerja teknis seperti Microsoft, Oracle atau Cisco. Sertifikasi ini selain mudah dipelajari, biayanya relatif terjangkau dan permintaan akan sertifikasi ini relatif tinggi. Sertifikasi teknis merupakan jenis sertifikasi yang harus diprioritaskan untuk diambil

2. Sertifikasi Proses
Sertifikasi proses ini merupakan sertifikasi yang berhubungan dengan proses kerja semisal Sertifikasi Pengadaan, Sertifikasi Internal Audit atau Sertifikasi Pengelolaan Proyek. Sertifikasi ini relatif lebih abstract daripada sertifikasi teknis. Namun keunggulannya adalah sertifikasi ini relatif update dan awet masa berlakunya hingga bertahun-tahun, dibandingkan sertifikasi teknis yang bergantung pada perkembangan teknologi dari vendor.

3. Sertifikasi Pendidikan
Program S2 seperti Magister Teknologi Informasi atau Magister Manajemen merupakan opsi sertifikasi yang bisa diambil. Tantangannya selain masa durasi yang panjang, program yang cukup berat, biayanya juga mahal. Keunggulannya, sertifikasi pendidikan ini bisa sangat membantu orang yang ingin mengubah jalur karirnya.

4. Sertifikasi Perusahaan
Bila sertifikasi teknis tidak mampu diambil, sertifikasi proses juga tidak sanggup dan sertifikasi pendidikan tidak ada biayanya, maka alternatif sertifikasi lain yang bisa diambil adalah sertifikasi perusahaan. Banyak perusahaan yang memberikan training di luar negeri bagi karyawannya atau perusahaan yang memberikan program secondment diluar negeri. Pengalaman mendapatkan sertifikasi dari perusahaan ini merupakan modal yang sangat berharga yang bisa didapatkan pencari kerja.

5. Sertifikasi Personal
Ini yang seringkali anak muda yang baru merintis karirnya tidak pertimbangkan. Saat kita sudah bekerja diperusahaan, maka kita akan banyak melihat beberapa orang atau figur yang bisa membantu kita kedepan. Orang-orang ini bisa memberikan rekomendasi pekerjaan atau menghubungkan dengan orang-orang penting di industri. Maka, bila tidak punya sertifikasi teknis, tidak punya keahlian proses, kemampuan pendidikan dan perusahaan maka seseorang harus mencari sertifikasi lewat rekomendasi seseorang, berupa sertifikasi personal.

Sudahkah kita siap berkompetisi? ingat, kompetisi dilapangan kerja sudah dimulai dari hari pertama kerja dimulai.

Written by Anjar Priandoyo

September 22, 2016 at 7:09 pm

Posted in Karir

Energy Transition

leave a comment »

Energy Transition: No consensus (Bridge et al, 2013)
– Developing countries: Increase in availability and affordability of energy
– Central Europe countries: Liberalisation of energy sector
– Western Europe (UK): Movement towards low carbon future

Energy Transition, Emphasis
– Structural innovation: (Verbong and Geels, 2007)
– Geographical elements (Bridge et al, 2013)

Written by Anjar Priandoyo

September 16, 2016 at 5:51 am

Posted in Science

The palm oil limit

leave a comment »

I read the paper “What are the limits to oil palm expansion?” a very well written report. It is saying that our planet has potential for 1.37 billion hectares for palm oil cultivation, where only 17% of all suitable land is left.

As student my concern are:
1. It is report from IIASA
2. It is research report

Written by Anjar Priandoyo

September 12, 2016 at 1:32 pm

Posted in Science

Transition

leave a comment »

Transition means change, a long term structural change. Energy transition means a long term change in energy systems. There are a lot of definition on transition, but I stick with technological transitions (Geels, 2002).

Technological transition (TT) concept, see everything as multi-level perspective (MLP) such as landscape (political system), regime (tech, market, socio-policy) and niche layer (industry).

Written by Anjar Priandoyo

September 7, 2016 at 3:06 pm

Posted in Science

Energy Transition

leave a comment »

Energy transition is the process of changing the energy composition from coal to oil, or from one energy to another energy form.

Human Perspective
Energy transition can be seen from human perspective, which are affected by knowledge, motivation and contextual ref aka factors that affecting energy transition from human perspective.

It means that if people know about the importance of clean energy, people will become motivate to change. However even with knowledge and motivation, change can be difficult depend on the context (indo: tergantung sikon), for example cycling might not effective if its far.

Institutional Perspective
From institutional perspective, energy transition can be seen from technological and political perspective. Technological such as available of innovation (enablers) and public negativity (obstacle).

Basically in any situation, we always can see (assume) the factor that affecting (enabler) and the obstacles. But as scientist, we need to test that assumption

Written by Anjar Priandoyo

September 7, 2016 at 9:59 am

Posted in Science