Anjar Priandoyo's Shortcut

Simple Career Advice for Everyone

Kail

leave a comment »

Waktu saya kecil, rumah saya dipinggir sebuah kali (sungai) selebar 1.5 meter. Dibilang kali juga tidak terlalu tepat, karena dimusim kemarau airnya bisa habis dan dimusim hujan bisa melebar hingga 2 meter. Di bilang selokan juga tidak tepat karena ukurannya lebih besar. Dibilang di rancang pemerintah, juga tidak tepat, karena terbentuk dipinggir sawah dan aliran dari rawa kecil. Belakangan setelah hampir 30 tahun, akhirnya seiring padatnya perumahan, yang dari sebelumnya sawah, menyebabkan air kali ini meluap, memasuki rumah. Sedih kuadrat.

Yang jelas, sewaktu saya SD (antara kelas 2-4 paling tidak), kali disamping rumah ini merupakan tempat bermain favorit saya. Favorit karena, banyak hewan-hewan menarik di kali itu, mulai dari tutut (keong), ikan sepat, betik dan gendon. Walaupun tidak bisa dibilang bersih, tapi karena aliran airnnya cukup deras, dan tidak ada perumahan, jadi bermain disamping kali merupakan kenikmatan tersendiri. Bapak saya tidak pernah melarang kalau saya nyemplung ke kali mencari keong, walaupun nyemplung juga bukan istilah yang tepat, karena kedalaman kali itu paling hanya 60 cm saja.

Bermain di kali memberikan kenikmatan tersendiri, terutama karena ada ikan. Seperti halnya anak-anak pada umumnya. Saya juga terobsesi untuk mengambil ikan dikali. Ikan gendon seukuran kuku saja sudah menarik, apalagi ikan betik dan sepat. Rasanya bisa mengambil ikan berukuran ibu jari merupakan prestasi yang amat sangat luar biasa. Buat saya, pada waktu itu, melihat orang dewasa membawa kail dan ember untuk mencari ikan merupakan impian masa kecil saya.

Menangkap ikan
Menangkap ikan gendon adalah perkara mudah. Ikan ini seringkali tersesat, diselokan yang lebih kecil. Cukup dengan ember bekas saja ikan ini bisa diserok, kemudian air dibuang dipinggir jalan. Ikan sudah bisa ditangkap. Tapi menangkap ikan sepat, tidak mudah, apalagi ikan betik yang tubuhnya lebih keras.

Sampai suatu ketika, bapak saya membelikan saya sebuah seser (jaring) untuk mengambil ikan dikali. Mungkin ini mainan paling canggih yang pernah saya punya. Dengan seser saya bisa melompat segera sepulang dari sekolah untuk mencari ikan dikali. Melompat, karena kalau tidak segera, saya takut ada anak-anak preman dari desa sebelah yang meng-etrek (menodong) atau mengajak berkelahi. Dengan seser hasilnya memang lebih baik, ikan yang didapatkan lebih banyak.

Suatu ketika, saya mulai menyadari, ada yang salah dengan cara saya menggunakan jaring. Saya melihat anak desa sebelah menggunakan cara yang lebih efektif untuk menangkap ikan, yaitu dengan membendung kali. Ya, kalinya dibendung. Biasanya menjelang debit air mulai menurun, kali itu dibendung. Aliran airnya ditutup, dan kali dikuras. Seperti menguras kolam. Dan hasilnya super efektif. Anak-anak desa itu (dan dibantu beberapa ABG desa) mendapatkan hasil tangkapan yang jauh lebih banyak, mungkin 100x lebih banyak dari apa yang bisa saya bayangkan. Ikan-ikan itu entah bersembunyi dimana, namun setelah dibendung baru kelihatan banyaknya.

Cara membendung kali memang efektif, tapi effortnya sangat berat. Cara lain adalah menggunakan portas, namun ini jarang sekali saya lihat. Mungkin hanya satu kali, dan jumlah racun portasnya sangat sedikit. Entah karena anak-anak desa itu memang ramah lingkungan atau karena harga portas mahal.

Cara lain yang selalu saya inginkan adalah dengan memancing, menggunakan kail dan umpan. Saya pernah melihat orang memancing di kali samping rumah dengan hanya modal kail dan cacing. Tidak ada pelampung, tidak ada batang pancing, hanya ada senar pancing dan cacing. Saya ingin sekali seperti orang itu. Pernah saya utarakan niat saya ke bapak, dan rasanya beliau tidak terlalu menanggapi. Kemudian saya bereksperimen, beberapa kali saya memancing menggunakan kail buatan, terbuat dari paku kecil, dengan umpan menggunakan cacing tanah dari samping rumah. Hasilnya sudah dapat ditebak, gagal. Pun beberapa kali mengganti dengan paku yang lain, dengan benang layangan, bahkan dengan umpan dari nasi, semuanya gagal.

Saya tidak begitu ingat kapan persisnya, tapi seiring dengan debit air yang berkurang, air kali tidak begitu bersih, dan mungkin ada permainan jenis lain (ding-dong), maka akhirnya permainan menangkap ikan ini saya tinggalkan. Yang masih teringat adalah betapa senangnya saya dulu bermain dikali, dan sedihnya, betapa banyak keinginan saya untuk mendapatkan ikan yang tidak terpenuhi di masa kecil.

Begitu saya besar, saya punya akuarium (juga tidak tepat dibilang akuarium, hanya berukuran 40cmx40cmx30cm dengan beberapa ikan didalamnya. Setiap saya melihat ikan kecil didalam akuarium (bukan akuarium bagus dengan batu dan aliran oxygen) saya selalu teringat masa kecil saya, sama seperti betapa senangnya saya melihat ikan hias di pasar.

Saya selalu membayangkan bisa mengulang masa kecil saya menangkap ikan dengan kedua tangan dan menunjukkan hasil tangkapan ini pada kakak dan adik saya. Sayangnya, saya lebih sering teringat betapa sedihnya saya pada waktu itu tidak bisa mendapatkan kail dan alat pancing yang baik.

Sekarang, hal yang sama pun terjadi. Saya seringkali terjebak dengan masalah kail. Jangankan mengganti dari kail paku menjadi kail baja beneran. Komponen tali pancing pun entah menggunakan benang jahit atau benang layangan saya tidak tahu.

Periuk Nasi dan Kail
Ini masih berhubungan dengan cerita periuk nasi sebelumnya. Masalah kail ini juga menyakitkan, karena kita tidak tahu seberapa salah kesalahan yang telah kita lakukan dan seberapa dekat kita dengan solusinya.

Written by Anjar Priandoyo

Januari 28, 2016 pada 5:08 pm

Ditulis dalam Life

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: