Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Research: kesalahan praktis hari ini

leave a comment »

1.Social science is weird
Dulu sekali, saya pernah membahas bahwa bidang yang saya dalami adalah applied science (computer engineering) dan dalam beberapa hal malah formal science (computer science). Bidang komputer memiliki filosofi yang sangat berbeda dengan bidang ekonomi misalnya, ekonomi bisa menekankan antara descriptive vs analytical approach, atau malah bisa sama sekali berbeda dengan sosial science yang justru ribet menekankan antara quantitative vs qualitative, bahkan di qualitative sendiri diperdebatkan antara inductive vs deductive. Ribet kan social science itu.

Sementara, dalam dunia modelling, permasalahan relatif lebih sederhana, tidak banyak masuk ke kerangka filosofical. Problem yang dihadapi modelling adalah bagaimana menyajikan informasi yang complex dan bertumpuk-tumpuk.

EPA saja mendefinisikan model dengan sangat sederhana “A simplification of reality that is constructed to gain insights into select attributes of a physical, biological, economic, or social system. A formal representation of the behavior of system processes, often in mathematical or statistical terms”

Bayangkan, social science butuh satu bab khusus mengenai principles of sociological inquiry. Betapa ribetnya bukan. Walaupun istilah tersebut bisa digunakan juga di natural science sebenarnya tidak terlalu berguna. Kucing mau dilihat dari induktif maupun deduktif tetaplah kucing (feline, carnivora etc) sementara interpretasi sosial science bisa melihat manusia secara berbeda dari induktif atau dari sisi deduktif.

https://www.socialresearchmethods.net/kb/dedind.php
http://www.bio.miami.edu/dana/dox/scientific_method.html
https://www.epa.gov/modeling/environmental-modeling-101-training-module
https://en.wikiquote.org/wiki/Scientific_modelling
https://en.wikipedia.org/wiki/Scientific_modelling
https://en.wikipedia.org/wiki/Branches_of_science
https://en.wikipedia.org/wiki/Philosophy_of_social_science
https://en.wikipedia.org/wiki/Scientific_modelling
http://www.csus.edu/indiv/y/yangy/145ch1.htm

2.Kenapa prediksi selalu gagal (Why energy forecasts often fail)
Markard Jochen, Benjamin Sovacool, Frank Geels, Anna Bergek. Saya baru menyadari, dalam tingkat filosofi yang bisa dibandingkan hanya 2 elemen saja. Semakin luas sesuatu, maka semakin tidak dalam perbandingan yang bisa dibuat. Untuk bisa membandingkan dalam tingkat novelty. Cukup dibuat satu aspek saja.

3.Perbandingan yang tidak tepat (S2 vs S3)
Melihat beberapa thesis S2, rasanya scopenya memang jauh berbeda. Thesis S2 bisa dikerjakan dalam waktu 3 bulan, sementara S3 paling tidak dibutuhkan waktu 3 tahun untuk menyelesaikannya. Contoh kalau thesis S2 bisa menggunakan quantitative approach untuk membuktikan mana teori korupsi yang paling efektif (e.g antara agent theory, collective action vs political statement). Sementara thesis S2 yang lain menjelaskan sebuah fenomena bisa menggunakan SCOT vs MLP misalnya, disini teori tinggal dipakai untuk menjelaskan sesuatu.

4.Metric-metric yang tidak bisa dibandingkan
Banyak metric tidak yang tidak bisa dibandingkan satu sama lain. Semisal peringkat universitas dalam webometrics atau h-index dari peneliti.

An International Comparison of the Effectiveness of Energy Innovation Systems
https://www.findaphd.com/search/ProjectDetails.aspx?PJID=43415

https://www.ethz.ch/content/main/en/news-und-veranstaltungen/eth-news/news/2017/02/warum-liegen-energieprognosen-oft-daneben.html

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Mei 5, 2017 pada 12:26 pm

Ditulis dalam Science

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: