Anjar Priandoyo's Shortcut

Simple Career Advice for Everyone

Periuk Nasi

with 2 comments

Suatu ketika sebelum berangkat kerja seperti biasanya saya sarapan pagi, namun ketika hendak mengambil nasi di periuk nasi (rice cooker) ternyata centong nasinya tidak ada. Bingung, saya mencoba mencari alternatif alat untuk mengambil nasi, sayangnya di meja makan sendok juga tidak ada, satu-satunya pilihan adalah sendok teh kecil. Saya terdiam, dalam situasi ini yang bisa saya lakukan adalah:

Pasrah, Menggunakan sendok teh untuk mengambil nasi, kalau dengan centong nasi bisa 3x ambil, kalau dengan sendok teh bisa 30x ambil itu pun pasti akan mengotori tangan dan meja makan, waktu mengambil bisa memakan waktu 5 menit.

a. Mengambil nasi dengan sendok teh sebanyak 10x, artinya nasi yang diambil hanya 30% biasanya, dengan harapan agar tidak mengotori.
b. Mengambil nasi dengan sendok teh sebanyak 30x, porsi normal, mengotori, tapi paling tidak perut kenyang.

Berusaha, mencari centong dilemari, kemungkinan ketemu 10% dengan waktu mencari 15 menit, risiko marah-marah lebih besar.

a. Bila ketemu sendok makan (agak besar) tentunya mengambil nasi akan lebih cepat dibandingkan dengan sendok teh. Asumsinya sendok makan kan pasti ada.
b. Bisa jadi menjumpai masalah lain yang lebih menyita waktu, misalnya melihat ternyata pintu lemari belum diperbaiki.

Out of Box
a. Tidak sarapan pagi, berangkat ke kantor secepatnya agar bisa mencari sarapan di kantor.
b. Bikin Indomie, waktu tambahan 15 menit, repot
c. Mencari tukang nasi uduk, tambahan waktu 15 menit, santai

Super Out of Box
Ga perduli, segera setel TV, segera melirik sambal terasi dan lalapan pagi, toh itu cuman masalah kecil. Tertawa.

Renungan
Masalah seperti ini tidak bisa dipecahkan. Opsi manapun yang diambil tidak ada yang memuaskan, mana yang risikonya paling ringan juga tidak bisa dibandingkan. Dan kalau dibuat skenario analisis ada puluhan atau ratusan skenario yang bisa dianalisa sebelum memutuskan mana pilihan yang terbaik.

Kalau dilihat dari kacamata teoritis, bisa saja kita merancang langkah mana yang paling efektif. Misalnya dengan sendok teh tapi perlahan, atau dalam pengalaman yang sering saya lakukan adalah menggunakan sendok makan. Tapi, kenyataan dan pengalaman yang saya sering hadapi adalah saya overestimate dengan kesabaran saya untuk mengambil menggunakan sendok teh secara perlahan-lahan.

Masalahnya juga menjadi semakin rumit, ketika saya mulai menganalisa. Apakah porsi makan saya yang 3 centong itu terlalu banyak? karena bila hanya saya sarapan pagi dalam ukuran 2 centong harusnya tidak mengotori tangan.

Situasi ini juga semakin rumit, bila masalah ini terjadi selama jangka waktu yang panjang, selama 10 tahun misalnya. Apakah saya harus konsisten mengambil opsi ke 4 cuek selamanya, atau berganti-ganti sesuai mood, bisa opsi 2a, bisa opsi 1b berganti-ganti. Susah kan.

Written by Anjar Priandoyo

Januari 27, 2016 pada 7:22 pm

Ditulis dalam Life

2 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. Situasi yang cukup rumit tapi juga menggelikan.. hehehe… saran saya lebih baik sarapan buah saja. tinggal potong-potong dan makan, tanpa perlu tambahan waktu untuk memasak nya..

    andripoernawan

    Januari 28, 2016 at 4:29 am

  2. […] praktis ya buat saya, masalah anak dua bertengkar saja sudah perfect simalakama, masalah mencari centong nasi hingga masalah dikantor (bagaimana balancing work/life, bagaimana balancing bigboss/staff) sudah […]


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: