Anjar Priandoyo's Shortcut

Simple Career Advice for Everyone

Danamon dan perbudakan di tempat kerja

leave a comment »

Baru saja saya menyaksikan BBC mengenai praktek Cormorant Fishing di China. Cormorant Fishing adalah memancing ikan menggunakan burung yang diikat lehernya. Leher yang diikat ini membuat burung Cormorant tidak bisa menelan ikan yang besar.

Cormorant Fishing bisa jadi pro dan kontra. Sama seperti topeng monyet yang dikritik karena menggambarkan kekejaman terhadap binatang. Pihak yang kontra, menyatakan bahwa Cormorant yang lehernya diikat menyakitkan. Pihak yang pro menyatakan bahwa praktek ini sudah berlangsung ribuan tahun, Cormorant yang dipelihara umurnya bisa mencapai 15-20 tahun -menggambarkan mutualisme, dan Cormorant hanya bisa memakan ikan berukuran kecil. Lebih lanjut, pihak yang pro menyatakan bahwa praktek Cormorant fishing lebih banyak untuk keperluan turis. Tentunya tidak mampu bersaing dengan industri perikanan yang modern.

Anak saya yang melihat tayangan ini hanya berkomentar “this is slavery”. Tentunya saya menjelaskan bahwa ini bukan perbudakan, karena si Cormorant diuntungkan. Saya memberi ilustrasi seperti kuda yang dipelihara sebagai alat transportasi. Namun, kemudian si narator menjelaskan bahwa iniadalah perbudakan -skak mat. Padahal saya belum menjelaskan bahwa Ayam dan Ikan yang dimakannya juga sama kejamnya. Tapi yang namanya sentimen emosional susah didebat.

Pemotongan hewan misalnya, menurut aturan harus di bunuh dengan listrik (stunning) ref, yang merupakan metode yang paling cepat (merasakan sakit) dibandingkan dengan memotongnya. Ukuran mana yang lebih kejam sangat relatif. Ada yang memandang, bahkan memakan binatang saja sangat kejam, ada yang tingkatannya asal binatang tidak menderita, ada yang asal tidak berlebihan.

Hari ini, saya melihat berita mengenai aksi demo karyawan Bank Danamon. Terjadinya demo ini merupakan sesuatu yang sebenarnya disayangkan. Apalagi kalau salah satu alasannya, kenapa perusahaan merekrut karyawan Pro-Hire, yang digaji jauh lebih tingi dari karyawan biasa. Seingat saya ini banyak terjadi di perusahaan – perusahaan yang sahamnya dimiliki asing dan padat karya seperti perbankan atau telekomunikasi.

Mari sama-sama kita berintrospeksi diri.

Written by Anjar Priandoyo

Oktober 30, 2016 pada 3:22 pm

Ditulis dalam Career

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: