Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Archive for the ‘Life’ Category

Decongestant

leave a comment »

Baru paham, cara kerja decongestant -obat penyembuh hidung tersumbat- sebenarnya hanya menaikkan detak jantung saja, sehingga membuka pembuluh darah di hidung, yang akibatnya produksi mucus berkurang. Sehingga, efek yang sama sebenarnya bisa juga didapat dari olahraga. Seperti mitos jaman sekolah, kalau flu dibawa lari terus istirahat pasti sembuh. Obat decongestant itu isinya hanya Pseudoephedrine Hydrochloride. Berarti lebih baik lari? tidak juga. Kalau tersumbatnya diwaktu kerja mending minum obat. Kalau badan letih dan kurang tidur mending minum obat. Yang jelas obat paling efektif adalah istirahat.

Written by Anjar Priandoyo

Mei 24, 2017 at 9:38 am

Ditulis dalam Life

Tier 4 Dependent VISA

leave a comment »

However, it is not possible to swap in the other direction, ie from dependant to a main visa type, such as Tier 4, within the UK. If you wish to do this, you will need to return home and apply from there. York

Please note that it is NOT possible to switch from the PBS dependant route into Tier 4 from within the UK. You must submit an entry clearance application in such cases. Warwick

Ini pertanyaan yang sering muncul dibenak saya. Kenapa hal sesimple perubahan VISA hanya bisa dilakukan di negara asal. Contoh dari tadinya dependant tier 4 menjadi student tier 4. Tapi, kenapa sebaliknya bisa dilakukan, misalnya dari student tier 4 menjadi dependant tier 4.

Akhirnya, hari ini saya mendapatkan jawabannya, hehehe: Points based Immigration System (PBS). Intinya proses seleksi hanya bisa dilakukan di negara asal. Sementara, proses menjadi dependant, bisa dilakukan di UK. Intinya, UK percaya bahwa dependant adalah orang yang baik e.g anak, istri/suami. Sementara proses PBS e.g menjadi student, UK tidak langsung percaya, proses seleksi harus dilakukan di negara asal. Ref, ref

Puas dengan penjelasannya.

Written by Anjar Priandoyo

Mei 23, 2017 at 10:18 am

Ditulis dalam Life

Catatan Panjang

leave a comment »

Harga sebuah eksistensi
Kemarin, saya mengisi hari dengan membereskan rumah. Hampir 1.5 jam saya habiskan untuk membereskan sesuatu yang menurut saya tidak perlu. Mulai dari kardus caprizone yang harus dipisahkan di tempat sampah recycle, hingga beragam jacket yang harus dirapihkan, dan bertumpuk sepatu dan tas. Di sela-sela mengomelnya saya tentang keadaan rumah yang berantakan, saya mulai menyadari bahwa akar permasalahan kerapihan rumah ini sederhana saja: eksistensi. Dan seharusnya saya tahu dan tidak perlu mengkomplen hal ini.

Kardus caprizone misalnya, ini karena saya berenang setiap minggu bersama keluarga. Artinya? perlu disiapkan snack makan siang dari sandwich, crisps hingga caprizone. Caprizone dibeli dalam kardus berisi 8, yang tentunya spacenya besar dan ada ekstra bungkus. Mau tidak ada sampah kardus caprizone? tidak usah berenang setiap minggu. Saya tahu ada orang yang memilih seperti ini dan rumahnya tidak pernah berantakan.

Beragam jacket yang berantakan misalnya, ini saya sadari karena cuaca yang senantiasa ekstrim. Senin dingin dengan jacket winter, Selasa hujan dengan jacket spring berbahan parasut. Tapi semua orang kan seperti itu? yup, dan mau lebih repot. Jaket lari. Paling tidak ada 2 jacket yang digunakan berganti, jaket cotton penahan dingin dan jaket parasut penahan air. Digunakan bergantian, harus dijemur atau digantung bergantian. Berantakan? pastinya, makan tempat? sudah jelas. Mau tidak berantakan? tidak usah berlari. Dengan tidak berlari, tidak akan ada masalah mengenai sepatu olahraga basah yang memakan tempat, atau jacket bau yang berpindah-pindah tempat untuk dijemur.

Memilih berenang setiap minggu atau berlari setiap hari adalah hal kecil saja. Sebuah hal kecil untuk eksistensi diri. Sebenarnya banyak cara lain yang lebih mudah -memposting foto di akun sosmed misalnya. Tidak berantakan, tidak memakan tempat. Dan ada beragam cara yang lebih rumit untuk menunjukkan eksistensi diri. Misalnya dengan menjadi pasangan bekerja atau memilih bekerja di kota besar. Memilih bekerja di kota besar seperti Jakarta tentunya berbeda dengan memilih bekerja di Cirebon yang transportasi bisa diselesaikan dalam hitungan 5-10 menit.

Waktu, obat segala sakit
Dua minggu ini mendata sakit dengan sangat berhati-hati. Menemukan decongestan sebagai obat yang efektif, tapi juga menemukan bahwa eczema bisa menyerang siapapun. Teringat musim sakit di Agustus 2017. Ketika semua diduga terkait hay fever. Jawaban sebenarnya? sakit hanya bisa disembuhkan dengan kondisi imun yang lebih baik. Bagaimana mengembalikan kondisi imun? dengan waktu. Kenapa kita harus beristirahat? agar mengembalikan beban pikiran kita.

Ketika semua akan berakhir.
Biasanya, kalau sudah sangat ruwet dan stress, saya mengawali hari dengan membuat list sederhana mengenai apa yang harus dilakukan. Misalnya, menyiapkan VISA, menyiapkan paper, menyiapkan dokumen tender. Namun baru mengawali satu kegiatan, saya kemudian tersadar bahwa untuk menyelesaikan satu tahapan saja membutuhkan waktu yang lama, bahkan hasilnya belum tentu ada -contoh menyiapkan dokumen tender. Dokumen tender merupakan satu tahapan saja, yang mungkin waktunya tidak akan sempat, belum lagi kompetisinya. Akhirnya, saya tidak melakukan apapun pada hari itu, berhenti.
Saya kemudian teringat, bahwa ternyata saya tidak sendiri. Ada teman-teman lain, yang bahkan tidak membuat list sederhana dan juga berakhir pada titik yang sama. Berhenti.

Berhenti merupakan satu tahapan saja menjelang berakhir. Seperti lomba balapan lari, sejauh 10 km dengan cut off point 2 jam. Berhenti pada km 9 setelah 1 jam 59 menit, merupakan satu tahapan saja menjelang perlombaan berakhir. Saya harus ingat bahwa apapun yang sedang kita hadapi, semua akan berakhir. Menang atau kalah, kita harus tahu kapan waktunya berhenti. Dan saya kira, ini waktunya saya untuk berhenti.

Written by Anjar Priandoyo

Mei 23, 2017 at 9:51 am

Ditulis dalam Life

Buku yang tidak perlu dibaca

leave a comment »

Waktu ada acara makan-makan dengan peserta dari seluruh dunia, saya baru menyadari bahwa makanan yang paling enak buat saya itu cuman ayam goreng dari indonesia/malaysia. Sisanya menurut saya kurang enak. Mau makanan dari timur tengah, amerika selatan, asia atau eropa.

Belakangan saya baru sadar, bahwa ini bukan masalah “enak” atau tidak, tapi lebih tepatnya masalah terbiasa atau tidak. Jadi, kalau dirata-rata dari semua orang yang berkumpul tadi, makanan yang paling enak adalah: nasi biryani. Karena nasi biryani merupakan makanan internasional. Sama seperti istilah istri saya, kalau pergi ke italy, semua orang diseluruh dunia sepakat bahwa makanan yang paling enak adalah makanan italy -simply karena semua orang pernah merasakan dan pernah di ajari bahwa pizza dan spagheti itu enak.

Makanan sama seperti buku.

Buku yang bagus menurut satu orang belum tentu bagus menurut orang lain. Tapi hey, tetap ada nasi briyani juga. Sama, tetap ada buku yang bagus juga.

Saya baru sadar, review di goodreads, dibuat oleh orang yang punya akses kepada buku/ilmu pengetahuan lebih banyak. Reviewer di goodreads, paling tidak sudah pernah masuk perpustakaan modern (membaca sistematis via scopus). Makanya di goodreads, tag untuk self-help, business dan economy adalah buku-buku langganan bully.

Written by Anjar Priandoyo

Mei 19, 2017 at 6:37 pm

Ditulis dalam Life

Pencerahan dari goodreads.com

leave a comment »

Senangnya. Baru sadar bahwa Thinking Fast and Slow-nya Kahneman adalah buku psikologi, meskipun Kahneman adalah economics nobel recipient, tidak berarti ini buku ekonomi. Sama seperti buku Freakonomics yang jelas jelas adalah buku psikologi. Confessions of economic hit man? sama saja, ini lebih pada buku history/politics. Yang benar-benar buku Economics popular? bukunya Thomas Piketty atau Acemoglu. Buku psikologi popular ini ajaib memang. Dari model self help hingga psikologi (berjudul ekonomi). Paling enak untuk obrolan santai.

Written by Anjar Priandoyo

Mei 19, 2017 at 4:22 pm

Ditulis dalam Life

Buku-buku yang bisa ditata ulang

leave a comment »

Senangnya…
Buku-buku “ajaib” semacam The 4-hour workweek, Rich Dad Poor Dad, yang masuk kategori yang tidak kalah ajaib seperti “self help”, “business”, “finance”. FYI, 4-hour workweek, scholar citationnya bisa 148 dan rich dad 214.

Saya cukup senang membaca mengenai ide provokatif seperti penemuan gandum yang mendorong neolitic revolution atau ide bahwa penemuan haber-bosch proses yang mendorong agricultural revolution -atau dari penulis yang sama bahwa Maxwell lah yang mendorong perkembangan cell phone seperti sekarang.

Namun ide provokatif ini bukan monopoly satu orang saja.

Written by Anjar Priandoyo

Mei 19, 2017 at 1:56 pm

Ditulis dalam Life

Vaclav Smil, 80 buku setahun selama 50 tahun

leave a comment »

Ini orang “super jenius”. Smil, menerbitkan paper, menerbitkan buku popular, membaca 80 buku per tahun. Saya yakin di Indonesia, motivator sekalipun tidak bisa meyaingi beliau dengan rate performance sesederhana ini. Rate membaca buku ini tidak mudah, Bill Gates saja kewalahan mengejar dia.

Ok, mengatakan “super jenius” mungkin berlebihan, julukan yang tepat mungkin “organized”.

“What books are you currently reading (or have you just finished reading) for your work or for pleasure? Why did you choose them, and what do you think of them? Very easy to answer: I have kept the list of books I read (in order to be able to dip into some of them again without tormenting my memory or blindly searching)”

Written by Anjar Priandoyo

Mei 19, 2017 at 9:57 am

Ditulis dalam Life