Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Selamat Pusing: Country Analysis (Detailed Sectoral)

leave a comment »

Waktu saya mengawali penelitian ini, saya pikir masalahnya sederhana sekali: reserve (cadangan energi). Logika berpikir saya juga sangat sederhana. Minyak bumi itu limited, sementara angin dan matahari itu unlimited. Maka konsep cadangan energi tidak berlaku pada energi terbarukan. Artinya segala masalah energi itu selesai dengan menggunakan energi terbarukan. Nyatanya?

Tahun pertama, saya baru menyadari bahwa ada masalah krusial pada renewable energy (RE) reserve, ada problem mendasar pada potensi pengembangan RE. Kecurigaan ini terkait dengan hebohnya pemberitaan mengenai RE, tidak logis-nya pengembangan RE -mengingatkan saya pada ceramah tahun 2004-an yang mengatakan bahwa tenaga TI dibutuhkan banyak perusahaan (kalau dibutuhkan kenapa orang sulit mendapat kerja IT? kalau memang prospeknya bagus, dalam waktu singkat akan jenuh pasarnya, bisa jadi bukan pilihan yang baik)

Tahun kedua, saya akhirnya menyadari, energy reserve itu problem yang masih jauh diawang-awang, energy reserve itu masalah dalam tahap perencanaan (planning). Yang lebih riil? masalah pencatatan (accounting). Sebelum kita memikirkan “masa depan mau apa” lebih baik kita memikirkan “saat ini sedang apa”. Ini makanya pencatatan energi menjadi masalah yang jauh lebih rumit daripada masalah perencanaan energi. Kenapa? karena segala kalkulasi tentang masa depan, harus diawali dengan kalkulasi saat ini.

Singkatnya sebelum, merencanakan bahwa kita butuh mobil seven seater. Lebih baik, kita menghitung dulu, ada berapa jumlah keluarga kita dan kemana saja kita berpergiaan. Jangan-jangan kita bukan hanya tidak butuh mobil, tapi kita hanya butuh sepeda onthel saja untuk kita sendiri.

Energy accounting is the real issue here.
Masalah energy accounting itu bukan sekedar 200 MTOE (TPES) di tahun 2010-an, yang menurut National Energy Policy, akan menjadi 400 MTOE -yang terdiri dari sekian persen minyak, gas dan batubara. Untuk mencapai energy mix yang lebih ideal, misalnya dari <5% RE menjadi 25% RE, bukan sekedar membangun pembangkit listrik tenaga angin/matahari sebanyak-banyaknya. "It can not be done"

Ibarat balapan motor, untuk membuat motor kencang tidak hanya menggunakan bahan bakar yang lebih bagus, tapi juga mengurangi bobot kendaraan, membuat design aerodinamis, membuat ban yang lebih baik dan seterusnya. Maka, tahap pertama energy accounting, adalah breakdown kedalam subsektor secara detail. Dan disinilah masalah dimulai.

Mengetahui jumlah kendaraan (selain merupakan masalah sendiri) tidak cukup, perlu juga jumlah produksi (termasuk trendnya), berapa rata-rata jarak yang ditempuh, hingga bagaimana efisiensi kendaraannya. Susah kan. Susah dong, karena tiap kota, tiap umur kendaraan, tiap jenis kendaraan (bus/truk/mobil), tiap fungsi kendaraan (umum/pribadi) hingga tipe jalan (aspal/tanah) memiliki karakteristik sendiri-sendiri.

Mau lebih susah lagi? lihat unit of transportation measurement. Kalkulasi akan bertambah rumit, karena diperlukan faktor lain seperti traffic flow (macet), payload (quantity/distance). See, bahkan sector transportasi ini bisa jadi satu fakultas sendiri.

Mau lebih gampang? bisa saja sih, menggunakan pendekatan fuel. Avgas (Piston Plane) dan Avtur (Kerosene/JET-A) mungkin lebih mudah daripada meng-accounting-kan jumlah pesawat terbang di Indonesia. Masih lebih susah? road transport merupakan subsector transportasi yang konsumsi energinya paling besar.

Huff… sudah? sayang belum.

Sebenarnya, bagi orang energi, masalah berhenti di IEA saja. IEA ini menghitung kebutuhan energi saja. Namun bagi orang lingkungan, masalah diperbesar dengan menambahkan dua hal: emission factors dan non energy factors. Non energy factors ini super duper ribet. Sebagai perbandingan, kalau energi itu kontribusinya 50%, maka 25% sisanya adalah… Sampah. Yup, sampah. Kontributor pencemaran lingkungan terbesar setelah energi. 15% sisanya adalah? agriculture? what? dan sektor yang paling kecil adalah… industri (non combustion <10%)

Cukup sudah penderitaan? sayangnya tidak. Dari kacamata orang lingkungan. Energi use itu nothing dibandingkan dengan dosa deforestasi (LUCF) dan dosa kebakaran gambut (Peat Fire) ini nilai emisinya lebih besar dibandingkan dengan emisi dari seluruh sumber emisi di Indonesia. What? iya. Sedih ya.

https://en.wikipedia.org/wiki/Units_of_transportation_measurement
http://aviation.stackexchange.com/questions/12184/what-are-the-differences-between-fuel-types-comparing-with-vehicles
http://apki.net/wp-content/uploads/2013/05/Draft-Petunjuk-Teknis-Penghitungan-Emisi-GRK-di-Sektor-industri.pdf

Scenarios analysis of energy mix for road transportation sector in Indonesia (Deendarlianto et al 2017)

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Maret 21, 2017 pada 1:15 pm

Ditulis dalam Science

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: