Anjar Priandoyo's Shortcut

Simple Career Advice for Everyone

Meramal karir lebih akurat

leave a comment »

Judul tulisan diatas sebenarnya menyesatkan (fallacy), namanya meramal tidak mungkin akurat. Kalau akurat itu namanya menghitung. Namun, meski tidak akurat, meramal (forecasting) senantiasa dipergunakan, dari meramal karir seseorang hingga meramal pertumbuhan ekonomi suatu negara.

Cara meramal sebenarnya ada dua, kualitatif dan kuantitatif. Kualitatif itu bertanya pada ahlinya, semisal bertanya pertumbuhan ekonomi pada menteri perekonomian, gubernur BI atau pakar ekonomi di universitas. Kualitatif itu bisa Delphi, Market Research, Panel Consensus, Visionary Forecast dan Historical Analogy.

Untuk kuantitatif, dibagi dua bisa berupa time series atau causal methods. Time series, itu misalnya moving average, exponential smoothing, trend projection. Sementara causal methods itu misalnya regresi, econometrics, survey hingga life cycle analysis ref.

Namun bicara forecasting mana yang lebih baik tentunya tidak sesederhana memilih. Ada banyak pertimbangan, termasuk biaya dan waktu.

Contoh, bisakah kita bertanya mengenai pertumbuhan ekonomi pada ibu rumah tangga. Jawaban pada umumnya adalah tidak bisa, yang bisa ditanyakan kepada ibu rumah tangga misalnya Willingness to Pay (WTP). Apakah ibu tersebut mau membeli listrik dengan harga tertentu.

Meramal selanjutnya menjadi rumit karena selain banyak faktor, ada juga banyak konsep. Konsep seperti sensitivity analysis atau konsep seperti scenario planning mempengaruhi hasil dari ramalan yang dibuat.

Kembali pada meramal karir

Untuk meramal karir bisa dilihat dari 2 asumsi besar. Asumsi yang pertama adalah kecenderungan orang untuk bertindak apakah “wait and see” atau “just do it”. Orang yang cenderung aktif bertindak “just do it” punya pattern yang konsisten. Ini bisa dikatakan faktor bawaan dari orang tersebut.

Asumsi kedua adalah faktor nasib. Maksudnya adalah seberapa banyak faktor eksternal yang mempengaruhi seseorang. Ada yang punya banyak faktor eksternal yang cenderung negatif, misalnya kecelakaan, kerusuhan, bencana alam. Sementara ada orang lain yang punya banyak faktor hoki dalam dirinya.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 20, 2016 pada 11:35 am

Ditulis dalam Career

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: