Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

AHA Peneliti vs Pengajar vs Praktisi: Pembangunan

leave a comment »

Saya membaca sebuah paper penelitian ekonomi mengenai proses transisi sebuah negara menuju negara industri melalui pengembangan sektor pertaniannya. Paper ini mengambil data ekonomi disebuah negara selama 30 tahun terakhir dan menghitung bahwa negara yang invest lebih banyak pada sektor pertaniannya akan lebih cepat maju menjadi negara industri. Paper ini ilmiah, data ekonomi 30 tahun disebuah negara ada, data ekonomi 30 tahun di negara pembanding juga ada dan terbukti. Tugas peneliti adalah menemukan ilmu pengetahuan seperti ini yang didapat dari data dan percobaan. Peneliti adalah penemu pengetahuan.

Ketika membaca paper tersebut, hal yang segera terbayang di kepala saya adalah membagikan pengetahuan ini kepada istri saya, teman saya difacebook atau sekedar obrolan santai menyatakan bahwa teori “Agriculture Development Led (ADL)” ini sudah terbukti secara empiris. Maka, harus ada seseorang yang bertugas untuk membagikan pengetahuan ini. Namun, akhirnya saya tersadar, bahwa orang yang bertugas membagikan pengetahuan itu bukan peneliti, tapi pengajar. Pengajar adalah pembagi pengetahuan.

Segera, saya membuka buku teks “Pengantar Sosiologi” dan menemukan bahwa pengetahuan ADL ini sudah ada di buku teks, bahkan dibahas dengan lebih komprehensif. Saya baru tersadar bahwa ADL hanya merupakan satu bagian kecil saja dari Teori mengenai pembangunan.

Artinya saya tidak bisa menjelaskan ke mahasiswa bahwa untuk maju satu-satunya cara adalah lewat modernisasi. Modernisasi bukanlah satu-satunya cara, pendekatan modernisasi seperti peningkatan pendidikan, industrialisasi dan demokratisasi bukanlah satu-satunya cara. Kalau mengajar, maka saya harus menjelaskan bahwa selalu ada minimal dua cara untuk melakukan sesuatu.

Contoh, untuk pembangunan, bisa melihat dari kacamata Teori Modernisasi atau dari kacamata Teori Dependensi. Ini semacam menjelaskan kepada mahasiswa bahwa penyebab kemiskinan ada 2 perspektif. Kemiskinan disebabkan oleh kemalasan (internal) atau kemiskinan disebabkan kesalahan pemerintahan (external)

Namun, berdasarkan pengalaman saya selama ini, bila mendapatkan pengetahuan baru seperti ini, maka praktisi hanya bisa menggunakannya sebagai analisa situasi saja, yang sebenarnya relatif lebih mudah. Misalnya, di Indonesia kita bsia mengatakan bahwa penyebab kemunduran ekonomi datang dari berbagai aspek, dari aspek produktivitas, aspek politik/pemerintahan atau budaya. Lebih mudah karena cukup dijelaskan dengan PEST faktor saja.

Menjadi peneliti yang baik tidak mudah. Menjadi pengajar yang baik juga tidak mudah. Dan menjadi praktisi yang baik juga tidak mudah. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya. Yang jelas, tidak bisa kita menguasai ketiga-tiganya.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Juni 1, 2017 pada 5:40 pm

Ditulis dalam Life

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: