Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Archive for the ‘Life’ Category

Orang-orang yang telah selesai

with one comment

Sewaktu melihat iklan mengenai destinasi wisata di televisi, rasanya ada beberapa ungkapan yang tidak pas yang disampaikan iklan tersebut. Manchester digambarkan sebagai kota industri, London digambarkan sebagai kota yang dikunjungi wisatawan paling banyak didunia, Kerala digambarkan sebagai kota pertanian yang indah, Frankfurt digambarkan sebagai ibukota Bank Sentral-nya EU.

Iklan tersebut menarget wisatawan, namun menggambarkan bahwa Frankfurt sebagai ibukota Bank Sentral atau Manchester sebagai kota Industri rasanya tidak tepat. Destinasi wisata lebih tepatnya ditujukan pada tempat yang tenang, dengan pemandangan alam yang indah: Maldives misalnya.

Ini mengingatkan bagaimana orang Inggris bisa “ditertawakan” saat mengatakan liburan ke Manchester.

Saya tersadar, mungkin maksud iklan tersebut tidak lebih dari tujuan destinasi sebuah maskapai penerbangan. Artinya kota-kota yang disebut tadi merupakan tujuan dari maskapai tersebut. Manchester buat si maskapai jauh lebih indah dari Edinburgh misalnya, karena maskapai tadi tidak punya tujuan ke Edinburgh. Atau York sebenarnya lebih baik, dari Manchester sebagai destinasi wisata, tapi dari kacamata rute perjalanan, Manchester jelas merupakan tujuan utama.

Iklan yang dibuat maskapai tentu memiliki tujuan tersendiri yang kita audiensnya tidak pernah tahu kepentingan apa didalamnya, iklan tersebut juga memiliki pesan tersendiri yang kita juga tidak tahu, apakah mengejar tempat wisata di UK lebih baik dari pada di Eropa Daratan, apakah jalan-jalan di timur tengah lebih baik dari pada di asia selatan. Ini juga kita tidak pernah tahu.

Informasi seperti ini datang bertubi-tubi kepada kita setiap hari. Dalam lamunan pagi itu secara tidak sadar, saya pun membuka sebuah majalah gaya hidup, yang menggambarkan betapa bagusnya koleksi baju, sepatu, jam dari desainer dunia. Buat orang yang sudah selesai hidupnya, seharusnya iklan seperti ini tidak berarti apa-apa.

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

September 12, 2017 at 5:33 am

Ditulis dalam Life

Teori lulus kuliah tepat waktu

leave a comment »

Seingat saya, tidak ada seorang pun dikampus yang senang kuliah. Kuliah itu susah, pagi belajar jaringan, siang belajar database, malam belajar coding. Rasanya hampir mustahil bisa menikmati masa kuliah, tugas yang banyak, ngoprek yang luar biasa sulitnya, hingga nilai yang tidak berbelas kasihan. Begadang sepanjang malam hingga banyak masalah dengan teman.

Maka logikanya, semua mahasiswa ingin lulus secepatnya, meninggalkan diri dari problematika selama kuliah. Namun, ternyata tidak semua mahasiswa lulus kuliah dengan cepat. Aneh kan?

Dugaan saya adalah, semua mahasiswa itu takut tidak mendapatkan pekerjaan. Ini cerita yang umum, bagaimana tidak tertekan-nya mahasiswa tahun keempat, melihat senior-nya yang berbeda empat tahun diatasnya, masih belum mendapatkan pekerjaan. Atau mendapatkan pekerjaan tapi seadanya -didaerah, menjaga warnet misalnya. Salah satu dugaan saya, khususnya bagi anak teknik, adalah tidak memiliki skill yang cukup. Contoh, lowongan yang dicari pengalaman 2 tahun dengan Java. Nah, mahasiswa ini berusaha mencari pengalaman coding Java, baik bekerja di proyek atau mempelajari sendiri otodidak. Faktor ketakutan ini yang mendorong mahasiswa tidak cepat lulus.

Namun, sekarang teori ini perlu ditinjau kembali. Bagaimana dengan kasus mahasiswa S3. Mahasiswa ini juga tidak senang kuliah (baca: meneliti) tapi mahasiswa ini tidak punya dilema seperti mahasiswa S1 dalam mencari pekerjaan. Mahasiswa ini setelahnya sudah pasti mendapatkan pekerjaan. Lalu mengapa tetap saja terdapat fenomena Mahasiswa yang lulus-nya tidak tepat waktu.

Dugaan saya sama, mahasiswa ini juga sama, takut tidak mendapatkan kehidupan selayak sekarang. Bila kehidupan setelah lulus kuliah dianggap lebih sulit daripada kehidupan pada saat lulus kuliah, maka sudah dipastikan mahasiswa tipe ini akan lama lulus kuliahnya.

Refleksi
Untuk bisa menggunakan teori, suatu teori harus konsisten digunakan. Dan teori akan selalu benar, jika digunakan asumsi yang sama. Contoh, teori bahwa “Manusia itu kalau laper berantem”, tapi bagaimana dalam sebuah kondisi kenyang tapi tetap berantem. Konsistensi teori itu menjelaskan artinya, manusia tadi belum dalam kondisi kenyang (sebenarnya masih lapar, sehingga terus berantem). Artinya untuk menerapkan teori tersebut, manusia itu harus dipenuhi dulu apa yang membuatnya masih lapar e.g harta (tidak lagi secara materi makanan).

Jadi kenapa saya ingin lulus cepat? karena saya percaya ada kehidupan yang lebih baik setelah saya lulus kuliah nanti. Orang yang lulus kuliahnya lama adalah orang percaya bahwa kehidupannya saat ini sebagai mahasiswa adalah kehidupan terbaiknya.

Written by Anjar Priandoyo

September 4, 2017 at 9:17 pm

Ditulis dalam Life

Wisuda – rencana sempurna untuk lulus tepat waktu

leave a comment »

Saya tidak pernah menduga bisa lulus kuliah persis selama 4 tahun. Seingat saya, kakak angkatan saya paling cepat menyelesaikannya dalam 4.5 tahun, diangkatan saya yang lulus persis 4 tahun hanya 1 orang ditambah saya menjadi 2 orang, itu pun karena orang pertama tadi memang sangat rajin belajar. Sebagai pembanding, saya bisa menyelesaikan kuliah termasuk dengan KP selama 2 bulan di Kantor Pusat BRI Jakarta, masih ditambah KKN di Sukoharjo selama sekitar 2 bulan juga ditambah kerja Partime selama 1 tahun terakhir. Banyak teman kuliah saya yang bisa lulus kuliah tanpa mengambil KP Jadi kalau dihitung net masa kuliah, saya bisa mengklaim lulus dalam waktu 3.5 tahun, jika dikurangi waktu KKN, waktu KP dan waktu partime. Meski demikian harus diakui bahwa saya lulus dengan IPK sedang saja, persis 3.00.

Kalau diingat-ingat, saya memang tidak merencanakan lulus persis 4 tahun, yang saya rencanakan adalah lulus dengan IPK >3.00 mungkin pantas-pantasnya adalah IPK 3.20. Hanya waktu itu, di detik-detik terakhir (20 Juli 2004 setelah pendadaran, baru rencana saya berubah), setelah saya hitung-hitung lagi, lebih tepatnya setelah saya mengulang mata kuliah IMK (Interaksi Manusia Komputer) kedua kalinya dan tetap mendapat nilai C, saya menyadari bahwa bila pun saya bisa mencapai 3.10 tapi dengan catatan waktu masa kuliah 4.5 tahun, rasanya lebih baik saya mendapatkan IPK 3.00 dengan masa kuliah 4 tahun. Singkatnya perhitungan saya ini benar.

Saya mencoba mengingat lagi, apakah memang tidak saya rencanakan?

di UGM semester itu hanya ada dua kali dalam setahun. Semester ganjil dimulai di Agustus dan semester Genap dimulai di Februari. Semester Pendek itu policy masing-masing kampus. Kira-kira timeline saya untuk pengerjaan skripsi sebagai berikut:

Jul – Aug 2003: KKN Semester Pendek akhir tahun ketiga

Aug 2003 – Jan 2004: Semester Tujuh
15 Sept – 15 Nov 2003: KP Kantor Pusat BRI (Jakarta already change my mind)

01 Februari 2004, day 1 skripsi
13 Mei 2014, Parttime SIC
19 Juni 2004, Presentasi di SNATI
20 Juli 2004, Pendadaran

Apa kesimpulannya?
Kalau dilihat timeline kuliah dahulu, momen paling penting adalah pada saat akhir tahun ketiga, yang merupakan rangkaian KKN dilanjutkan KP. Ini bukan artinya semua-semua harus dikerjakan, tapi justru karena KKN dan KP bisa terselesaikan maka Skripsi juga bisa diselesaikan dengan cepat dalam waktu sekitar 4 bulan. Artinya untuk bisa lulus skripsi dalam waktu 4 bulan, harus mengambil KKN 2 bulan dan KP 2 bulan. KKN dan KP adalah latihan menjelang Skripsi.

Entah ini resep yang bisa dipakai lagi atau tidak saya tidak pernah tahu.

Yang saya ingat, orientasi saya dahulu selalu IPK, bukan masa studi. Orientasi IPK ini lebih populer dibandingkan target masa studi. Baru di detik-detik terakhir saya mengambil orientasi masa studi. Implikasi dari masa studi ini adalah masa pencarian kerja saya menjadi lebih cepat karena saya menghitung dimensi waktu. Sehingga Oktober 2004 saya langsung bekerja. Persis selang 1 bulan setelah wisuda. Istilahnya, IPK itu Prepared plan, sementara masa studi itu Emerging Plan.

Bagaimana penerapan teori ini?
Kalau memang saya sudah menyadari rencana ini sejak dulu, maka pada semester 7 saya tidak akan mengambil KP, karena terlalu beresiko – misalnya saya jadi lebih senang kerja daripada menyelesaikan kuliah. Sebagai gantinya saya akan mengambil bimbingan skripsi pada semester 7 (yang rasanya pada waktu itu tidak mungkin dilakukan, yang artinya kecil kemungkinan ada anak di angkatan saya yang bisa menyelesaikan kuliah dalam 3.5 tahun).

Maka untuk bisa membuktikan teori ini, maka submission harus dilakukan pada akhir tahun ketiga.

Written by Anjar Priandoyo

September 4, 2017 at 8:43 pm

Ditulis dalam Life

Tagged with

Batas Batas

leave a comment »

Waktu kuliah dulu, saya sempat belajar Interbase sebentar saja, beberapa kali install, mencoba query setelah itu sudah. Berhenti. Ini perasaan yang sama, yang muncul kembali ketika membuka kembali Panoply untuk membaca file netCDF, termasuk membuka kembali MARKAL dan ARIS. Tag ARIS sudah saya hapus dalam catatan saya, tidak butuh waktu yang lama, sama seperti mengh apus Tag PHP terdahulu. Semoga saya akan selalu teringat misi saya, sama seperti Jayabaya yang menuliskan ramalan tentang Jagung.

Written by Anjar Priandoyo

September 3, 2017 at 6:34 pm

Ditulis dalam Life

Ketenangan dan Kesibukan

leave a comment »

“Gimana rasanya kerja bareng si A” suatu ketika saya bertanya kepada salah satu teman saya
“Fisik sih ga terlalu cape ya, cuman mental nih terkuras, terlalu banyak konflik dengan manajemen” ujar teman saya

“Maksudnya? bukannya kerjanya ga sibuk ya, ga berat juga, tengo-tengo terus” tanya saya
“Iya, tapi si A ini suka bertengkar dengan bos yang lain, si A melindungi timnya tapi kadang-kadang suka bikin kebijakan yang ga efektif seperti diminta bekerja sedapetnya. Saya setuju sih, teman-teman juga setuju, cuman saya rasa ada yang ga pas. Batin saya juga ga sreg”

Saya terdiam, rasanya apa yang disampaikan teman saya benar juga. Sebuah tim yang baik itu artinya kedua aspeknya baik. Aspek fisik baik aspek mental baik, terpenuhinya aspek lahir-batin, jasmani-rohani, fisik-mental, luar-dalam.

Beberapa hari kemudian, saya tanyakan lagi kabar seorang teman, yang sudah tidak lagi bekerja dengan si A karena projectnya sudah selesai. Si teman sekarang masuk pool resource, menunggu giliran berikutnya untuk ditempatkan di project yang lain.

“Gimana rasanya sekarang, setelah ga bekerja dengan si A, sudah ga stress lagi kan”
“Hmmfff, gimana ya mas, sebenarnya sih masih mending dalam situasi project, kalau lagi idle gini kan lebih stress malahan”

Disinin saya kembali terdiam. Katanya ketenangan (tranquility) ini didapat dari kesibukan (aktivitas) seperti hobi melukis, merawat tanaman, membersihkan rumah. Namun ketika terlalu sibuk, orang akan mengeluh tidak tenang. Ketika terlalu khawatir pikiran kita menjadi tidak tenang, namun ketika terlalu santai maka banyak hal tidak bisa dicapai, prestasi menurun.

Artinya mengelola ketenangan jiwa itu tidaklah mudah, perlu latihan (secara sistematis) dan konsistensi (terus menerus).

Written by Anjar Priandoyo

September 3, 2017 at 12:17 pm

Ditulis dalam Life

Sifat Manusia

leave a comment »

Praktisi melihat sifat manusia
Sewaktu interview posisi staf senior dalam sebuah project saya bertanya kepada salah satu supervisor di kantor. Pertanyaan saya, kira-kira siapa yang bisa direkrut internal untuk posisi di project ini. Si supervisor mengajukan beberapa nama yang kurang lebih penjelasannya sebagai berikut:

“Si A itu sifatnya rajin, setiap diberikan tugas, langsung dikerjakan tanpa menunda, dan hasil pekerjaannya paling mendetail. Cuman kekurangannya si A ini sifatnya sedikit temperamen dan suka marah, jadi mungkin junior agak takut kalau bekerja bareng dia. Tapi mungkin si A cocok sama klien yang galak-galak”
“Si B itu sifatnya jujur, kalau ada masalah dalam tim, dia akan terbuka kepada manajer, Si B ini juga lebih bisa manage tim, sehingga tim itu enjoy kalau bareng dia. Cuman kekurangannya mungkin hasil pekerjaannya tidak begitu rapih dan bagus. Tapi kalau entertain client Si B ini lebih bagus soalnya lebih bisa ngobrol”

Karena ini cocok-cocokan maka sebenarnya tidak ada pilihan yang paling benar antara si A dan si B. Pengalaman saya, yang paling baik antara si A dan si B adalah melihat secara langsung saat bekerja di lapangan. Setelah itu kita bisa menilai kira-kira yang paling cocok siapa. Bisa jadi si A cocok karena teknisnya bagus, sementara bisa jadi si B yang dipilih karena bisa mengisi keberagaman yang belum ada dalam tim.

Psikolog melihat sifat manusia
Namun dari kacamata psikologi, penilaian tentang si A dan si B mungkin sedikit berbeda dibandingkan penilaian secara praktis (terapan) seperti contoh diatas.

Contoh, si A itu suka marah. Marah adalah sebuah kondisi emosi (perasaan), semua orang bisa marah, termasuk bisa sedih. Namun si A ini memang berbeda, dalam sebuah project 2 minggu, si A bisa setiap hari marah. Sementara si B meskipun suka marah juga, namanya di project yang deadlinenya ketat, si B ini marahnya relatif lebih sedikit, bisa hanya 1-2 kali dalam sebuah proyek. Karena perbedaannya signifikan antara si A dan si B. Psikologi membedakan bahwa A ini memiliki trait (sifat) yang sensitif/nervous sementara si B ini lebih secure/confident. Mana yang lebih baik? tidak tahu, karena dalam psikologi saat ini ada kontroversi apakah sifat ini berkorelasi dengan job performance dan kesuksesan karir.

Psikologi adalah ilmu yang berusaha untuk mengklasifikasikan sifat-sifat manusia. Karena sifat manusia itu banyak sekali, termasuk kendala mengungkapkannya dalam bahasa maka paling tidak dibuat 5 grouping yaitu: Respon dalam kondisi underpressure (Neuroticism: Sensitive vs Confident), Respon dalam kondisi unsupervised (Conscientiousness:Organized vs Easy Going), Respon dalam kondisi baru (Openness: Curious vs Consistent), Style dalam mengelola tim (Extraversion: Energetic vs Solitary) dan Style dalam mengelola tantangan tim (Agreeblness: Friendly vs Challenging)

Dalam pandangan psikologi, sifat itu tidak ada yang buruk.

Filsuf melihat sifat manusia
Namun dalam kacamata Philosophy, sifat manusia dilihat sebagai sesuatu yang bisa baik dan bisa buruk. Sifat yang baik itu berhubungan dengan moral (Morality) dan etika (Ethics). Dalam kacamata Philosophy, sifat yang sensitif itu buruk, sifat yang suka marah-marah itu buruk. Sementara sifat yang menyayangi (compassion) itu buruk. Dari kacamata Philosophy termasuk ajaran agama, ada sifat-sifat yang digolongankan baik (e.g Akhlak) dan ada yang digolongkan buruk (e.g Dosa).

Dari kacamata Philosophy ini juga, sebuah sifat memiliki korelasi dengan kebahagiaan (Happyness) yang relatif lebih abstrak (dan pada society) dibandingkan konsep kebahagiaanya Psikologi (Wellbeing) yang penerapannya lebih banyak pada aspek kesehatan (dan pada individu).

Kesimpulan
Sifat manusia itu berhubungan dengan banyak hal, secara praktis berhubungan dengan kecocokan rumah tangga, tim kerja di kantor. Dimana untuk bisa harmony, orang mesti mencari pasangan yang cocok sifatnya, dan dimana untuk menjalaninya secara harmony, orang mesti menyesuaikan sifatnya dengan sifat pasangannya.

Secara psikologi, sifat mungkin (berkorelasi) dengan performa kerja, makanya ada seleksi HRD. Dan secara filosofi, sifat mungkin (juga berkorelasi) dengan bagaimana society yang harmony bisa dibangun (mungkin saja, ada perbudakan dan kejahatan tapi tetap harmoni).

Sebagai individu, sifat juga terkait (entah korelasinya) dengan bagaimana persepsi atas kebahagiaan (happiness) dan ketenangan (tranquility) dari hidup.

Written by Anjar Priandoyo

September 3, 2017 at 8:27 am

Ditulis dalam Life

The best way to learn English

leave a comment »

The best way to learn English is to live in England. It is true for some reason but also wrong.

It is wrong because this saying is the same as the best way to learn Javanese is to live in Jogjakarta. I have lived in Jogjakarta for four years and learn nothing about language at all. I lived in boarding house where my next door neighbor is Bataknese and the other is Bugisnese. My landlord is Javanese but she speaks Indonesian all the time.

If I want to learn to speak Javanese, I could practice it with my landlord. But of course, I hesitant to learn from him because to speak to him require a higher level of Javanese which is Kromo Inggil language. So the polite way to speak to him is through Indonesia language.

Another option is to learn Javanese from another Javanese friend. But this also could not be done. First, it looks strange, the second some student prefer to use a more Jakartan version which is cooler.

So is it a waste of time, to not learn a language at all even though I have lived there? Well, my justification is at least I learn about the Javanese culture. I learned that my landlord is very polite. I learned that for I know something in Javanese better than before, although I can not speak it. I learned that I understand some concern from Javanese people that I never thought before.

So it goes the same as English. I come to this realization knowing that my children speak, listen and write better English than me. If it is because of interaction, my nine years old child should speak better English than my five years old child, which the youngest only get several hours per day just for playing not a meaningful conversation.

Notes:
Pendatang (Idiom): Migrant ref kompas, Newcomer ref jakartapost; Pendatang Baru: New Comer (Literal)

Word choice: conduct ref

Correct: I lived in Jogjakarta for two years
Accepted: I have lived in Jogjakarta, but I no longer lived there

Correct: I have lived in England for three years (still living here)
Acceptted: I have been living in England for three years, from 2014 until now.

ref, ref

Written by Anjar Priandoyo

September 1, 2017 at 8:25 pm

Ditulis dalam Life

Tagged with