Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Kolam Kecil Berlumpur

leave a comment »

Di akhir tahun ke empat kuliah, sekitar akhir tahun 2003an, saya melihat bahwa bidang “Knowledge Management” (KM) merupakan sebuah bidang di masa depan. Referensi saya adalah Majalah Wartaekonomi yang waktu itu sedang populer-populer-nya bersebelahan dengan majalah Infokomputer. Pergi kekantor manapun, ke ruang kuliah manapun selalu ada dua majalah ini.

Pun ketika saya sempat bekerja praktek di salah satu kantor pusat bank, saya melihat bahwa ada Bank yang mempersiapkan proyek KMnya dengan menggandeng vendor besar, mempersiapkan sebuah posisi khusus untuk Chief Knowledge Management. Dalilnya adalah “Perusahaan yang maju, adalah perusahaan yang bisa memetakan pengetahuan baik yang tertulis dan tidak tertulis di perusahaannya”

Keren kan.

Hampir 20 tahun berlalu, kalau ditanya KM sekarang, tidak pernah ada karyawan yang mendengarnya, yang sering terjadi adalah masuk ke ranah HRD atau merupakan salah satu sistem informasi yang berbentuk silo.

KM mungkin salah satu jargon saja, diawal tahun 2000an. Selain KM diawal tahun 2000-an, banyak jargon lain yang digunakan mulai dari Y2K, kemudian mulai bergeser ke SOX/COBIT, bergeser lagi ke BCM, ITSP dan seterusnya hingga kini regulatory compliance.

Tidak hanya jargonnya yang berubah. Tapi juga pasarnya, kalau dulu banyak client dari perusahaan swasta untuk implementasi SAP -atau implementasi ERP lainnya. Maka sekarang banyak client datang dari pemerintahan / government related sector yang punya budget -lebih pada cost center.

Flash back ke tahun 2003-an yang lalu. Apakah prediksi saya salah?

Tidak juga sebenarnya, dalam hati kecil, saya memang agak ragu dengan popularitas KM. Dan waktu itu saya mempersiapkan skill teknis lain yang ingin saya kejar, implementor SAP, Management Trainee (MT) atau programmer.

Sejarah membuktikan bahwa yang membuka jalan saya pertama kali adalah programmer (TI), dilanjutkan system admin (TI) dan baru terakhir auditor (SI).

Hal ini memberikan saya pelajaran atas beberapa hal:
1. Kita, hanya merupakan bagian sangat kecil dari peradaban. Apa yang kita rencanakan belum tentu sesuai dengan apa
2. Di Indonesia, ketergantungan kita pada asing sangat tinggi. Contoh, untuk bisa punya stock exchange terintegrasi kita harus punya laporan XBRL yang sama. Namun meminta bank untuk punya report XBRL tidak mudah, BI/SKK Migas/OJK selaku regulator harus bisa mendorong bank untuk punya report XBRL. Berapa biaya pengerjaan bank tersebut?
3. Negara kita tidak kaya -dalam artian netral. Bukan berarti negara harus dipaksa memprioritaskan pada sektor pendidikan/kesehatan -yang mana sangat dipahami uang-nya pas-pasan dan masih banyak ketidakefisien-an. Contoh bagaimana negara membelanjakan teknologi, kalau komputernya beli dari asing, belum lagi vendor yang tidak efisien untuk berkompetisi dalam tender.

Kita tidak pernah tahu jalan kita kemana

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Januari 15, 2017 pada 2:44 pm

Ditulis dalam Management

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: