Anjar Priandoyo

Catatan Setiap Hari

Archive for the ‘Management’ Category

Perlukah kita mengambil S2 (MM/MTI)?

leave a comment »

Pertanyaan ini pernah saya tanyakan pada diri saya sendiri beberapa tahun yang lalu, dan sekarang saya tanyakan lagi kepada diri saya. Perlukah kita mengambil S2? jawabannya adalah: Perlu.

S2 adalah program peningkatan kapasitas diri. Sama seperti pertanyaan perlukah kita berolahraga padahal kita pasti akan mati. Dengan mengambil S2 maka kita akan mengalokasikan sebagian waktu kita atau istilahnya menginvestasikan pada satu hal yang bermanfaat dalam jangka panjang, dalam bentuk selembar kertas.

Pertanyaan yang lebih tepat sebenarnya ini:

1.Mana yang lebih baik program sertifikasi atau S2?
Jelas sertifikasi (PMP, CISA, CIA, CFA) karena lebih murah, effortnya lebih pendek bisa dalam 3-6 bulan. Potensi peningkatan karir lebih besar. Tapi pertanyaan ini juga sebenarnya kurang tepat, ditanyakan karena biasanya orang akan mengambil dua-duanya, dan orang tersebut akan menjadi semakin kompetitif.

2.Bagaimana menyelesaikan S2 (atau sertifikasi) secepatnya?
S2 harus diselesaikan secepatnya, dan didapatkan secepatnya. Di Inggris, yang mengambil S2 atau S3 biasanya langsung lulus dari S1. Jadi tidak menunggu waktu lama. Artinya umur 27 tahun sudah selesai S3. Nah untuk menyelesaikan S2 ini dengan cepat maka kita harus mengetahui bagaimana struktur programnya e.g kisi-kisi ujiannya dan bagaimana bisa menyelesaikan tugas dengan cepat.

3.Bagaimana memanfaatkan (mengkapitalisasi) S2?
Ini pertanyaan yang susah, karena manfaat S2 sangat abstrak. Mengerti mengenai konsep Strategi tidak berarti lebih pintar memilih. Pandai konsep Project Management tidak berarti bisa mengerjakan proyek dengan lebih baik. Mau tahu yang lebih abstrak lagi? “networking”. Klaim bahwa mengambil S2 berarti akan mendapatkan network yang lebih banyak.

Written by Anjar Priandoyo

Mei 18, 2017 at 4:58 pm

Ditulis dalam Management

Tagged with

Pemikiran kita tidak berubah, tapi perasaan (pengalaman) kita berubah

leave a comment »

Ada anak tentara yang orangtuanya sangat disiplin. Orangtuanya selalu tepat waktu, mematuhi aturan dan terstruktur. Anak tentara ini sedari lahir tinggal di asrama militer. Ada anak seniman yang orangtuanya sangat egaliter, cenderung tidak disiplin. Anak tentara masuk sekolah umum, anak seniman masuk sekolah berasrama. Hasilnya? anak seniman menjadi disiplin. Kesimpulannya? anak seniman mengubah penilaiannya (perasaannya) mengenai konsep disiplin. Si anak seniman melihat bahwa disiplin bisa diterapkan dan harus diterapkan oleh dirinya. Sementara si anak tentara, melihat bahwa disiplin secara realistis tidak bisa diterapkan. Artinya experience itu tidak bisa diajarkan, harus dipraktekkan, dan dirasakan.

Orang yang pernah bekerja sebagai user di perusahaan punya cara pandang yang berbeda dengan orang yang bekerja sebagai konsultan external di kantor akuntan publik/kantor konsultan. Padahal seumur hidupnya yang dikerjakan sama. Padahal dua-duanya bekerja dalam ruangan yang sama. Cara berpikir, kecerdasan mungkin sama, namun pengalamannya (atau apapun istilahhnya seperti perasaannya atau sense/feeling atau penilaian) berbeda.

Bisakah perasaan itu diadjust? tidak bisa.

Written by Anjar Priandoyo

Mei 11, 2017 at 10:32 am

Ditulis dalam Management

Seni micro-manager

leave a comment »

Micro-manager sebenarnya merupakan sebuah seni yang menarik. Buat beberapa orang micro-manager adalah sebuah karakteristik manager yang buruk, misalnya manager tersebut sangat rese dengan absensi kehadiran karyawannya, telat 10-15 menit maka manager akan marah. Atau ketika menyiapkan suatu kegiatan, maka micro-manager memperhatikan aspek detail yang tidak signifikan, misalnya urutan tempat duduk dalam rapat. Disisi lain micro-manager buat beberapa orang merupakan karakteristik yang baik. Meski menguras tenaga, micro-manager efektif bila digunakan untuk business process improvement, atau membangun budaya perusahaan.

Buat saya, micro-manager merupakan konsep yang menarik, namun kita harus kreatif untuk memanfaatkannya. Ambil contoh jadwal harian. Untuk jadwal kegiatan harian, saya bisa menyusun seperti ini:
(01) 04:30 bangun
(02) 05:15 lari (1.5h)
(03) 06:45 mandi
(04) 07:00 masak
(05) 07:30 sarapan
(06) 08:00 anak-anak mandi
(07) 08:45 berangkat sekolah (6h)
(08) 09:05 berangkat ke kampus
(09) 15:00 jemput anak
(10) 15:45 anak-anak dirumah
(11) 17:00 dinner
(12) 18:00 relax/work (2h)
(13) 20:00 bedtime story

Masalah dengan micro-manager seperti diatas adalah saya harus memperhatikan detail dalam skala 15 menit (mandi orang tua) bahkan dalam hitungan 10 menit (mandi anak), dan 5 menit (persiapan berangkat). Jadwal ini sebenarnya bisa saya rubah sebagai berikut:

(1) 07:00 semua aktivitas pribadi (bangun, lari, mandi) sudah harus selesai
(2) 08:00 semua aktivitas sarapan (masak, makan) sudah harus selesai
(3) 09:00 semua aktivitas keluarga (mencuci, membersihkan rumah, mengantar anak) sudah harus selesai
(4) 15:00 semua aktivitas pekerjaan sudah harus selesai
(5) 17:00 semua aktivitas bermain (roblox, trampolin, jajan) sudah harus selesai (1.5h)
(6) 18:00 semua aktivitas dinner (masak, makan, cleaning) sudah harus selesai
(7) 20:00 semua aktivitas bermain (ipad) sudah harus selesai (2h)
(8) 21:00 semua aktivitas off hingga jam 04:00

Baik jadwal yang pertama dan jadwal yang kedua sebenarnya sama-sama micromanager, memperhatikan aktivitas hingga dalam hitungan skala 5 menit. Perbedaan yang paling signifikan adalah menggunakan satuan unit terkecil dalam jam sehingga memudahkan untuk mengingat, namun dalam pelaksanaannya tetap menggunakan skala 5 menit.

Ini juga sejalan dengan teori project management yang menggunakan satuan unit terkecil dalam hitungan hari atau minggu. Jadi, semisal mengalokasikan untuk pendaftaran izin, meski prosesnya hanya 1 jam, tetap dicatat dalam hitungan 1 hari.

Written by Anjar Priandoyo

Mei 10, 2017 at 5:09 pm

Ditulis dalam Management

Cara berpikir yang salah

leave a comment »

Kalau saya berargumen bahwa Indonesia tidak maju karena banyak orang yang tidak berpendidikan dan tidak bergaya hidup sehat, maka mayoritas kelas menengah akan setuju. Kalau saya berargumen bahwa Indonesia tidak maju karena banyak pejabat korupsi maka mayoritas kelas ekonomi akan setuju.

Namun, kalau argumentasi ini saya sampaikan ke dosen saya, maka dosen saya akan berkata: “Itu argumen deterministik yang tidak saintifik”.

Kepada dosen modelling saya, saya jelaskan bahwa setengah penduduk Indonesia berkategori miskin, jumlah tabungan yang dimiliknya rendah, akibatnya kemampuan investasi dan improvement juga rendah.

Kepada dosen sociology saya, saya jelaskan bahwa demokrasi menyebabkan perubahan struktur pemerintahan yang menyebabkan inefisiensi yang semakin besar.

Kepada dosen energi saya, saya pusing menjelaskan isu masalah mana yang lebih challenging: antara meningkatkan rasio elektrifikasi 88%, meningkatkan penggunaan energi modern (40% biomass) atau mengurangi dependensi pada fossil fuel 80%. Isu apapun yang saya pilih, solusi ilmiahnya merupakan pilihan yang berbeda-beda.

Kalau isu masalah kurang challenging, maka isu fakta juga bisa membuat makin ribet. E.g Indonesia terdiri dari banyak pulau.

Written by Anjar Priandoyo

Mei 8, 2017 at 1:37 pm

Ditulis dalam Management

Kita memang tertinggal

leave a comment »

Akui saja, dari sisi ekonomi kita tertinggal jauh sekali dengan negara maju. Tahun 1970-an kita sudah mengejar ketertinggalan lebih dari 100 tahun dengan membangun industri yang didanai besar-besaran oleh pemerintah. Dari Krakatau Steel hingga Petrokimia Gresik. Harapannya kita bisa mengejar Arcelor, BASF atau DOW di negara maju yang dibangun pada tahun 1850-an pada awal revolusi industri yang growthnya organik.

Berhasil? tentu tidak, karena hukum alam mengatakan bahwa setiap akselerasi akan dibalas dengan akselerasi lain yang jauh lebih cepat. Kalau negara berkembang ingin maju, tentunya negara yang sudah maju juga ingin maju. Kita berakselerasi dengan industrialisasi, negara maju juga berakselerasi dengan post-industrialisasi semacam teknologi informasi hingga financial engineering yang luar biasa kompleks -yang sering berujung pada krisis.

Ketertinggalan yang tidak mungkin terkejar ini solusinya cuman satu: prihatin dan bersabar. Bagaimana dengan solusi bekerja keras dan pantang menyerah? wah itu sudah tidak perlu ditanyakan lagi. Butuh 100x kerja keras dibandingkan orang di negara maju.

https://en.m.wikipedia.org/wiki/Mineral_acid
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Alkali
https://en.m.wikipedia.org/wiki/History_of_chemistry#
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Mercury_(element)
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Alkali_manufacture

Written by Anjar Priandoyo

Mei 2, 2017 at 5:59 am

Ditulis dalam Management

Emas Freeport dan Masalah

leave a comment »

Saya sedari dulu ketika menulis di blog ini bertujuan untuk satu hal: menyelesaikan masalah. Makanya, masalah saya bagi dalam bebeberapa kategori: kehidupan, pekerjaan, bisnis. Masalah kehidupan itu berhubungan dengan diri sendiri, relatif mudah dipecahkan karena tidak melibatkan orang lain. Masalah pekerjaan, membutuhkan aspek kerjasama dengan orang lain. Masalah bisnis juga sama membutuhkan kerjasama dengan skala yang lebih luas.

Namun sekarang saya mencoba membuat kategori lagi dengan lebih baik. Pada dasarnya ada masalah yang bisa diselesaikan dan ada masalah yang tidak bisa diselesaikan. Ini hanya bisa diselesaikan dengan cara “management” cara yang qualitative, softscience. Contohnya, bagaimana membagi sepotong kue untuk lima orang. Ini ada banyak cara, namun cara yang lebih efektif sebenarnya adalah mencari kue yang lebih banyak.

Contoh praktis, anggaran pemerintah, sudah kecil, boros tidak akuntabel. Lengkap, mau ribut-ribut dengan parameter apapun dari dasarnya sudah bermasalah. Mau dianalisa bahwa budget terbesar 34% pendidikan, 30% gaji dan hanya 10% untuk infra pun tidak bisa diotak-atik lebih advance. Solusinya adalah mencari pemasukan baru. Bila pemasukan baru tidak ada? ya selesai. Masalah tidak bisa diselesaikan lagi.

Produksi emas misalnya, Indonesia produksi emasnya tidak banyak. Hanya kisaran 100 ton/tahun, China mencapai hampir 500 ton pertahun. Di Indonesia, ini pun 90% dari Freeport, Antam memproduksi emas sangat rendah, hanya sekitar 2 ton pertahun. Meski Freeport dari kacamata FDI sangat penting, namun pada dasarnya ini adalah kue kecil yang terlalu gaduh untuk diperebutkan.

https://en.m.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_gold_production
https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/1730230/produksi-emas-ri-capai-120-ton-tahun-terbesar-dari-freeport
http://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20151026082348-85-87282/sampai-september-papua-sumbang-97-produksi-emas-freeport/
http://www.eastasiaforum.org/2014/04/18/how-indonesian-local-governments-spend-too-much-on-themselves/

Written by Anjar Priandoyo

Mei 2, 2017 at 5:47 am

Ditulis dalam Management

Berapa jumlah mahasiswa Indonesia di luar negeri?

leave a comment »

Ini menarik, karena PPI Yaman mengklaim memiliki jumlah 1,000 pelajar yang merupakan terbanyak kedua setelah Mesir. UNESCO sendiri mengklaim (data 2013?) sekitar 37,000 ribu dengan peringkat pertama Australia (9,500), US (8,900), Malaysia (5,700), Japan (2,387), UK (2,164), Germany (1,938), Saudi Arabia (1,491).

Data UNESCO rasanya cukup akurat, kecuali China di report 2009 berjumlah 7,900 (degree 2,900 non degree 5,004), padahal di UIS UNESCO China hanya sekitar 200 orang. Total mahasiswa asing di China tahun 2010 sekitar 284,000.

Memperoleh data mahasiswa asing secara akurat sulit, karena banyak perbedaan versi. Namun secara umumn peta distribusinya dapat terlihat e.g jumlah di Malaysia sekitar 6,000 orang tahun 2011. Australia sekitar 9,600 orang (2016)

Menarik?
UMPTN 2016 menerima sekitar 99,000 mahasiswa
UGM 2016 menerima sekitar 9,000 mahasiswa
Mahasiswa PTS jumlahnya hampir 2x mahasiswa PTN sekitar 200,000 mahasiswa baru
Mahasiswa dari Kemenag sekitar 10% dari Kemendiknas

https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1839
https://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1840

https://mochamadashari.wordpress.com/2015/05/04/ptn-dan-pts-memang-beda/

http://uis.unesco.org/en/uis-student-flow
http://unesdoc.unesco.org/images/0022/002262/226219E.pdf
http://www.ppihadhramaut.com/2017/03/ada-apa-dengan-hadhramaut.html
http://edukasi.kompas.com/read/2016/04/27/14530861/Makin.Banyak.Pelajar.Asing.Kuliah.ke.China
http://www.antaranews.com/print/259751/mahasiswa-asing-di-indonesia-terbanyak-dari-malaysia
http://www.pikiran-rakyat.com/pendidikan/2017/01/12/jumlah-pelajar-indonesia-ke-australia-meningkat-390456

Written by Anjar Priandoyo

April 12, 2017 at 2:22 pm

Ditulis dalam Management

Tagged with