Anjar Priandoyo's Shortcut

Simple Career Advice for Everyone

Apakah kebijakan TI perbankan kita tidak komprehensif?

with 13 comments

“…Apalagi hasil survei lembaga riset telematika kami, Sharing Vision, menunjukkan bahwa penyebab utama alih daya perbankan Indonesia adalah akibat kurangnya SDM internal yang memadai. Maka itu, outsourcing data penting perbankan ke luar negeri hanya akan membuat Indonesia sulit melakukan berbagai kontrak kerja dengan pihak manapun akibat SDM lokal tidak ada yang memahami persoalan.

Pengolahan data penting di luar negeri selain membahayakan kedaulatan nasional, juga membuat mayoritas profesi bankir di Indonesia tidak begitu lagi diperlukan. Perbankan hanya bisa mentransformasikan dirinya sebatas gerai tempat dilangsungkannya cash in, cash out, dan unit customer services semata.

Dengan demikian, BI harus segera mengatur lebih jelas implementasi alih daya data center dan core banking system ini. Tanpa arahan lebih jelas, maka bersiaplah menghadapi keruntuhan industri TI nasional akibat kemampuan SDM lokal yang terus menurun…”

Dimitri Mahayana dalam Menyoal kebijakan TI perbankan yang tidak komprehensif. Dosen Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika ITB/Chairperson
Lembaga Riset Telematika Sharing Vision Bandung. Bisnis Indonesia 14 May 2007.

Komentar
Fakta pahit yang disampaikan Dr Dimitri ini memang sudah kenyataan di negeri ini, jangan jauh-jauh ke banking industri kan hampir seluruh industri yang terjadi seperti itu SDM internal memang kurang. Jadi saran saya jangan menakuti-nakuti dengan

bersiaplah menghadapi keruntuhan industri TI nasional akibat kemampuan SDM lokal yang terus menurun

kita semua tahu kok,
*kesannya jadi berlebihan, malah jadi ga percaya

Auditor Thinks:
Biasanya memotivasi orang dengan memberikan gambaran kesempatan dan peluang akan lebih efektif daripada sekedar menakuti-nakuti akan sesuatu hal yang sifatnya temporer.
Maju Indonesiaku

Written by Anjar Priandoyo

Mei 14, 2007 pada 12:39 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

13 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. btw produktif banget nulisnya :)

    arul

    Mei 14, 2007 at 3:23 pm

  2. calon dosen,
    calon mantan auditor jugak :D

    papabonbon

    Mei 14, 2007 at 4:30 pm

  3. hmm , kalau saya bacanya beda, Njar.
    Pak Dimitri, adalah ketua lembaga riset. Kemudian beliau berpendapat …

    BI harus segera mengatur lebih jelas implementasi alih daya data center dan core banking system ini. Tanpa arahan lebih jelas, maka bersiaplah menghadapi keruntuhan industri TI nasional akibat kemampuan SDM lokal yang terus menurun…

    Jadi BI tahu kan harus mengontak siapa? he he :)

    wikan

    Mei 14, 2007 at 6:04 pm

  4. sebenarnya ada cara mengatasi hal tersebut. tapi apakah pemerintah, perbankan, dan universitas siap melakukannya? karena setiap rencana yang bagus hanya dapat diaplikasikan dalam rentang waktu yang tidak sekejap.

    dengan mental instan dan mau mudahnya saja, mungkin kita memang harus siap menerima kenyataan bahwa suatu saat negara kita hanya akan menjadi sapi perah dan pasar bagi perusahaan2 kelas dunia.

    andri

    Mei 14, 2007 at 11:35 pm

  5. Mmm gue agak bingung baca tulisannya Mas Dimitri, karena dia gak menyebutkan data bank yang melakukan alih daya data penting ke luar negeri. Sepertinya Mas Dimitri memaksa untuk mengangkat fakta (?) itu untuk mendukung kekhawatiran soal perhatian terhadap SDM IT lokal di dunia perbankan.
    Setahu gue, untuk cabang-cabang bank asing sudah pasti ada koneksi dengan hub di regional atau HQ nya, tapi servis IT untuk operasional lokal tetap ditangani IT lokal, dengan DRC lokal juga.
    Oh ya, setahu gue juga, tahun ini BI berencana mengeluarkan peraturan terbaru tentang TI perbankan. Beda dengan peraturan terakhir yang tahun 90an itu, peraturan terbaru ini sudah mengadopsi CoBit 4.0. Harusnya sih masalah yang diangkat mas Dimitri itu sudah di-address dalam peraturan terbaru itu.

    aresto

    Mei 15, 2007 at 12:31 am

  6. Anjar,

    Coba baca lagi dengan teliti, kadang berita tak dikutip secara penuh yang dapat menyebabkan salah interpretasi pembacanya…jangan2 salah kutip. Saya tahu pak Dimitri menjadi konsultan IT di beberapa Bank BUMN, tetapi …apa yang dimaksudkan data di outsourching ke Luar Negeri…betulkah beliau berpendapat demikian (jadi pengin nanya pak Dim…saya kok merasa ada yang salah dengan kalimat ini)…..atau Anjar mau japri ke email pak Dim?) Ntar tak kasih tahu alamatnya).

    Kalau Bank Asing, seperti yang dikatakan oleh Aresto, memang betul…dan ini wajar kan pusatnya di luar negeri. Dari beberapa kali studi perbandingan di perbankan LN, pengolahan data umumnya centralized…sehingga cabang-cabang di LN hanya marketing saja. Setahu saya, untuk Bank di Indonesia juga demikian, data secara centralized.

    Dan yang jelas, yang bisa mengaudit IT perbankan di Indonesia hanya BI, jadi BI lah yang tahu persis peta IT perbankan di Indonesia. Konsultan hanya sekedar sparring partner, tak tahu persis detil nya, karena kerja konsultan selalu didampingi oleh staf internal, dan tidak bisa mengakses langsung.

    edratna

    Mei 15, 2007 at 1:01 am

  7. saya sendiri sebagai pelaku IT di perbankan ( data center department) merasa faktanya tidak seperti yang dibilang pak dimitri tsb.. setau saya bank-bank nasional baik itu BUMN ato swasta untuk IT servis, DRC semuanya lokal kok

    ali

    Mei 15, 2007 at 1:41 am

  8. setuju dengan bu edratna, utk bank asing mungkin akan butuh dana besar kalau mau membangun data center di tiap negara cabangnya, sehingga memang centralized system akan jauh lebih efiesien dan efektif; cuma musti dipikirkan akses bagi otoritas perbankan negara cabang nya utk bisa melakukan audit IT di data center tsb. jadi misalnya citibank harus bisa menjamin kalau data nasabah indonesia yg disimpan/diolah di singapore bisa di audit oleh auditor BI dan diizinkan oleh otoritas perbankan di sana (MAS).
    kalo utk bank lokal setau saya sepertinya data center mayoritas masih berada di indonesia (palingan yg di taruh diluar adalah DRC saja seperti bca). bri sendiri kalo tidak salah drc nya masih di bali (cmiiw).

    it perbankan menurut saya cuma secuil dari it industry keseluruhan sehingga terlalu berlebihan kalo bilang it indutry secara nasional akan runtuh kalo ada alih daya / eksodus it expert perbankan ke LN . pengalaman saya dulu di it perbankan banyak rekan kerja saya yg dibajak ke LN (malah kadang hampir bedol desa istilahnya) tp nyatanya operasional IT di tempat saya bekerja aman-aman aja tuh :) kuncinya ya regenerasi yg tepat waktu dan tepat guna..

    dan juga hasil riset beliau (dimitri) yg menyatakan alih daya dikarenakan sdm it nasional yg kurang kompeten kok sepertinya terlalu naif ya.. bukti nyata banyak it profesional di bidang perbankan yg dibajak ke luar negeri.. artinya apa? ya berarti kualitasnya memang bagus & ga perlu diragukan lagi dan memang bisa bersaing di LN.

    jd kembali spt kata rekan wikan diatas yah..namanya jg konsultan ;) ga ada ‘issues’ ya ga ada ‘fulus’ :) he.he..he..

    osinaga

    Mei 15, 2007 at 5:11 am

  9. wah menarik sekali
    kebetulan saya baru join di dunia IT perbankan tapi masih di level rendah (Helpdesk support) di salah satu bank swasta yang beberapa bulan ke depan bakal implemen sistem baru untuk core banking sistemnya, buatan luar negeri lho :P

    tapi yang saya dengar semenjak bank ini mulai computerized system, Core Banking Sistemnya sendiri di develop oleh lokal orang2 kita. nah siapa yang lebih baik, kita lihat nanti

    moyo

    Mei 15, 2007 at 3:36 pm

  10. Mas Anjar, saya kadang-kadang sering bingung juga dengan komentar orang TI, yang kadang sering menyimpulkan sesuatu tanpa data yang kuat. Apa ia negara kita dah separah itu?

    Swa minggu ke 2 Mei ini membahas The best E-corps 2007, penerap sistem TI terbaik. Terpilih 25 perusahaan; 7 dari perbankan, 6 perusahaan kategori resource based, 4 financial non perbankan, 8 kategori jasa, 6 manufaktur dan 4 perusahaan kategori logistik dan distribusi. Aspek penilaian penerapan IT adalah; Contribution to the company (50%) IT Strategi (25%) dan IT Governanne dan Culture (25%). Kalau dari ulasan Swa ini ternyata perusahaan di Indonesia juga dah pada maju dalam aplikasi TI.

    Tapi kaget juga yang berada di peringkat 1 adalah Bank Mandiri. Sewaktu terjadi ganguan sistem TI bank Mandiri pada 11-12 Oktober tahun 2006 kayaknya cukup ramai juga dibicarakan. Banyak yang mempermasalahkan IT Governancenya dsb. Saya baca disalah satu media yang mengatakan “Bank Mandiri harus mempertanggung jawabkan investasi senilai US$200 juta” Tapi di SWA ini bilang investasi TI Mandiri adlah US$ 2,432 juta. Berapa kali lipat tuh bedanya? Kayaknya masalah apa yang dianggap investasipun orang TI masih belum ketemu kata sepakat cara ngitungnya barang kali ya?

    Yang saya tahu perusahaan yang sudah highly regulated soal TI, punya standar recovery bencana dalam toleransi waktu 4 – sampai 5 jam. Tapi Mandiri down sampai 2 hari. Pasti merugikan banyak pihak, dan meningkatkan peluang fraud atau manipulasi data selama itu. Herannya masih juara 1 dalam pemeringkatan di SWA. :)

    idrianita

    Mei 16, 2007 at 3:41 am

  11. @ indrianita

    Info yang saya denger, masalah mandiri tsb karena versioning OS corebanking yang kurang prudent (cmiiw).
    bicara masalah recovery data mang ga semudah membalikan tangan, karena rata2 DRC yang ada blom serupa lagian keputusan pindah ke DRC itu da di direktur ( menurut SOP he..he)..

    ali

    Mei 16, 2007 at 9:33 am

  12. […] Dimitri Mahayana, ITB, Bisnis Indonesia 14 Mei 2007 Apakah kebijakan TI perbankan kita tidak komprehensif […]

  13. kira-kira alurnya begini;
    bolehkan bank-bank di indonesia meletakkan data center utama mereka di luar negeri? jika boleh … bisa dibayangkan, di kita hanya kantor cabang yang tidak memiliki data utama (kan centralized). :p Alasannya di luar negeri? Lebih terjamin kualitasnya.

    Tapi … bisakah BI menjangkau mereka untuk memastikan mendapat akses ketika dibutuhkan? Perlu diingat bahwa perusahaan di sebuah negara tertentu harus patuh terhadap aturan di negara tersebut, bukan terhadap institusi di negara lain. Nah lho.

    Tambahan lagi, (ini dari milis komunitas kemananan indonesia) outsourcing ke luar negeri untuk hal yang critical dianggap berbahaya oleh pemerintah Amerika Serikat. Nah lho. Kecuali memang kalau perbankan itu tidak dianggap penting, ya lain soal.

    Budi Rahardjo

    Mei 24, 2007 at 2:45 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: