Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

IEA versus ESDM: Mengapa data berbeda

leave a comment »

Bolak balik membaca report versi ESDM versus report versi IEA membuat saya sakit kepala. Hingga akhirnya, voila. Benang merah itu akhirnya terlihat. Senangnya.

Jadi begini, sejak mengawali penelitian ini, saya melihat bahwa “energy mix” adalah jargon yang sangat indah. Sama seperti jargon “food combining” atau “marketing mix”. Pada konsep food combining, intinya agar sehat maka makanan harus di mix antara carbo/protein/fat. Untuk marketing mix, intinya bisnis itu harus covers aspek product/place/promotion/price.

Selain jargon mix, jargon yang lain adalah balance. Ini lebih pada sesuatu yang pemasukan/pengeluaran. Jadi banyak digunakan pada term economics (production/consumption) atau secara praktis digunakan juga pada “work/life balance” dan “weight/cardio balance”.

Baik jargon mix dan jargon balance merupakan jargon yang indah dan sering dikutip media. Misalnya, mengatakan bahwa trade balance Indonesia surplus (neraca perdagangan bulan ini surplus), menunjukkan hal yang masuk, karena uang yang diperoleh lebih banyak. Walau seiring berjalannya waktu, jargon-jargon ini tidak efektif.

Jargon yang mirip juga banyak digunakan di industri. Misalnya, churn rate, employee turnover. Misalnya, PNS selalu mengklaim zero turnover (iya lah, BI, BUMN, TNI/Polri) selalu zero turn over, maka penggunaan istilah employee turnover pada PNS tidaklah efektif. Begitu juga churn rate. Smartfren bisa mengatakan churn rate-nya paling rendah (penggunanya loyal), namun buat apa loyal, kalau jumlah penggunanya sedikit.

Mix, Balance, Incident/Year merupakan indicator-indicator yang berpotensi misleading. Sama seperti istilah dalam finance ROA, ROI atau istilah dalam saham EPS, P/E Ratio dsb. Dalam comparative analysis (baca: science) indicator ini bisa tidak bunyi sama sekali.

Butuh contoh? mari kita lihat data energi dari IEA dan ESDM, dan mengapa data-nya terlihat sangat berbeda. Dengan berasumsi bahwa data yang digunakan oleh kedua lembaga ini benar, maka tentunya aneh bila masih terdapat banyak perbedaan. Perbedaan data yang bisa dilihat disebabkan:

1.Konversion Factor: Primary Energy Equivalent: Renewable Energy (Method)
Ini adalah faktor pembeda yang paling mendasar. IEA karena kepentingan analisa ditingkat dunia menggunakan Physical energy content (dibandingkan dengan partial substitution). Makanya data IEA, Geothermal TPES MTOE-nya sangat tinggi sekitar 16 MTOE. IEA menggunakan physical energy content atas geothermal sebesar 10%, which is make sense karena world averagenya adalah 12%. Padahal khusus untuk PLTP Drajat efficiencynya mencapai 22% (tertinggi didunia), namun karena IEA dirancang untuk analisa ditingkat dunia, digunakan angka energy content sebesar 10%

See explanation:
https://www.iea.org/media/workshops/2012/trainingmoscow/Session7Treanton.pdf

2.Konversion Factor: Fossil Fuel (Formula)
Ini juga faktor yang membuat pusing, karena IEA menggunakan TOE sebagai standar perhitungannya. Sementara ESDM bisa menggunakan BOE. Akibatnya? kapan suhu konversi dilakukan, jenis fuel apa, akan mempengaruhi variasi angka yang dihasilkan.

3.Statistical Difference
You know, it is ultra complicated.

Kesimpulan? for the sake energy analysis please stick to use IEA data. Apakah data ESDM salah? tidak salah. Bahkan (mungkin) data yang paling akurat adalah data dari ESDM. Tetapi, untuk keperluan country analysis, maka data IEA-lah yang sebaiknya digunakan.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Maret 28, 2017 pada 1:07 pm

Ditulis dalam Science

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: