Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Tekun

leave a comment »

Framing: Causal relationship is invalid

Cerita si Teman
Ada seorang teman kuliahnya ilmu komputer, selagi kuliah lurus-lurus saja, semua tugas kuliah di kerjakan, nilai baik-baik. Begitu kerja pegang database juga lurus-lurus saja, 10 tahun pertama pegang database hingga diangkat jadi database analyst (fungsional setingkat manager struktural) pada umur 32 tahun. 10 tahun berikutnya kerja lancar-lancar saja sampai diangkat menjadi manager system di umur 42 tahun, akhirnya menduduki jabatan struktural. Pada akhirnya si teman menduduki jabatan manager pada umur 47 tahun, terus bekerja dan akhirnya pensiun.

Si teman ini jalannya lurus-lurus saja. Kadiv TI melihat si teman sebagai orang yang loyal dan pekerja keras. Pengalaman leadership si teman ini standard-standard saja, menjelang pensiunnya, dia melapor pada Dept. Head Infrastructure. Punya anak buah 5 orang dan beberapa karib di bagian sistem dan dikenal baik dengan orang-orang di cabang.

Kalau ditanya tentang TI, si teman ini tahunya standar-standar saja, karena apa yang dipelajarinya sewaktu kuliah sudah banyak berubah. Teknologi terbaru pun banyak yang tidak terkejar oleh si teman. Kalau ditanya mengenai fitur-fitur dan business process dari perusahaan yang terbaru juga tidak banyak tahu. Tapi, kalau ditanya mengenai dimana data mengenai A dan B, si teman tahu dengan baik. Si teman juga tahu dengan baik bagaimana siklus pengembangan sistem di perusahaannya. Kapan waktunya dia lembur, kapan waktunya dia harus memperbaiki databasenya.

Siapa si teman ini? dia adalah potret komitmen pada profesi selama 33 tahun. Kalau ditanya buku apa yang dia ingat, mungkin hanya buku fundamental database system waktu dia kuliah dulu. Selepas itu, tidak ada. Hanya catatan kecil yang dia simpan di desktopnya. Tidak ada jargon aneh-aneh mengenai TI, manajemen ataupun konsep-konsep aneh. Kerjanya baik, orangnya sehat, anak-anaknya berhasil.

Cerita si Kawan
Lain lagi dengan cerita si kawan yang kuliahnya juga di ilmu komputer, selagi kuliah aktif di organisasi. Begitu lulus bekerja juga masih aktif di ikatan alumni. 10 tahun pertama bekerja, si kawan sempat menempuh pendidikan S2, mendapatkan beberapa training dan sertifikasi internasional. Pada umur 32 tahun si Kawan sudah menduduki jabatan struktural sebagai manajer system, 10 tahun lebih cepat dari orang-orang pada umumnya.

Keberuntungan si kawan tidak berhenti disitu saja. Umur 42 tahun si kawan sudah menjadi Kadiv TI, kemudian si kawan terus mengembangkan dirinya sampai akhirnya si Kawan menjadi direktur pada umur 47 tahun, terus bekerja dan akhirnya pensiun.

Si kawan ini kalau diajak ngobrol tentang TI sangat fasih. Dari produk-produk terkini, hingga bagaimana alignment antara business dan teknologi. Dari bagaimana menyiapkan laporan untuk regulator hingga bagaimana menangani auditor. Dari ujung ke ujung mengenai teknologi informasi si kawan ini paham betul. Orang-orang mengenal si kawan sebagai orang yang loyal dan pekerja keras. Kerjanya baik, orangnya sehat, anak-anaknya berhasil.

Mana yang lebih baik si Teman atau si Kawan?
Di akhir cerita, Si Teman dan Si Kawan ternyata punya banyak kesamaan. Orangnya sehat dan anak-anaknya berhasil, kalau dilihat dari materi pun hampir sama. Si teman mobilnya Fortuner dan si kawan mobilnya Altis, sama-sama 500jt-an. Cuman, kalau dilihat sekilas, Si Kawan terlihat lebih pintar, lebih punya banyak jaringan, lebih smart. Sementara si Teman terlihat lebih malas, nerimo, individualis, ga keren.

Artinya? semua itu tidak ada hubungannya -yang karirnya bagus apakah berarti lebih kaya? Yang pintar ngomong apakah berarti anak-anak akan sukses? Yang punya pengetahuan banyak apakah berarti hidupnya lebih sehat? Dalam kehidupan bermasyarakat, banyak hal yang bias, hubungan sebab akibat yang tidak sepenuhnya dipahami dengan baik, atau karena kompleksitas yang membuat tendesi dan penilaian yang tidak tepat.

Jadi, kalau ada orang yang berkata bahwa, Rajin Bekerja <> Kaya, Punya Banyak Ilmu <> Pintar, Berbuat Baik <> Anak-anaknya berhasil, Tekun <> Sehat, bisa jadi ada benarnya, dan bisa jadi juga salah. Tapi, seperti kata orang bijak, tidak ada salahnya belajar hidup tanpa pamrih.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Januari 23, 2016 pada 5:30 pm

Ditulis dalam Life

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: