Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Sains vs Media

leave a comment »

Sebagai peneliti amatir, saya menemukan bahwa google merupakan tempat bertanya pertama, dibandingkan dengan scopus. Contoh, berapa produksi peternakan Indonesia tahun 2010? jawaban yang paling akurat adalah dari data statistik BPS. Namun data yang paling bisa dipakai adalah data FAO.

Namun, dari kebanyakan mencari data. Seringkali data yang saya peroleh itu salah. Salah karena penyebabnya dari saya sendiri yang cenderung memiliki penilaian sendiri terhadap nilai suatu data. Contoh, lahan pertanian. Karena rumah saya dulu sebelah sawah, maka saya cenderung melihat bahwa lahan pertanian Indonesia kecil dan terus berkurang. Atau mengenai pemberitaan mengenai kebakaran hutan yang masif, yang membuat saya mempunyai penilaian sendiri terhadap luasan kebakaran hutan.

Dari beberapa kali googling, saya kira saya perlu membuat catatan kecil mengenai bagaimana kita mencerna informasi dari media.

  1. Meski media tersebut mengklaim media sains/teknis, dengan latar belakang penulis teknis, informasi yang disajikan belum tentu akurat. Kalaupun informasinya akurat, maka bisa jadi misleading. Contoh, ada penulis teknis yang mengatakan bahwa Indonesia per capita bukan, penghasil emisi terbesar. Penulis teknis ini memposting demikian, yang kemudian diamini oleh para pembacanya. Pembacanya memberikan statemen dukungan bahwa negara maju-lah yang membully negara berkembang. Disini perlu diingatkan, bahwa fungsi sains dan media adalah berbeda. Media lebih banyak mempengaruhi sentimen publik -tanpa perduli informasi akurat atau tidak, misleading atau tidak. Dengan asumsi bahwa toh maksudnya baik.

  2. Banyak media yang mengklaim media sains, ternyata memiliki penulis bukan berlatar belakang sains/research. Ini sering ditemukan karena tujuan media adalah mendapatkan pembaca, berbeda dengan sains yang menempatkan pembaca sebagai efek samping.

  3. Meski media tersebut teknis, dengan latar belakang teknis. Tulisan teknis membutuhkan penyesuaian agar bisa dibaca publik. Ini juga berpotensi misleading. Untuk mendorong orang agar mengerti mengenai science bukan lewat kampanye sosmed. Satu-satunya kampanye sains yang paling efektif adalah mendorong orang (lebih tepatnya anak muda) untuk berkarir lewat jalur science. Namun inipun membutuhkan waktu yang sangat panjang dan effort yang sangat berat.

Kebakaran Hutan: Jurnalis vs Ilmuwan (Gap sains dan media)
Jurnalis dan Ilmuwan adalah dua profesi yang sangat berbeda.
Phdcomics: The Science News Cycle

http://www.wri-indonesia.org/id/blog/krisis-kebakaran-terakhir-membuat-indonesia-melangkahi-rusia-sebagai-produsen-emisi-terbesar
https://gapki.id/perkebunan-kelapa-sawit-dalam-fenomena-kebakaran-hutan-dan-lahan/
http://www.globalfiredata.org/data.html

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

April 3, 2017 pada 12:23 pm

Ditulis dalam Science

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: