Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Parity

leave a comment »

The Power of Balance: Transforming Self, Society, and Scientific Inquiry (Torbert 1993)

Leaders in can exercise an inherently positive kind of power that can be called “the power of balance.” Leaders must exercise this “power of balance,” if they are to succeed in generating and sustaining organizations that:

  1. empower their members;
  2. reliably increase their productivity and legitimacy; and
  3. transform appropriately in, and responsibly manage their impact on, turbulent environments.

A further claim is that, whereas other types of power corrupt, and require balancing by one another in order to limit corruption and injustice, the exercise of the power of balance generates increasing self-balancing, increasing personal integrity, increasing institutional efficacy, and increasing social justice.

Leaders must be able to exercise four different types of power. I argued that these must be blended differently at different times, with different people, if they are to succeed in cultivating growth and transformation among individual organizational members and in overall organizational strategies, structures and systems.
“unilateral power,”
“diplomatic power,”
“logistical power,” and
“transforming power.”
Ability to exercise and appropriately blend these four different types of power called “the power of balance.”

Chomsky–Foucault debate

Power is never evenly distributed. Authority systems and reporting structures depend on power asymmetrices.

ref

Written by Anjar Priandoyo

Januari 23, 2022 at 8:23 am

Ditulis dalam Science

Definition – Politics

leave a comment »

Politics as the exercise of power

Some define politics quite simply as the exercise of power. This definition most clearly demonstrates two issues alluded to previously: the problem of definitions or, in other words, the issue of the contestability of concepts; and the limitation of the narrow–broad spectrum alluded to at the beginning of the chapter. Let’s attend to the issue of definitions first. Given what you have read about the distinction between politics and violence, you might already be thinking that the definition of politics as the exercise of power very much depends on how we define power. ref

Political settlement is central to all development. Security is a precondition for development.

Throughtout the history of organized political life, violence has played an enormous role. A survey of Europe, every four years of peace interspersed with an year of violent disturbance.

Political Authority: Its Exercise and Possession (C. W. Cassinelli 1961)
Exercising political power reasonably (Shaun P. Young 2008)
Democracy and Necessity: Rightly Dividing Political Power (James Rogers 2012)
Politics and Violence (Gopal Singh 1976)

Written by Anjar Priandoyo

Januari 23, 2022 at 6:49 am

Ditulis dalam Life

Definition – Power

leave a comment »

Power is the capacity to act, ability to act and willingness to act. A person will be called powerless eventough he has willingness and ability but does not have the capacity to act.

Economic power is the power to create and trade values; political power is the power to expropriate and destroy them.

Economic power is exercised by means of a positive, by offering men a reward, an incentive, a payment, a value; political power is exercised by means of a negative, by the threat of punishment, injury, imprisonment, destruction. The businessman’s tool is values; the bureaucrat’s tool is fear.” — Ayn Rand

What is the difference between businessmen and bureaucrats? The symbol of the businessmen is positive — the dollar — given to you voluntarily by trade under capitalism. The symbol of a bureaucrat is a negative — a gun — pointed at you. The man who prefers the gun to the dollar is the man who thinks he will be holding the gun. ref

Social power, defined as “the ability to set standards, create norms and values that are deemed legitimate and desirable, without resorting to coercion or payment

Power as control over valued resources. To analyze power we must define it. Definitions of power as influence define power by its effect. Others have defined power as potential influence. Others have dropped influence from the definition of power altogether and have homed in on power as resource or outcome control. We define power as relative control over another’s valued outcomes ref.

Capitalism is system of power. In general, power is the faculty to do or not do something “power to act” (PTA). In interpersonal relation, power is capacity to influence the action of other “power over somebody” (POS). The ontology of economic power in capitalism: mainstream economics and Marx 2007 ref

Power is the ability to define the situation. Symbolic interactionism suggests that one of the main tasks for individuals in interaction is the establishment of a definition of the situation. Individuals can control this definition in three main ways: by behaving in ways consistent with their identity, by influencing the behavior of others, and by resisting the identities that others, in turn, seek to impose on them. It is unlikely, however, that individuals are equally able to control meanings in the situation. Results suggest that those with more power are more able to behave in ways consistent with their identity, more able to impose an identity on their spouse, and more able to resis the identity that the spouse, in turn, seeks to impose. Power and the Ability to Define the Situation (Alicia D. Cast 2003) ref.

Written by Anjar Priandoyo

Januari 23, 2022 at 6:25 am

Ditulis dalam Science

Machiavellian intelligence

leave a comment »

Melihat anak-anak -usia sekitar kelas 2 SMA- menyeberang jalan, saya melihat fenomena yang menarik. Ada banyak kejanggalan yang terjadi: anak-anak tidak hati-hati (reckless), menyeberang tidak melihat kiri dan kanan. Tapi, ketika diconfronting mereka itu ragu-ragu, cenderung penakut. Ini berbeda sekali dengan orang yang lebih dewasa pada saat menyeberang jalan. Orang dewasa lebih percaya diri. Entah memutuskan untuk berhenti terlebih dahulu, atau memutuskan untuk tetap menyebrang jalan dengan percaya diri -yang jika diconfrontir mereka tidak akan ragu-ragu, mereka berani untuk tetap menyebrang.

Written by Anjar Priandoyo

Januari 23, 2022 at 5:48 am

Ditulis dalam Life

Dilema

leave a comment »

Akhir-akhir ini banyak persoalan dilematis yang membuat saya harus berpikir keras untuk memecahkannya. Contoh, apa yang harus saya lakukan jika ada orang yang berbuat tidak baik kepada saya. Mengingat apa yang terjadi pada ibu saya, saya menyimpulkan biarkan saja. “Gusti Mboten Sare” ini terbukti sekali, kesabaran ibu saya ini indirectly berbuah hasil yang sangat indah bagi anak-anaknya. Bias memang.

Tapi mengingat apa yang terjadi menjelang ujian, dimana saya merasa sangat panik, saya kemudian memutuskan tidur dan ternyata nilai ujian bagus, sepertinya saya harus mempercayai insting saya. Mempercayai dnegan lebih sistematis -mencatat dan mengevaluasi.

Written by Anjar Priandoyo

Januari 23, 2022 at 5:38 am

Ditulis dalam Life

Management

leave a comment »

Written by Anjar Priandoyo

Januari 22, 2022 at 10:47 pm

Ditulis dalam Society

Tagged with

Cerita Rokok

leave a comment »

Kesalahan terbesar yang dilakukan orang tua saya, salah satunya mungkin adalah tidak menyelesaikan usia pensiun pada waktunya. Kesalahan ini juga merupakan ketakutan saya terbesar sejak tahun 1995. Bapak kurang lebih berumur 40 tahun, saya duduk di bangku SMP. Situasi sebenarnya baik-baik saja pada waktu itu. Indonesia emas, 50 tahun kemerdekaan membawa optimisme dimana-mana. Meskipun demikian, pada era itu ketakutan orang tua saya mulai muncul. Pertama mulai banyaknya produk-produk korea, kemudian kompetisi dalam industri rokok -dimana bapak mengkhawatirkan rokok lokal seperti Djarum -bukan Rokok Mild.

Ketakutan saya mulai terbukti setelah bapak pensiun dini di usia 50 tahun. Tapi waktu itu optimisme tetap ada, mengingat saya dan kakak sudah selamat, sudah duduk di bangku kuliah. Saya tinggal menyelesaikan waktu kuliah. Bayangan saya, hari pertama saya duduk di bangku kuliah sebenarnya saya sudah dalam kondisi aman. Saya sudah bisa mencari kerja di warnet, saya sudah bisa mencari proyek -atau paling tidak mempunyai potensi untuk mencari proyek.

Every man has his weakness
Every man has his price
All things at Rome have their price

Ref: Muhammad Warsianto, Pelopor Rokok Mild. A Mild (1988), Bentoel Mild (1995), dan Clas Mild (2003) ref

Written by Anjar Priandoyo

Januari 22, 2022 at 6:16 am

Ditulis dalam Life

Management

leave a comment »

Written by Anjar Priandoyo

Januari 20, 2022 at 8:57 pm

Ditulis dalam Society

Tagged with

Kopi dan Umur

leave a comment »

Minat menulis saya biasanya tumbuh dalam kondisi terdesak. Stress adalah pangkal kreativitas. Dalam kondisi stress tinggi, biasanya kreativitas muncul. Biasanya juga kalau stress terlalu banyak orang malah jadi sakit -kontraproduktif. Mengelola stress ini gampang-gampang susah sebenarnya.

Beberapa hari ini saya mulai menyadari betapa tuanya saya. Hampir semua orang yang saya temui jauh diatas saya. Ada yang usianya 48 tahun tapi terlihat seperti 52 tahun, ada yang usianya 46 tahun, tapi masih terlihat 40 tahun, ada yang usianya 51 tahun, tapi masih terlihat 48 tahun.

Begitu juga sebaliknya, hampir semua orang yang saya lihat angkatannya adalah 2012, atau masih berusia 32 tahun, tapi sudah berasa sepantar dengan saya. Sepertinya saya harus mulai terbiasa dengan orang yang berada 20 tahun di bawah saya dan soon akan berada 30 tahun dibawah saya. ref

Written by Anjar Priandoyo

Januari 20, 2022 at 6:01 pm

Ditulis dalam Life

Tipe Orang

leave a comment »

Di kampus ada beberapa tipe orang. Tipe pertama adalah A1, ini adalah tipe pekerja keras yang hidupnya didedikasikan 100% untuk belajar, untuk pekerjaan. Tipe seperti ini adalah kesukaan organisasi. Saya, for sure bukan orang yang termasuk tipe A1. A1 ini biasanya singles, punya kemampuan fisik sangat baik, biasanya tidak terlalu punya kondisi kesehatan yang prima. Tipe A1 ini unik, suka lembur begadang mengerjakan tugas, tapi juga suka gampang sakit. Saya tidak bisa lembur begadang -bahkan pada era kuliah dimana anak-anak suka lembur, tapi saya relatif gampang sakit dibandingkan anak A1 tadi. Tipe A1 ini tipe brute force, muscle, alpha. Selain itu A1 biasanya punya kelemahan yang obvius, apakah dari ekonomi, fisik maupun sosial (umur) yang membuat orang tersebut menjadi A1.

Tipe kedua adalah A2, ini tidak suka bekerja, tapi cenderung menggunakan kemampuan teknisnya untuk survive. Secara kualitas, A2 ini dibawah dari A1, namun A2 cenderung mencari value lain, competitive advantage lain yang membedakannya dengan A1. A2 ini biasanya sudah berpasangan, meski ada juga A2 yang single. A2 adalah A1 yang menemukan comfort zone. A2 biasanya cinta damai dan merupakan tipe yang ideal untuk berteman.

Tipe ketiga adalah A3, ini juga tidak suka bekerja, tapi berbeda dengan A2 yang kecenderungannya adalah menggunakan kemampuan teknis, A3 ini cenderung menggunakan kemampuan non teknis -sosial skills. A3 ini kategorinya adalah Mad Man. A3 dikenal sebagai tokoh antagonis. Ada beberapa orang yang sebenarnya cocok di A2 namun kemudian menjadi A3.

Orang tipe A ini secara umum harus dihindari, sebagaimana stress yang tidak ada cara lain yang efektif selain di hindari, dibuat boundaries. Namun tidak semua orang menjadi tipe A, lebih banyak orang yang ada di tipe B. Tipe B ini menikmati hidup. Saya saat ini sedang berusaha untuk menjadi lebih B. Sayangnya, memang ada beberapa orang yang terpaksa harus menjadi A karena berbagai situasi dan kondisi.

Untuk orang-orang yang terpaksa memilih tipe yang tidak sesuai dengan karakter dia, karena berbagai kondisi. Misalnya, anak ekonomi yang harus banyak hafalan, padahal ia tidak suka hafalan, maka ia harus mencari, menyesuaikan tipe pekerjaan yang cocok dengan dirinya. Saya menemukan ada juga orang yang bukan A1 tapi memilih untuk jalur A1. Gpp sebenarnya, tapi ada baiknya ia mengambil jalur yang lebih sesuai, di A2 misalnya.

Written by Anjar Priandoyo

Januari 20, 2022 at 2:07 am

Ditulis dalam Career