Anjar Priandoyo's Shortcut

Simple Career Advice for Everyone

School of Thought vs Theory

leave a comment »

Apa itu “School of Thought”
“School of Thought” atau Doctrine, dalam bahasa Indonesia disebut dengan Aliran atau Mahzab. Di Ekonomi contohnya ada yang alirannya Classical, Socialist atau Neoliberal. Di Psikologi, ada yang alirannya Fungsional, Psikoanalisis, Behavioral atau Humanistics. Di Fisika, ada aliran Newtonian, Relativism atau Quantum Mechanics. Di militer ada aliran menyerang ada yang alirannya bertahan.

“School of Thought” mana yang paling benar?
Semua aliran benar, tidak ada aliran yang salah, contoh dalam Islam ada Mahzab Syafii, Hanafi, Hambali rasanya sepanjang sejarah belum pernah ada konflik karena perbedaan Mahzab. Dalam fisika antara Newtonian dan Quantum Mechnics juga tidak pernah bertengkar.

Lalu bagaimana dengan konflik antara aliran dalam negara atau agama?
School of Thought-nya tidak salah, yang ‘berbahaya’ adalah konflik dalam penerapannya. Contoh, orang bisa berkelahi gara-gara perbedaan merk sepeda motor antara yang alirannya motor laki dan motor bebek. Atau orang bisa pukul-pukulan gara-gara beda merk HP dan Laptop. Kalau ini argumentasi saya gampang, orang itu bisa bertengkar gara-gara perkara kecil, mulai dari perbedaan rambut sampai warna baju bisa bikin orang tawuran, orang panasan lah.

Kalau semua aliran sama mana yang harus saya pelajari?
School of Thought hanya kumpulan, koleksi saja. Mungkin analoginya adalah Fakultas, didalam fakultas ada jurusan. Nah fakultasnya boleh apapun, tapi jurusannya yang kita ambil. Jurusan dalam hal ini adalah Theory.

Apa itu “Theory”?
Theory itu penjelasan. Contoh dalam Psikologi ada Teori Motivasi. Nah Teori Motivasi ini lintas fakultas. Contoh klasik dalam Motivasi ada teori rational dan teori natural. Atau dalam ekonomi ada teori supply and demand yang lintas fakultas. Contoh lain adalah teori perang gerilya-nya Nasution atau teori serangan cepat (blitzkrieg). Teori ini dipakai dalam doktrin perang Hankamrata Indonesia, tapi juga bisa dipakai dalam doktrin perang bertahan. Dalam Hubungan Internasional ada teori positivis dan teori post-positivis

Apa manfaatnya tahu theory?
Theory cuman penjelasan. Kalau ada orang malas bekerja, bisa jadi penyebabnya adalah kebutuhan dasarnya belum terpenuhi (Teori hirarki kebutuhannya Maslow), atau bisa jadi orang itu tidak butuh Power, tapi butuhnya afiliasi (Teori McCleland) atau ada faktor hygiene yang belum terpenuhi (Herzberg). Jadi dengan memiliki banyak theory bisa jadi orang menemukan cara untuk menyelesaikan masalahnya dengan baik.

Lebih baik mana banyak theory atau banyak praktek?
Sebenarnya theory adalah pendukung praktek. Dasar theory semacam asahan atau kikir yang membuat pisau semakin tajam.

Kalau kita hanya punya waktu 2 jam teori dan 4 jam praktek, mana yang lebih baik, punya 2 teori atau punya 4 teori?
Analoginya kalau kita belajar ilmu silat, mana yang lebih baik punya 2 jurus atau 4 jurus? tidak tahu. Yang jelas semakin banyak orang berlatih semakin baik.

422 words

Written by Anjar Priandoyo

Januari 26, 2016 pada 5:54 pm

Ditulis dalam Life

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: