Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Emission Inventory: Bisakah satu metodologi menyelesaikan banyak masalah?

leave a comment »

Kalau mahasiswa S1 lingkungan disuruh mengerjakan proyek konsultasi “perhitungan inventarisasi emisi sektor transportasi laut”, mahasiswa ini pasti bisa mengerjakan proyek tersebut. Sama seperti mahasiswa S1 informatika disuruh mengerjakan proyek konsultasi “pembuatan sistem informasi pengawasan kendaraan bermotor”.

Tapi, kalau 2 proyek ini masuk dalam kegiatan tender dalam kementerian perhubungan misalnya, dengan durasi 6 bulan, dengan nilai proyek 3 milyar, misalnya. Maka hampir dipastikan mahasiswa ini tidak bisa mengerjakan kedua proyek tersebut. Mengapa? Untuk mengerjakan proyek, pemberi pekerjaan akan mewajibkan badan hukum, mewajibkan punya pengalaman. Dengan itu si pemberi pekerjaan akan memiliki keyakinan bahwa uang yang dibelanjakan akan tepat sasaran. Kalau sekedar mengerjakan, mahasiswa juga bisa mengerjakan proyek tersebut.

Tapi, kalau 2 proyek ini masuk dalam kegiatan research dalam kerangka lembaga penelitian/phd misalnya, juga dengan durasi 6 bulan misalnya. Maka hampir dipastikan mahasiswa S1 ini tidak bisa mengerjakan kedua proyek tersebut. Mengapa? Untuk bisa mengerjakan penelitian, maka sebuah penelitian harus didukung oleh lembaga penelitian yang kredibel. Artinya, penelitian itu tidak boleh hanya dikerjakan oleh satu orang saja. Paling tidak untuk riset PhD harus didukung oleh 2 orang peneliti lainnya. Bahkan untuk riset lembaga penelitian, bisa didukung hingga 6-7 orang untuk sebuah penelitian “sederhana”.

“Dukungan penelitian” dalam dunia riset ini sama pentingnya dengan “Badan hukum dan pengalaman kredibel” dalam dunia bisnis. Dan untuk merintisnya tidaklah mudah.

Saya baru lihat paper ini “Methodologies for estimating shipping emissions and energy consumption: A comparative analysis of current methods”. Ada 7 penulis dari 3 institusi dari 2 negara yang berbeda. Penulis tersebut berasal dari institusi yang sangat kredibel e.g jurusan transport laut dari negara laut (spain dan greece). Secara effort, menurut saya penelitian seperti ini bisa saja dikerjakan orang Indonesia. Approachnya jelas Emission Inventory, metodenya jelas energy consumption, detail metodologinya juga doable e.g EPA, STEAM, MOPSEA, IMO cara pengerjaannya juga doable.

Contoh yang lain adalah “Energy supply infrastructure LCA model for electric and hydrogen transportation systems” ini juga tiga penulis, dari dua institusi yang berbeda. Approachnya LCA, bidangnya jelas electric/hydrogen transport.

Kalau dibandingkan ke situasi di Indonesia, ada tidak orang yang menguasai Emission Inventory? sangat banyak. Ada yang menguasai LCA? sangat banyak. Ada tidak orang punya imajinasi untuk mengotak-atik approach yang ada untuk mencari solusi baru? sangat banyak. Pertanyaannya, ada tidak lebih dari dua orang yang mau mengerjakan otak-atik tersebut bersama-sama, dalam sebuah badan yang permanen dan konsisten? tidak ada.

Di Indonesia, badan riset bukanlah sebuah industri yang menarik. Simple, karena kalah bersaing dengan badan lain / institusi lain / negara lain yang menghasilkan riset lebih produktif. Di negara yang lebih maju misalnya, dunia riset bisa berkembang dengan menempel universitas (model inggris) atau sebagai lembaga riset (model jerman) yang “sudah telanjur” memberikan benefit lebih tinggi, sehingga bisa menghasilkan karya yang sustainable. Di Indonesia, kondisi ini tidak bisa diciptakan.

Sebagai contoh, bagaimana mungkin seorang peneliti lulusan S3 di Indonesia mendapatkan supply mahasiswa S3 untuk membantunya riset? atau lebih mendasar lagi, bagaimana mungkin seorang lulusan S3 mendapatkan atau menciptakan sebuah badan yang sustainable untuk mendukung risetnya?

Akhirnya, disinilah yang membedakan antara mahasiswa dengan praktisi. Yang membedakan antara karyawan dengan pengusaha. Yang membedakan antara yang masih berteori dan sudah mempraktekkan. Bahwasanya ada faktor X entah istilahnya “economic scale”, “feasibility” atau sesuatu lain yang menyebabkan sesuatu bisa dilakukan atau hanya merupakan konseptual belaka.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Mei 16, 2017 pada 9:02 am

Ditulis dalam Science

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: