Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Membumikan Inovasi

leave a comment »

Disela-sela membaca tumpukan paper yang semakin ruwet, ada dua nama yang muncul dibenak saya. Geels (MLP) dan Jacobsson (TIS). Frank Geels ini Dutch, S1-nya Teknik Kimia, S3-nya mengenai Technological Transition dibawah bimbingan Rip & Schot. Sekarang Geels adalah professor System Innovation and Sustainability. Geels membahas inovasi in general jadi termasuk inovasi renewable energy, transport atau utilities dst. Staffan Jacobsson ini Swedish. Lebih banyak melihat dari dimensi inovasi khususnya di renewable energy dan aspek policy-nya.

Tahan nafas.

Sampai saat ini, sebenarnya fokus pada satu orang saja sudah cukup. Misal merefer ke Geels saja. Mengikuti apa yang dia sudah tulis dan kerjakan.

Cukup? sayangnya tidak, perlu melihat dari dimensi yang lain. Salah satu yang menarik adalah SNM. SNM ini merupakan cara pandangnya Schot. Ini menarik karena, transition theory sebenarnya bicara mengenai niches dan regime yang berinteraksi ref (bukan reference tapi slide ppt). Pointnya adalah membaca dokumen baru (SNM) tujuannya adalah menguatkan dokumen lama (MLP).

Ok, lalu dimana benang merahnya?

Benang merahnya adalah Yanuar Nugroho, yang melihat “dampak dari inovasi terhadap perubahan sosial”. Yanuar ini melihat inovasi e.g internet ini pengaruhnya pada perubahan sosial apa.

Ok. Disini titik temunya. Jadi baik Dr Geels, Dr Jacobsson atau Dr Yanuar Nugroho, mereka semua bisa dikatakan Professor Inovasi, tenaga ahli dalam bidang Inovasi. Jika di minta untuk mengajar kelas inovasi, baik di UGM, di MIT mereka semua ini bisa mengajar mahasiswa S1, S2, S3. Mereka bisa memberikan penjelasan, apa itu inovasi, mengapa inovasi bisa terjadi, hingga sejarah teori inovasi dari Schumpeter, Rogers, Drucker, hingga Clayton Christensen.

Contoh bila mereka diberi buku Strategic Management of Technological Innovation-nya Melissa Schilling untuk S1 maka mereka bisa menjelaskan dengan baik. Atau bila menjelaskan mata kuliah manajemen, dalam hal ini dengan acuan textbook Management – Robbins and Coulter juga bisa menjelaskan dengan baik mengapa Nintendo bisa sukses, mengapa Nissan bisa Survive, hingga mengapa NASA menjadi NASA.

Nah sampai disini orang-orang ini punya kesamaan. Hingga pada satu titik, yaitu apa pendapat mereka mengenai inovasi. Kira-kira ilustrasinya seperti ini. Kalau Geels, Jacobsson dan Nugroho berada dalam satu ruangan yang sama diberikan pertanyaan:

  1. Apa itu inovasi? mereka akan sama-sama menjawab bahwa inovasi adalah ide baru -yang mereka semua sama-sama merujuk ke schumpter si bapak inovasi. Perbedaannya adalah di pertanyaan kedua.

  2. Apa itu inovasi menurut pendapat anda? Nugroho akan menjawab “Inovasi adalah sesuatu yang dapat mentransform society” atau “Inovasi adalah sesuatu yang dapat mendorong perkembangan desa”. Geels akan menjawab “Inovasi adalah sesuatu yang mendorong perkembangan sustainability” dan 67 definisi lainnya. Begitu juga dengan Jacobsson, akan mempunyai jawabannya sendiri.

Bagaimana bila inovasi itu ditanyakan kepada saya? saya tidak bisa menjawab. Yang saya bisa lakukan adalah mengutip. Yang saat ini saya sedang lakukan adalah menduga-duga. Dugaan saya adalah “perkembangan energi terbarukan ini lebih optimal kalau didahului dengan perkembangan listrik” atau “perkembangan energi ini lebih optimal kalau didahului dengan pergantian fuel”. Kita lihat.

Adopting technology, transforming society: The internet and the reshaping of civil society activism in Indonesia

ref

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Januari 20, 2017 pada 12:05 pm

Ditulis dalam Science

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: