Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Menulis

leave a comment »

Periode menulis terbaik saya adalah sekitar tahun 2004. Tulisan yang saya buat pada waktu itu lebih banyak ditulis dengan konteks bercerita, mungkin mirip dengan gaya penulisan diary dengan bicara pada tokoh imajiner. Tulisan pada waktu itu bisa tercipta karena minimnya akses internet, bahkan akses komputer tergolong minim, tulisan hanya bisa ditulis di PC berukuran besar. Namun akibatnya apa yang dihasilkan lebih baik dan lebih bermanfaat.

Belakangan ini kalau saya lihat lagi, maka tulisan yang saya buat lebih bermasalah. Tidak berkualitas, lebih banyak kumpulan facts, links. Tulisan yang dibuat dengan cepat dan kejar setoran. Bahkan menurut saya sudah sampai dalam tahapan kecanduan. Ini artinya tidak sehat lagi.

Terus terang, saya terinspirasi dengan beberapa tulisan yang menulis mengenai pengalaman menempuh event marathon atau event cycling 100 km yang ditulis dengan dedikasi. Meski dengan ukuran saya, skala kemanfaatannya dipertanyakan. Misalnya, fakta-fakta yang disajikan kurang akurat, atau berisikan opini yang sangat bias, tapi sebenarnya tulisan-tulisan yang terlihat kurang bermanfaat secara komersil ini merupakan jenis tulisan yang saya butuhkan, dan dalam jangka panjang memberikan manfaat yang sangat besar.

Keinginan saya menulis seringkali didasari keinginan untuk mencatat. Misalnya, ternyata heart rate anak lebih cepat dari dewasa. Hal ini saya dapatkan setelah mencoba mengukur detak jantung anak saya berusia 5 tahun yang mencapai 93 BPM sementara saya dan istri sekitar 62 BPM. Segera setelah itu saya mencari informasi mengenai perbedaan heart rate anak dan dewasa. Dan biasanya siklus setelahnya adalah mencatatnya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan mencatat, namun kalau sudah muncul keinginan untuk mencatatkannya secara sistematis. Misalnya, rata-rata kecepatan tour de france sekitar 30-50 mph dan tour satu hari bisa mencapai 120 miles dengan total tour satu bulan. Namun kalau sudah dilanjutkan dengan menghitung rata-rata mingguan sekitar 300 miles di strava Indonesia. Rasanya ini sudah terlalu banyak.

Ini penyakit, penyakit psikologis tepatnya, walau cepat atau lambat akan menjadi penyakit fisik. Makanya ini harus segera diobati. Caranya? semudah dengan hanya membuka whatsapp sekali sehari, seperti dahulu berusaha hanya membuka email 3x sehari.

Jawa Pos Cycling Bromo 100 Km: Beautiful Climb, Beautiful Challenge
https://dzofar.com/2017/03/08/review-garmin-forerunner-35/
https://myanwyn.blogspot.co.uk/2017/04/pengalaman-gowes-bromo-100km-2017.html

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

April 13, 2017 pada 4:59 pm

Ditulis dalam Life

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: