Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Cara menjadi sukses di Indonesia: lulus ujian

leave a comment »

Untuk menjadi sukses di Indonesia sebenarnya relatif mudah: lulus ujian. Contoh, seorang anak daerah di sebuah desa kecil, bisa masuk ke SMP terbaik di kecamatannya, dari SMP terbaik di kecamatannya, dia bisa masuk di SMA terbaik di kabupatennya. Lulus SMA terbaik ditingkat kabupaten maka bisa memberinya tiket untuk lulus pendidikan tinggi di tingkat nasional. Ya, ditingkat nasional, tidak perlu lagi di tingkat provinsi.

Contoh, seorang anak SD dari desa kecil di Takengon, bisa naik ke tingkat kecamatan, dan kemudian pindah ke tingkat kabupaten saat menempuh SMA. Setelah itu si anak bisa mengikuti seleksi Taruna Kepolisian misalnya, dan dia bergabung dengan sekitar 330-an taruna yang lain, jumlah ini rata-rata adalah sekitar 10 orang setiap provinsi. Maka setelah itu hidupnya selesai: sukses.

Memang ada faktor lain, seperti bagaimana keluarga mengarahkan anak tersebut untuk menjadi profesi tertentu. Semisal, kebanyakan mahasiswa kedokteran punya orang tua yang berprofesi sebagai dokter. Namun yang paling mendasar adalah bagaimana kinerja anak itu sendiri. Contoh, fenomena anak daerah tadi, anak daerah secara umum mungkin relatif sulit bersaing dengan anak Jakarta. Namun, pada beberapa kategori anak daerah memiliki kesempatan yang sama contoh untuk profesi kedinasan seperti tni/polri, dokter, pegawai negeri, PTN.

Indonesia adalah negara yang luas, maka menjadi birokrat merupakan pilihan berkarir yang menarik. Menjadi pegawai PLN misalnya, pada prinsipnya mirip sebagai birokrat karena harus melayani (beroperasi) di wilayah yang sangat luas. Dan satu-satunya cara agar sistem birokrat yang efisien bisa berjalan adalah dengan sistem ujian yang terbuka. Dan perkiraan saya, sistem ujian masuk ini relatif tidak korup.

Hanya, model seperti bisa jadi tidak efektif kedepannya. Contoh, anak daerah yang gagal berkompetisi ditingkat kecamatan, akan tetap di desanya hingga tingkat SMA. Kemudian anak ini akan tetap bekerja dalam tingkat kecamatan, misalnya menjaga warung atau bertani. Ditingkat nasional juga bisa jadi buruk, semisal anak yang tidak mampu masuk PTN karena gagal ujian, harus menempuh PTS yang biayanya relatif mahal. Atau anak ini bisa memilih sekolah yang tidak berkualitas, sehingga lulus PT pun tetap menyulitkannya untuk mencari pekerjaan. Sulit karena untuk mencari pekerjaan pun komponen utamanya adalah lulus ujian.

Catatan: Contoh, tahun 2017 ini Akpol menerima 282 taruna (247 pria, 35 wanita), diumumkan 3 Agustus 2017. Namun persaingan tidak mudah, 34% taruna akpol tercatat orangtuanya berprofesi sebagai polisi, 6% berorangtua TNI. Artinya hanya 59% yang berasal dari non Polri/TNI. Dari jumlah pendaftar sekitar 20,000 orang untuk quota 300 orang, artinya dengan rasio 1:60, dimana slot perempuan sekitar 15-20%. Untuk TNI secara keseluruhan hampir sama, sebagai gambaran, jumlah perwira TNI/Polri yang dilantik 25 Juli 2017 berjumlah 292 Polri dan 437 TNI.

Tambahan, di Nigeria 23% lulusan universitasnya menganggur, di UK sekitar 3-4%.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 6, 2017 pada 6:59 pm

Ditulis dalam Life

Tagged with

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: