Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Potret Energi di Indonesia

leave a comment »

Tiga minggu yang lalu saya menulis mengenai potret energi di Indonesia. Sekarang saya mencoba menuangkan lagi, setelah melihat report dari IEA dan ASEAN Energy mengenai energi di kawasan Asia Tenggara. Sedikit, saya menemukan benang merah antara report-report yang dibuat lembaga energi (IEA, ASEAN Energy, DEN, BPPT) dengan report yang dibuat lembaga keuangan (BI, Depkeu)

Lembaga Energi misalnya, selalu membuat report dalam model supply and demand. Dimulai dari demand energi disuatu negara apa, demand bisa dilihat by fuel (coal, oil, gas) atau by sector (transport, agriculture, industry) setelah analisa demand, si lembaga energi membuat analisa supply yang dimensinya hanya by fuel. Report juga bisa menambahkan power sector, yang bisa terpisah, atau ada bagian tersendiri diluar supply/demand yaitu energi transformation.

Lembaga Ekonomi, membuat report dalam model ekonomi.

BI misalnya, dimulai dari pertumbuhan, moneter, inflasi, fiscal.
BPS misalnya, dimulai dari pertumbuhan, inflasi, trade balance, moneter, investment, labour.
Kemenkeu misalnya, dimulai dari pertumbuhan (gdp growth, sectoral (agri, industry, services)), inequality (gini, poverty, unemployment), inflasi, monetary exchange, tradebalance, national budget, tax, tax, national spending)

Susah mana energi atau ekonomi? jelas susah ekonomi. Ekonomi itu susah sekali. Variablenya jauh lebih banyak. Orang energi bila bicara mengenai sektor hanya bicara mengenai 4 domain saja: agriculture, industry, transport dan residential. Tidak ada komponen mengenai industri jasa. Sementara Ekonomi bicara sektor adalah bicara mengenai 3 domain besar (agri, industry, service) yang diturunkan dalam 17+ sub domain, dan sekitar 60+ industry yang sangat kompleks. (see ISIC Classification UN).

Coba bayangkan, bagaimana bisa membuat kebijakan ekonomi dengan kompleksitas 60+. Saya mesti bersyukur karena energi hanya sekitar 4+ atau turunannya masih sekitar <20

Kesimpulannya:

  1. Mengelola ekonomi tidaklah mudah, butuh waktu yang lama, dampak atas sebuah keputusan (policy) juga tidak langsung terlihat secara instan. Butuh waktu dalam skala generasi (25 tahun) untuk melihat sesuatu ada dampaknya -bisa jadi dampaknya salah.
  2. Untuk menganalisa, butuh kepala yang dingin. "A mile wide and an inch deep" seringkali terjadi, tapi pendekatan ini mungkin saja efektif.

http://www.investmentmap.org/industry_classification.aspx
https://priandoyo.wordpress.com/2016/02/06/sectors-classification/

Tag: Economy

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Januari 24, 2017 pada 12:45 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: