Anjar Priandoyo

Simple Advice for Everyone

Archive for the ‘Job’ Category

PMBOK/COBIT PhD

leave a comment »

Once upon a time, a friend of mine, he is PMP and CISA certified asking whether it is possible to have COBIT/PMBOK as PhD topics. He is expert in consulting (know the detail in real life world) and pragmatic (believe in practical framework like COBIT/PMBOK). He think that his experience working with what so called international standard best practice thing, would be useful, and would be an advantage.

My answers is as below:

1. You will never work with PMBOK / COBIT
In undergraduate you will use COBIT to perform IT assessment, you use COBIT. In master degree, you will use COBIT to review the IT assessment performance. But in PhD you will not use COBIT, in Phd you will criticize COBIT. Well if you think that criticize COBIT is against your belief (some consultant having a deep belief with framework), you will have difficulty. Why? because the purpose of PhD is building something better than COBIT -including testing that new framework. And, this is not easy.

If you always think that PMBOK / COBIT is always right, always on the top, always an ideal, utopia and dream. Now its the other way around. COBIT/practical standard has the lowest level of appreciation. Simply, its not peer reviewed, its like dogma.

2. You will work with Theory
If you are thinking that PMBOK has a weakness in interaction area e.g in Culture, then the things that you will be working with is Hofstede Culture Theory as the theoretical framework, not the ‘Culture’ experience you do with PMBOK in the field. If you think that PMBOK has a weakness in the area of implementation, you will work based on Sustainable Urban Theory.

It also goes with COBIT, instead studying COBIT e.g COBIT version 5 or Risk IT or any ISACA or IIA or ISO / BS standard, you will be studying about Governance Theory. Which is totally different things that the -again- what so called standard.

3. The way “research originality” concept work is different than “process improvement” concept
To strengthen this, the Theory is the epicentrum, center and core of PhD. Why? because theory provide a strong background, a falsifiability, a peer review. There is a huge difference between Theory (Culture/Urban/Governane and Standard (COBIT/PMBOK), as huge as difference between Theory (Thermodynamics) and Standard (V6 of BMW). The purpose of Thermodynamics Theory Research is to lead the discovery of Nuclear Energy, but the purpose of V6 Engine Standard Research is to build better V6 Engine or build better V8 Engine.

Theory lead to discovery, Standard lead to improvement, well both are good things.

Ref:
COBIT PhD
PMBOK PhD in Civil Engineering

Written by Anjar Priandoyo

Februari 22, 2016 at 10:57 am

Ditulis dalam Job

Tagged with

Beda Thesis Teknik, Ekonomi dan Sosial – Proyek Akhir S2

leave a comment »

A. Thesis Sistem Informasi
S1 Sistem Informasi: Scoring COBIT (Bagaimana cara mengukur kinerja TI perusahaan dengan COBIT) ref
Tujuan: Bisa mengukur kinerja TI (mengukur kinerja orang TI)
S2 MTI Analisa (Scoring, Mapping) Penerapan Framework COBIT, ISO ref
Tujuan: Bisa mengukur kinerja “kinerja TI” (mengukur kinerja orang audit/security/management TI yang menggunakan COBIT)

B. Thesis Teknik Informasi
S1 Teknik Informasi: Develop / Design System
S2 MTI Analisa (Sistem) ref

C. Thesis Teknik
S1 Energi Elektro: Modelling ETAP/LEAP ref
S2 MT Analisa (Validitas, Reabilitas, ANOVA) Pengelolaan Sampah (Mengevaluasi dan Menilai) ref

C. Thesis Ekonomi/Sosial
S2 umumnya memiliki variable yang lebih kompleks dan metode analisa yang lebih kompleks.
S2 MM ref
S2 M.Ak ref

Written by Anjar Priandoyo

Februari 22, 2016 at 9:55 am

Ditulis dalam Job

Tagged with ,

Beda Skripsi Teknik, Ekonomi dan Sosial – Proyek Akhir S1

leave a comment »

Skripsi umumnya diselesaikan dalam waktu 1 semester 3-6 bulan sesuai dengan aturan kampus. Kalau ada orang yang mengatakan skripsinya selesai dalam 1 minggu, mungkin yang dimaksud adalah penulisannya, sementara konsep dan ide sudah disiapkan jauh-jauh sebelumnya. Karena skripsi itu terikat jumlah kata e.g 20.000 dan durasi waktu e.g berapa kali pertemuan.

Waktu saya kuliah dulu, ada mahasiswa yang menyelesaikan skripsi hingga mencapai waktu 2-5 tahun. Mulai dari alasan pribadi karena kesibukan hingga alasan teknis seperti perubahan judul dan konsep.

Mengapa perlu ada bimbingan?
Skripsi pada dasarnya adalah proses belajar, sehingga bimbingan skripsi itu pun merupakan proses belajar. Saya punya banyak cerita, mahasiswa yang IPK-nya sangat tinggi (diatas 3.5) ternyata mengalami kesulitan menyusun skripsi, dulu saya mengira kesulitan itu dikarenakan si mahasiswa tidak terampil mengejar dosen -yang memang rata-rata sulit dihubungi. Tapi, sekarang saya menyimpulkan bahwa penyebabnya bukan karena tidak terampil mengejar dosen, tapi karena secara prinsip belajar dan meneliti adalah hal yang sangat berbeda.

Ada beberapa teman yang IPK sebelum skripsinya 3.5, tapi nilai Skripsinya hanya 3.0, artinya dia lebih pintar belajar daripada meneliti. Atau sebaliknya, IPK sebelum skripsinya 3.0, nilai skripsinya 3.5, artinya dia lebih pintar meneliti.

Gaya menyusun skripsi
Skripsi anak teknik berbeda dibandingkan anak sosial. Anak teknik umumnya membuat dan merancang sesuatu, sementara anak sosial umumnya menguji teori. Sebagai anak teknik, hal ini merupakan kelebihan, karena kemampuan membuat sesuatu ini bisa langsung diaplikasikan dalam dunia kerja -secara umum ya. Kalau melihat secara netral, umumnya anak teknik mengklaim bahwa anak teknik lebih baik dalam Problem Solving, karena anak teknik terbiasa mengkonsep sesuatu. Sementara anak sosial umumnya mengklaim lebih dalam Decision Making, karena argumennya konsep sudah jelas, memutuskan adalah yang paling sulit

A. Skripsi Teknik: Membuat
A1. Skripsi Teknik, Contoh, Pengembangan Sistem Informasi
Dasar Teori: Umum, menjelaskan apa itu sistem informasi dan komponen-komponennya
Hipotesis: Tidak ada (dalam versi lain, hipotesis bahwa sistem ini akan berfungsi)
Tujuan: Membuat (dalam versi lain, menguji bahwa sistem ini berfungsi)

A2. Skripsi Teknik: Contoh, Merancang Mesin

B. Skripsi Sains: Menguji: Ekonomi, Matematika, Sosial

B1. Skripsi Ekonomi
Skripsi Ekonomi, Contoh, Analisa Faktor yang Mempengaruhi Keputusan
Dasar Teori: Umum, menjelaskan apa yang mempengaruhi pembuatan keputusan
Hipotesis: Wajib (menduga dampak atas perubahan variable)
Tujuan: Menguji Hipotesis melalui penelitian (survey, questionnaire, data)
Approach: Quantitative

B2. Skripsi Matematika
Contoh, Model VAR dan Penerapannya
Dasar Teori: Spesifik (dari sisi matematika), Umum dari sisi terapan

B3. Skripsi Sosial
Skripsi Sosial, Contoh, Analisa Inovasi yang mempengaruhi Keputusan
Dasar Teori: Spesifik, cenderung konseptual e.g Roger Diffussion of Innovation Theory
Hipotesis: Wajib
Tujuan: Menguji Hipotesis melalui penelitian (interview, semistructured interview)
Approach: Qualitative

Written by Anjar Priandoyo

Februari 22, 2016 at 6:23 am

Ditulis dalam Job

Tagged with ,

Lingkaran Kekuasaan

leave a comment »

Alkisah di tahun 1990, hidup seorang konsultan yang bijak berusia 30 tahun bernama Koko. Konsultan ini bekerja untuk kliennya, sebuah divisi teknologi informasi. Divisi ini dipimpin oleh seorang tokoh cerdas berusia 40 tahun bernama Didi. Ditahun 1990, Didi menghire perusahaan konsultan dimana Koko bekerja untuk membantunya melakukan transisi sistem. Sistem lama berbasis teks harus diganti dengan sistem baru berbasis grafis. Proses transisi ini merupakan dilema besar bagi divisi tersebut. Disatu sisi transisi ini baik karena sistem menjadi lebih efisien, disisi lain akan ada PHK karyawan lama yang menggunakan sistem teks lama. Disisi lain proses transisi ini biayanya tinggi dan tidak mudah.

Apa yang sekolah tidak ajarkan?
Koko adalah seorang konsultan yang rajin belajar. Menyikapi situasi diatas, Koko menyadari bahwa sekolahnya dahulu tidak pernah mengajarkan bagaimana menghadapi situasi seperti ini, dan Koko sadar betul ilmunya belum mencukupi.

Apa yang paling penting dalam dalam kasus diatas?
Koko mendapatkan akses kekuasaan melalui Didi. Koko berhutang budi pada Didi.
Didi memegang kekuasaan tertinggi.

Apa yang harus Koko lakukan?
Didi merupakan pimpinan yang kontroversial, usianya relatif muda, keputusan transisi sistem merupakan analisa Didi sendiri. Koko melihat bahwa selama masa transisi ini rentan terjadi kesalahan. Mulai dari kesalahan entri data hingga kesalahan handover sistem. Belum lagi beberapa pihak yang tidak setuju dengan transisi sistem.

Apa yang harus Didi lakukan?
Didi memegang kekuasaan tertinggi. Didi melihat dalam skala yang lebih luas. Didi melihat bahwa Koko memiliki komitmen 100% pada dirinya, sehingga Koko tidak perlu dipusingkan. Namun Didi melihat bahwa ancaman atas kekuasaannya 30% datang dari kesiapan sistem teknologi, 30% dari kesiapan staffnya dan 30% dari politik kantor dan 10% yang Didi tidak tahu

Skenario apa saja yang mungkin? bila ada tokoh Rere (pimpinan direktorat) yang akan menjatuhkan Didi
A. Didi mengajak Koko bergabung, Didi jatuh, Koko diangkat menjadi pimpinan divisi baru, akhirnya Koko tidak bertahan lama, Koko dijatuhkan orang-orang Didi. Skenario Konflik

B. Didi jatuh, Koko baru bergabung, Koko diangkat menjadi pimpinan divisi baru, akhirnya Koko tidak bertahan lama, Koko dijatuhkan oleh Rere. Skenario Sinergi

Kesimpulan?
Apapun keputusan yang Koko ambil hasil akhirnya sama, pada tahun 2015, Koko pensiun sebagai kepala divisi. Dan ini tidak pernah diajarkan di sekolah.

Written by Anjar Priandoyo

Februari 7, 2016 at 5:35 am

Ditulis dalam Job

Indonesia Kekuatan Ekonomi Dunia

leave a comment »

Amir umurnya 18 tahun, baru lulus STM, badannya sehat, orang tuanya pensiunan guru SD. Amir sekarang bekerja Astra Honda sebagai operator dengan gaji 2 juta per bulan. Amir anak yang pintar dan rajin bekerja, dalam waktu 36 tahun bekerja, Amir bisa pensiun dengan posisi sebagai supervisor senior atau manajer dengan gaji 20 juta.

Budi umurnya 18 tahun, baru lulus SMA, badannya sehat, orang tuanya petani. Budi masuk Secaba AD lulus sebagai Sersan dengan gaji 1.5 juta per bulan. Dalam waktu 36 tahun bekerja Budi bisa pensiun dengan pangkat pelda atau letnan dengan gaji 10 juta.

Mana yang lebih sukses Amir atau Budi?
Baru bekerja 3 tahun, Amir mendapat training di Jepang karena ada mesin baru yang datang. Kemudian sambil bekerja Amir mengambil kursus bahasa Jepang dan melanjutkan S1 dalam bidang mesin. Amir kemudian beruntung mendapatkan beasiswa S2 di Jepang kemudian akhirnya diangkat menjadi Manajer dan pensiun sebagai Direktur Astra.

Budi setelah lulus Secaba melanjutkan pendidikan pasukan khusus, dikirim sebagai pasukan perdamaian di beberapa negara timur tengah. Dengan prestasinya Budi melanjutkan pendidikan lanjutan perwira dalam bidang hukum, akhirnya Budi pensiun dengan jabatan pimpinan pusdik dengan pangkat kolonel.

Amir dan Budi sama-sama sukses.

Potensi mana yang lebih sukses Amir atau Budi?
Amir tingginya 184cm, tinggi besar, fisiknya kuat. Budi tingginya 163cm, pendek kurus, suka seni dan design.

Dari potensi, maka sebenarnya Amir lebih cocok bekerja di militer, sementara Budi lebih cocok bekerja di industri. Bekerja di militer butuh fisik yang kuat, sementara bekerja di industri butuh kemampuan design/control mesin yang baik.

Orang tua Amir sebenarnya lebih yakin bila Amir bekerja sebagai militer, sebagaimana orang tua Budi lebih yakin bila Budi bekerja sebagai industri. Namun yang lebih tahu adalah Amir dan Budi itu sendiri, yang bahkan Amir dan Budi sendiri tidak lebih dari berspekulasi dengan masa depannya.

Apakah Indonesia bisa menjadi kekuatan ekonomi dunia
Bapaknya Amir dan Budi, setiap hari memikirkan bagaimana cara agar anaknya bisa sukses. Segala hal dipersiapkan. Amir dilatih bermain sepakbola, sementara Budi dilatih melukis.

Mana yang lebih baik plastik atau kertas?
Pertanyaan di phdcomics, ah saya jadi teringat. Sampai kapan pun saya tidak bisa menjawab pertanyaan seperti itu.

Written by Anjar Priandoyo

Februari 6, 2016 at 2:20 pm

Ditulis dalam Job

Bekerja untuk Hidup

leave a comment »

Apa yang paling penting dalam hidup kita?
Yang paling penting ya “hidup” itu sendiri, apa yang kita rasakan (senang, sedih), apa yang kita jalani (mudah, susah), apa yang kita inginkan (sukses-pekerjaannya, sehat-tubuhnya, bahagia-keluarganya), apa yang kita takutkan (gagal, sakit, menderita) dan semua yang hanya kita yang tahu, karena hidup itu sangat personal sekali. Cuman kita yang tahu, yang dapat mengukur dan merasakannya. Apa yang paling penting adalah apa yang kita rasakan, dan semua orang memiliki kadar rasa yang sama. Tidak ada orang yang hidupnya senang terus atau susah terus. Pasti ada kalanya senang dan ada kalanya susah, hidup berganti, naik dan turun.

Apa yang paling penting setelah “hidup” itu sendiri?
Yang paling penting ya apa yang kita lakukan, apa yang kita kerjakan, ya itu “kerja” itu sendiri. Ada yang pekerjaannya merawat tanaman, ada yang pekerjaannya mengemudikan pesawat, ada yang pekerjaannya didepan mesin ketik, ada yang pekerjaannya menjaga lalu lintas. Masing-masing pekerjaan itu baik dan mulia. Pekerjaan adalah hal yang paling penting, makanya ada orang yang bilang bahwa bekerja adalah harga diri.

Tapi bagaimana dengan orang yang pekerjaannya dirumah saja? karena sakit misalnya? ya orang itu pasti ada pekerjaannya, apakah membaca novel, apakah membersihkan rumah, tiap-tiap orang tetap bisa memilih untuk bekerja. Bapak saya yang sudah pensiun pekerjaannya sehari-hari ya dirumah, menonton televisi dan membersihkan rumah.

Apakah dengan bekerja sudah cukup?
Tidak cukup dengan bekerja, karena bekerja tidak selamanya mudah, karena pisau pun lama-lama perlu diasah. Makanya diperlukan pengetahuan, diperlukan ilmu. Ilmu seperti teori untuk praktek kehidupan. Dan orang senantiasa harus belajar disetiap tahapan kehidupannya. Tidak ada orang tua yang paling pintar dibandingkan anak muda dalam rate belajar menghadapi kehidupan. Masing-masing memiliki beban yang sama beratnya. Maka bekal pengetahuan ada baiknya untuk bisa dikumpulkan. Semakin banyak yang dikerjakan, makin semakin banyak pula pengetahuan yang dibutuhkan.

Lalu dimana kita harus bekerja?
Pagi kita berangkat ke kantor, bekerja di perusahaan bisnis dengan teman-teman. Pulang kita bertemu dengan tetangga, bekerja dengan masyarakat dengan cara ngobrol-ngobrol. Pada dasarnya lingkungan kerja kita ada dua macam, dengan urusan bisnis dan urusan kemasyarakatan, dengan perusahaan dan dengan negara.

Itu saja. Mudah kan
*Tulisan dibuat untuk reminder update categories terbaru

Written by Anjar Priandoyo

Februari 4, 2016 at 9:31 pm

Ditulis dalam Job

Destiny

leave a comment »

I have a three friend, a kind of leader in corporate world, they are born in 1970s. In the 1990s, they are experiencing a new change of business world, that makes them enjoy the exponential career growth, the 2000s they are reach their top.

A is a very ambitious man, by the age of 32 he is a country leader, highly respected, very smart, everything is destinied for him. He enjoy the top level position for 5 years, however everything changed. By the age of 37 he lost his position, now in the age of 44 he is struggle in a department managerial position. Baca entri selengkapnya »

Written by Anjar Priandoyo

Januari 31, 2016 at 7:27 pm

Ditulis dalam Job