Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Dimensi Ilmiah Pemberantasan Korupsi

leave a comment »

Di sebuah warung pecel lele, teman saya berkata bahwa akar masalah di Indonesia adalah korupsi. Dengan korupsi segala macam pembangunan menjadi lambat dan daya saing menjadi rendah. Kalau ditelusuri lagi menurut si teman, akar masalah dari korupsi adalah moral. Untuk mengantisipasi ini maka yang diperlukan adalah penegakan hukum. Diskusi selesai.

Di ruangan kelas, diskusi dilanjutkan lagi.

Korupsi merupakan akar masalah bangsa. Moral yang buruk menjadi akar masalah yang utama. Pernyataan ini, meski didukung oleh bukti-bukti dan data-data -semodel katadata bukanlah pernyataan ilmiah, untuk didiskusikan secara ilmiah, dengan tujuan ilmiah.

Untuk menjadikan korupsi sebagai sebuah obyek ilmiah diperlukan universe yang terukur. Misalnya, korupsi di sektor apa? e.g kelapa sawit. korupsinya di tingkat apa? e.g di pusat atau di daerah. Baru setelah itu diambil hipotesa kira-kira apa yang mendorong korupsi di case tersebut. Misalnya politik kekerabatan (Patronage Politics), dilihat dari banyaknya eks pejabat di BOD/BOC perusahaan sawit. Setelah itu baru diuji melalui serangkaian interview (Helena Varkkey, 2012)

Meskipun demikian kita juga bisa mengambil dalam dimensi yang lebih luas. Namun tetap, harus dalam universe yang terukur.

Contohnya adalah mengenai penegakan hukum. Korupsi dipandang merajalela karena lemahnya penegakan hukum. Lemahnya dalam hal, jumlah terdakwa korupsi dan putusan yang diberikan. Tulisan ini melihat dari data historis, berapa jumlah kasus, dan apa hasil putusannya selama 5 tahun terakhir misalnya. Namun tulisan ini memberikan ruang yang banyak untuk improvement dalam hal pernyataan bahwa “yang diperlukan adalah alat ukur yang lebih baik untuk menilai kinerja lembaga peradilan” (Simon Butt, Sofie Arjon Schütt)

Inilah yang perlu dipahami lebih lanjut:
“Studi mengenai korupsi di tataran akademik bukan ditujukan untuk menyelesaikan masalah, namun digunakan untuk membuat sebuah perpustakaan bacaan yang bisa dibaca secara sistematis. Studi mengenai korupsi lebih seperti menyusun wikipedia tentang korupsi. Sama seperti R&D manapun diseluruh dunia”

Namun sekali lagi diingat, diskusi di warung pecel lele dan diskusi diruangan kelas memiliki tujuan yang berbeda. Diskusi warung tujuannya adalah menggalang opini publik -lewat tayangan di TV, Baliho dan Sosial Media. Sementara tujuan dari diskusi di ruang kelas, untuk bisa memotret sebuah kondisi dengan lebih obyektif. Yang daya efektivitasnya menurut saya lebih besar diskusi di warung yang bisa menjangkau lebih banyak orang.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Januari 9, 2017 pada 12:06 pm

Ditulis dalam Science

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: