Anjar Priandoyo's Shortcut

Simple Career Advice for Everyone

Mengapa karyawan tidak perlu belajar sabar

leave a comment »

Sabar adalah salah satu cara pembuatan keputusan. Ketika menghadapi macet, maka orang disarankan untuk bersabar. Artinya, orang harus menunggu, tidak berbuat apapun. Ada yang mengartikan sabar sebagai berpikir, artinya ketika menghadapi macet, maka orang tersebut harus memikirkan cara lain agar tidak terjebak macet, misalnya berhenti ke mall atau memutuskan untuk memutar arah.

Setiap hari, orang tua saya memberikan sebuah nasihat yang universal. Kalau hasil ujian buruk, maka orang tua saya menyarankan untuk bersabar. Kalau tender gagal, solusinya juga sabar. Menghadapi bos yang keras kepala, bersabar. Menghadapi anak buah yang malas, bersabar.

Sebagai sebuah konsep, sabar adalah konsep yang universal. Sama seperti konsep bekerja keras. Menghadapi apapun solusinya adalah bekerja keras. Sabar, kerja keras, berhati-hati. Kalau menghadapi masalah sabar, mengatasi masalah bekerja keras, ketika sesuatu tercapai maka harus berhati-hati.

Konsep-konsep normatif seperti ini menurut saya hanya berlaku dalam forum motivational, forum pendidikan atau forum normatif lainnya. Sama seperti konsep bersatu, tertib, tolong menolong dan gotong royong. Sama seperti dalam kasus kemacetan tadi, dalam menghadapi macet maka pengendara kendaraan bermotor harus tertib, harus mematuhi peraturan. Konsep ideal ini hanya berlaku bagi penegak hukum, bagi buku panduan peraturan.

Semisal terjadi masalah, misalnya bottleneck antrian loket karcis bioskop misalnya. Ini bukan lagi masalah normatif, ada perhitungan berapa rata-rata jumlah orang yang masuk ke gerbang per detiknya, semisal 1 orang perdetik. Jika didepan ada 3600 orang, artinya, butuh waktu 1 jam untuk mengantri.

Dalam hal ini solusinya bukan bersabar, karena kalau film akan dimulai dalam 10 menit, maka orang akan marah, atau orang tidak akan menonton. Tertib juga bukan solusi, karena beberapa orang akan berusaha mendapatkan karcis sebelum 10 menit. Dalam hal ini solusinya bagi pengusaha bioskop adalah membuka loket baru.

Solusinya bagi pengantri ke 1000 adalah mencari film yang baru. Solusinya bagi pengantri ke 604 adalah menunggu, siapa tahu ada orang ke 590 sekian yang memutuskan untuk mengganti film. Solusinya bagi orang ke 10 bisa jadi adalah berhati-hati, siapa tahu uangnya kurang.

Karyawan kurang lebih demikian. Kebetulan, ada kantor yang lebih prefer etnis tertentu, lebih suka gender tertentu, maka dalam tetap berkompetisi dalam persaingan merebut posisi atas dasar preferensi ini juga konsep yang normatif. Semisal ada HO yang mewajibkan posisi tertentu di regional merupakan orang yang datang dari HO, maka akan ada aturan tidak tertulis yang tidak bisa ditembus. Dan maka dari itu semua cara pembuatan keputusan yang diambil, sifatnya normatif. Sesuatu yang terkesan baik, namun tidak berarti apa-apa.

Rumus yang sederhana, tapi terkadang sulit diterapkan. Sabar adalah statemen yang seringkali disampaikan orang tua saya secara berulang-ulang dalam setiap kesempatan apapun, tapi dilubuk hati yang paling dalam, saya tahu bahwa yang dimaksudkan orang tua saya bukanlah sabar pada umumnya.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 19, 2016 pada 10:41 am

Ditulis dalam Career

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: