Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Kontribusi: klaim sepihak yang menyesatkan

leave a comment »

Saya tidak membayangkan betapa sering saya akan menulis catatan mengenai “kontribusi” yang menyesatkan. Contoh berita di CNN Indonesia (Nov 2016), mengatakan bahwa:
– kontribusi UKM 60% dari GDP
– kontribusi UKM 97% dari tenaga kerja

UKM sendiri merupakan jargon yang menyesatkan, yang menurut UU 20/2008 mengatakan bahwa Mikro omset 300jt/tahun, Kecil omset 2.5m/tahun dan Menengah omset 50m/tahun. Artinya tukang pecel lele 1 tenda itu masuk Mikro, yang jualannya sekitar 1jt/malam (Rp 20,000 x 50 orang, beroperasi selama 5 jam sehari, atau 10 orang per jam (6 menit per orang)). Kalau juragan ikan di pasar yang omsetnya per malam sekitar 10jt itu masuk ke usaha kecil.

Owner usaha mikro misalnya, pendapatannya sekelas dengan orang kantoran kelas staff. Bisa bersih mendapatkan 5-10jt/bulan. Sementara, orang pengusaha menengah, bisa punya gaya hidup yang sama dengan orang kantoran kelas manager/professional.

Kalau dilihat dari kacamata income inequality, sebenarnya menjadi pengusaha UKM dengan menjadi manager professional tidak ada bedanya. Kelas antara kasta pekerja-pengusaha ukm tidak ada bedanya. Yang berbeda, hanyalah kelas elit yang posisinya mungkin hanya 0.001% dari keseluruhan populasi. Inilah yang mengumpulkan wealth paling banyak.

Masalah dengan UKM adalah:
1.UKM sangat sulit diklasifikasi, apakah berdasarkan size atau sektor. Sifatnya lebih banyak pada underground ekonomi yang sulit diatur. Contoh untuk menertibkan pedagang pecel lele, paling tidak harus menagih iuran pada pedagang tersebut, namun akibatnya pedagang harus membebankan iuran tersebut pada pelanggan. Karena kompetisi yang tidak sehat, bersaing dalam harga, maka pedagang tidak mau membayar iuran. UKM ada karena survivalitas dari masyarakat.

2.UKM itu chaos. UKM merupakan sebuah jargon untuk menyebut sebuah entitas yang sporadis namun bisa diklasifikasikan dalam satu kategori yang sebenarnya bukan kategori yang tepat. Ini ibarat mengatakan, kita punya banyak atlit yang bisa memenangkan lomba catur, padahal atlit yang ada atlit lari, renang dan sepeda.

Kesimpulan:
1. Punya kategori yang sama, bukan berarti mudah untuk membuat policy. Berada dalam kelas klasifikasi yang sama bukan berarti bisa dibuat aturan yang sama. Sama seperti ukuran berat badan atlit, buat tinju atau angkat berat mungkin efektif, tapi buat lari misalnya, tidak efektif.
2. Ada 2 approach untuk UKM, bisa berdasarkan government classification (e.g France) atau berdasarkan government certification (e.g UK). Sama seperti selalu ada 2 approach untuk menyelesaikan sebuah masalah. Dua aproach yang berada dalam sebuah polar yang berbeda.

Catatan: Ini juga berlaku pada klaim menyesatkan lainnya semacam sektor pariwisata

http://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20161121122525-92-174080/kontribusi-umkm-terhadap-pdb-tembus-lebih-dari-60-persen/
http://www.kemenkeu.go.id/en/node/47721

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

April 26, 2017 pada 11:22 am

Ditulis dalam Science

Tagged with ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: