Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Archive for the ‘Management’ Category

Sorry (Maaf) Phrase

leave a comment »

Salah satu penyebab bahasa Inggris saya buruk.

I always speak in “word-by-word translation” of Indonesian language, instead of “phrase translation”. For example, in the beginning of speech, (where it always in the nervous condition) I tend to speak.

“Saya minta maaf kepada adik-adik karena saya hanya bisa bicara 10 menit saja” in this context speak with younger people.
” I am sorry because I only speak for 10 minutes”

Atau dalam audiens yang lebih besar menjadi:
“Saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada teman-teman disini karena pimpinan saya berhalangan hadir” atau
“Bapak ibu, Saya mohon maaf sedalam-dalamnya karena presentasi ini baru bisa diselenggarakan sekarang” atau

Disinilah kesalahannya karena sebesar-besarnya dan sedalam-dalamnya itu tidak diterjemahkan “as deep as possible” atau “wide” sorry. Tapi yang digunakan adalah “apologize”

“I apologize for any inconvenience”
“I would like to apologize for” (e.g coming late)
“I would like to apologize because our partner could not attend this meeting”
“I apologize”, because saying “I am sorry” is generally perceived as a sign of weakness

Orang Inggris itu perasaannya sangat halus, untuk mengatakan maaf saja ada lebih dari 30 ekspresi yang bisa digunakan. Contoh ketika sedang membawa nampan (platter, food tray) melewati banyak orang, orang Inggris akan berkata “Sorry”, sementara orang Indonesia akan berkata “Maaf”, kalau lebih halus orang Inggris akan berkata “Excuse Me” dan orang Indonesia akan berkata “Permisi, Punten”

Di Indonesia, maaf itu kata benda sementara di Inggris Sorry itu kata sifat (adjective). Namun bila sudah membentuk kalimat atau frase, maka sifatnya akan berbeda. Contoh

Dalam bahasa Indonesia: Saya minta maaf
Saya minta maaf sedalam-dalamnya: Forgive me

Dalam bahasa Inggris:
I am sorry: (I feel sorry (sad), express symphaty, sorrowful) (turut berduka cita)
I apologize: (I regret that I hurt you)

Forgive me: (maafkan aku)
Forgiveness: Ampunan

“Excuse me” before we inconvenience somebody and “(I am) sorry” after we have inconvenienced them
‘Forgive me’ is said if you have committed some sin or have done some wrongdoing to someone and you repent.

I beg your pardon

I am sorry (adj)

Please: Used in polite requests or questions (wiki politeness)

Sorry ini juga banyak idiomnya

Good presentation start with question, fact or engagement
“Thank you, It is great honour, I am so pleased”

Iklan

Written by Anjar Priandoyo

September 1, 2017 at 3:03 pm

Ditulis dalam Management

Tagged with

Why my English is bad #01: Idiom

leave a comment »

Idiom aka mengapa bahasa Inggris saya buruk

Suatu ketika saya sedang bekerja dalam sebuah tim bersama seorang warga negara asing. Tim kami ini harus berkompetisi dengan tim lain yang lebih senior. Suatu ketika si WNA berkata kepada saya, “haruskah kita bersaing dengan tim senior?”, jawaban saya waktu itu adalah “No, I don’t think that we should compete with them, it might be bad for company”.

Ucapan ini saya rasa kurang tepat, walau saya yakin si WNA juga tahu maksudnya. Dimana ada keengganan saya untuk bersaing internal dengan tim senior. Namun saya rasa ada pesan yang tidak sepenuhnya tersampaikan kepada si WNA. Kalau saya bayangkan, saya berdiskusi dengan kakak kelas saya, saya akan berkata “Tidak, saat ini kita mengalah dulu bang, sadar diri”.

Disini ada dua konsep yang tidak bisa diterjemahkan ke bahasa inggris. Yang pertama adalah “mengalah” yang artinya adalah “compassion (menyayangi)” dimana tujuan akhirnya adalah harmony, biar tidak ribut. Dan konsep kedua adalah “sadar diri” atau “tahu diri” yang artinya adalah menekankan pada “clear judgment”

Sebuah idiom (kata, frase) itu tidak bisa diterjemahkan secara langsung (literal) karena idiom itu punya perumpamaan (figurative, non literal). Contoh sedang diskusi, orang bisa menasehati temannya untuk “sadar diri” yang arti literalnya adalah “self-conscious” atau makna literal lain yang mendekati “knowing myself”. Namun kedua terjemahan ini kurang tepat, makna figurative yang lebih tepat adalah “clear judgement”. Dalam situasi yang lain kata “tahu diri” ini juga dekat dengan konsep Tawadhu (humble) dan Tawakkul (reliance on, trust in).

Kapan idiom ini bermanfaat
Dalam konteks interaksi di organisasi, saya kira idiom ini tidak terlau dirasakan dampaknya. Contoh, komunikasi antar saya dan teman WNA tadi, si WNA tetap memahami maksud si penyampai kata. Mungkin kalau saya bilang “Well, I don’t know whether we should compete or not” si WNA akan mengerti, bahkan dari “body language”, delay dan tone.

Dalam budaya juga sama, orang Inggris akan menanyakan “How is the weather today” sementara orang Asia akan menanyakan “Have you eaten” (sudah pada makan?)

Masalah ini rasanya baru muncul dalam science. Contohnya dalam paper “Is there an Asian idiom of distress? Somatic Symptoms in Female Japanese and Korean Students” untuk mengidentifikasi tingkat stress seseorang dari kata-kata yang diucapkan, tidak bisa serta merta menggunakan istilah inggris seperti stress.

Merdeka atau Mati
– Independence or Death
– Freedom or Death
– Live Free or Die

Harga Mati
– Dead Price, Fixed Price
– Now Forever
– Undisputed (The Jakarta Post) eq Undoubted, Uncontested

Tahu Diri (Clear Judgment), Sadar Diri (Clean Judgement)
– Clear Judgment
– Knowing Myself, Self-Conscious
– Tawadhu (rendah hati, humbleness and humility): Buya Hamka

Tidak Tahu Diri
– Ungrateful (US Embassy JKT)

Serba Salah
– Lose-lose situation (US Embassy JKT)

https://www.powerthesaurus.org/self-conscious/synonyms/idiom
https://en.wikipedia.org/wiki/Live_Free_or_Die
https://en.wikiquote.org/wiki/Indonesian_proverbs
https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_expressions_related_to_death
http://www.ngasih.com/2017/08/15/nkri-indonesia-harga-mati-dalam-bahasa-inggris-arti-makna-sebenarnya/
https://english.stackexchange.com/questions/8103/now-and-forever
https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-3602059/mbah-liem-ulama-kharismatik-pencetus-slogan-nkri-harga-mati
https://en.wikipedia.org/wiki/Know_thyself
https://english.stackexchange.com/questions/120697/do-we-have-a-term-for-knowing-oneself
http://www.dictionary.com/browse/have-a-clear-conscience
https://english.stackexchange.com/questions/148092/is-there-any-difference-between-clear-conscience-and-clean-conscience

Indonesian Slang: Colloquial Indonesian at Work By Christopher Torchia, Lely Djuhari

Written by Anjar Priandoyo

September 1, 2017 at 9:44 am

Ditulis dalam Management

Tagged with

Perbandingan teori motivasi

leave a comment »

“Orang itu dimana-mana sama, orientasinya selalu uang” Ungkapan ini sering kita dengar dimana-mana, diperbincangan warung kopi. Biasanya lawan bicaranya akan bilang “Ah engga, si A itu beda lho, dia mah ga butuh uang, keluarganya sudah kaya raya, kerja mah buat dia aktualisasi diri aja”. Perdebatan ini kalau diteruskan akan mengerucut pada dua statemen yang sama benarnya:

  • Semua orang pada dasarnya sama, butuh uang (Functionalist)
  • Orang tidak ada yang sama, mereka punya kebutuhan yang berbeda-beda (Conflict Theorist)

Polarisasi ini juga berlaku dalam dunia psikologi, teori motivasi misalnya kalau dikelompokkan dalam 2 kutub yang berbeda terdiri dari teori functionalist seperti Maslow (Hierarchy), Alderfer (ERG) dan Herzberg (Two Factors). Sementara teori conflict seperti McCleland (Acquired) dan McGregor (X and Y)

Orang kubu fungsionalis seperti Maslow mengatakan bahwa “kebutuhan itu bertingkat”, artinya kalau ada karyawan freshgraduate itu kebutuhannya dilevel fisik saja, yaitu gaji. Namun begitu karyawan lebih berpengalaman dia tidak hanya butuh sekedar gaji tapi butuh aktualisasi diri. Herzberg sebenarnya hampir sama, cuman istilahnya bertingkatnya diganti dengan “hygiene/maintenance” dan tingkat selanjutnya motivational. Herzberg memandang bahwa karyawan senior itu tidak butuh gaji lagi, tapi butuh status dan pencapaian. Begitu juga dengan Alderfer yang memandang bahwa karyawan itu akan care terhadap existensinya kemudian relatedness dan terakhir growth.

Sementara orang kubu conflict melihat motivasi sebagai sesuatu yang unik, orang punya motivasi yang berbeda seperti kata McCleland, sama seperti McGregor yang mengatakan bahwa orang punya kecenderungan malas, dan ada pula orang yang punya kecenderungan rajin.

Mana diantara teori motivasi ini yang benar? menurut saya yang paling bisa diterapkan adalah orang-orang kubu functionalist yang lebih pragmatis dan praktis memandang sebuah permasalahan. Semisal dalam sebuah tim, memang terlihat ada orang yang malas, dan ada yang terlihat rajin. Ketika membangun policy, maka harus dilihat bahwa semua orang pada dasarnya malas, artinya policy dibuat sama, untuk menghadapi orang yang malas.

Tahapan pertama dalam pembangunan adalah uniformity, sehingga lebih memudahkan. Sayangnya kebanyakan orang berpikir terlalu jauh tanpa mau memahami secara sederhana persoalan yang sedang terjadi dan berusaha menggunakan langkah-langkah sederhana untuk menyelesaikan suatu masalah.

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 31, 2017 at 7:25 pm

Ditulis dalam Management

Because vs Cause

leave a comment »

Poverty cause crime. Cause (v)
The cause of crime is poverty. Cause (n)

Poverty has an impact on the community because it destroys entire communities.
Poverty has an impact on the community because Poverty destroys entire communities. Because (conj)

‘Cause as variation of Because
I am so angry because of you.
I am so angry ’cause of you
You make me so angry

Because of (Preposition)

Preposition (kata depan e.g di ke dari)
Conjection (kata penghubung / kata sambung e.g misal (coordinating), setelah (subordinating)

https://en.wikipedia.org/wiki/English_usage_controversies
https://en.wikipedia.org/wiki/Common_English_usage_misconceptions

https://en.wiktionary.org/wiki/some

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 23, 2017 at 3:06 pm

Ditulis dalam Management

Tagged with

Scenario Planning (Situational) vs Strategic Planning (Opportunity)

leave a comment »

 

Planning adalah bicara mengenai masa depan, sesuatu yang belum terjadi. Semisal, minggu depan saya akan mudik lebaran dari Jakarta ke Jogjakarta. Maka kita bisa mengkajinya dari sudut pandang scenario planning atau sudut pandang strategic planning.

Dari sudut pandang scenario planning misalnya, maka kita bisa berpikir bahwa ada faktor (driving forces) yang mempengaruhi keberhasilan kita mencapai Jogjakarta, misalnya faktor kendaraan, faktor kepadatan lalu lintas dan faktor cuaca. Dari berbagai faktor ini, kita bisa menentukan faktor mana yang paling signifikan pengaruhnya, semisal adalah kepadatan lalu lintas, faktor kedua adalah faktor kendaraan, sementara faktor cuaca meski signifikan misalnya tiba-tiba ada longsor tidak dimasukkan dalam primary driving forces.

Setelah menentukan faktor-faktor ini, maka selanjutnya adalah menentukan narasi (storylines) atas apa yang terjadi. Dari tiga faktor diatas maka bisa dibuat permutasi sebagai berikut. Storylines sial (worst case scenario), cuaca buruk, lalu lintas padat, kendaraan rusak. Storylines sempurna (ideal) seperti cuaca cerah, lalu lintas lancar, kendaraan mulus. Selanjutnya storylines kendaraan rusak (lalu lintas dan cuaca aman), dan terakhir storylines lalu lintas baik (kendaraan baik, cuaca aman).

Driving forces itu banyaknya minta ampun, semisal ada surat-surat yang bermasalah, anak sakit, atau kondisi tubuh lelah. Namun, dengan storylines, maka faktor-faktor yang sangat banyak itu bisa digrouping dan disederhanakan sehingga membuat cerita yang lebih mudah dipahami.

Dari storylines yang ada 4 buah tadi, masih bisa diimprove lagi menjadi scenario yang terkuantifikasi. Contohnya, skenario tekor 1 juta, untuk bensin saja. Atau tekor 3 juta untuk bensin dan sparepart yang rusak. Dari skenario tekor 1 juta tadi, maka bisa disusun langkah-langkah adaptasi dan mitigasinya. Adaptasi misalnya menyiapkan pompa ban, mitigasi misalnya membawa mobil ke bengkel sebelum perjalan dimulai.

Lalu bagaimana dari sudut pandang strategic planning?
Dari sudut pandang strategic planning maka fokusnya lebih pada prioritas aktivitas yang ingin dilakukan. Semisal future state yang ingin dicapai adalah bisa mudik ke Jogjakarta dalam waktu 8 jam dengan biaya total tekor sebesar 1 juta. Strategic planning akan melihat kondisi saat ini seperti apa, misalnya kondisi kendaraan, ban, rem. Kemudian dihitung dengan capacity planning kira-kira kondisi akhirnya nanti seperti apa.

Masing-masing komponen ini harus dihitung, misalnya biaya ban sekian, biaya rem sekian. Untuk bisa mencapai Jogja, maka disusun tahapan-tahapan yang ingin dicapai. Misalnya harus berhenti di Cirebon dan Purwokerto. Termasuk rute-rute mana saja yang harus diambil, dan kira-kira bila rute tersebut bermasalah mana yang harus diganti.

Lalu mana yang lebih baik?
Bila dilakukan secara menyeluruh, maka skenario planning dan strategic planning hasilnya bisa sama persis. Namun, biasanya Scenario Planning lebih banyak pada sektor pemerintahan, sementara Strategic Planning lebih banyak pada sektor private. Salah satu instansi private yang menggunakan skenario planning mungkin hanya Shell, karena Scenario planning relatif lebih luas dan menekankan faktor seperti uncertainty.

Buat saya sendiri, mungkin saat ini yang saya pegang adalah skenario. Karena manusia itu kompleksitasnya lebih mudah dilihat dari sudut pandang skenario. Daripada dulu berpikir strategis (mencari keuntungan) bagaimana menjadi direktur, maka lebih baik berpikir scenario-based (situasional).

Situation oriented lebih baik dari pada profit oriented.

Written by Anjar Priandoyo

Agustus 21, 2017 at 12:05 pm

Ditulis dalam Management

Perlukah kita mengambil S2 (MM/MTI)?

leave a comment »

Pertanyaan ini pernah saya tanyakan pada diri saya sendiri beberapa tahun yang lalu, dan sekarang saya tanyakan lagi kepada diri saya. Perlukah kita mengambil S2? jawabannya adalah: Perlu.

S2 adalah program peningkatan kapasitas diri. Sama seperti pertanyaan perlukah kita berolahraga padahal kita pasti akan mati. Dengan mengambil S2 maka kita akan mengalokasikan sebagian waktu kita atau istilahnya menginvestasikan pada satu hal yang bermanfaat dalam jangka panjang, dalam bentuk selembar kertas.

Pertanyaan yang lebih tepat sebenarnya ini:

1.Mana yang lebih baik program sertifikasi atau S2?
Jelas sertifikasi (PMP, CISA, CIA, CFA) karena lebih murah, effortnya lebih pendek bisa dalam 3-6 bulan. Potensi peningkatan karir lebih besar. Tapi pertanyaan ini juga sebenarnya kurang tepat, ditanyakan karena biasanya orang akan mengambil dua-duanya, dan orang tersebut akan menjadi semakin kompetitif.

2.Bagaimana menyelesaikan S2 (atau sertifikasi) secepatnya?
S2 harus diselesaikan secepatnya, dan didapatkan secepatnya. Di Inggris, yang mengambil S2 atau S3 biasanya langsung lulus dari S1. Jadi tidak menunggu waktu lama. Artinya umur 27 tahun sudah selesai S3. Nah untuk menyelesaikan S2 ini dengan cepat maka kita harus mengetahui bagaimana struktur programnya e.g kisi-kisi ujiannya dan bagaimana bisa menyelesaikan tugas dengan cepat.

3.Bagaimana memanfaatkan (mengkapitalisasi) S2?
Ini pertanyaan yang susah, karena manfaat S2 sangat abstrak. Mengerti mengenai konsep Strategi tidak berarti lebih pintar memilih. Pandai konsep Project Management tidak berarti bisa mengerjakan proyek dengan lebih baik. Mau tahu yang lebih abstrak lagi? “networking”. Klaim bahwa mengambil S2 berarti akan mendapatkan network yang lebih banyak.

Written by Anjar Priandoyo

Mei 18, 2017 at 4:58 pm

Ditulis dalam Management

Tagged with

Pemikiran kita tidak berubah, tapi perasaan (pengalaman) kita berubah

leave a comment »

Ada anak tentara yang orangtuanya sangat disiplin. Orangtuanya selalu tepat waktu, mematuhi aturan dan terstruktur. Anak tentara ini sedari lahir tinggal di asrama militer. Ada anak seniman yang orangtuanya sangat egaliter, cenderung tidak disiplin. Anak tentara masuk sekolah umum, anak seniman masuk sekolah berasrama. Hasilnya? anak seniman menjadi disiplin. Kesimpulannya? anak seniman mengubah penilaiannya (perasaannya) mengenai konsep disiplin. Si anak seniman melihat bahwa disiplin bisa diterapkan dan harus diterapkan oleh dirinya. Sementara si anak tentara, melihat bahwa disiplin secara realistis tidak bisa diterapkan. Artinya experience itu tidak bisa diajarkan, harus dipraktekkan, dan dirasakan.

Orang yang pernah bekerja sebagai user di perusahaan punya cara pandang yang berbeda dengan orang yang bekerja sebagai konsultan external di kantor akuntan publik/kantor konsultan. Padahal seumur hidupnya yang dikerjakan sama. Padahal dua-duanya bekerja dalam ruangan yang sama. Cara berpikir, kecerdasan mungkin sama, namun pengalamannya (atau apapun istilahhnya seperti perasaannya atau sense/feeling atau penilaian) berbeda.

Bisakah perasaan itu diadjust? tidak bisa.

Written by Anjar Priandoyo

Mei 11, 2017 at 10:32 am

Ditulis dalam Management