Anjar Priandoyo

Bisnis pendidikan adalah bisnis yang paling menguntungkan

with 27 comments

Pendidikan, sebagaimana konsultan, sebagaimana arsitek adalah usaha berbasis jasa. Tidak ada produk yang dihasilkan, jualannya adalah konsep, oret-oretan, saran dll dkk yang pada tingkat-tingkat tertentu terlihat sangat abstrak. Misalnya konsultan untuk strategi pemasaran, hasil oret-oretan mengenai bagaimana seharusnya perusahaan menjual barang bisa dihargai sangat mahal. Tapi bagaimana dengan dampaknya, apakah sebanding? bagaimana pengendalian mutunya? pada prakteknya hal ini sangat sulit untuk diukur.

Kemarin sewaktu pulang ke Cirebon, ada beberapa institusi pendidikan disekitar rumah, salah satunya adalah Yasmi (Yayasan Martha Indonesia) disekolah ini terdapat Akpar (Akademi Pariwisata), Akbank (Akademi Perbankan) dan D1, D2 Ekonomi. Agak miris melihat kondisi kampus yang sepi, mahasiswa yang tahun ini bisa belasan orang, tahun sebelumnya tidak ada, tahun depan tidak tentu ini.

Herannya, dengan kondisi dan kualitas pendidikan seperti ini, bisnis pendidikan tetap lancar. Tetap membuka penerimaan baru, tentunya dengan janji-janji lulusannya dimana.

About these ads

Written by priandoyo

Desember 13, 2006 pada 1:23 am

Ditulis dalam uncategorized

27 Tanggapan

Berlangganan komentar dengan RSS.

  1. Perlu auditor sistem dan proses pendidikan kali ya.

    masuzii

    Desember 14, 2006 at 5:54 pm

  2. Dan melahirkan pengangguran2 baru..

    Coba lihat tulisannya Harry Sufehmi.

    Kunderemp

    Desember 20, 2006 at 2:19 pm

  3. Karena pendidikan dibisniskan itulah pendidikan jadi mahal soale mereka yang bergerak di bidang pendidikan sekarang ini orientasinya adalah keuntungan alias bikin sekolah sebagai profit center.

    Apa nggak seharusnya yayasan yang menaungi pendidikan itu diwajipkan untuk menjadi non-profit organization.

    Kang Kombor

    Desember 21, 2006 at 10:30 am

    • Setuju Bang! Mungkin skrg tanda-tanda kiamat mulai terlihat, shg sangat sulit mencari orang yang ikhlas. Betul tidak?!…

      ika

      November 24, 2009 at 8:03 pm

  4. entah kenapa bisnis di bidang pendidikan itu sangat menarik perhatian bagi mereka yang selalu ingin memanfaatkan situasi yang ga menentu, padahal negara kita sedang terpurung di bidang ini tapi kenapa mereka terus saja memanfaatkannya. Saya pun mungkin teman-teman satu kuliah sangat merasa bahwa kami ini sedang diperbudak dalam hal ini namun sekarang tuh susah banget mas yang namanya kesuksesan didapat.
    Kenaa juga pemerintah ga diperhitungkan dalam mengijinkan orang-orang yang gak bertanggung jawab demi masa depan kita

    agitz

    Desember 25, 2006 at 3:49 pm

  5. Seharusnya memang pemerintah memperketat ijin, tak sembarangan orang bisa membuat jasa pendidikan. Kalau kita lihat, banyak bisnis pendidikan yang tak bertahan lama (ambil saja contoh di kota Yogya), karena kekurangan mahasiswa.
    Yang benar dalam membuat bisnis pendidikan adalah yg diawali dari kecil, seperti membuat kursus yang nantinya berkembang menjadi bagus (contoh: binus…bukan berarti fans binus lho).

    edratna

    Desember 27, 2006 at 12:12 am

    • setuju mba..

      lbh setuju lagi klo mba ngasih tau gmn caranya, klo kita mau buka lembaga bimbingan belajar?? hehe

      rockeducation

      April 7, 2010 at 11:37 am

  6. Lembaga penyelenggara pendidikan itu sebagian besar berbentuk Yayasan. Padahal, yayasan kan non profit. Tapi nyatanya malah mahal-mahal ya :)

    Menimba ilmu lewat blog aja ach…

    asf

    Desember 27, 2006 at 2:41 pm

  7. Persoalannya tidak lah seindah yang kita lihat.
    Permasalahannya adalah, dalam kondisi ada permintaan atau peluang permintaan, tentu banyak calon-calon pemenuh permintaan. Permintaan potensial adalah calon mahasiswa atau pelajar. Jika dihitung, hampir semua lulusan SMA ingin kuliah, dengan segala alasan masing-masing. Disinilah awalnya.
    Pelaku-pelaku bisnis, bukan pengajar, guru atau dosen, inilah yang kemudian membuat pasar.
    Jika para calon mahasiswa ini punya kualitas permintaan yang tinggi, tentu kualitas pasar, dan seluruh pelakunya, akan tinggi pula. Sayangnya, banyak para calon mahasiswa atau pelajar yang ingin sekedar kursus atau kuliah.
    Di lain pihak, tuntutan akan kualitas yang tinggi membawa resiko tuntutan tersedianya dana yang besar, bahkan terbesar di dalam komposisi pengeluaran non fisik keluarga sehari-hari. Dari sini lah satu kendala mulai timbul.
    Dengan porsi calon mahasiswa yang besar yang mengalami kendala ini, sang pelaku bisnis mulai berhitung: menyediakan jasa dengan harga terjangkau. Alasannya tentu bukan karena calon pembeli yang mempunyai daya jangkau yang terbatas, tetapi lebih pada pertimbangan agar bisnis mereka bisa berjalan dan menguntungkan.
    Selain mahasiswa, pelaku bisnis pendidikan juga mengurusi pengajar. Pengajar yang berkualitas, akan ingin dihargai dengan bayaran atau gaji yang memadai. Namun pengajar yang banyak terdapat di negeri kita adalah orang-orang yang berkejaran mencari uang untuk makan. Kondisi ini cukup untuk menjadi alasan pelaku bisnis pendidikan memanfaatkan “nilai barang” yang rendah dari para pengajar yang jumlahnya lebih dari keperluan lembaga tersebut, artinya pengajar yang tersedia selalu “ready stock”
    Pelaku bisnis yang seperti ini tidak satu dua saja, tapi ribuan.
    Memang bisnis pendidikan tidak salah. Namun tujuan utama pendidikan itu sendiri bukan hanya pemenuhan kebutuhan si terdidik, tetapi lebih dari pada itu.
    Sekian dulu. Salam semua
    Wijono
    Malang

    Wijono

    Februari 4, 2007 at 8:48 am

  8. Saya suka sama kalian orang. Pendidikan emang dicari. Tapi ketika sistem yang dibuat pun pada akhirnya persis kayak pemerintah sih, sama juga boong. Saya punya anak skr. Msh SD. Sebetulnya saya malah tidak mau menyekolahkan anak saya. Tapi kasian dia. Jadi ?

    Ata

    Maret 1, 2007 at 3:44 am

  9. Bisnis di bidang pendidikan, sangat2 lah.. menguntungkan !!!
    ini bisa dilihat dari beberapa perusahaan besar, yang berlomba – lomba membuka Universitas, itu dapat dilhat dengan : Gramedia grup… yang rela melepaskan sahamnya di tv7 untuk membuka Universitas Cyber Multimedia (mungkin namanya salah, saya juga gak inget2 banget). Sampoerna dengan gedung sampoerna strategic square nya saat ini tidak terlalu fokus ke pendidikan tinggi tetapi lebih kepada course2. mungkin kedepan akan condong kearah universitas, lalu ada lagi Bakrie grup yang berencana membuka universitas, (waktu itu saya telah melihat master plannya disebuah iklan surat kabar). dan mungkin masih banyak lagi perusahaan lain yang akan mengikuti bisnis ini.

    Perusahaan – perusahaan tersebut berlomba – lomba, mencari mangsanya dengan memberikan janji – janji, bahwa lulusan dari universitas yang mereka bangun akan ditempatkan langsung ke unit – unit bisnis didalam grupnya, sehingga tidak diragukan lagi untuk tidak mendapat pekerjaan, dan menjadi pengangguran (itu pun kalo janjinya terbukti).

    Sehingga, sekarang orang – orang makin dibingungkan dengan bagaimana caranya mencari universitas yang berkualitas.!!! (walaupun masih terdapat PTN-PTN favorit yang Jatah masuknya telah dikurangi oleh orang – orang yang dapat membayar lebih tinggi).

    Dan yang saya heran, saat ini banyak sekali lembaga2 pendidikan atau yayasan – yayasan, yang beredar dimana – mana. hampir di setiap bagian di Jakarta ini, mau timur,barat dan selatan maupun utara. Terdapat sekali sekolah tinggi dan sebagai mana macam jenisnya… yang menawarkan pendidikan dan ijazah dengan biaya murah..

    Sekolah internasional pun tidak mau ketinggalan, kalo kita melewati jalan arteri pondok indah menuju jalan panjang jakarta barat. terdapat beberapa sekolah yang menawarkan program pendidikan internasional, belum lagi di waktu yang akan datang, Universitas chang / chong klo tidak salah (saya lupa namanya) berbasis mandarin akan di buka di sebuah kota di jawa. Itu saya lihat iklannya di sebuah Tv swasta beberapa waktu yang lalu. para investor dari dalam maupun luar berlomba – lomba menawarkan pendidikan. belom lagi universitas yang sudah branded seperti monash yang sudah membuka based college di jakarta. itu semua dilakukan untuk dapat menjaring mahasiswa yang biaya untuk hidup di luar negri pas-pasan. sebenarnya banyak universitas2 luar negri yang membuka kampus di jakarta ini.(walaupun berpedoman pada kurikulum luar).

    Jadi, kalo menurut saya. Pendidikan di Indonesia ini, benar – benar membingungkan. mau dibawa kemana tidak jelas. (ini dapat dilihat dengan munculnya universitas2…(sorry to say : yang Gak Jelas). apalagi dengan munculnya universitas2 yang membawa bendera perusahaan besar. Sehingga kita tidak dapat mengetahui sejauh mana kualitas dari setiap universitas.

    Yah, kalo boleh saran. sebelum amburadul seperti yang lain (bisnis perhubungan), yah tolong pemerintah mengeluarkan aturan yang ketat. tentang kualitas pendidikan. jangan sembarang ngasih ijin kepada orang – orang yang hanya mau menyedot uang tapi tidak mau memajukan bangsa.

    dan Itu semua kembali ke pribadi kita masing – masing. karena menurut saya lembaga-lembaga pendidikan itu hanya merk yang kita bawa saja. semua tergantung dari diri kita. apakah bisa mempraktekkanya. maka untuk teman – teman yang kuliah atau sedang menempuh pendidikan di universitas yang tidak / kurang reputable jangan berkecil hati. Tetap lah bersemangat. (ora et labora) !!!.

    Yang pasti. bisnis pendidikan sangatlah menguntungkan dan berprospek cerah. itu pun kalo dikelola dengan baik dan benar. dan bertujuan memajukan bangsa. Toh entar konsumen sendiri dapat menilainya.

    Wassalam
    - Johanes Baptista -

    Johanes Bapista

    Maret 1, 2007 at 7:01 am

  10. betul mas Johanes, makin mumet sekarang lihat kondisi pendidikan di Indonesia :( yang punya duit yang makin pinter

    priandoyo

    Maret 2, 2007 at 1:22 am

  11. Saya juga heran dg keadaan sekarang ini. Saya pernah pergi jauh ke pedalaman 2,5 jam dari Palembang di Sekayu, Musi Banyuasin, di sepanjang jalan banyak kursus komputer, dan AMIK ini AMIK itu..

    Begitu juga di sekitar Jambi, sepanjang sungai Batanghari (?) banyak AMIK x dan AMIK y..

    Kayaknya kalau bukanya cuman D1 atau D3 (program diploma), mungkin mahasiswa masih ada, asal jangan S1 saja. Tp di sekitar rumah saya di Pondok Gede D1, D2, dan D3 BSI rame kayak dirubung semut, pagi, siang, sore, malam..

    Intinya, lebih baik mendirikan lembaga pendidikan “franchise” macam BSI atau LIA lebih menarik banyak siswa daripada bikin sendiri AMIK “aku bisa” atau AMIK “semua bisa”…

    tridjoko

    April 18, 2007 at 12:54 am

  12. Wah ini menarik nih, D1-D3 malah lebih laku ya dari pada S1 wah wah, baru tahu. Bener2 deh ternyata business oriented banget

    priandoyo

    April 19, 2007 at 8:26 am

  13. saat ini… kita memang tenggelam informasi diwaktu yang sama kita lapar akan ilmu

    hbib

    Januari 27, 2008 at 10:09 am

  14. wah telat nih, tapi ngga apa2 sekedar urun rembug…
    menurut saya bisnis pendidikan bukan hanya bicara mengenai untung rugi dan idealisme pendidikan nya itu sendiri yang tersusun secar terpisah.
    Dalam Bisnis kita mesti bisa menyelaraskan sebuah Idealisme pendidikan dengan idealisme bisnis, banyak nilai2 pebdidikan yang disalah artikan, ilmu yang harusnya ditebar menjadi sebuah barang mewah yang dijual dengan harga yang menggiurkan.
    Tapi idealisme pendidikan tanpa konsep bisis yang matangpun ngga ada gunanya, hanya akan menjadi impian2 dan teori2 tanpa ada kiprah realnya.

    yuke

    April 21, 2008 at 8:48 am

  15. “…menurut saya bisnis pendidikan harus kita garap sebagai bentuk bisnis yang bersifat aset penting harus dikelola dengan menejemen yang benar. Profit orientasi juga harus asal jangan jadi tujuan dengan harga mati, artinya penangannya yang serius. Karena budaya Indonesia kalo ga ada duitnya penangannnya kurang semangat…”

    ade bachtiar

    Agustus 13, 2008 at 6:17 am

  16. haiii…bisnis pendidikan jgn lupa lho sekalian amal buat akhirat… ilmu hrs di tularkan lho…ilmu yg bermanfaat…pastinya.

    Tian Miang

    Desember 3, 2008 at 9:18 am

  17. hanya urun rembuq aja, menurut saya, berbeda antara pendidikan dan sekolah. yang dikatakan bisnis pendidikan selama ini ya alatnya adalah sekolah. sekolah punya tujuan untuk pendidikan, tetapi apakah setelah kita sekolah pasti akan sampai pada yang namanya pendidikan… (belum tentu)..
    buktinya sekolah bermacam macam pun masih banyak orang menganggur… itu artinya tidak sampai pada tujuannya, yaitu pendidikan.
    Saya setuju dengan Bob Sadino, untuk sampai ke pendidikan yang kita harapkan ialah adanya Deschooling proses.
    maksudnya adalah, membumikan kembali konsep2 disekolah ke dalam “kenyataan yang ada”…
    Insya Allah gak ada pengangguran lagi…
    bukankah pengangguran cuma sebutan bagi orang2 yang tidak punya harapan, karena mengharapkan belas kasih orang untuk memberi pekerjaan…
    boleh setuju boleh tidak..
    bravo pendidikan indonesia

    ari ari

    Desember 5, 2008 at 7:57 am

  18. pendidikan emang diperlukan di negara ini. bahkan disemua negara. biar anak muda bangsa bisa djadikan aset bernilai tinggi untuk kemajuan bangsa. tapi kalo semua bilang bahwa pendidikan adalah bisnis yang paling menguntungkan, mungkin benar, karena pendidikan akan terus berjalan dan ga pernah mati.
    pendidikan juga banyak mecemnya, dalam arti luas pendidikan bukan cuma sekolahan, tempat les juga bisa dibilang tempat pendidikan.
    saran saya, buat orang yang ingin membuka universitas atau usaha pendidikan lainnya, sebaiknya tetep menjaga kualitas pendidikan yang ditanamkan dan menomor satukan kualitas bukan kuantitas orang yang mendaftar.

    me

    Maret 21, 2009 at 5:25 pm

  19. sy setuju bisnis pendidikan mmg plg sip,….

    aries - psw

    April 20, 2009 at 4:13 am

  20. untung gua lulusan negeri…

    budi

    November 24, 2009 at 2:03 pm

  21. wahh makin hari makin banyak peminat yang mau buka yayasan pada lirik profitnya ya.. kalu itu ma wajar mereka bisnis buka ibadah membantu indonesia yang dia inginkan kan uang dan uang terus tampa pikirkan dampaknya bagi bangsa dan negara betul

    aris

    Januari 6, 2010 at 4:10 am

  22. Anggaran pendidikan aja dari tahun ke tahun semakin banyak. Memang pilihan tepat untuk fokus ke bisnis pendidikan.

    http://www.ilmci.com

    franchise pendidikan

    April 14, 2010 at 1:28 pm

  23. aku stuju bget klw bisnis diterapkan dalam penddkn!!!

    liria

    April 27, 2010 at 4:04 am

  24. mbak gmna klw klmpknya lgsung masuk kesklh2 biar lebih nyata.

    liria

    April 27, 2010 at 4:07 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 475 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: