Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Renungan

leave a comment »

Waktu saya memilih energi sebagai topik penelitan saya. Saya berpikir bahwa saya bisa menyelesaikan permasalahan energi di Indonesia. Jika masalah energi tidak bisa dipecahkan, saya pikir saya bisa bekerja di perusahaan energi di Indonesia. Dasar pemikiran saya, begitu banyak potensi energi di Indonesia dan saya berpikir ada begitu banyak cara untuk meningkatkan kinerja energi di Indonesia.

Contoh, dalam bayangan saya. Saya berpikir bisa membantu perusahaan di Indonesia dalam mengelola proyek-proyek energinya dengan membuat design organisasi yang lebih efisien. Membuat fungsi PMO di perusahaan migas misalnya, atau mengecek rencana bisnis perusahaan, asesmen, audit dan seterusnya.

Happy ending bukan?

Sayangnya, setelah saya lihat lebih jauh. Ternyata tujuan penelitian bukanlah seperti itu. Kalau hanya membantu dalam konteks perusahaan maka itu sudah bisa diselesaikan dengan tingkat S2. Dalam konteks yang tidak saya kuasai pun, semisal analisa CSR wilayah kerja atau analisa kontribusi ekonomi (yang pernah dibuat LPEM UI misalnya) itu pun bisa dikerjakan oleh seorang analis social economy dengan tingkat S2.

Masalah baru muncul ketika:
1. Skala. Konteks selalu diperluas, misalnya dalam skala negara. Negara merupakan contoh yang paling menarik untuk topik S3, karena dinamika didalamnya yang lebih kompleks daripada perusahaan
2. Moril. Selalu ada keinginan untuk menciptakan sebuah silver bullet yang secara ajaib bisa menyelesaikan masalah yang paling fundamental. Dari memberantas kelaparan hingga memberantas korupsi.

Contoh, membaca mengenai energy poverty.

Energy Poverty erat kaitannya dengan Poverty itu sendiri. Yang menurut UNDP merupakan kondisi yang dinamis. Poverty artinya miskin kalori intake, miskin harapan hidup, miskin kualitas rumah, miskin literasi, miskin akses ke energi.

Dus, kalau dinyatakan Indonesia adalah negara miskin, artinya Energy Laddernya baru ditingkat basic needs, dimana seharusnya tingkat 1 basic need, tingkat 2 mecanical energi for aggriculture/transport, tingkat 3 untuk domestic appliances. Makanya dorongan untuk melakukan mekanisasi pertanian itu tidak mudah.

Jadi, berpikir sebagai seorang ilmuwan itu bukan sebagai orang yang bisa melist faktor faktor penghambat energy development apa saja e.g Politics (Political instability, poor institutional capacity, fragmention in poliy making, corruption, politicla patronage).

Tapi lebih seperti seorang dokter yang tidak jijik melihat darah, kotoran atau mayat. Tapi melihat sebuah naratif cerita dengan tokoh-tokoh didalamnya. Mungkin tidak membayangkan emosional melihat film Interstellar dan membayangkan menjadi tokoh utama yang bisa menemukan mesin waktu, tapi melihat bahwa ada kumpulan aktor yang saling berinteraksi dan menjelaskan interaksinya bukan dari sisi baik dan buruk.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Januari 9, 2017 pada 12:58 pm

Ditulis dalam Science

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: