Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Mimpi gelombang ketiga!

with 12 comments

Hidup adalah sebuah siklus siklik yang berulang, sebuah kejadian yang terjadi dimasa lampau akan berulang kemudian dimasa depan. Seorang anak yang melakukan kesalahan menghamili anak tetangga bisa jadi kakek buyutnya punya track record yang memungkinkan hal itu terjadi. Maka sebenarnya penting bagi kita untuk mempelajari sejarah dan tentunya menghormati para pelaku sejarah tersebut.

“Di perusahaan gua urut kacang Njar, selama si bos belum mati ya gua ga bisa naek pangkat. Ya gini deh, tiap hari sebenarnya gua meradang, dongkol tapi bos ekspat gua seakan mencibir bilang, Emang lu kira gampang cari kerja dengan gaji segini disini”

Celoteh seorang teman yang konon bekerja di perusahaan Asia timur dengan gaya manajemen berdasarkan senioritas, dimana kerja adalah bentuk penghormatan terhadap berkah kehidupan.

Dikesempatan yang lain seorang teman pernah bercerita
“Jadi Njar kalau Temasek ga beli saham bank ini tahun 2003, artinya tidak akan ada rekrutmen besar-besaran si Bank mbajak karyawan kompetitor. Artinya gw gak akan diterima disini, artinya gw gak mungkin jadi VP dan ga mungkin ngajak kamu makan di Syailendra siang ini, artinya hari ini mungkin gua masih vouching ga jelas di Sunter”

Krisis 98 merupakan gelombang pahit dalam dunia tenaga kerja di Indonesia. Tidak terhitung cerita duka akibat kehilangan pekerjaan, restrukturisasi gaji, pensiun dini dan segala strategi pahit HR tahun-tahun itu. Tapi, apa yang terjadi? 4-5 tahun kemudian Temasek membeli Bank, Telekom Malaysia membeli operator dan berubahlah peta politik kantor. Ada kesempatan untuk jadi manager dalam bidang yang baru, ada kesempatan regionalisasi, ada lowongan manager network implementation baru.

Mungkin takdir, gelombang pertama 98 yang meluluhlantakan sektor ekonomi kita ternyata dibelakangnya menyusul gelombang masuknya investor asing yang memberikan kesempatan kita melakukan mobilitas vertikal.

Apa yang bisa kita prediksi 5 tahun kedepan? 5 tahun kedepan sebenarnya kita cukup punya energi untuk naik ke jenjang yang lebih tinggi. Jadi GM kah? jadi VP kah? atau punya perusahaan sendiri dengan aset 20x lebih besar kah? Tapi untuk mewujudkan mimpi itu, mungkin omong kosong kalau caranya adalah kerja keras. Perlu lebih dari sekedar keajaiban, perlu keberuntungan, perlu kemampuan membaca arah angin.

Oh Tuhan, kumohon, munculkan lagi krisis bagi republik ini

* krisis = bahaya dan kesempatan

Written by Anjar Priandoyo

Juli 3, 2007 pada 11:57 am

Ditulis dalam Career

12 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. tiap 10 tahun bukannya emang krisis? malah banyak perusahaan yg menanamkan sense of crisis setiap detik setiap waktu. semua diakui sebagai “perusahaan kita dalam kondisi krisis…”, jadi kita harus melakukan efisiensi, penghematan. fast execution dan cost innovation.

    kerjakan yg berdampak besar lebih dahulu. :) yaitu pindah kerja ke tempat baru :p

    papabonbon

    Juli 4, 2007 at 1:24 am

  2. Setuju, kerjakan yang berdampak besar dahulu. Hmm berarti 2008 ini bakal krisis lagi ya bang.

    *untung dah nikah :P hehe

    priandoyo

    Juli 4, 2007 at 1:45 am

  3. sejujurnya ketika kemarin kirim analisa makro perekonomian indonesia sih, angka angkanya prospek positif semua. :) gak ada alasan buat takut krisis 1-3 tahun mendatang.

    tapi kalau bilangnya cuman, lihat dari tren dan feeling, kok yah, cupu banget huahahahha

    tapi buat level global, untuk yg kerja di manufaktur elektronik, terutama yg urusannya ama display, produk korea sedang tergusur oleh produk china. terutama di lcd tv. harga anjlok gila gilaan. di indoensia levelnya lagi untung gila penjualan besar besaran, tapi di negeri asalnya justru lagi kere abis.

    untuk industriku sekarnag, bisa liat berita koran 2-3 hari terakhir, kenaikan harga susu rupanya jadi polemik masyarakat. padahal setahun emang biasanya naik tiga kali. tapi yg sekarang ini dianggap signifikan oleh masyarakat.

    prediksiku sih, faktor global yg lagi bekerja. kalau lihat dari parameter dalam negeri aja, so far so good. kayak jaman babe dulu, “fundamental ekonmi kita kuat”, toh kenyataannnya bangkrut juga …. :)

    papabonbon

    Juli 4, 2007 at 2:32 am

  4. kemarin sempat browsing tren di dunia telekomunikasi. kalau lihat daftar 100 orang terkayanya forbes, maka sekitar 10-20 orang adalah master di bidang telco. masalahnya, telco di eropa dan lain lain justru lagi remuk. kayak hutch aja nilai sahamnya turun terus.

    makanya mereka banyak yg ekspansi ke negara negara timur tengah dan asia – kayak indonesia. sebagai pemain baru, kayak hutch ini malah mainnya di gsm yg sebenarnya teknologi eropa ini gak cocok buat negara luas kayak indoensia. dan hutch ketika masuk indoensia gak bisa jualan 3G, dimana ini adalah andalannya di luar negeri.

    ekspansi masuk ke pasar asia tenggara tapi tanpa bisa menerapkan core competennya ini menurut aku adalah tanda perusahaan yg desperate asal bisa survival dan keliatan lagi ekspansi aja.

    kedepannya kalau hutch gak main di kota kota besar aja buat layanan 3G, bisa jadi dia kedodoran, kena gebuk cdma.

    nah strategi desperate, asal ekspansi ini yg menurut aku sinyal global, kalau di wilayah luar sana ekonominya lagi desperate. akankah berdampak ke indoensia ? perlu buka mata lebih lebar lagi nih. hehehehe

    papabonbon

    Juli 4, 2007 at 2:38 am

  5. bentar lagi devh kayaknya, krisis gelombang ketiga, mudah2an saya dah lulus kuliah…he…hee…

    the23wind

    Juli 4, 2007 at 12:39 pm

  6. Krisis = kritis = kritikal?
    Krisis yg berati bahaya, bisa berarti awas… Hmmm

    Bro Anjar, kita bisa aja berharap krisis itu datang asal dampak mikro-makronya terkontrol… juga dampaknya pada setiap level juga positif:

    1) bagi individu adalah oportuniti, tapi plz korbannya begitu banyak. manusia lebih senang cari solusi sendiri2.. Kapan kita berpikir komunal dikit, kasian rakyat kebanyakan… Jgn karena sebagian org lebih siap lalu krisis menjadi blessing in disguise

    2) pada level masyarakat costnya terlalu besar. angka kemiskinan aboslut meningkat tajam dan secara riil daya beli masyarakat menurun. lalu apa yg mau diputar oleh ekonomi selain menjual kekayaan negara dan menimpakan utang di setiap pundak bayi-bayi yg bahkan belum lahir?

    So plz, just forget the crisis ….

    ilham

    Juli 4, 2007 at 5:24 pm

  7. Hindari comfort zone, dan selalu pindah dari kurva satu ke kurva lainnya. Selalu ikuti perkembangan perusahaan, dimana kita bekerja didalamnya. Dan ikut dalam tim perubahan jika ada perbaikan, agar kita mengetahui persis posisi perusahaan, sedang berada di titik mana pada Sigmoid Curve (kurva S).

    edratna

    Juli 5, 2007 at 1:28 am

  8. saya cenderung sependapat dg Ilham. Rakyat Indonesia tidak cepat belajar. Krisis merupakan blessing dan cambuk bagi sebagian kecil orang saja. Lebih banyak yang tidak siap dan hancur karena krisis. Lihat saja Asian crisis yang dampaknya sangat lama di Indonesia sedangkan negara2 tetangga kita sudah bangkit dan berlari lagi.

    Dan sampai sekarang? we haven’t learnt properly. Masih aja pemerintah tersendat, politisi menjadi provokator, hukum jadi mainan, dan rakyat memble/rakus. Baca bagaimana rakyat “memeras” balon gub DKI dg puluhan proposal setiap hari, kemudian rakyat yang sama berteriak keras soal good governance? OMG.

    Kalau saya berharap tidak ada krisis besar, dan juga supaya gap horizontal menyempit (naik ke atas bersama, bukan miskin bersama). By then, we’ll be ready for every possible crisis.

    Kalau sekarang krisis lagi, akan lebih banyak korban. Mungkin bukan kita, krn kita mungkin lebih gampang cari selamat bahkan untung. Tapi consider 150 juta orang lain…

    fau

    Juli 5, 2007 at 5:53 am

  9. intinya adalah belajar,belajar dan terus belajar…. dan dgn adanya krisis malah bikin kita bisa lebih mengeksplor diri n kemampuan kita…. niat baik + kerja keras = sukses

    indah

    Juli 5, 2007 at 9:38 am

  10. Kata ekonom Sri Adiningsih nih, ekonomi Indon ini dah masuk kategori ‘bubble’. Lha gmn gak bubble, wong investasi tidak langsung 600-an T, cadangan devisa 50-an T. Sewaktu2 investor jangka pendek itu cabut, ya wassalam lah kita …

    Sektor riil yg bergerak baru sektor pariwisata, yg ini pun barusan dihantam sama larangan UE thd maskapai Indon. Tingkat hunian gedung perkantoran di Jkt blm cukup tinggi seperti sebelum krismon. Yg banyak dibangun malah mall2 yg notabene kurang menggerakkan sektor riil yg punya kandungan nilai tambah tinggi, karena yg terakhir dah digilas sama produk2 Cina yg murah2 itu. Mall2 baru sekarang2 ini malah banyak yg iddle-capacity. Artinya, orang2 jg masih prefer maen saham yg skrg jg lagi hot, drpd investasi jangka panjang ke space2 di gedung kantor or mall. Sektor properti lain kyk perumahan dan apartemen jg ndak cerah2 amat. Ini juga cuman mengandalkan nilai apresiasi kayak saham.

    Kebijakan SBY utk UKM juga rasanya masih setengah hati doang. Lha gimana, wong infrastruktur pendukungnya aja ndak diperbaiki. Ga usah jauh2 dah, dari dulu jaman Belanda, itu rel kereta masih itu2 aja, belon dibikin double-track, yg mustinya bisa mendorong mempercepat pergerakan barang dan jasa. Kredit konsumsi makin gencar ditawarkan

    Kutu_kupret

    Juli 5, 2007 at 12:24 pm

  11. […] dengan tulisan mengenai krisis -pernah saya ulas sebelumnya- krisis (merger, akuisisi dan teman-temannya) juga membawa konsekuensi adanya bahaya dan adanya […]

  12. Gelombang Ketiga seperti isu yang lagi bergulir sebenarnya udah bukan sesuatu yang luar biasa karena sebenarnya sejak runtuhnya zaman orba pemerintah kita belum bisa menentukan arah kemana tujuan indonesia yang ada kamuflase indicator ekonomi yang disesuaikan dengan keadaan tanpa pemperhatikan kondisi sebenarnya masyarakat kita yang sudah kehilangan purchasing power ( daya beli) ditambah lagi angka penganguran dan kemiskinan yang dibiarkan tanpa ada solusi ditambah dengan living cost yang semakin mahal selaju tingkat inflasi yang tidak terkontrol segala bentuk hajat hidup orang banyak dikuasai oleh minoritas dan dimonopoli so seharusnya kita bisa belajar dari keadaan bukan membiarkan oya buat teman2 met menjalankan ibadah puasa ya terus kuatin iman deh dan tetap jalankan tujuan yang sudah direncanakan dan terus dimonitor perkembangannya ok

    faizal

    September 13, 2007 at 3:03 am


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: