Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Desentralisasi

with one comment

Tahun 2000-an, waktu saya mengajarkan handphone nokia 3310 kepada bapak saya, bapak saya mengatakan “namanya produsen HP pasti akan membuat produk terus, orang kaya akan terus dibuatkan produk, supaya laku”. Bapak saya berkomentar sinis ketika saya menyampaikan bahwa ada konsep “digitalization” ketika semua hal yang dulunya analog akan berjalan dengan sistem digital yang lebih murah. Saya menanggapinya dengan penuh maklum, mungkin begini rasanya menjadi ketinggalan jaman, begitu pikir saya. Sayangnya berpuluh tahun kemudian, apa yang bapak saya sampaikan ini ternyata benar adanya.

Dan ketika ditahun yang sama bapak saya kembali berkomentar bahwa “Ini semua gara-gara reformasi, semuanya kacau berantakan”. Waktu pernyataan ini pertama kali disampaikan, komentar saya juga sama seperti HP nokia tadi. Ini mungkin komentar orang tua. Namun sama seperti HP tadi, saya baru tersadar bahwa dua hal yang disampaikan bapak saya tadi adalah benar adanya. Benar sebagaimana pengamatan orang tua mengenai lingkungannya yang disampaikan kepada anaknya tanpa muatan politik) apapun.

Ini contoh tulisan Anwar Nasution 2016 di ADB:
“…Without much preparation, Indonesia, in 2000, at a stroke replaced the previous system of centralized government and development planning with a wide range of decentralization programs. However, after over 15 years of reform, institutions have yet to be built to allow both the provincial and subprovincial governments to implement the newly acquired responsibilities. Unlike in many emerging and transitioning countries, the decentralization program in Indonesia was implemented quickly without any major political or economic problems. The combination of the absence of unified public service standards and the lack of knowledge in the new administration of public funds has led to corruption and delays in the disbursement of government budget expenditure…”

Anwar Nasution, dari beberapa komentarnya menarik:
– BUMN tidak efisien
– Tax Amnesty tidak efektif

https://m.tempo.co/read/news/2015/12/17/087728579/anwar-nasution-kenapa-salim-kaya-dan-bumn-minta-duit-terus
http://bisnis.liputan6.com/read/2536087/anwar-nasution-ragu-pengampunan-pajak-sukses-tarik-uang-wni

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Februari 14, 2017 pada 1:58 pm

Ditulis dalam Science

Tagged with

Satu Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. thanks for all information here

    Kata kata

    Agustus 11, 2017 at 11:23 pm


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: