Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Seni micro-manager

leave a comment »

Micro-manager sebenarnya merupakan sebuah seni yang menarik. Buat beberapa orang micro-manager adalah sebuah karakteristik manager yang buruk, misalnya manager tersebut sangat rese dengan absensi kehadiran karyawannya, telat 10-15 menit maka manager akan marah. Atau ketika menyiapkan suatu kegiatan, maka micro-manager memperhatikan aspek detail yang tidak signifikan, misalnya urutan tempat duduk dalam rapat. Disisi lain micro-manager buat beberapa orang merupakan karakteristik yang baik. Meski menguras tenaga, micro-manager efektif bila digunakan untuk business process improvement, atau membangun budaya perusahaan.

Buat saya, micro-manager merupakan konsep yang menarik, namun kita harus kreatif untuk memanfaatkannya. Ambil contoh jadwal harian. Untuk jadwal kegiatan harian, saya bisa menyusun seperti ini:
(01) 04:30 bangun
(02) 05:15 lari (1.5h)
(03) 06:45 mandi
(04) 07:00 masak
(05) 07:30 sarapan
(06) 08:00 anak-anak mandi
(07) 08:45 berangkat sekolah (6h)
(08) 09:05 berangkat ke kampus
(09) 15:00 jemput anak
(10) 15:45 anak-anak dirumah
(11) 17:00 dinner
(12) 18:00 relax/work (2h)
(13) 20:00 bedtime story

Masalah dengan micro-manager seperti diatas adalah saya harus memperhatikan detail dalam skala 15 menit (mandi orang tua) bahkan dalam hitungan 10 menit (mandi anak), dan 5 menit (persiapan berangkat). Jadwal ini sebenarnya bisa saya rubah sebagai berikut:

(1) 07:00 semua aktivitas pribadi (bangun, lari, mandi) sudah harus selesai
(2) 08:00 semua aktivitas sarapan (masak, makan) sudah harus selesai
(3) 09:00 semua aktivitas keluarga (mencuci, membersihkan rumah, mengantar anak) sudah harus selesai
(4) 15:00 semua aktivitas pekerjaan sudah harus selesai
(5) 17:00 semua aktivitas bermain (roblox, trampolin, jajan) sudah harus selesai (1.5h)
(6) 18:00 semua aktivitas dinner (masak, makan, cleaning) sudah harus selesai
(7) 20:00 semua aktivitas bermain (ipad) sudah harus selesai (2h)
(8) 21:00 semua aktivitas off hingga jam 04:00

Baik jadwal yang pertama dan jadwal yang kedua sebenarnya sama-sama micromanager, memperhatikan aktivitas hingga dalam hitungan skala 5 menit. Perbedaan yang paling signifikan adalah menggunakan satuan unit terkecil dalam jam sehingga memudahkan untuk mengingat, namun dalam pelaksanaannya tetap menggunakan skala 5 menit.

Ini juga sejalan dengan teori project management yang menggunakan satuan unit terkecil dalam hitungan hari atau minggu. Jadi, semisal mengalokasikan untuk pendaftaran izin, meski prosesnya hanya 1 jam, tetap dicatat dalam hitungan 1 hari.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Mei 10, 2017 pada 5:09 pm

Ditulis dalam Management

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: