Anjar Priandoyo's Shortcut

Simple Career Advice for Everyone

Perkembangan Isu Lingkungan di Indonesia

leave a comment »

Framing: People have hierarchical prioritization
Perspective: Environment is less popular issues

Isu lingkungan (environment) merupakan isu yang sulit dijual di Indonesia. Salah satu penyebab isu lingkungan sulit dijual adalah tidak adanya ‘natural predator’ dari isu ini, tidak ada kontroversi yang muncul dari isu lingkungan ini. Isu lingkungan mirip dengan isu keselamatan (safety), publik menyadari pentingnya isu keselamatan, perusahaan mewajibkan bahkan secara detail dalam peraturan tertulis, namun mengkampanyekan pentingnya menjaga lingkungan sama sulitnya dengan kampanye pentingnya keselamatan.

Isu lingkungan secara umum adalah isu yang aman dan non-kontroversial. Sayangnya ini adalah counter-productive. Sebuah isu harus memiliki musuh alami, yang bisa membuat ikatan emosional dengan pembelinya. Semua ide dan gagasan yang dibeli orang, adalah yang mempunyai ikatan emosi dengan pembelinya. Sama seperti orang membeli Iphone atau Samsung Galaxy. Butuh struktur emosional untuk bisa menggerakan dan mempengaruhi orang dalam skala masif.

Sains bisa menjelaskan mengapa fenomena tidak menariknya isu lingkungan ini terjadi. Namun, untuk bisa menggerakkan adalah hal yang sangat jauh berbeda. Sama seperti bagaimana sains bisa menjelaskan mengapa Nokia kalah dari Blackberry. Namun, untuk menjelaskan mana yang akan berhasil apakah Coca Cola atau Pepsi, tidak bisa dilakukan, karena tidak ada yang bisa memprediksi masa depan. Sains hanya bisa menjelaskan berapa besar potensi masalah yang bisa terjadi bila lingkungan tidak diprioritaskan. Sampai titik ini saja sains bisa berkreasi. Untuk selanjutnya bagaimana bisa mempengaruhi opini publik, sains tidak bisa lakukan. Ini adalah murni psikologi massa terapan, domain dari politisi.

Alasan lain tidak berkembangnya isu lingkungan di Indonesia sebagai berikut.

a. Number Sense, pemahaman tentang hubungan kausalitas dan magnitude dari indikator lingkungan tidak diterima publik dengan baik. Sebagai contoh, angka produksi minyak satu juta BOPD sangat populer untuk menggambarkan menurunnya produksi lifting migas kita. Atau angka kapasitas listrik 35,000 MW juga sangat populer seiring dengan kampanye dan kontroversinya di media. Coba bandingkan dengan angka 500 MT CO2, yang bahkan untuk mempopulerkan angka total energi (TPES) sebesar 200 MTOE oleh DEN sulit dilakukan.

b. Bukan berapa tapi kenapa, argumentasi yang orang berikan terhadap energi terbarukan adalah besaran potensi energi. Misalnya Geothermal 28 GW, Air 35 GW dan seterusnya. Argumentasi ini logis, karena dasarnya ilmiah, dengan bukti-bukti pendukung yang jelas. Namun kenapa orang tidak tertarik dengan potensi energi terbarukan? Dibandingkan dengan argumentasi krisis listrik misalnya?

Lingkungan secara umum
– Nasib Lingkungan dan Pemerintahan Jokowi (Manurung, Jun2015)
– Menyiasati Kritik dari Lingkungan (Sadarjoen, Jul2015)
– Internet dan Lingkungan Hidup (Hutabarat, Sep2015)
– Kerusakan Lingkungan Ancam Ekonomi (Kompas, Oct2015)
– Logika Iklim (Laksmi, Nov2015)
– Perjuangan Indonesia Setelah COP 21 Paris (Witoelar, Jan2016)

Written by Anjar Priandoyo

Januari 29, 2016 pada 2:58 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: