Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Energy Model: realita dan persaingan

leave a comment »

Realita
Waktu masih bekerja di konsultan, setiap mengerjakan sebuah proyek hal yang pertama di lakukan adalah memeriksa knowledge base, untuk mengetahui framework apa yang bisa digunakan untuk mengerjakan proyek tersebut. Contohnya, mengerjakan proyek ERM (Enterprise Risk Management), maka yang dicari adalah Deloitte ERM Framework. Padahal, framework tersebut kurang lebih sama dengan COSO Framework, dan juga kurang lebih sama dengan PWC/KPMG framework. Begitu juga dengan kegiatan lainnya, seperti melihat standar dari FFIEC atau ISACA atau ISC2.

Kalau dilihat lengkap atau tidaknya, sebenarnya framework neutral lebih lengkap dibandingkan framework proprietary. Namun, yang terjadi konsultan biasanya lebih suka mengembangkan framework internalnya dibandingkan memilih untuk mengembangkan framework yang lebih netral.

Di dunia akademik, saya akhirnya melihat kecenderungan yang sama dengan didunia industry. Contoh energy model, Energy model yang paling sering dipakai yang saya lihat adalah LEAP (SEI), Markal (IEA), Message (IIASA), Image (PBL). Masing-masing energy model, punya basis negara LEAP-Sweden, IIASA-Austria, EnergyPlan-Denmark termasuk basis universitas dan lembaga risetnya. Masing-masing punya tim penelitinya, lengkap dengan sanad dan matn-nya (analogi dalam ilmu hadis). Termasuk strategi operasinya e.g LEAP free mudah didownload UNFCCC, Markal IEA. Masing-masing energy model ini sebenarnya mirip-mirip fungsinya.

Dari berbagai energi model itu mana yang paling baik? kalau dari sudut pandang peneliti Indonesia, maka yang paling baik sebenarnya adalah yang dikembangkan sendiri. Ini sempat saya lihat beberapa yang buatan dalam negeri, namun membutuhkan banyak aspek pengembangan. Kenapa buatan sendiri ini penting? contoh Powerplan (Groningen) ini adalah energy model buatan universitas yang menarik, mudah didownload, namun kedepannya akan lebih baik bila peneliti membangun energy modelnya sendiri. Meskipun, diluar sana sudah tersedia banyak perangkat pemodelan

Selanjutnya, seiring berjalannya waktu, muncul inisiatif untuk membuat energy model yang lebih terbuka. Mungkin, maksud awalnya adalah menghindari duplikasi dan tentunya mempermudah pertukaran data, maka selanjutnya inisiatif ini berkembang menjadi:

  • Algorithm level e.g GAMS, R, Matlab
  • Application level e.g OSeMOSYS (Open Source Energy Modelling) berbasis GAMS
  • Database level e.g Open EI (US), Energydata.info (worldbank), Enipedia (Delft)

Persaingan
Disinilah letak kompleksnya dunia, peneliti yang baru memulai, sebenarnya bisa mengambil celah pada trend yang baru muncul. Misalnya, dulu tidak pernah diributkan mengenai sharing data, maka peluang untuk bisa mengintegrasikan data merupakan peluang riset yang menarik. Contohnya, bisa saja dibuat bank data antar kementerian di Indonesia, termasuk BPS untuk data-data lingkungan yang sejenis (misalnya ya).

Tentunya, sebelum dilanjutkan. Inisiatif out of the box ini tidak mungkin bisa dilakukan (dengan mudah). Karena bisnis model penelitian itu sangat bergantung dengan bisnis model pendidikan -yang menjadi pendukungnya. Contohnya adalah penerimaan mahasiswa baru yang bisa mengambil komposisi 30% SNMPTN, 50% SBMPTN, dan 20% Mandiri. Penentuan bagaimana masuknya mahasiswa sendiri merupakan model yang kompleks, belum lagi faktor proyek seperti mobil listrik atau proyek kampanye universitas lainnya.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Juni 13, 2017 pada 11:09 am

Ditulis dalam Science

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: