Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Negara proposal, merencanakan itu mudah

leave a comment »

PP 14 tahun 2015 mengenai Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (2015-2035) disahkan Maret 2015. Dasarnya juga jelas dari UU 3 tahun 2014 tentang perindustrian. Kemudian turunannya adalah Kebijakan Industri Nasional (KIN 2015-2019). Selanjutnya daerah harus menyusun RIPIN versi daerah (RIPID) dan dokumen kompetisi inti industri daerah (KIID).

Dejavu?

Sama seperti PP 79 tahun 2014 mengenai Kebijakan Energi Nasional (KEN) / RUEN kemudian turunannya adalah RUED. Kalau butuh analisa yang high level ada RPJPN dan RPJMN yang sifatnya nasional. Kalau butuh analisa yang sifatnya cross sector maka ada

  • Perencanaan Kebutuhan Bahan Baku dan Energi Sektor Industri dalam rangka Pembangunan Industri Nasional
  • Perencanaan Kebutuhan Tenaga Kerja Sektor Industri dalam rangka Pembangunan Ekonomi
  • Analisis Supply Chain dan Biaya Logistik Sektor Industri

Artinya, segala model analisa, model perencanaan, model proposal itu sudah ada. Namun pertanyaannya kenapa pertumbuhan ekonomi masih lambat?

Sebelum menjawab ini, pertanyaan diatas adalah pertanyaan dengan asumsi yang tidak tepat. Dokumen perencanaan itu murah dan mudah. Murah, sama seperti sekelompok himpunan mahasiswa membuat proposal mencari dana kepada sponsor untuk mengadakan seminar komputer. Pertanyaannya, kenapa ada universitas (PTN misalnya) yang mudah mendapatkan sponsor, sementara ada universitas (PTS misalnya) yang jangankan mendapatkan sponsor, mendapatkan peserta saja sedikit. Artinya punya dokumen perencanaan yang baik itu bukanlah competitive advantage. Advantage itu adalah punya brand universitas yang lebih baik.

Kembali ke pertanyaan diatas. Pertumbuhan ekonomi yang lambat tidak disebabkan oleh perencanaan, proses tender lambat, disbursement loan lambat, tidak tepat sasaran (seperti disampaikan ref), itu masalah business process, masalah efisiensi yang masih bisa ditingkatkan.

Sama seperti PTS yang tidak mampu membuat seminar tadi. Masalah yang paling mendasar adalah business model. Apakah business model-nya menguntungkan atau tidak. Dokumen perencanaan hanyalah bagian kecil dari sebuah business model. Business model tadi tidak selalu harus tertulis. Praktek yang terjadi, PTS tadi tidak mampu bersaing dalam event seminar maka PTS tersebut akan bersaing dalam event lain -pagelaran musik, misalnya. Dimana PTS tersebut bisa mengeksploitasi secara maksimal, lebih baik dari seminar si PTN.

Lalu kenapa banyak orang berpendapat solusinya adalah organization model. Alih-alih mengadakan seminar, mengapa tidak mengadakan malam keakraban digunung bersama-sama, yang benefitnya lebih banyak dirasakan oleh mahasiswa. Bisa jadi ini merupakan pilihan juga, karena seminar dirasa tidak menguntungkan, dirasa tidak menarik.

Bagaimana dengan Indonesia? saat ini banyak orang lebih meributkan organization model (baca: political goals) dibandingkan dengan economic goals yang tidak menarik. Memikirkan makrab lebih mudah daripada memikirkan seminar. Ini solusi sementara yang efektif. Daripada pusing memikirkan potensi untung (dan potensi rugi) lebih baik memikirkan potensi senang (daripada susah). Daripada aspek materi lebih baik aspek psikologis.

Saya? lebih memilih aspek materi.

http://www.arah.com/article/19601/ini-pentingnya-ekonomi-islam-dalam-pembangunan-bangsa.html
http://kibar-uk.org/2016/12/30/talk-insight-membangun-bangsa-dengan-ekonomi-islam/
http://indoprogress.com/2014/05/globalisasi-neoliberal-kemiskinan-dan-lalu-apa-solusinya/

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Februari 8, 2017 pada 12:00 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: