Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Memahami dimensi politik dari energi

leave a comment »

Hampir 16 bulan membaca mengenai dimensi politik energi di Indonesia, rasanya saya tidak pernah paham. Hingga suatu hari saya menyadari bahwa dari sebuah posting facebook, bahwa semua aktivitas difacebook pada dasarnya adalah aktivitas politik. Politik dalam arti “siapa saya” dan “siapa kamu”, politik dalam artian “siapa melakukan apa”.

Jadi kalau bicara organisasi, seorang manajer akan menugaskan satu orang sebagai supir dan dua orang sebagai kernet. Namun dalam dimensi politik maka, supir harus bersuku tertentu, jenis kelamin tertentu, dan harus diganti agar tidak timbul konflik. Batasannya juga tipis, ketika supir diganti, dengan pertimbangan manajerial, agar supir tidak lelah, atau tidak diganti dengan pertimbangan manajerial biar fokus. Namun ketika seseorang mengganti atas faktor yang sulit diukur e.g kepuasan, moral maka dimensi tersebut lebih banyak dimensi politiknya.

Artinya dimensi politik lebih banyak bicara mengenai aktor-nya, mengenai pelakunya.

Semisal diperusahaan, HRD bisa mendesign organisasi yang ideal. Namun dimensi politik lah yang paling dominan untuk menentukan siapa menduduki posisi apa.

Case ini saya baca dari tulisan “The Demise of Indonesia’s Upstream Oil & Gas Regulatory Agency” Jamie S. Davidson. Paper ini bicara mengenai dimensi politik dari pembubaran BP Migas di tahun 2012. Sebagai paper politik, paper ini harus membahas mengenai orang, mengenai aktor. Mulai dari Hatta Rajasa, Muhammadiyah, hingga Mahfud MD dan situasi menjelang Pilpres 2014. Paper ini menjelaskan, bahwa dimensi politik khususnya mengenai liberalisasi ekonomi tidak hanya dilihat dari sisi timing saja, tapi juga dari sisi oposisi politiknya.

Case kedua yang saya baca adalah mengenai “Escaping the Resource Curse” Andrew Rosser. Saat bicara mengenai pertumbuhan ekonomi, political analysis lebih menekankan pada aspek aktor seperti: kemenangan order baru, strategi perang dingin dan geopolitik dengan jepang. Aspek politik lebih menekankan pada orang, pada siapa pelakunya dan tindakan apa yang diambil oleh si pelaku.

Case ketiga adalah “political eonomy of oil and gas” Sovacool. Analisa politik harus memiliki sebuah konsep tertentu. Misalnya resource curse, untuk menjelaskan sebuah fenomena. Sebuah fenomena ini kemudian dikritisi dari sisi aktor-aktor yang membedakannya misalnya Indonesia pada waktu itu dipimpin oleh Sukarno. Terkadang analisa ini batasnya juga tipis, bisa juga disinggung bahwa tipikal industri energi itu berbeda e.g banyak teknologi, dan investasi langsung dari negara ke negara.

Analisa Politik dari Orang Non-Politik
Case yang lain adalah mengenai “Understanding political economy of energy” Rehman et al. Tulisan ini meski judulnya analisa politik, tidak banyak bicara mengenai narasi politik. Narasi politik lebih banyak digunakan sebagai pengantar, kemudian selanjutnya lebih banyak membicarakan mengenai “How”nya daripada aspek “Why” yang sering digunakan analis politik.

Tapi ini menarik, hingga pada akhirnya saya bisa menuliskan tag politics di catatan ini.

Setelah 16 bulan lamanya.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Januari 9, 2017 pada 11:12 am

Ditulis dalam Science

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: