Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Praktisi vs Akademisi

leave a comment »

Kalau dulu mengerjakan proyek, selalu ada situasi dimana kantor konsultan asing berhadapan dengan kantor konsultan lokal. Konsultan lokal biasanya mengeluarkan “kartu harga” yang mengatakan bahwa konsultan asing itu mahal. Sementara, konsultan asing biasanya mengeluarkan “kartu merek” yang mengatakan bahwa konsultan lokal tidak punya best practice mengerjakan sesuatu.

Ada kalanya situasi dimana kantor konsultan setingkat posisinya namun yang satu kebanyakan praktisi sementara saingannya konsultan akademisi. Maka kartu “praktisi vs akademisi” merupakan kartu yang paling sering dimainkan. Praktisi identik dengan hasil yang bisa diterapkan sementara Akademisi identik dengan hasil yang lebih komprehensif, lebih tebal, lebih bagus. Belakangan saya baru sadar bahwa penggunaan kartu ini hanya untuk kepentingan persaingan bisnis belaka.

Dalam pengalaman saya, masing-masing kartu sudah punya pasarnya masing-masing, sehingga sebenarnya tidak perlu ngotot untuk bersaing dengan segala cara. Bahkan ketika situasinya adalah “close invitation” dimana yang diadu benar-benar mirip, maka ada kalanya pemenang lebih pada “giliran” saja. Dan yang saya lihat, karakter seperti inilah yang membuat bos-bos bisa survive, tanpa stress menghadapi persaingan bisnis.

Contoh yang lain adalah ketika harus mengajar suatu topik, misalnya project management, di universitas atau di lembaga training. Pengajar seringkali mengeluarkan kartu praktisi dan akademisi. Padahal ini tidak relevan, karena yang diajarkannya adalah materi yang sama. Menurut saya, akademisi seringkali lebih baik dalam mengajar sebuah materi bagi mahasiwa atau karyawan. Namun yang seringkali terjadi adalah praktisi yang tidak siap dengan bahan mengatakan bahwa “kalau di dunia praktisi yang kita lakukan adalah seperti ini” padahal yang disampaikannya tidak sepenuhnya tepat.

Analogi yang sama juga terjadi didunia politik. Semisal ada kandidat yang punya latar belakang akademisi bisa menjelaskan sebuah persoalan dengan baik. Namun hampir dipastikan bahwa kandidat yang murni dari latar belakang politisi bisa menjelaskan sebuah persoalan dengan lebih menarik.

Lalu apa pelajaran dari kantor konsultan, universitas dan dunia politik? Intinya ini adalah persaingan. Stereotype bisa jadi menguntungkan, tapi bisa juga merugikan. Orang bisa memilih praktisi namun disuatu saat bisa memilih akademisi. Untuk memenangkan kompetisi, pemain harus mengetahui taktik pesaingnya, namun mengembangkan kemampuan dirinya jauh lebih penting daripada melihat pesaingnya.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Juni 1, 2017 pada 6:24 pm

Ditulis dalam Life

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: