Anjar Priandoyo

Simple Advice for Everyone

Archive for the ‘Business’ Category

Energy Policy basically is Economic Policy

leave a comment »

Written by Anjar Priandoyo

Februari 14, 2017 at 4:52 pm

Ditulis dalam Business

Industri Buku

leave a comment »

Buku yang saya sukai adalah buku sejarah, lebih tepatnya buku sejarah yang ringan seperti Debt (David Graeber, 2011) idenya adalah sejarah peradaban itu dibangun dari sebuah inovasi bernama hutang. Silk Roads (Peter Frankopan, 2016), kurang lebih sama sejarah peradaban itu berupa infrastruktur bernama jalan. Genre seperti ini merupakan favorit saya, sama seperti dua buku yang paling saya suka yaitu Sapies (Harari, 2014) dan Guns Germs and Steel (Diamond, 1997).

Namun, saya tidak begitu suka dengan buku serupa yang lebih ke arah ekonomi yang makro seperti Why Nations Fail (Acemoglu, 2012) atau ekonomi yang mikro seperti Freakonomics (Dubner, 2003). Buku yang gayanya lebih ke ekonomi, dengan setting lebih modern menurut saya terlalu kompleks untuk dibaca. Rumit karena ada banyak faktor yang modern yang mempengaruhinya.

Sebagai industri, buku itu sangat menarik. Buku Debt itu serupa dengan buku Against the God – Story Risk (Bernstein 1996) perbedaannya hanya sudut pandang saja. Yang satu mengenai risiko yang satu mengenai hutang (sesuatu yang punya risiko).

Industri buku sebenarnya bukan industri pengetahuan. Industri buku adalah industri hiburan. Industri pengetahuan pemain besarnya adalah universitas, journal dan buku teks.

Trend yang terus berganti
Buku populer manajemen yang terakhir menurut saya adalah Blue Ocean Strategy (Kim Mauborgne 2005). Ini adalah model buku yang terakhir seperti Porter/Drucker. Selanjutnya adalah buku manajemen yang lebih praktis (tidak ada jargon) dan lebih pada internet based business (startup).

Written by Anjar Priandoyo

Januari 29, 2017 at 7:13 am

Ditulis dalam Business

Proses Bisnis di Pemerintahan

leave a comment »

Membaca skripsi sebuah mahasiswa STMIK tahun 2010 mengenai Business Process (proses bisnis) sebuah kota (pemerintahan daerah) membuat saya terharu. Termasuk membaca analisa yang dibuat Lembaga Administrasi Negara (LAN) mengenai bagaimana seharusnya tata laksana pemerintahan di Indonesia dilakukan -yang grand designnya merupakan bagian dari Reformasi Birokrasi.

Artinya:
1. Kebutuhan untuk punya sistem pemerintahan yang lebih baik sudah ada sejak dulu, sudah disadari Mahasiswa perguruan tinggi dan lembaga negaranya.
2. Masalah yang dihadapi lebih rumit, karena selain proses bisnis yang manual-nya saja sulit untuk distandarisasi (mengingat besarnya wilayah Indonesia), sementara disisi lain negara seperti US dengan FEA dan BRM Taxonomy-nya sudah bisa memberikan guideline di level teknologi tentang bagaimana seharusnya pemerintahannya bekerja, termasuk Australia dengan AGA-nya

Ini membuat saya merenung. Dan mengartikulasi temuan ini.

  1. Mungkin, desain yang paling cocok untuk Indonesia adalah design yang decentralized dan short term. Berbeda dengan referensi buku-buku manajemen yang cenderung mengatakan bahwa efisiensi itu baru tercapai dengan centralized dan long term planning.

  2. Selanjutnya yang perlu dipahami adalah mengenai cost dari change mangement, yang sangat tidak murah.

ref, ref, ref

Written by Anjar Priandoyo

Januari 15, 2017 at 3:14 pm

Ditulis dalam Business

Kolam Kecil Berlumpur

leave a comment »

Di akhir tahun ke empat kuliah, sekitar akhir tahun 2003an, saya melihat bahwa bidang “Knowledge Management” (KM) merupakan sebuah bidang di masa depan. Referensi saya adalah Majalah Wartaekonomi yang waktu itu sedang populer-populer-nya bersebelahan dengan majalah Infokomputer. Pergi kekantor manapun, ke ruang kuliah manapun selalu ada dua majalah ini.

Pun ketika saya sempat bekerja praktek di salah satu kantor pusat bank, saya melihat bahwa ada Bank yang mempersiapkan proyek KMnya dengan menggandeng vendor besar, mempersiapkan sebuah posisi khusus untuk Chief Knowledge Management. Dalilnya adalah “Perusahaan yang maju, adalah perusahaan yang bisa memetakan pengetahuan baik yang tertulis dan tidak tertulis di perusahaannya”

Keren kan.

Hampir 20 tahun berlalu, kalau ditanya KM sekarang, tidak pernah ada karyawan yang mendengarnya, yang sering terjadi adalah masuk ke ranah HRD atau merupakan salah satu sistem informasi yang berbentuk silo.

KM mungkin salah satu jargon saja, diawal tahun 2000an. Selain KM diawal tahun 2000-an, banyak jargon lain yang digunakan mulai dari Y2K, kemudian mulai bergeser ke SOX/COBIT, bergeser lagi ke BCM, ITSP dan seterusnya hingga kini regulatory compliance.

Tidak hanya jargonnya yang berubah. Tapi juga pasarnya, kalau dulu banyak client dari perusahaan swasta untuk implementasi SAP -atau implementasi ERP lainnya. Maka sekarang banyak client datang dari pemerintahan / government related sector yang punya budget -lebih pada cost center.

Flash back ke tahun 2003-an yang lalu. Apakah prediksi saya salah?

Tidak juga sebenarnya, dalam hati kecil, saya memang agak ragu dengan popularitas KM. Dan waktu itu saya mempersiapkan skill teknis lain yang ingin saya kejar, implementor SAP, Management Trainee (MT) atau programmer.

Sejarah membuktikan bahwa yang membuka jalan saya pertama kali adalah programmer (TI), dilanjutkan system admin (TI) dan baru terakhir auditor (SI).

Hal ini memberikan saya pelajaran atas beberapa hal:
1. Kita, hanya merupakan bagian sangat kecil dari peradaban. Apa yang kita rencanakan belum tentu sesuai dengan apa
2. Di Indonesia, ketergantungan kita pada asing sangat tinggi. Contoh, untuk bisa punya stock exchange terintegrasi kita harus punya laporan XBRL yang sama. Namun meminta bank untuk punya report XBRL tidak mudah, BI/SKK Migas/OJK selaku regulator harus bisa mendorong bank untuk punya report XBRL. Berapa biaya pengerjaan bank tersebut?
3. Negara kita tidak kaya -dalam artian netral. Bukan berarti negara harus dipaksa memprioritaskan pada sektor pendidikan/kesehatan -yang mana sangat dipahami uang-nya pas-pasan dan masih banyak ketidakefisien-an. Contoh bagaimana negara membelanjakan teknologi, kalau komputernya beli dari asing, belum lagi vendor yang tidak efisien untuk berkompetisi dalam tender.

Kita tidak pernah tahu jalan kita kemana

Written by Anjar Priandoyo

Januari 15, 2017 at 2:44 pm

Ditulis dalam Business

Memanage Raksasa

leave a comment »

Di Indonesia, perusahaan paling besar itu kelasnya Conglomerate, perusahaan ini punya business unit yang industri-nya sangat berbeda contohnya Astra International. Punya bisnis mobil (manufactur, financing), bisnis bank, perkebunan. Beberapa business unit Astra bisa saling sinergi misalnya IT, tapi ada yang sangat berbeda, contohnya perkebunan.

Di level dunia mungkin kelas Conglomerate itu Samsung atau Mitsubishi, yang punya segalanya.

Namun, Conglomerate tidak selalu paling besar. Di bawah conglomerate ada Corporation, perusahaan yang hanya punya satu industri saja tapi dari ujung ke ujung. Contoh Shell, dari Explorasi, Distribusi, Power hingga Chemical.

Conglomerate secara organisasi, paling susah digambar. Karena kompleks. Fenomena yang lain adalah State Owned Company, yang bisa sangat besar, meski bisnisnya hanya satu area saja, misalnya Electricity (China State Grid)

Namun dari Conglomerate juga banyak inovasi yang bisa dihasilkan contohnya adalah Six Sigma-nya GE. Karena untuk memanage organisasi yang besar, konsep Division mungkin sudah tidak relevan lagi dibandingkan Strategic Business Unit atau Market Segmentation.

Kementerian kelasnya adalah perusahaan, sementara Negara kelasnya adalah konglomerasi. Di Indonesia tidak ada Konglomerasi di level SOE. Paling dekat adalah Holding BUMN per sektor, namun bila ada Holding BUMN untuk seluruh BUMN, semisal Temasek yang istilahnya adalah Government-Linked Company, mungkin itu level yang paling mendekati.

https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_largest_companies_by_revenue
http://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0925527307003441

Written by Anjar Priandoyo

Januari 15, 2017 at 6:14 am

Ditulis dalam Business

UML, Swimlane, BPMN, EPC

leave a comment »

Ok, sebagai lulusan S1 Ilmu Komputer saya tahu tentang UML -dengan bangga. UML digunakan untuk membantu programmer mendesign system. Karena? programmer bicara dengan mesin dengan programming language (C, Java) maka butuh seseorang yang bicara dengan user. Orang tersebut bernama system analyst yang bicara dengan UML.

Setelah bekerja, karena saya tidak bekerja di bidang IT development, baik sebagai programmer ataupun system analyst maka UML ini tidak pernah saya pakai. Selesai.

Namun setelah berpuluh tahun, akhirnya saya harus mempelajari lagi mengenai ARIS. Dan disinilah benang merah atas semua yang saya pelajari bertemu.

Diawal karir saya, saya menggambar flowchart process, flowchart process itu digambar dalam format swimlane. Swimlane memudahkan untuk mengetahui siapa pelakunya, sehingga memudahkan untuk memetakan risiko dan kontrol. Happy Ending. Swimlane dan UML tidak berhubungan.

ARIS menghubungkan semua ini akhirnya. Karena? ARIS didesign dengan format EPC yang mungkin -seharusnya hari ini lebih unggul daripada BPMN, dimana si BPMN ini powerfull dalam menggambar process. Seperti di jelaskan di Stackexchange bahwa UML lebih superior untuk algoritma dan BPMN lebih superior untuk process design. BPMN sendiri punya kelebihan dan kekurangan ref. Dan konon EPC lebih populer dari BPMN, cara konversinya kira-kira seperti ini ref.

Lalu apakah hal ini menjadi penting?
Bukankah seperti orang berdebat mengenai Canon vs Nikon, padahal orang tersebut tidak pernah memotret sama sekali? Jawabannya mungkin tidak penting, tapi paling tidak kita tahu, dan itulah mengapa saya menuliskannya disini.

Catatan, ini beberapa flowchart yang dibuat. Menarik bukan, mengetahui ada banyak cara untuk menggambar. (image source ariscommunity)

bpmn

deregulation-before-after

epc

flowchart-small-hydro-appointment

geothermal-flow

Hydro Flow ref
Deregulation Before After ref
Geothermal Flow ref

Written by Anjar Priandoyo

Januari 12, 2017 at 2:20 pm

Ditulis dalam Business

Firma Hukum

leave a comment »

Entah mengapa, setiap research mengenai social aspect dari energi selalu masuk ke law firm, padahal conteksnya adalah financing. Bukankah seharusnya masuk ke lahan financial advisorynya big 4 yang secara hitungan uangnya lebih orang accounting/finance.

Kita lihat, yang pertama:
1. Norton Rose Fulbright (3,800 lawyer) Guide to geothermal tender
2. Berwin Leighton Pasiner (850 lawyer) Regulatory update on Geothermal
3. Ashurst (1,700 lawyer) Update on Gas Regulations

Yang kadang membingungkan, pemain besar (paling tidak yang saya dengar) jarang saya temukan saat research seperti
1. Baker McKenzie (4,600 lawyer) Update on Solar PV

Jadi tradisi makan memakan tidak hanya antara IT dengan accounting firm, tapi juga antara finance dengan law firm.

Written by Anjar Priandoyo

Januari 12, 2017 at 1:45 pm

Ditulis dalam Business