Anjar Priandoyo's Shortcut

Simple Career Advice for Everyone

Setelah kita tahu banyak, selanjutnya apa?

leave a comment »

Hari ini sudah dua tahun sudah saya meninggalkan dunia kantor untuk sekolah. Pengalaman dan pengetahuan yang saya dapatkan sudah lebih banyak. Kalau dulu saya hanya tahu mengenai industri secara spesifik, hanya tahu industri banking, hanya tahu industri telekomunikasi. Namun sekarang, saya sudah lebih tahu mengenai interaksi industri banking, interaksi industri telekomunikasi.

Hal yang paling terasa adalah saya sekarang lebih paham melihat sebuah permasalahan dari sisi negara. Jadi kalau membaca reportnya Mc Kinsey mengenai infrastructure, dimana di report tersebut disinggung mengenai sektor Construction, Energy, Transport, rasanya sedikit banyak lebih paham mengapa dan bagaimana report tersebut dibuat.

Kalau dulu acuan saya hanya Gartner dan Forrester yang rasanya cukup untuk memecahkan semua masalah, termasuk presentasi ke client. Sekarang saya punya Scopus dan Google Scholar, yang bisa membantu mencari bahan yang jauh lebih lengkap dibandingkan referensi ala Gartner atau Knowledge Exchange internal kantor.

Dengan banyaknya pengetahuan ini, sekarang timbul masalah baru. Bagaimana menerapkan apa yang saya tahu ini? Bagaimana caranya?

Secara praktis, kalau dalam tatarannya akademik dan riset, maka saya harus membuat penelitian, kemudian membuat paper. Paper ini sesuatu yang mulia dan tidak bisa dinilai dengan uang. Indah sekali bukan? menjadi peneliti, hanya mungkin bisa dilakukan bila kita tinggal di negara maju dimana riset merupakan sesuatu hal yang biasa. Namun di Indonesia, riset adalah sebuah kemewahan.

Sampai akhirnya saya berkesimpulan, bahwa tahu banyak itu tidak berguna. Yang berguna adalah “transferable skills”, jadi kalau selama dua tahun terakhir ini saya banyak mengotak-atik Microsoft Word, maka skills yang bisa saya transfer adalah kemampuan menulis di Word ini. Atau, kemampuan saya mempresentasikan sesuatu.

Bagaimana dengan kemampuan untuk berbicara dengan data yang lebih akurat, misalnya penggunaan kayu bakar di Indonesia sekitar 40% penduduk? buat saya kok, rasanya itu bukan kemampuan yang bisa ditransfer ya. Menurut saya di industri manapun atau diperusahaan manapun, kita harus melatih diri berbicara dengan data yang lebih akurat.

Menjawab pertanyaan dijudul tulisan ini. Selanjutnya apa, menurut saya adalah bagaimana mengaplikasikan pengetahuan ini dalam bidang yang kita minati, dalam bidang yang menurut kita berpeluang paling besar.

Intinya, pengetahuan tidak membantu banyak, skill yang lebih berguna.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 18, 2016 pada 6:46 pm

Ditulis dalam Career

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: