Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Kenapa tidak ada jurusan keuangan?

leave a comment »

Dulu, saya sering terbingung-bingung, mengapa tidak ada jurusan keuangan atau jurusan pajak. Padahal, di koran banyak sekali lowongan yang mencari orang ahli keuangan atau ahli pajak. Sama seperti saya bertanya-tanya kenapa tidak ada jurusan database atau jurusan security. Di lowongan kerja, yang mencari database admin dan security admin itu banyak sekali.

Akhirnya, saya baru tersadar, bahwa jurusan jurusan tersebut (keuangan, pajak, database atau security) bisa dipelajari dalam waktu satu semester kuliah. Selesai. Jadi memang, tidak akan ada pernah jurusan seperti itu -kecuali didirikan untuk keperluan branding (iklan) semata. Misalnya, jurusan TI spesialisasi data, intinya sih jurusan IT. Sama seperti jurusan keuangan disalah satu kampus, intinya sih jurusan akutansi dengan branding keuangan.

Makanya, sebuah kantor konsultan, untuk mengisi lowongan konsultan keuangannya, cukup menggunakan filter dari lulusan luar negeri atau PT tertentu diseputaran Jakarta. Asumsinya bisa lulusan ini bisa kerja, bahasa Inggrisnya bagus, atau bisa ditempatkan diseluruh penjuru klien seputaran Jabodetabek. Anak Jakarta tentunya lebih menguasai medan daripada anak daerah.

Anak-anak ini setelah 5-7 tahun bekerja, yang berhasil tentunya bisa naik kelas, di promote ke level posisi yang lebih baik. Disaat ini, dimana anak-anak tadi sudah berusia 30-an. Perusahaan sudah tidak melihat lagi dia lulusan PTN atau lulusan luar negeri. Yang dilihat adalah apa pengalamannya. Kuliah di kampus abal-abal ga jelas akreditasinya selama 5 tahun, akan termaafkan dengan pengalaman kerja dia selama 5 tahun di perusahaan yang jelas kredibilitasnya.

Dititik inilah apa yang diajarkan di kampus sudah expired.

Lalu bagaimana persaingan di level pekerja menengah? umur 30 tahun – 45 tahun. Menurut saya, dititik ini, tidak ada lagi faktor eksternal. Faktor informasi lowongan kerja yang berlaku diawal lulus kuliah, hanya bertahan di fase umur 22-25 tahun. Faktor head hunter juga paling berlaku dari umur 25 hingga paling lama di 30-an.

Selanjutnya?

Selanjutnya orang harus membuktikan sendiri bahwa dirinya mampu. Caranya dengan pelan-pelan merintis sesuatu. Merintis prestasi, merintis proses yang lebih cepat, merintis dengan inovasi yang lebih baik.

Menarik ya. Yang jelas di titik umur 30 tahun ini, saya melihat banyak teman-teman saya yang mulai berhenti. Mungkin karena letih, mungkin juga faktor keluarga yang membuat motivasi untuk terus merintis tidak lagi sebesar dulu.

Lebih susah karena?
– Lebih berat, banyak aspek e.g keluarga, kesehatan
– Lebih sedikit, persaingan, posisi yang bisa diisi juga sedikit
– Lebih gambling, mereka yang berhasil, faktornya banyak, tidak hanya faktor pribadi, juga faktor keluarga atau faktor fisik.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Mei 18, 2017 pada 5:35 pm

Ditulis dalam Career

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: