Anjar Priandoyo

Simple Advice for Everyone

Menjiwai Penelitian

leave a comment »

1.Bosan
Kalau topik yang sama diulang-ulang terus maka akan bosan.

2.Tidak Fokus
Kalau tidak bosan, penyakit yang muncul selanjutnya adalah tidak fokus.

Written by Anjar Priandoyo

Maret 22, 2017 at 2:59 pm

Ditulis dalam Science

Selamat Pusing: Country Analysis (Detailed Sectoral)

leave a comment »

Waktu saya mengawali penelitian ini, saya pikir masalahnya sederhana sekali: reserve (cadangan energi). Logika berpikir saya juga sangat sederhana. Minyak bumi itu limited, sementara angin dan matahari itu unlimited. Maka konsep cadangan energi tidak berlaku pada energi terbarukan. Artinya segala masalah energi itu selesai dengan menggunakan energi terbarukan. Nyatanya?

Tahun pertama, saya baru menyadari bahwa ada masalah krusial pada renewable energy (RE) reserve, ada problem mendasar pada potensi pengembangan RE. Kecurigaan ini terkait dengan hebohnya pemberitaan mengenai RE, tidak logis-nya pengembangan RE -mengingatkan saya pada ceramah tahun 2004-an yang mengatakan bahwa tenaga TI dibutuhkan banyak perusahaan (kalau dibutuhkan kenapa orang sulit mendapat kerja IT? kalau memang prospeknya bagus, dalam waktu singkat akan jenuh pasarnya, bisa jadi bukan pilihan yang baik)

Tahun kedua, saya akhirnya menyadari, energy reserve itu problem yang masih jauh diawang-awang, energy reserve itu masalah dalam tahap perencanaan (planning). Yang lebih riil? masalah pencatatan (accounting). Sebelum kita memikirkan “masa depan mau apa” lebih baik kita memikirkan “saat ini sedang apa”. Ini makanya pencatatan energi menjadi masalah yang jauh lebih rumit daripada masalah perencanaan energi. Kenapa? karena segala kalkulasi tentang masa depan, harus diawali dengan kalkulasi saat ini.

Singkatnya sebelum, merencanakan bahwa kita butuh mobil seven seater. Lebih baik, kita menghitung dulu, ada berapa jumlah keluarga kita dan kemana saja kita berpergiaan. Jangan-jangan kita bukan hanya tidak butuh mobil, tapi kita hanya butuh sepeda onthel saja untuk kita sendiri.

Energy accounting is the real issue here.
Masalah energy accounting itu bukan sekedar 200 MTOE (TPES) di tahun 2010-an, yang menurut National Energy Policy, akan menjadi 400 MTOE -yang terdiri dari sekian persen minyak, gas dan batubara. Untuk mencapai energy mix yang lebih ideal, misalnya dari <5% RE menjadi 25% RE, bukan sekedar membangun pembangkit listrik tenaga angin/matahari sebanyak-banyaknya. "It can not be done"

Ibarat balapan motor, untuk membuat motor kencang tidak hanya menggunakan bahan bakar yang lebih bagus, tapi juga mengurangi bobot kendaraan, membuat design aerodinamis, membuat ban yang lebih baik dan seterusnya. Maka, tahap pertama energy accounting, adalah breakdown kedalam subsektor secara detail. Dan disinilah masalah dimulai.

Mengetahui jumlah kendaraan (selain merupakan masalah sendiri) tidak cukup, perlu juga jumlah produksi (termasuk trendnya), berapa rata-rata jarak yang ditempuh, hingga bagaimana efisiensi kendaraannya. Susah kan. Susah dong, karena tiap kota, tiap umur kendaraan, tiap jenis kendaraan (bus/truk/mobil), tiap fungsi kendaraan (umum/pribadi) hingga tipe jalan (aspal/tanah) memiliki karakteristik sendiri-sendiri.

Mau lebih susah lagi? lihat unit of transportation measurement. Kalkulasi akan bertambah rumit, karena diperlukan faktor lain seperti traffic flow (macet), payload (quantity/distance). See, bahkan sector transportasi ini bisa jadi satu fakultas sendiri.

Mau lebih gampang? bisa saja sih, menggunakan pendekatan fuel. Avgas (Piston Plane) dan Avtur (Kerosene/JET-A) mungkin lebih mudah daripada meng-accounting-kan jumlah pesawat terbang di Indonesia. Masih lebih susah? road transport merupakan subsector transportasi yang konsumsi energinya paling besar.

Huff… sudah? sayang belum.

Sebenarnya, bagi orang energi, masalah berhenti di IEA saja. IEA ini menghitung kebutuhan energi saja. Namun bagi orang lingkungan, masalah diperbesar dengan menambahkan dua hal: emission factors dan non energy factors. Non energy factors ini super duper ribet. Sebagai perbandingan, kalau energi itu kontribusinya 50%, maka 25% sisanya adalah… Sampah. Yup, sampah. Kontributor pencemaran lingkungan terbesar setelah energi. 15% sisanya adalah? agriculture? what? dan sektor yang paling kecil adalah… industri (non combustion <10%)

Cukup sudah penderitaan? sayangnya tidak. Dari kacamata orang lingkungan. Energi use itu nothing dibandingkan dengan dosa deforestasi (LUCF) dan dosa kebakaran gambut (Peat Fire) ini nilai emisinya lebih besar dibandingkan dengan emisi dari seluruh sumber emisi di Indonesia. What? iya. Sedih ya.

https://en.wikipedia.org/wiki/Units_of_transportation_measurement
http://aviation.stackexchange.com/questions/12184/what-are-the-differences-between-fuel-types-comparing-with-vehicles
http://apki.net/wp-content/uploads/2013/05/Draft-Petunjuk-Teknis-Penghitungan-Emisi-GRK-di-Sektor-industri.pdf

Scenarios analysis of energy mix for road transportation sector in Indonesia (Deendarlianto et al 2017)

Written by Anjar Priandoyo

Maret 21, 2017 at 1:15 pm

Ditulis dalam Science

TIL Indonesia Land Size

leave a comment »

According to google 2017, which refer to wikipedia, Indonesia land size is 190 M ha. However the exact number is vary times to times and vary according to who. For example, based on BPS (National Statistics Office) in 2006 is 186 M ha, in 2007 is 191 M ha. Although BPS might provide the most government official data, the most accurate data can be attributed to BIG (Badan Informasi Geospasial) a government body that has a skill to do a geospatial and mapping process which its history can be traced up to 1934 during Dutch Indies.

However, BPS and BIG does not have a legal power upon the control of land. This legal power can be attributed to Badan Pertanahan Nasional (BPN) or National Land Agency. BIG has ability to measure which is very technical, however the control is within BPN. BPN is the one that produce the land use and ownership certificate. BPN is the one that create Land Ownership, Right of Use, Rights on Land.

Complicated? wait, here is the biggest problem. BPN head says
“Indonesia has 180 Mha which consist of 130 Mha forest and 50 Mha non forest. However there are still 45 million hectare of forest and 5 million hectare of non forest that without certificate. The BPN capability to certify the land is only 2 million ha/year, which takes 21 years just to complete this certification”

Land measurement has a problem, which recently become public concern for example tension with neighboring country on the teritorial dispute such as Sipadan & Ligitan. Land certification also a problem as the BPN case above. But it is enough problem? unfortunatelly not. There are still problem left.

The first problem is within the forest area (130 Mha BPN, 120 Mha BPS 2015, 90 Mha World Bank 2010, 90 Mha VP 2016)

According to Ministry of Foresty (Forestry Planology) The distribution of forest in Indonesia as follows, conservation forest (HK) 15%, protection forest (HL) 22%, production forest (HP) 46% convertible production forest (HPK) 17%.

However, forest means money. A forest can be exploited in so many level, for geothermal energy, for tourism, for plantation even can be used as simple as wood industry. There are so many interest on the usage of forest. From local government to national billionaire.

The second problem is within the non forest area (58 Mha World Bank, 41 Mha BPS, 25 Mha BPS optimum). The non forest area can be divided with three part, where each of them has significant problem.

The first problem is on the agriculture.
According to Ministry of Agriculture. Wetland size is only 8 Mha, Dryfield (kebun) is only 11 Mha + 5 Mha (shifting cultivation), and 14 Mha temporary unused agriculture land. The total is around 41 Mha. From the crops mix in 2010, Palm Oil is around 8.3 Mha, Coconut is 3.7 Mha, Rubber is 3.4 Mha, Cocoa is 1.6 Mha. How about the myth of Indonesia rich in agriculture products? Sugar Cane 0.4 Mha, Tea 0.1 Mha, Pepper 0.1 Mha. Surprisingly Coffee is 1.2 Mha.

The second problem is within the housing area
Indonesia need around 1 million house per year (backlog 15 million, ownership backlog 7 million). Currently households size is 60 million, where house is around 40 million. The growth of population impacting the growth of house (which it said affecting another 170 industry, mortgage for sure).

The third and the saddest problem is within industrial area (27 Kha – 30 Kha)
This is the saddest problem, where the Industrial park in Indonesia is very small with a number of infrastructure problem. Well how small is small? other rich country e.g Singapore can easily build an industrial park as big as Indonesia in China with the better design and cheaper price. Or Saudi can built an integrated industrial park with very close proximity with his own industrial strength for example in petrochemical industry. The demand of industrial park in Indonesia is very low, with around 1,000/year

Another problem mentioned:
“…Most of Indonesia‚Äôs industrial land areas or 94% are owned by the private sector. The Indonesian government, through state-owned enterprises, owns 6%. This is in stark contrast with other Asian countries. In Japan, for example, the government owns 85% of the total area of industrial land, Taiwan has 90%, Singapore 85%, Malaysia 78%, South Korea 70%, and Thailand has 53% under state ownership…”

https://finance.detik.com/properti/d-2532638/bpn-butuh-21-tahun-untuk-mensertifikasi-tanah-di-seluruh-indonesia
http://www.kompasiana.com/fikri_alyandra/berapa-sebenarnya-luas-lahan-pertanian-di-indonesia_54f9548ba3331176178b4bbd
https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1716
http://nasional.kompas.com/read/2016/11/30/15554291/wapres.dalam.60.tahun.luas.hutan.indonesia.berkurang.50.persen
https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_industrial_parks_by_size
https://www.unido.org/fileadmin/user_media/Research_and_Statistics/UNIDO_IDR_2013_main_report.pdf
http://www.transformasi.org/images/publications/pdf/160616_Industrial_EN.pdf
http://www.igep.in/live/hrdpmp/hrdpmaster/igep/content/e48745/e49028/e56649/e57545/04_Dieter_Brulez_SituationIndonesiaPresentationIntConference_Indonesia.pdf
http://www.gbgindonesia.com/en/property/article/2016/indonesia_s_industrial_property_sector_rising_supply_and_demand_11690.php
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/09/17/195151226/hingga.2025.kebutuhan.rumah.di.indonesia.tembus.30.juta.unit
http://finance.detik.com/properti/2103804/jumlah-rumah-di-ri-hanya-45-juta-unit-butuh-14-juta-hunian-baru-tahun

Written by Anjar Priandoyo

Maret 20, 2017 at 1:09 pm

Ditulis dalam Science

Mengendalikan emisi bukanlah pekerjaan yang mudah

leave a comment »

Setiap tahun Indonesia mengkonsumsi sekitar 200 Mt bahan bakar (setara minyak bumi), dari bahan bakar yang dikonsumsi, pencemaran yang dihasilkan lebih dari 500 Mt polusi udara (setara CO2).

Kalau bicara energi (konsumsi), maka dari 200 Mt itu kita bisa melihatnya dari kacamata fuel (oil 50%, gas 20%, coal 20%, re 10%) atau dari kacamata sector (industry 35%, transport 33%, domestic 30%, residential/commercial).

Namun, kalau bicara dari kacamata emisi, maka kita bisa melihat dari kacamata pollutant (PM, CO, CO2, SO2, NOx, NMVOC, NH3, N2O – PM, BC) atau kalau dari kacamata sektor (energy 50%, waste 25%, agriculture 10%, industry 5%)

Written by Anjar Priandoyo

Maret 17, 2017 at 7:47 pm

Ditulis dalam Science

Penyerapan dan Penyimpanan Karbon (PPK) – Carbon Capture Storage (CCS)

leave a comment »

Menarik juga ya, setiap inisiatif, pasti akan terkait dengan kebijakan fiskal.

http://fiskal.depkeu.go.id/pkppim/en/public/2000/studies/download/Carbon%20Capture%20Storage%20(Bahasa%20Indonesia).pdf

Written by Anjar Priandoyo

Maret 17, 2017 at 7:31 pm

Ditulis dalam Science

Bicara Data Secara Realistis

leave a comment »

GDP Indonesia sekitar 10,000 Trilyun, jadi kalau proyek 35,000 watt itu sekitar 1,200 trilyun, bisa dibayangkan bagaimana beratnya. Atau bila kerugian Tsunami Aceh 39T, Banjir Jakarta 4T. Maka kalau estimasi kerugian sekitar 1% GDP merupakan data yang cukup realistis. Tapi, dalam konteks yang lain bisa juga tidak realistis, e.g data kementerian vs BPS, e.g data kerugian dari kemacetan.

Intinya susah.

https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-1697180/kerugian-bencana-alam-setahun-setara-krisis-ekonomi-era-90-an

Written by Anjar Priandoyo

Maret 16, 2017 at 12:51 pm

Ditulis dalam Science

BPS dan akurasi data

leave a comment »

BPS merupakan lembaga paling akurat untuk mengetahui data statistik di Indonesia. Namun, dalam beberapa kasus, pendekatan yang dilakukan oleh kementerian seringkali lebih akurat, misalnya yang dilakukan oleh kementerian kesehatan -untuk data kesehatan, atau kementerian industri untuk data industri. Untuk keperluan penelitian data yang harus dipakai adalah data kementerian, sekedar pembanding, bisa juga melihat data asosiasi industri -tentunya data asosiasi cenderung lebih besar.

BPS punya merupakan penghasil data GDP growth paling akurat disebuah negara. Contoh pertumbuhan ekonomi 2015 menurut BPS adalah 4.79% ini data yang paling akurat. Namun, untuk prediksi masing-masing institusi boleh saja melakukan, walaupun hasil akhir yang paling tepat adalah dari BPS e.g 2016 tumbuh 5.02%

http://www.bi.go.id/id/ruang-media/siaran-pers/Pages/sp_180916.aspx

Written by Anjar Priandoyo

Maret 15, 2017 at 6:14 pm

Ditulis dalam Science