Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Pilihan Kampus dan Karir: Antara Ketidakpastian dan Bias

with one comment

Ada beberapa pertanyaan di dunia ini yang tidak bisa dijawab. Contohnya, “Mana yang lebih baik kuliah di Ilmu Komputer UI atau Ilmu Komputer UGM”. Pertanyaan ini tidak bisa dijawab karena pertama, saya adalah alumni UGM, tentunya jawaban saya akan bias, berpihak pada UGM, akibatnya semua jawaban saya akan berpotensi menyakiti salah satu pihak, bahkan bila saya menjawab netral pun akan ada pihak yang merasa dirugikan. Kedua pertanyaan ini tidak setara, karena untuk masuk ke UI/UGM ada proses seleksi, dimana seleksi tersebut tergantung dengan hasil UMPTN, biaya universitas, hingga preferensi kota.

Contoh, saya tidak bisa menjawab bahwa pilihan saya ke UGM karena biayanya murah, letak kampusnya di Jogja dan sangat dekat dengan sekolah saya di Magelang, padahal alasan saya sebenarnya memilih Jogja adalah agar saya bisa mengikuti seleksi AKABRI ditahun kedua setelah tahun pertama gagal. Lokasi Jogja adalah lokasi terdekat untuk seleksi AKABRI. Pertanyaan ini menjadi juga tidak dijawab apalagi karena ada banyak hal yang tidak diketahui pada saat keputusan dibuat. Pertanyaan ini sebenarnya sama seperti orang yang mengocok dadu, kemudian dari angka yang keluar, menyatakan bahwa angka yang paling baik adalah angka tiga -misalnya.

Kalau dari pilihan kampus saja sudah merupakan pilihan yang tidak bisa dibandingkan, apalagi dengan pilihan pekerjaan mana yang lebih baik, apalagi dengan kebijakan mana yang lebih baik? yang parameternya jauh lebih kompleks dibandingkan pilihan kampus?

Menurut saya, saya mencoba menjawab pertanyaan diatas dari sisi praktis saja. Contohnya pilihan kampus, buat saya pribadi, pilihan kampus adalah sesuatu yang tidak bisa dibandingkan. Contoh bagaimana mungkin memilih UGM bila rumah saya di Depok dan skor UMPTN saya tinggi jadi pasti dengan alasan apapun saya akan memilih UI. Namun pilihan kampus, bila untuk orang lain maka itu bisa dibandingkan dan tentunya bias. Contoh, ketika saya memberi nasihat ke orang lain, pilihan kampus yang mana yang lebih baik, saya bisa memberikan berbagai argumen, tanpa sadar bahwa ada beberapa argumen saya yang tidak benar, tidak setara dan bias.

Mana jawaban yang paling baik
Kesimpulannya, selain banyak hal tidak bisa perbandingkan, tidak bisa dijawab, banyak hal penjelasan dan nasihat yang juga bias. Tugas kita sebenarnya adalah melihat, mana pernyataan yang bias, kemudian menentukan mana pernyataan yang paling tepat. Namun apakah sifat analitif ini selalu benar? belum tentu juga, orang yang terlalu lama memutuskan juga memiliki kelemahan ketika harus membuat keputusan dengan cepat.

Kembali ke pertanyaaan diatas, mana yang lebih baik antara UI dan UGM, saya sendiri lebih senang menjawab bahwa keduanya sama-sama baik. Sama seperti pertanyaan mana yang lebih baik antara PTN dan PTS, keduanya juga sama-sama baik. Yang tidak baik adalah yang tidak belajar pada saat UMPTN dan tidak serius saat menjalankan kuliah. Bila orang tersebut sudah berusaha maka selanjutnya orang tersebut tidak perlu membandingkan satu dengan yang lainnya.

Berkarir sebagai Dosen atau Kerja di Kantor
Ilustrasi pilihan kampus diatas sebenarnya untuk membantu menjelaskan pilihan yang juga sama-sama sulitnya, yaitu mana yang lebih baik antara menjadi dosen atau bekerja dikantor. Namun untuk melihat konteksnya beberapa informasi mengenai pilihan tersebut perlu disampaikan antara lain, 80% orang menyadari bahwa kompetisi menjadi dosen berat, 60% orang memilih jalur non akademik, adanya kebutuhan dan tantangan untuk pengembangan dalam ilmu pengetahuan. Dan sama seperti ilustrasi pilihan kampus diatas, pilihan karir juga ada alasan alasan tertentu yang kita tidak tahu dan tidak bisa dibandingkan.

Alasan-alasan yang tidak bisa dibandingkan dalam karir juga sama dengan alasan dalam pilihan kampus. Kalau kampus yang menjadi alasannya adalah seleksi, biaya dan preferensi sekolah. Maka untuk karir faktornya adalah keahlian, bisnis, pengalaman. Sama seperti kampus tadi, tiga faktor yang mempengaruhinya Expertise (seleksi, keahlian, merit), Economical (Biaya, Bisnis, Uang) dan Experience (preferensi, pengalaman, personal choice)

Keahlian adalah salah satu faktor yang tidak bisa dibandingkan. Contoh lulusan hukum memiliki kekhususan untuk berkarir sebagai hakim, jaksa, pengacara yang hanya bisa ditempuh dari jalur hukum. Lulusan hukum, memiliki lapangan pekerjaan yang aman dalam hal ini. Lulusan elektro tidak memiliki kekhususan berkarir, artinya lapangan pekerjaanya belum tentu lebih aman dari lulusan hukum, tapi apakah minat lulusan elektro lebih rendah daripada hukum? belum tentu bukan. Artinya suatu keahlian bukan serta merta menjadi nilai tambah untuk menarik dan menjamin orang.

Bisnis juga merupakan faktor lain yang tidak bisa dibandingkan. Di Indonesia, contohnya adalah jurusan teknik industri, ada yang alirannya adalah US Industrial Engineering atau European Engineering Management, sama seperti dulu jurusan informatika/ilmu komputer tahun 1980an akhir di Indonesia ada perbedaan gaya yang tidak bisa dibandingkan. Dalam skala lain Teknik Industri juga mirip dengan Manajemen Operasinya sekolah bisnis. Apakah Teknik Industri lebih baik dari Manajemen Operasi? belum tentu kan

Faktor bisnis juga membuat perbandingan makin sulit dilakukan. Contohnya sektor energi, kenapa tidak ada jurusan energi? walau konon topik energi merupakan topik yang diminati media? yang bahkan tidak ada S1 jurusan energi. Jurusan biasanya mengacu pada klasifikasi klasik seperti humanities atau science. Kalaupun ada jurusan energi lebih merupakan program S2 dan S3 yang sifatnya lebih pada topik, yang targetnya lebih pada research dan bukan fundamental pengetahuan untuk S1. Jadi untuk S1 kemungkinan tidak ada S1 energy, S1 property, S1 policy (kecuali untuk branding e.g fisika dan energi, accounting dan properti, ekonomi pembangunan dan policy)

Terakhir, faktor yang paling tidak bisa dibandingkan adalah mengenai pengalaman. Pengalaman menjadi seorang dosen tentunya berbeda dengan pengalaman bekerja dikantor. Teman saya yang bekerja di UKDW, Maranatha, UII, UGM, Binus, Dinus dan komitmennya tentunya memiliki pengalaman yang berbeda dan tidak bisa dibandingkan. Mulai dari batas usia hingga 65, hingga SOP pendidikan tinggi yang berbeda.

Mana yang lebih baik
Akhirnya saya ingin membuat kesimpulan yang sama dengan ilustrasi kampus diatas, bahwa kedua pilihan tersebut sama-sama baiknya dan merupakan hal yang tidak perlu dibandingkan atau diputuskan. Waktu yang akan menentukan mana pilihan yang akan kita dapatkan. Walaupun ada faktor yang signifikan mempengaruhi seperti Expertise (punya gelar serumpun, bidang yang sesuai), Economical (tidak butuh gaji misalnya) dan Experience (lebih senang berada di suasana desa misalnya), pada akhirnya pun hasil atas keputusan yang kita ambil tidak pernah kita ketahui apa dampaknya.

“Hidup itu menjalani perubahan, mengelola harapan, mengurangi risiko, menghadapi ketidakpastian dan membuat keputusan”

1000 words

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Januari 10, 2016 pada 5:14 am

Ditulis dalam Life

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] tentang perbandingan, di dunia ini dua hal tidak bisa dibandingkan, tanpa adanya batasan dan ukuran yang jelas. Contoh, […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: