Anjar Priandoyo's Shortcut

Simple Career Advice for Everyone

Berhati-hati dengan “katanya”

leave a comment »

Di sebuah perusahaan tambang nasional, saya pernah menjumpai “cerita” dari seorang pegawai senior, bahwa ada beberapa perangkat lunak yang dibuat oleh seorang programmer tunggal. Ceritanya si programmer tunggal ini mengerjakan banyak aplikasi diperusahaan hanya berbasiskan aplikasi VB dan access. Si programmer ini kemudian “kaya raya” dari menjual perangkat lunak tersebut pada perusahaan. Sampai akhirnya bisa pensiun dini, menikmati uang berlimpah.

Cerita lain yang hampir sama juga saya dengar di salah satu bank nasional. Dimana ada beberapa aplikasi yang juga dikerjakan oleh programmer tunggal. Sama banyaknya, dan sama beragamnya. Dengan cerita yang hampir mirip juga diperusahaan telco, dimana ada legenda yang mengatakan bahwa ada karyawan yang resign kemudian sukses mengerjakan bisnis diluar perusahaannya. Ada yang menghandle PABX, sukses selama belasan tahun, jauh lebih besar dari kerjaan sebelumnya.

Cerita-cerita ini sekarang, bisa saya sikapi dengan lebih baik. Pertama, itu diceritakan oleh karyawan, tentunya bias. Sama seperti mitos 5K Astra (kagum, kaget, kecewa, keluar, kembali), mitos tersebut mengatakan bahwa pilihan bekerja di Astra adalah yang terbaik. Faktanya semua perusahaan mengklaim statemen yang sama.

Sekarang saya sudah kebal dengan segala mitos, legenda dan “katanya” di perusahaan. Sama seperti penelitian yang saya lakukan. Istilah, jargon dan cerita yang disampaikan orang tidak dapat menceritakan kondisi yang sebenarnya. Contoh mengatakan “saya kemarin melihat preman di stasiun, tapi saya tidak adalah statemen yang tersurat, statemen ini tidak penting. Yang lebih penting adalah alasan dibalik pernyataan tersebut. Bisa berarti banyak hal, bisa jadi orang tersebut takut, sehingga teringat, kemudian menyampaikan. Bisa jadi orang tersebut hanya mencari topik pembicaraan.

Buat saya, saya lebih percaya yang pertama, orang tersebut justru takut dengan preman tersebut. Sama seperti cerita programmer tunggal tadi, itu adalah cerita orang yang unsecured dengan kondisinya. Walaupun tidak selalu, bila ucapan tersebut disampaikan diwaktu dan kondisi yang berbeda bisa jadi maknanya berbeda.

Dalam penelitian kualitatif, kita harus memfokuskan pada aspek-aspek yang tersirat, aspek-aspek yang orang tidak sampaikan secara lisan. Contoh menginterogasi orang, bukan pada jawaban yang diberikan, tapi seberapa cepat jawaban itu diberikan dan apa tanggapan yang muncul pertama kali.

Written by Anjar Priandoyo

November 13, 2016 pada 2:58 pm

Ditulis dalam Career

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: