Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Archive for the ‘Management’ Category

Social Science

leave a comment »

Baru nyadar, seorang teman pernah berkata bahwa penelitian science beneran seperti STEM (Science, Technology, Engineering and Math) itu musuhnya cuman satu: jaman. Artinya kalau tahun 2000 belajar Semantic Web, bisa jadi sekarang sudah tidak terpakai lagi ilmunya, karena Semantic Web sudah totally different. Atau yang engineering belajar piezoelectricty, ternyata baru dipakai trendnya 200 tahun kemudian -penelitinya sudah wassalam. Ketinggalan jaman, kalau engga perusahaan itu bangkrut, tidak ada lagi yang menggunakan teknologi tersebut.

Orang social science, dalam hal ini, yang ilmunya tidak jelas, bisa sedikit nyombong karena meski ilmunya tidak bisa diimplementasikan, tapi paling engga ada orang yang mau membeli penelitian tersebut. Negara misalnya, mau hingga akhir jaman, penelitian sosial mengenai pendidikan, kesehatan, termasuk ekonomi pasti ada yang mau membelinya -meski ilmu tersebut tidak jelas bagaimana pemakaiannya, misalnya selain digunakan dalam debat pemilu.

Ambil contoh longitudinal vs cross-sectional study. Ini adalah term khas social scientist untuk mengatakan bahwa penelitian itu tergantung dengan jumlah sample yang diambil. Ini taktik ngeles yang sangat elegan dari peneliti sosial -taking bullshit to the next level.

A guide to understanding social science research for natural scientists ref
Scenario-driven roadmapping for technology foresight ref, good paper from engineering perspectives

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

November 17, 2017 at 2:21 pm

Ditulis dalam Management

Barriers

leave a comment »

I found that there are so many ways to describe, to investigate something.

Research:

  • International barriers to renewable energy development (Kinner, 2010) Framework: Martinot et al 2002, Painuly 2001 ref
  • Barriers to renewable energy development (Mercer, 2016). Framework: AKTESP (Trudgill 1990) ref

Written by Anjar Priandoyo

November 15, 2017 at 1:33 pm

Ditulis dalam Management

Good English #01 Describe a thing

leave a comment »

“…Once a cornerstone of the economy, Indonesia’s oil and gas sector is in a slump, even as the country’s appetite for energy soars…” ref

This is a good example of journalistic writing. In a single sentence, it describe the problem of Indonesia in one sentence, it also describe the summary of writing in single sentence. The beauty of journalism. This sentence contain exaggeration, overstatement, magnification, amplification. This is beautiful.

For example, it can be rephrase with:
“Oil industry is declining, even when demand is increasing rapidly”

Dictionary:

  • Cornerstone: on which a particular thing depends or is based (oxford), Something of great importance that everything else depends on (cambridge), something of great importance that everything else depends on (dictionary), an important quality or feature
  • Slump: A period of substantial failure or decline (oxford), a fall in the price, value, sales, etc. of something (cambridge), a decrease, decline, or deterioration (dictionary).
  • Soar: to rise very quickly to a high level (cambridge), fly or rise high in the air (oxford)
  • Appetite: A strong desire or liking for something (oxford),

Written by Anjar Priandoyo

November 15, 2017 at 10:17 am

Ditulis dalam Management

Tagged with

Indikator yang menyesatkan (banking)

leave a comment »

Bank Muamalat mengatakan ref, LTF BMI adalah 85% (Forbes bilang LTF 80-90%, deposit $100, loan $80) lebih lanjut (Juni 2017, LFR perbankan sebesar 89,31% atau sedikit melonggar dibandingkan periode sama 2016 91,19%.). CAR BMI adalah 12.7% (CAR Sehat BI 16,5%-17,5%, rata-rata Indonesia 21%, tertinggi di dunia). Bank Muamalat mengatakan bahwa bank-nya sehat walafiat, tapi tidak bisa berkembang pesat karena modalnya kurang. Statemen yang dikeluarkan oleh manajemen bank ini sah, karena ini bisa menjelaskan mengapa kinerjanya tidak maksimal. “Bagaimana saya mau berkembang, lha wong saya tidak ada modal, ini yang terbaik bisa saya lakukan”

Bank Indonesia mengatakan ref, Bunga kredit tinggi karena tingkat risiko kreditnya tinggi. Sementara Pefindo mengatakan penyebabnya adalah biaya operasional yang tinggi (e.g geografis BOPO rasio) ref. Menko perekonomian mengatakan penyebabnya adalah Inflasi ref

Term:

  • Loan-to-deposit ratio (LTD) is a assessment of a bank’s liquidity by dividing the bank’s total loans by its total deposits, aka LTD/LTF (Loan to Funding) Ratio
  • Istilah loan to deposit ratio (LDR) diganti dengan loan to funding ratio (LFR) ref
  • Bank Indonesia (BI) menebitkan aturan yang menaikkan batas bawah rasio pendanaan bank terhadap penyaluran kredit (Loan to Funding Ratio/LFR) dari semula 78 persen menjadi 80 persen. Sementara, batas maksimal rasio LFR tetap dipertahankan di level 92 persen. ref
  • NPL rendah berkisar 3.1% ref
  • Biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO)

Written by Anjar Priandoyo

November 12, 2017 at 2:30 pm

Ditulis dalam Management

Tagged with

Penelitian: Tingkat Pembuktian

leave a comment »

Penelitian kualitatif: ngobrol-ngobrol lalu ditafsirkan, contoh ilmu sosial
Penelitian quantitatif: mainan excel, contoh ilmu ekonomi
penelitian modelling: tidak ada teori

Sedikit demi sedikit

All research has clear objective (some in form of question, hypothesis)
Some research has no theory (to be used, to be proved),
Some research has theory, but no hypothesis

“…Their basic hypothesis was that through the understanding of strucutral societal change processes, it must be possible to formulate governance principles, methods and tools to deal with these processes…”

“…In the empirical sciences, one starts with a hypothesis that has to be proven or falsified. This hypothesis describes the nature of a relation between two or more variables…”

“…There is no hypothesis in qualitative research, qualitative research is inductive and aims to understand…” ref

Hypothesis testing is valid only for random variables and their different combinations ref
http://www.statisticshowto.com/probability-and-statistics/hypothesis-testing
https://www.sheffield.ac.uk/mash/what_test

Written by Anjar Priandoyo

November 8, 2017 at 3:39 pm

Ditulis dalam Management

Word Count – Magic Number 80,000

leave a comment »

Industri penerbitan adalah industri dengan presisi yang sangat tinggi. Novel misalnya, Novel definisinya adalah buku berjumlah 80,000 halaman, dengan jumlah kata per halaman sekitar 250 kata, dengan jumlah chapter sekitar 5,000 kata. Artinya sebuah novel terdiri dari 16 bab, dengan jumlah halaman sekitar 300 halaman. Setiap chapternya sekitar 20 halaman.

Novella (dibawah 50,000) misalnya Animal Farm (George Orwell, 29.966), Chrismas Carol (Charles Dickens, 28944)

The Great Gatsby – F. Scott Fitzgerald 1925 (180 pages, 47,094 word) misalnya, point of viewnya kadang first kadang third. Berbeda dengan To kill a mockingbird yang POV-nya first. Siti Nurbaya (291 pages), To kill a mockingbird (324 pages 99,121), dan bacaan wajib ada sekolah dari Shakespeare, Mary Shelley hingga Charles Dickens

Di Indonesia, karya sastra klasik itu ada 8:

  1. Azab dan Sengsara karya Merari Siregar (terbit pertama kali tahun 1920)
  2. Salah Pilih karya Nur Sutan Iskandar (terbit pertama kali tahun 1928)
  3. Sitti Nurbaya karya Marah Rusli (terbit pertama kali tahun 1920)
  4. Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma karya Idrus (terbit pertama kali tahun 1948)
  5. Layar Terkembang karya St Takdir Alisjahbana (terbit pertama kali tahun 1936)
  6. Atheis karya Achdiat K Mihardja (terbit pertama kali tahun 1949)
  7. Salah Asuhan karya Abdoel Moeis (terbit pertama kali tahun 1928)
  8. Habis Gelap Terbitlah Terang karya RA Kartini, Terjemahan Armijn Pane (terbit pertama kali tahun 1938). ref

Romeo and Juliet 1595 is a play, Cervantes’ Don Quixote, written in 1605 is a novel.

Bible (800,000), Quran (77,934)

Ada banyak alasan mengapa literature itu penting, mulai dari aspek teknis seperti creativity, criticality hingga aspek non teknis seperti kebudayaan (yang berbeda) dan kemanusian (tidak ada hitam putih). Tapi, alasan paling penting mungkin adalah

F. Scott Fitzgerald and Ernest Hemingway (shortest, The old man and sea 26,601) are two of the greatest writers of the 20th century

Ini seperti bicara kompleksitas bisnis, apakah Mighty Five (MITIV-Malaysia, India, Thailand, Indonesia, Vietnam) bisa menggantikan China?

ref word count

Written by Anjar Priandoyo

November 4, 2017 at 4:33 pm

Ditulis dalam Management

Memahami Dunia Musik dan Bisnis Hiburan

leave a comment »

Peta dunia musik berubah banyak, tahun 2008 penguasanya masih “permanent downloads” sebesar 64%, tahun 2014, subscription streaming (Spotify, Amazon, Apple) meningkat, termasuk ad-supported streaming (Youtube) ref. Pertanyaannya, bagaimana masa depan industri musik? seperti pertanyaan teman saya, bagaimana monetasinya, karena dengan model digital seperti sekarang hanya bisa sustain bila bisa mendapatkan keuntungan sebesar 70% dibandingkan musisi yang mungkin hanya <10%.

Untungnya big player selalu berkonsolidasi dan memonopoli. VEVO misalnya memonopoli trafik musik youtube. Vevo (Universal, Sony, Warner) memegang 70% marketshare musik. Industri musik baru bisa bangkit setelah 15 tahun decline, tahun 2000, semua penjualan musik masih dilakukan lewat media fisik. Ed Sheeran labelnya adalah Asylum Records (Warner), Adele (XL Recordings/independent), Sam Smith (Capitol/EMI). Jadi kalau ada pemain baru, gamblingnya berbeda, label baru gamblingnya mencari artis, marketplace baru problemnya kompetisi dengan big player.

Musik ini sedikit berbeda dibandingkan film yang biaya produksinya sangat besar, harus disajikan di bioskop, harganya mahal. Musik, biaya produksi sangat murah, konser fisik bisa dilakukan berkali-kali, termasuk diputar berulang-ulang. Tapi melihat keuntungan per industri secara umum lebih sulit, music industri sekitar 16b, movie 38b, games (pc 34b, console 30b, mobile 40b). Musik jelas impactnya lebih besar daripada movie, dan movie lebih besar dari game.

Dalam versi lain untuk industri yang sudah terkonsolidasi ref. Movie 90b, Music 28b, TV300b?, Casino 140b, Video Game 90b, Book 103b. Ini sesuai dengan statistik bahwa rata-rata orang membeli buku dan menonton di bioskop sekitar 5 kali dalam setahun.

Kesimpulan? capital never lie, the only way it survive is through exploitation.

IPFI Global Music Report 2017
MPAA Theatrical Market Statistics
Deloitte SEA Global Mobile

Written by Anjar Priandoyo

November 4, 2017 at 3:30 pm

Ditulis dalam Management

Tagged with