Anjar Priandoyo's Shortcut

Simple Career Advice for Everyone

Nasihat di awal karir yang paling bermanfaat

leave a comment »

Bapak saya seringkali menasihati saya akan pentingnya memiliki rumah. Saya menerjemahkannya dengan harus bersungguh-sungguh saat mengambil kuliah S1 sehingga cepat memperoleh pekerjaan. Senior saya dikampus, seringkali menasihati saya akan pentingnya memiliki pijakan karir yang kuat, contohnya kalau orang IT kerja di SAP core-nya ERP atau kerja di Silverlake core-nya Mandiri pada waktu itu. Senior saya yang lain mencontohkan pentingnya bergabung dalam program shortcut semacam Management Trainee (MT), program sejenis semacam officer development programnya perusahaan.

Singkat kata, 10 tahun berlalu, nasihat si senior, lebih banyak tidak terbuktinya. Yang megang SAP ternyata tidak banyak implementasi, yang pegang Silverlake ternyata core bankingnya berubah total, gara-gara diakuisisi. Sementara yang bergerak sebagai MT pun nasibnya pun tidak selalu baik, semujur apa yang senior ceritakan.

Banyak mitos dari senior yang menurut saya tidak relevan lagi. Contoh, ada seorang senior yang begitu yakin bahwa sebelum usia 30 tahun seseorang harus menjadi manager bergaji 40 juta dengan punya staff lebih dari 10 orang. Si senior berteori demikian, karena dirinya sudah membuktikan sendiri pencapaiannya, namun nyatanya 10 tahun kemudian karir si senior tidak seindah apa yang dia sampaikan. Teori dan praktek berbeda jauh.

Ada juga senior yang sangat yakin dengan almamaternya, singkat kata senior ini juga tidak seberuntung teman-temannya yang sebenarnya datang dari latar belakang universitas yang tidak terdengar.

Artinya? sudahlah, tidak perlu kita mendengar nasihat orang atau nasihat seorang senior sekalipun yang sudah sukses. Resep untuk meraih kesuksesan itu tidak bisa ditiru. Bagaimana seseorang sukses itu bukan sesuatu yang bisa diformulasikan dalam 1-2 kalimat, atau dalam diskusi selama 1-2 bulan, atau dalam sebuah kuliah dalam durasi 1-2 tahun saja.

Untuk hal ini, saya kembali lagi pada nasihat bapak saya, sangat taktis, punya rumah. Kalaupun bapak saya menasihati mengenai karir, nasihatnya pun sangat pragmatis. Orang yang sungguh-sungguh mencintai pekerjaannya pasti akan berhasil. Sudah cukup, tidak ada shortcut, atau rumus sukses lainnya.

Tidak ada ceritanya, seseorang yang rajin silaturahmi ke seniornya kemudian diangkat menjadi seorang pimpinan. Yang ada adalah seorang yang rajin silaturahmi bisa menjadi collateral damage, rentetan dari gerbong yang ambruk.

Jadi ketika ada seseorang yang menasihati untuk tidak perlu ikut-ikutan dengan trend, sebenarnya menjelaskan mengenai konsekuensi logis dari sebuah keputusan. Bergabung artinya berisiko ambruk, berpisah artinya berisiko tertinggal. Dua-duanya bisa baik dan bisa buruk. Jadi sudah, jangan banyak mendengar sesuatu yang tidak perlu didengar.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 19, 2016 pada 11:03 am

Ditulis dalam Career

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: