Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Salah kaprah mengenai pertanian

leave a comment »

1.Untuk maju, Indonesia harus berubah dari negara agraris menjadi negara industri
Ini adalah salah kaprah yang hingga bertahun-tahun saya yakini. Untuk menjadi negara maju, Indonesia harus membangun lebih banyak industri, misalnya industri elektronik, industri semen, baja, industri perakitan yang dikerjakan dengan mesin-mesin. Padahal yang dimaksud menjadi negara industri adalah pertaniannya dengan pertanian modern, yaitu tidak hanya menggunakan mesin-mesin modern tapi juga memastikan kepemilikan tanah (aspek hukum), supply chain/rantai distribusi (aspek manajemen), hingga penggunaan bibit (aspek produktivitas). Sayangnya kebanyakan isu pertanian yang diangkat adalah isu politis, semisal, kampanye bahwa penggunaan pupuk pabrik berbahaya lebih baik pupuk organik. Isu seperti mekanisasi pertanian, meski penting, tapi merupakan rangkaian yang sangat kompleks dengan isu-isu lain yang lebih besar semisal kredit keuangan petani.

2.Pertanian itu hanya beras (padi)
Produk pertanian sangatlah kompleks. Pertanian dipengaruhi dengan iklim (gandum/anggur hanya tumbuh di subtropis), juga dipengaruhi oleh ekonomi dari sebuah negara (misal negaranya merasa lebih baik menanam mangga, maka akan impor beras). Kapas misalnya, produksi kapas dunia sekitar 25 MT (2.5% world arable land). China largest producer (domestic consumption mainly), US largest exporter. Indonesia butuh sekitar 0.7 MT kapas per tahun yang 99%-nya di impor. Kapas tidak cocok tumbuh di Indonesia. Untuk tekstil 42% menggunakan kapas, sisanya menggunakan Viscose (Rayon) Sintetik Fiber. Menurut statistik kapas deptan. Artinya Indonesia hanya mampu produksi sekitar 0.02 MT kapas.

3.Pertanian itu hasilnya kecil, identik dengan murah dan miskin. (Subsistence vs Cash Crop)
Di tahun 1980an saja, sudah banyak alumni IPB yang menjadi pegawai bank dari pada menjadi petani kaya apalagi sekarang. Artinya, pertanian di Indonesia memang masih dalam tingkat subsistence (untuk kebutuhan minimal sehari-hari) bukan digunakan untuk intensive agriculture (business, trade).

4.Pertanian tidak maju karena ulah tengkulak
Tidak sesederhana itu. Kemajuan pertanian bergantung pada ekonomi sebuah negara. Negara yang masih tradisional, akan memiliki sistem pertanian yang tradisional (tengkulak, tidak terencana). Negara yang sedang transisi akan memiliki sistem pertanian yang lebih baik (liberalisasi, stabilitasi makro, restrukturing/privatization, legal/institutional reform).

5.Transformasi pertanian itu mudah, jangan ada mafia (impor, tengkulak)
Transformasi pertanian melewati banyak tahap, mekanisasi misalnya mengurangi jumlah tenaga kerja, penggunaan pupuk, pestisida, bibit unggul. Kalau produk lokal tidak ekonomis, produktivitas rendah, harga mahal, tentunya konsumer akan memilih harga yang lebih murah dan lebih bagus (rational decision).

6.Pertanian adalah ilmu terapan
Pertanian adalah bidang yang sangat kritikal, dari dampak lingkungannya (waterfootprint, carbonfootprint) hingga dampak ekonominya (US adalah negara pertanian terbesar di dunia)

7.Industri pertanian sangat kompleks
Durian contohnya, thailand menguasai lebih dari 90% market durian dunia ref, ref.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Mei 26, 2017 pada 9:07 am

Ditulis dalam Science

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: