Anjar Priandoyo's Shortcut

Simple Career Advice for Everyone

Stranger than Fiction

leave a comment »

“…A work of non-fiction is not as difficult to write as a work of fiction, but it’s not as satisfying in the end…”

Chaim Potok

Hari ini saya merapihkan beberapa buku yang pernah dan belum sempat terbaca. Melihat tumpukan buku-buku non fiksi tersebut seakan melihat pola jenis pembaca dan zaman dimana tulisan itu dibuat. Contoh buku-buku tahun 1990an akhir seperti Clash of Civilization paling sering dibahas di masjid masjid kampus pada eranya. Kemudian era selanjutnya bergeser dengan banyaknya buku-buku self help / motivasi seperti Rich Dad Poor Dad. Walau sebenarnya buku setipe dengan ini sudah muncul pada era sebelumnya, Seven Habit misalnya. Tapi sejarah menunjukkan bahwa pada akhirnya zaman yang akan memilih mana buku yang akan populer mana yang tidak.

Apakah kesuksesan Clash of Civilization dengan conflict theory-nya dan Rich Dad dengan self-help-nya akan terulang? kalau lihat trend dekade berikutnya di tahun 2000-an, nampaknya trend tersebut tidak akan terulang dengan cepat. Buku-buku tahun 2000-an menuliskan tentang fenomena-fenomena ilmiah yang dituliskan dalam tulisan populer, seperti The World is Flat untuk Globalisasi atau Blue Ocean tentang Strategy. Di dekade itu, para pembicara seakan tidak mantap bila tidak mengutip tulisan pada buku-buku tersebut.

Apa trend (buku non fiksi) kedepan?
Wah saya tidak tahu, tidak mencoba mencari tahu, dan tidak akan ada yang tahu. Bisa saja kita memprediksi dengan melihat historical pattern buku yang laris dipasaran. Penerbit besar dan reviewer besar seperti NY Times atau Pulitzer mungkin bisa sedikit melihat. Tapi ada banyak hal yang tidak kita ketahui. Contoh, ketika penulis 90-an menulis tentang prediksi masa depannya e.g Clash of Civilization, apakah terbayang bahwa ada booming teknologi informasi?

Memang ada beberapa buku yang genre-nya sama dengan genre decade sebelumnya. Contoh Why Nation Fail, sebenarnya sudah beberapa buku di dekade sebelumnya yang membahas dengan topik yang mirip. Tentunya karena ada beberapa perubahan geopolitik, buku seperti ini akan kembali populer lagi.

Bertaruh dengan masa depan
Menjadi penulis sama seperti menjadi penyanyi, seniman, pengusaha atau siapapun yang bertaruh dengan masa depan. Sama seperti trend musik Ska di akhir 90-an yang datang dengan cepat kemudian pergi dengan cepat. Ada yang naik turun seperti musik Rap, namun tidak pernah mencapai puncak.

Kembali ke perihal fiksi dan non fiksi tadi. Internet pun salah satu hal yang mendorong perubahan trend orang untuk mengkonsumsi informasi. Informasi non fiksi sekarang bisa didapatkan dengan lebih cepat, akurat, dan terverifikasi lewat forum e.g via quora, stackexchange atau kompasiana. Sebaliknya cerita fiksi sebagaimana trend didunia, mendapatkan tempat yang lebih besar, seiring dengan adanya fan base dan potensi untuk diangkat dalam bentuk film.

Saya? semoga bisa tetap konservatif, karena pada dasarnya kita semua gampang sekali bias dalam memberikan argumen dan melihat sesuatu. Contoh, ada pandangan juga dalam Escaping the Resource Curse (Rosser, 2007) bahwa kemajuan Indonesia disebabkan oleh:
“(i) The political victory of counter-revolutionary social forces over radical nationalist and communist social forces in Indonesia during the 1960s; and (ii) The country’s strategic Cold War location and proximity to Japan”
Tulisan dengan jenis ini bisa sama populernya seperti Why Nation Fail, btw.
Jadi? It depends, ref, ref, semoga bisa tetap konservatif.

1990an
– Seven Habit (Covey, 1989)
– The Prize: The Epic Quest for Oil (Yergin, 1991) Pulitzer
– Clash of Civilization (Huntington, 1997)
– Guns, Germs and Steel (Diamond, 1997) Pulitzer
– The Innovator’s Dilemma (Christensen, 1997)
– Who Moved my Cheese (Johnson, 1998)
– Rich Dad Poor Dad (Kiyosaki, 2000)

2000an
– Freakonomics (Levit, 2003)
– The World is Flat (Friedman, 2005) NY Times Best Sellers
– The Tipping Point (Gladwel, 2005) NY Times Best Sellers
– Blue Ocean Strategy (Kim, 2005)
– The Long Tail (Anderson, 2006)
– The Black Swan (Taleb, 2007)

2012an
– Why Nation Fail (Acemoglu, 2012)

Written by Anjar Priandoyo

Januari 20, 2016 pada 12:05 am

Ditulis dalam Life

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: