Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Renungan, pentingnya menunda-nunda

leave a comment »

Dulu, teman kantor saya punya inisiatif untuk mengambil kuliah S2 di salah satu PT selepas pulang kerja. Kuliahnya dimulai jam 19:00, jam kerja selesai jam 18:00, jadi ada jeda sekitar 1 jam diantaranya. Si teman, tidak memberi tahu inisiatif ini pada atasannya (manager), alasannya karena toh ini dilakukan diluar jam kerja. Alasan lain, karena managernya ini masih baru, project pun relatif masih baru, jadi rasanya tidak ada alasan kenapa harus memberi tahu atasan.

Selang beberapa minggu, akhirnya si teman ini baru menyadari bahwa untuk bisa mencapai tempat kuliahnya tepat waktu, si teman harus meninggalkan tempat kerja jam 17:00. Akhirnya siteman memutuskan untuk meminta izin kepada supervisornya (satu level dibawah manager). Tentunya, si supervisor kelabakan, karena pertama, muncul potensi pekerjaan terhambat karena permintaan justru banyak datang setelah sore hari, dari jam 16:00 ke atas, kedua muncul potensi iri dari staf lainnya dan ketiga muncul potensi masalah yang datang dari atas semisal manager.

Singkat kata, waktu itu si supervisor mengambil langkah musyawarah, menanyakan kepada anggota tim lainnya bagaimana sikap terhadap si teman. Karena tim ini terbentuk cukup solid, jawaban yang diberikan anggota lain cukup mengejutkan. “Sudah diatur saja, nanti bergantian”. Ternyata, meski ini disetujui semua pihak, akibatnya kinerja tim menurun.

Untuk memberikan kesan adil, si supervisor memutuskan untuk memberikan beban kerja lebih banyak kepada si teman ini. Akibatnya juga sama buruknya, pekerjaan si teman ini tidak diselesaikan dengan baik. Selanjutnya sudah bisa diduga, muncul konflik-konflik kecil dan akhirnya si teman, memutuskan untuk menunda kuliahnya disemester berikutnya.

Dalam kasus ini tidak ada win-win solution. Si teman ribut dengan supervisor, si supervisor ribut dengan si teman dan beberapa staff. Namun buat saya, keputusan yang diambil supervisor tersebut tepat. Supervisor tidak mengadu pada manager mengenai masalah ini. Bila mengadu masalah yang lebih besar akan muncul.

Kasus ini menurut teksbook harus diselesaikan dengan eskalasi, namun menurut kenyataan tidaklah demikian. Kasus ini juga memberikan gambaran bahwa orang memiliki kecenderungan abuse yang bisa membahayakan orang lain. Tindakan si teman ini tidak membahayakan dirinya sendiri, tapi membahayakan temannya, supervisor dan managernya.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Juli 27, 2017 pada 9:20 am

Ditulis dalam Life

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: