Anjar Priandoyo's Shortcut

Simple Career Advice for Everyone

Syukur dan Sabar: 5 Mitos Universitas dari Dosen dan Mahasiswa

with 2 comments

ilustrasi-karir

Setelah berputar-putar dengan berbagai konsep dan jargon, saya menyimpulkan bahwa syukur dan sabar adalah konsep yang paling pas untuk menjelaskan mengenai sistem bisnis, kompleksitas ekonomi dan kehidupan. Konsep ini bisa diterapkan pada lingkungan pendidikan, keluarga, pertemanan dan berbagai sistem apapun. Dasar dari konsep ini adalah gap yang sangat besar antara harapan dan kenyataan. Gap ini disebabkan karena banyak hal yang kita tidak ketahui (uncertainty) mengenai hidup dan khususnya masa depan. Mari kita lihat berbagai contoh.

Mahasiswa melihat Universitas

1. Mitos kuliah untuk cari kerja
Saya kembali teringat alasan saya untuk segera lulus kuliah adalah saya tidak berkinerja baik di bangku kuliah. Nilai saya pas-pasan, dan rasanya mata kuliah tertentu sangat sulit untuk saya serap. Saya berpikir bahwa dunia kerja pasti berbeda dibandingkan dunia kuliah dan saya ingin segera lulus dari universitas. Ternyata setelah saya renungkan kembali ada banyak alasan saya yang baru saya sadari sekarang. Kenapa saya tidak suka dengan bangku kuliah adalah karena materinya diberikan sepotong-sepotong, dalam waktu yang singkat, sangat bergantung dengan metode si pengajar menyampaikan materinya, belum lagi ditambah beberapa prioritas sebagai anak muda yang tidak relavan dengan kuliah, mulai dari pacaran, sampai keinginan eksis di himpunan mahasiswa. Dus, buat mahasiswa kuliah adalah hal yang tidak menarik.

Kalau dilihat secara praktis, coba bayangkan, apakah cukup mempelajari database dalam waktu 6 bulan, untuk anak yang belum pernah bekerja dalam departemen TI sebelumnya? apakah cukup mempelajari jaringan komputer dalam waktu 1 semester, baik teori maupun praktek? Argumen saya pada akhirnya terbukti, sama persis seperti apa yang senior dikampus sampaikan bahwa, “Pada kenyataannya ilmu yang kita pelajari di kampus sangat sedikit yang bisa diterapkan di dunia kerja”. Pada dasarnya dunia kampus memberikan fondasi untuk bisa bekerja, beri saya mahasiswa paling bodoh dikampus ga jelas, dengan mahasiswa paling pintar dari kampus paling bagus sekalipun, belum tentu pada saat bekerja mereka bisa bekerja dengan baik. Beri saya mahasiswa paling jago coding, belum tentu dia lebih jago dari yang bahkan baru coding di tempat kerja.

2. Mitos mata kuliah yang sia-sia
Lalu apakah semua mata kuliah menjadi sia-sia? Kalau ditanya mata kuliah apa yang paling membanggakan bagi jurusan komputer, jawabannya bisa jadi adalah Operating System-nya Tanenbaum, atau Data and Computer Communication-nya Stalling atau Software Engineering-nya Pressman. Mereka-mereka ini bisa jadi adalah yang paling mumpuni untuk bicara mengenai fondasi dari sistem komputasi di dunia ini -dari kacamata undergraduate. Teksbook tersebut merupakan teksbook paling umum yang digunakan mahasiswa seluruh dunia dan kebanggaan bila mendapatkan nilai tinggi.

Namun kalau saya ditanya, apa yang paling membanggakan buat saya? jawabannya bisa jadi adalah Fundamentals of Physic-nya Halliday dan Resnick, yang saya dapatkan selama 2 semester, termasuk mata kuliah wajib universitas seperti Matematika, Kalkulus, Kimia Dasar dan sejenisnya. Dengan background rumpun sains dan teknik, bisa mendapatkan mata kuliah sains seperti diatas merupakan faktor yang sangat signifikan dalam karir saya kedepan. Dan hal ini baru saya sadari sekarang. Yang mana dulu selalu saya coba hindari mata kuliah ini. Artinya? ternyata banyak hal yang tidak kita ketahui apa manfaatnya kedepan. Ada banyak hal dimasa depan yang tidak pasti dan tidak pernah bisa diprediksi.

Dosen melihat Universitas

Contoh lain adalah bagaimana dosen melihat universitas. Universitas adalah badan usaha yang disubsidi oleh negara, karena secara alamiah universitas tidak berorientasi profit, berfungsi sosial dan mempunyai impact yang sangat signifikan dalam ekonomi dan stabilitas sebuah negara. Jadi, campur tangan invisible hand seperti negara / DIKTI dan termasuk investor yang berorientasi profit sangat-sangat potensial untuk terjadi. Mulai dari benturan linieritas bidang ilmu hingga bagaimana seharusnya bisnis model universitas dibangun.

3. Mitos Linieritas Bidang Ilmu
Argumentasi mengenai linieritas bidang ilmu dipaparkan banyak pihak ref, ref, ref. Menurut saya, linieritas bidang ilmu itu sudah sama tuanya dengan pembagian jurusan IPA dan IPS pada waktu SMA terdahulu. Konsep linieritas bidang ilmu merupakan prinsip yang digunakan DIKTI sebagai hak regulatornya untuk sistem pendidikan nasional. Sama seperti hak universitas membagi rumpun ilmu bidang sosial humaniora dan rumpun sains teknik dan mengatur kerja fakultasnya baik psikologi hingga manajemen. Bahkan sama haknya seperti fakultas komputer UI atau UGM membagi jurusan, dan membagi silabus mata kuliahnya, hingga mengapa harus ada mata kuliah matematika dan fisika pada S1 Ilmu Komputer / Teknik Informatika.

Terkait linieritas bidang ilmu, buat saya, saya seperti ilustrasi yang lain diatas. Saya tidak perlu menuntut apapun, karena peran saya bukan sebagai regulator. Kalau dulu awal kuliah saya sempat mengajukan argumen untuk mengubah beberapa mata kuliah karena dinilai ketinggalan jaman, sekarang saya baru mengetahui bahwa ternyata argumen saya pada waktu itu salah. Kalau dalam argumen saya untuk bidang kecil seperti mata kuliah program studi saja salah, apalagi dalam konteks yang lebih besar, seperti universitas atau bahkan dalam skala DIKTI. Maaf, saya tidak tahu apa-apa.

4. Mitos Bisnis Model Universitas
Model sebuah bisnis bisa jadi berbeda-beda satu dengan yang lain. Taxi Express berbasis komisi versus Taxi Bluebird berbasis karyawan, dua-duanya berhasil dan sukses. Jualan nasi bisa dengan konsep masakan padang atau warung tegal, dua-duanya bisa sukses dan besar. Universitas pun seperti itu. Ada universitas yang sukses dengan menjual konsep Research based University, ada yang sukses dengan konsep Student Tuition, ada yang sukses dengan konsep Government Subsidize. Mana yang lebih baik? tidak ada yang lebih baik dan tidak ada yang lebih jelek. Konsep itu sama-sama baik, yang tidak baik adalah yang gagal mengimplementasikannya.

Ada universitas yang gagal dengan konsep research based, seharusnya untuk daerah tersebut belum waktunya memiliki research based. Tapi ada juga universitas yang gagal dengan konsep tuition, dimana seharusnya ia berasis subsidi dan seterusnya. Tidak ada teori yang bisa mengamini bahwa konsep tersebut merupakan konsep yang paling baik. Sama seperti sistem ekonomi dengan berbagai penerima model dan argumen yang berbeda-beda.

5. Mitos Prestasi Dosen
Dalam satu universitas saja, saya melihat ada tiga fakultas yang memiliki metode yang berbeda untuk menggambarkan prestasi dosennya. Dosen Fakultas Biologi & Lingkungan menggambarkan prestasinya dengan grant yang diterimanya. Dosen senior menerima puluhan grant dengan nilai yang skala juta USD (publikasi dan organisasi minim). Dosen Ilmu komputer menggambarkan prestasinya dengan jumlah publikasi paper yang hingga puluhan dengan citation yang sangat banyak (organisasi dan grant tidak ada). Sementara dosen Elektro menggambarkan prestasinya dengan banyaknya organisasi dan industri yang dia pimpin mulai dari IEEE, ACM dan segala asosiasi lainnya (publikasi dan grant minim)

Itu baru dalam satu universitas. Kalau dibandingkan dengan universitas lain maka ukuran prestasinya sangat berbeda. Ada universitas yang fokus dengan riset industri, ada yang fokus dengan sekolah bisnis, ada yang prestasinya mahasiswa. Kalau ada banyak variable yang tidak bisa dibandingkan, bagaimana orang bisa berargumen bahwa dosen A lebih baik dari dosen B. Dan fenomena ini terjadi dimana-mana, dan apalagi kalau banyak hal yang kita tidak tahu.

Kesimpulan
Saya menuliskan ini dengan argumentasi bahwa banyak hal yang tidak kita ketahui (uncertainty) didunia ini. Ketidak-tahuan ini menyebabkan banyaknya mitos yang beredar, salah satunya di dunia akademik. Apakah mitos ini salah? atau mitos ini benar. Apakah benar mata kuliah itu sia-sia? belum tentu. Apakah benar kuliah itu mempersiapkan kerja? belum tentu. Ada banyak hal yang kita tidak ketahui, apalagi dalam dinamika sosial. Yang bahkan dalam Quantum Mechanics sekalian ada Heisenberg’s Uncertainty Principle “we cannot measure the position (x) and the momentum (p) of a particle with absolute precision” ref. Pada akhirnya dengan argumentasi ini maka konsep syukur dan sabar menjadi jawaban yang sangat ideal, atas segala keterbatasan yang kita miliki.

1193 words, wednesday

Written by Anjar Priandoyo

Januari 13, 2016 pada 6:08 am

Ditulis dalam Life

Tagged with

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. […] ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya mengenai mitos universitas. Mitos hubungannya dengan tantangan dimasa depan, sementara dilema hubungannya lebih pada tantangan […]

  2. […] apa yang terjadi di dunia akademik (mitos dan dilemanya), sebenarnya sama persis dengan mencermati apa yang terjadi di dunia energi, […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: