Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Archive for the ‘Life’ Category

Hidup dalam ketakutan

leave a comment »

Ketakutan terbesar saya di Jakarta adalah mengenai pekerjaan dikantor (proyek based), apakah akan ada proyek, kalaupun ada proyek apakah proyek ini bisa dimenangkan, kalau dimenangkan apakah proyek ini bisa diselesaikan, kalau bisa diselesaikan apakah proyek ini akan dicatat sebagai kpi, kalau dicatat kpi apakah akan membuat saya promosi, kalau saya promosi, apakah saya akan punya tim untuk mengerjakannya, kalau saya punya tim untuk mengerjakannya apakah saya masih membidangi services yang sama, kalau saya diservices yang sama apakah trend akan berubah, dan seterusnya.

Pagi-pagi bangun, itu yang saya rasakan. List ini bisa bertambah panjang, seperti apakah tim saya mendukung, apakah bos saya mendukung, apakah saingan internal saya ngajak ribut, apakah klien bisa menerima, apakah tim tidak membuat blunder internal. Rasa takut ini terus konstan menghantui, dari sepeda motor yang saya nyalakan, macet, cuaca, polisi, ban bocor dan seterusnya seakan tidak habis.

Di sini, ketakutan itu pun rasanya tidak akan habis. Anak yang terlambat bangun, anak yang terlambat makan, anak yang bertengkar, anak yang bosan, anak yang tidak mau tidur, dan seterusnya seakan tidak ada habisnya. Anak sekolah harus memikirkan cara antar jemputnya, anak liburan harus memikirkan cara mengisi waktu liburannya. Tidak mau berpikir mengisi waktu liburan, maka masalahnya akan bertambah besar.

Kalau masalah fisik, saya punya solusi yang rasanya bermanfaat, yaitu berolahraga secara teratur. Dan ini harus dipaksakan, apapun kondisinya agar tetap rutin berolahraga.

Mungkin ketakutan juga sama, harus dipaksakan untuk punya rutinitas yang konstan, untuk waktu makan, waktu tidur. Aturan-aturan yang sederhana. Dan ini juga termasuk menulis. Semoga ya.

Written by Anjar Priandoyo

Juli 26, 2017 at 6:54 am

Ditulis dalam Life

Antropolog vs Sosiolog

leave a comment »

Buat saya semua orang sosial itu sama, saya sebut mereka sociologist. Cuman, saya bebeberapa kali bertemu dengan orang yang tidak mau menyebut dirinya sociologist, lebih senang disebut sebagai geographer atau antropologist atau etnographer. Padahal menurut saya ini sama saja. Yang membingungkan adalah semuanya menganggap bisa memecahkan persoalan.

Sosiolog bisa menyalahkan interaksi (e.g actor network, conflicting interest), anthropolog bisa menyalahkan masalah budaya (patronage, kinship, lineage). Meski semua orang sosial tersebut menyatakan bisa memecahkan persoalan, pada kenyataannya lapangan pekerjaan orang sosial ini sangat terbatas. E.g Sosiolog lebih banyak bekerja di depsos dan antropolog di depdikbud, dengan fokus yang berbeda. Antropolog lebih banyak preservation budaya yang ada, jangan sampai hilang, karena budaya adalah hal yang sangat luhur. Sementara sosiolog lebih berpikir praktis kedepan.

Kalau Sosiolog masa depan maka history masa lalu. Kalau antropology masa depan maka arkeologi masa lalu.

Written by Anjar Priandoyo

Juli 23, 2017 at 6:34 pm

Ditulis dalam Life

Penulis

leave a comment »

Ada penulis yang saya suka sebut saja si A, sangat produktif. Namun belakangan penulis tersebut lebih banyak menulis sisi pribadi dirinya, yang menurut saya tidak menarik. Ini berbeda dengan beberapa penulis lain yang masih bisa produktif tanpa harus menulis sisi pribadinya. Mungkin tanggapan saya berlebihan, tapi ceritanya si penulis A ini populer pada era yang sama dengan si B, C dan D. Masalahnya si B, C dan D tidak menggunakan teknik yang sama.

Fenomena ini menarik buat saya di era keberpihakan seperti ini, yang bisa menurunkan penulis adalah dirinya sendiri. Saat ini untuk bisa punya pesan yang terdengar, seorang penulis butuh dukungan massa yang mempopulerkan tulisannya. Namun melihat beberapa penulis yang masuk segmen yang sama seperti A, B, C, D ini artinya persaingan akan semakin keras. Bukan hanya memperebutkan pasar yang sama, namun juga akan dijatuhkan dengan cara yang lebih keras.

Written by Anjar Priandoyo

Juli 23, 2017 at 5:51 pm

Ditulis dalam Life

Delayed Gratification

leave a comment »

Insentif (reward) tidak selalu efektif, Indonesia misalnya, memberikan reward pemenang medali emas olimpiade sebesar £289,000 dan peringkat Indonesia di olimpiade 2016 ada di peringkat 46 dengan perolehan 1 emas. Amerika serikat, memberikan reward sebesar £18,000 dan berada diperingkat 1 dengan perolehan 46 emas. Tapi, UK dengan peringkat 2 dengan perolehan 27 emas memberikan reward sebesar £0.

Contoh lain publikasi jurnal, China misalnya memberikan $2 million untuk sebuah jurnal yang diterbitkan di Cell. Angka ini tentunya menimbulkan kontroversi yang pada akhirnya diklarifikasi bahwa insentif yang diberikan hanya £75,000 yang dibagi pada 27 orang atau sekitar $2,700. Tapi diluar cerita $2 million tersebut, angka $75,000 per jurnal adalah angka yang wajar untuk diberikan per jurnal yang dimuat di Cell, Science atau Nature.

Praktek pemberian insentif, reward, subsidies ini terjadi dimana-mana dan disegala sektor. Hasilnya? tidak efektif untuk jangka panjang, tapi hari ini, siapa yang berpikir jangka panjang?

Written by Anjar Priandoyo

Juli 19, 2017 at 11:22 am

Ditulis dalam Life

Belajar dari bapak

leave a comment »

Kalau saya perhatikan kakek dan bapak saya mengisi hari-harinya, apa yang saya lihat adalah sebuah rutinitas yang dilakukan terus menerus (continuous), statis/stagnant (no improvement), sendirian (solitary), dan tidak ada hasilnya (useless). Contoh, jam 03:00 dini hari kakek waktu itu berumur 70 tahunan sudah bangun, pergi ke kolam ikan (blumbang), memotong rumput, kemudian pulang ke rumah, untuk melakukan kegiatan bersih-bersih lainnya.

Bapak, kurang lebih seperti itu, bangun sekitar jam 05:00 kemudian memberi makan ayam, menyapu halaman depan rumah. Ibu bangun lebih pagi sekitar jam 04:00 memasak nasi, menyiapkan sarapan, jam 05:00 menyiapkan pakaian sekolah, jam 06:00 semua dalam posisi sudah makan pagi dan berangkat.

Kegiatan yang dilakukan orang tua saya itu menurut saya tidak berguna sama sekali. Dosa terbesarnya menurut saya adalah lambat sekali. Contoh, memasak dengan manual, kegiatan mencuci dilakukan secara manual, masih ditambah kegiatan mensetrika. Artinya, kalau dilihat dari kacamata orang tua saya saja. Untuk rutinitas pagi, paling tidak butuh waktu 3 jam dikali 3 orang (bapak, ibu dan ART) atau 9 jam. Sebagai perbandingan, dengan sereal/toast/egg/croissant saya bisa mempersiapkan pagi saya dengan hanya waktu 1.5 jam saja.

Saya menertawakan orang tua saya yang tertinggal jamannya dengan saya. Namun, buat orang tua saya mungkin yang sekarang saya lakukan tidak lebih baik dengan apa yang mereka lakukan. Mari kita lihat point yang saya keluhkan

#Continuous Stagnation Myth (No Improvement)
Setiap pagi, bapak memberi dedak (pakan ayam) untuk sekitar 6 pasang ayam dan beberapa anak ayam. Ayam peliharaan ini tidak sustainable, hanya dipotong pada saat lebaran, jumlahnya selama bertahun-tahun juga tetap. Setiap ayam dipotong, maka ada anak ayam penggantinya yang kelak tahun depannya akan dipotong. Kalau saya perhatikan, ini sebenarnya bukanlah statis/stagnant dan tidak berkembang, lebih tepatnya adalah mastery, melakukan sesuatu secara terus menerus. Mungkin seperti atlit lari ya, doktrinnya adalah continuos training, continuos improvement (dalam hal teknik, alat, equipment) kalau jam terbangnya sedikit ya tidak akan berhasil. Doktrin ini lebih tepatnya disebut dengan Continuity.

#Solitary Myth (Sendirian)
Ini point yang sebenarnya aneh, tapi lama kelamaan saya menyadari bahwa cara terbaik untuk mengerjakan sesuatu adalah dengan kesendirian. Ini justru yang saya perlu belajar. Bahasa lain dari solitary adalah fokus.

#Useless Myth (Tidak ada hasilnya)
Memberi makan ayam, menyapu daun-daun yang gugur dari pohon didepan rumah, menyiram tanaman, membersihkan kolam menurut saya merupakan kegiatan yang tidak ada manfaatnya. Kenapa pohon didepan rumah tidak ditebang saja, kemudian diganti dengan paving block, agar mudah dibersihkan? Tapi mungkin bapak saya akan tertawa kalau melihat saya membaca buku yang juga tidak ada gunanya. Ini akhirnya juga saya harus akui, bahwa saya yang justru perlu belajar, belajar untuk bagaimana melakukan sesuatu yang tidak berguna. Jaman sekarang doktrin ini lebih tepatnya disebut dengan Sustainability.

Kira-kira begitu penjelasannya, yang jelas orang tua selalu lebih baik dari kita, mereka punya pengalaman lebih banyak, tinggal bagaimana kita mau mengambil pelajaran atau tidak.

Written by Anjar Priandoyo

Juli 18, 2017 at 6:41 pm

Ditulis dalam Life

Belajar

leave a comment »

Baca quote kurang lebih seperti ini

If you want to succeed in business, don’t get an M.B.A. Study philosophy instead

Dalam beberapa hal setuju, karena MBA adalah belajar mengenai “cara berpikir” yang prinsipnya sama seperti philosophy, dalam MBA, sebuah situasi bisnis dianalisa dengan berbagai kacamata e.g Ansoff Matrix, BCG Growth Model. Situasinya sama, tapi cara berpikirnya beda. Situasinya sama-sama kompetisi tapi dilihat dengan kacamata blue ocean, dengan disruptive innovation dan seterusnya. Ini sama seperti melihat fenomena politik saat ini ditelevisi, bisa dilihat dari kacamatanya Ibnu Khaldun bawah fungsi pemerintah itu seharusnya mencegah ketidakadilan, atau melihat bahwa negara adalah satu-satunya yang punya monopoli of force.

Punya cara berpikir yang baik ini menarik, karena banyak persoalan seperti layaknya bisnis sangat kompleks untuk dipecahkan, sehingga perlu cara berpikir baru. Coba lihat deretan persoalan ini, bisa dipecahkan? mustahil. Bisnis yang komponennnya lebih sederhana saja susah.

  • Urbanisasi
  • Poverty (Inequality)
  • Radikalisme, Violence, Conflict
  • Industrialisasi, Globalisasi, Modernisasi
  • Education, Health
  • Social Problem: Corruption, Crime
  • Pollution (Flood, Forest Fire, Waste)
  • Economic Problem: Unemployment

Lalu apakah filosofi adalah solusi? tidak, karena ada juga quote yang mengatakan kurang lebih seperti ini:

Philosophy is remembering people, quotes and arguments
History is remembering dates and info in chronological order

Kalau cuman menghafal, apa kontribusinya?

Written by Anjar Priandoyo

Juli 17, 2017 at 7:27 pm

Ditulis dalam Life

Memonitor sakit

leave a comment »

“25% of all allergy sufferers don’t understand what their allergy triggers might be”

1.Temperature
Ini fitur Historical data-nya Timeanddate yang sangat berguna, baru sadar, hari kamis (6 Jul) kemarin memang luar biasa panas, tertingginya 26c sementara semingguan terakhir tertingginya sekitar 20c. Artinya? wajar kalau kemarin mendadak tidak bisa tidur nyenyak.

2.Sun position
Data selanjutnya adalah data dari suncalc.org untuk melihat bagaimana posisi elevasi matahari.

3.Pollen count
Akhirnya ketemu juga historical data, meski hanya 2 hari kebelakang dari Benadryl, rabu dan kamis pollen countnya very high (ini juga diambil dari metoffice). Jadi wajar ya. Ini akan terus berlangsung hingga hari senin baru turun dilevel high.

Bagaimana mencegahnya? ini beberapa tips menarik:
1. Pakai kacamata, agar pollen tidak masuk mata
2. Mandi, cuci muka dan ganti baju

Written by Anjar Priandoyo

Juli 7, 2017 at 5:48 pm

Ditulis dalam Life

Tagged with